Minggu, 30 November 2025

Renjana


[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ] 




𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 : 

Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? Bagi Omran rasanya itu sangat menyenangkan, meski ia hanya bisa melihat dari jauh itu sudah lebih dari cukup. Namun semuanya menjadi kacau ketika sahabatnya dengan lancang membuka rahasianya di depan keluarga mereka membuat semuanya menjadi rumit. 


Tapi dengan dukungan penuh dan jebakan dari sahabatnya membuat Omran menemukan kebahagiaan sejatinya meski dengan penuh perjuangan. 


𝐌𝐞𝐞𝐭 𝐭𝐡𝐞 𝐜𝐚𝐬𝐭 : 


 Ohm pawat as Omran Mahanta


 Nanon korapat as Nalendra Palmiera




𝐂𝐚𝐬𝐭 𝐬𝐮𝐩𝐩𝐨𝐫𝐭 : 

prim chanikarn as Prima palmiera (adik nalendra) 


Davika as davina ( ibu nalendra) 
Ter chantavit as tara ( ayah nalendra) 



View benyapa as violet Mahendra (kakak omran) 



Baifern as Briyanna (Ibu omran) 
Nine  as Daniel Mahendra (Ayah omran) 



Minggu, 24 Agustus 2025

Overthinking (nonohm)

 


Merasakan perutnya yang semakin tak enak Otlan segera berdiri dari duduknya dan berjalan kearah sang guru yang sedang menulis di papan tulis sembari menerangkan tulisannya.

"Pak saya mau ijin ketoilet," Ijinnya yang segera di ijinkan oleh sang guru.

Pemuda itu pun segera keluar kelas dengan beberapa pasang mata yang terus memperhatikannya. Pasalnya akhir-akhir ini Otlan selalu nampak lemas, namun saat ditanya apa ia sakit jawabannya selalu ttidak, padahal tak pernah periksa ke dokter, dan hal itu membuat mereka semakin khawatir.

Belum juga sampai toilet perutnya sudah semakin bergejolak membuatnya tak bisa menahan lebih lama rasa mual yang ia dera. Pemuda itupun segera memuntahkan semua isi dalam perutnya ke dalam tong sampah yang dekat dengannya, bahkan saat isi perutnya telah kosong ia masih terus mual tanpa bisa dihentikan.

Tubuhnya luruh kelantai saat akhirnya rasa mual itu menghilang, tubuhnya lemas bukan main.

"Otlan? Ngapain duduk disitu?" Oyi berjalan mendekat kearah Otlan yang nampak lemas di samping tong sampah. Gadis itu pun segera membantu sang teman untuk berdiri dengan susah payah dan berjalan pelan. "Mau periksa aja ke dokter gak? Makin parah aja keliatannya lan." Usul sang teman yang nampak kawatir.

"Gak papa, nanti juga sembuh sendiri." Lagi dan lagi jawaban itu yang diberikan.

"Lo udah ngomong gini dari minggu kemaren ya lan, tapi lo gak sembuh-sembuh, malah makin parah aja. Gue anterin ke dokter aja ya nanti sepulang sekolah." Bujuknya

Otlan menggeleng. "Gue gak papa, besok juga sembuh kok." Ujarnya keras kepala. "𝘓𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦 𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢,"

Nampak semakin tak tertolong bucinnya.

Oyi mendesah pasrah.

"Lo mau kemana keluar kelas?" Tanya Otlan yang seakan baru tersadar.

"Mau keruang guru, disurh ngambik buku pak guru yang ketinggalan."

"Oh," Ujarnya mengangguk. "Fion ada ngasih kabar?" Tanyanya entah ia berharap jawaban apa yang akan diberikan Oyi.

"Kabar apa?" Tanyanya bingung.

"Ya kabar."

Oyi menatap temannya heran, namun ia tetap memilih menjawab. "Enggak, cuman semalem dia bilang mau ke Otoa buat kerja sambil liburan."

Otlan hanya diam mendengar perkataan Oyi.

"Lo tunggu disini, gue mau ambil buku dulu terus bawa lp ke UKS." Ucap Oyi yang segera berlalu meninggalkan temannya yang nampak asik dengan pikiranya sendiri.

Otlan mendesah, pikirannya kalut, banyak hal yang hinggap di pikirannya tentang Cana dan Fiona, meski ia sudah mencoba untuk menyingkirkannya, namun pikiran jelek itu terus datang dan bertambah banyak.

Berbeda dengan dua orang yang sedang ia pikirkan, mereka sedang asik dengan kerjaan masing-masing, Fiona yang sedang sibuk merekam dengan timnya, dan Cana yang sibuk berbicara dengan Putra tentang kerjaan yang harus ia lakukan nanti saat ia tinggal. Karena minggu besok ia harus sudah kembali ke Alana untuk menepatinya janji dengan Otlan.

Jumat, 23 Mei 2025

Vc (nonohm)

 


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan pemuda dengan balutan handuk di pinggang dan handuk kecil di leher sebelum ia usak rambutnya yang basah habis shampoan. Ia pun melangkah kearah almari di ruangan itu sebelum suara dari handphone menghentikan langkahnya, membuatnya beralih berjalan kearah meja kecil di samping ranjang. Namun sayangnya sebelum ia berhasil mengangkat panggilan itu, panggilannya telah lebih dulu mati.

Keningnya mengkerut melihat banyaknya panggilan tak terjawab, tanpa berpikir panjang ia pun segera mendial nomor itu kembali dan segera diangkat oleh sang lawan setelah mengubahnya menjadi panggilan video call.

Cana tak ambil pusing, ia pun segera menyetujuinya dan melihatkan wajah Otlan yang nampak sedang kesal. "Ada masalah?" Tanyanya sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah.

"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘪?" Tanya Otlan yang mengacuhkan pertanyaanya.

"Iya," Jawab Cana singkat. "Ada apa?" Tanyanya lagi, memastikan tak ada masalah serius yang menimpa pemuda itu.

"𝘎𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘱𝘢, 𝘬𝘪𝘳𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢," Ujar Otlan apa adanya.

Cana mengangguk singkat, pemuda itu pun meletakkan hpnya di nakas dan menyenderkannya di dinding agar tak jatoh, yang menampilkan ruangan kamar tempat ia tidur belakangan ini. Sedangkan ia berjalan kearah almari, melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Keduanya diam, Cana yang sibuk mencari baju untuk ia kenakan dan Otlan yang bingung harus berbicara apa.

"𝘕𝘢," Panggil Otlan yang sudah bosan dengan keheningan.

"Hmm?" Sahutan tak jelas Cana berikan, pemuda itu masih asik memilih baju untuk ia bawa tidur malam ini.

"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘳𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘖𝘵𝘰𝘢?"

Tangan Cana yang ingin mengambil kaos oblong untuk ia kenakan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Otlan, namun tak lama ia melanjutkan kegiatannya. "Iya."

Otlan memberungutkan bibirnya mendengar jawaban Cana. "𝘔𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘰 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢."

"Iya," .

Otlan berdecak kesal. "𝘉𝘦𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘦𝘮-𝘤𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢?"

Setelah memakai baju dan celananya, pemuda itu pun kembali berjalan kearah hpnya berada, duduk di tepi ranjang. "Cem-ceman apa?" Ia tak paham dengan bahasa yang Otlan layangkan.

"𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘰 𝘴𝘶𝘬𝘢!"

Cana mendengus. Darimana ia mendapatkan orang yang dia suka kalau kerjaanya setiap hari hanya menatap kertas dan memutar otak agar ia bisa membuktikan kepada sang papi bahwa ia berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna.

"Kamu gak belajar?" Tanya Cana mengalihkan topik.

Otlan menaikkan alisnya. "𝘒𝘰𝘬 𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘩𝘪𝘯 𝘵𝘰𝘱𝘪𝘬? 𝘉𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘺𝘢" Tanpa ingin menyembunyikan rasa ketidaksukaanya.

"Di sini terlalu sibuk, gimana bisa nemuin orang di suka?" Cana memilih menjawab, meski sebenarnya ia malas.

"𝘉𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨!" Masih tak percaya ternyata.

"Banyak yang harus dibenahi di sini, gak ada waktu buat nyari orang yang disuka," Ujarnya apa adanya. Bahkan hanya untuk bersenang-senang di club malam pun ia tak kepikiran.

Ah ngomong-ngomong sudah berapa lama ia tak melakukan hal kesukaanya itu? Sepertinya sudah terlalu lama, akhir-akhir ini ia hanya melakukannya dengan Otlan, dan tak ada kepikiran untuk melakukannya dengan orang lain.

"𝘖𝘰𝘰𝘩𝘩," Meski masih sedikit tak percaya.

"Kamu gak belajar?" Tanyanya lagi yang dijawab gelenga kepala oleh Otlan.

"𝘔𝘢𝘭𝘦𝘴, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳-𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨,"

"Kenapa gak bilang? Udah periksa?" Entah kenapa ia khawatir pada pemuda itu.

Lagi-lagi Otlan menggeleng kecil. "𝘊𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘰𝘬, 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨."

"Mual gak?"

Kali ini pemuda itu mengangguk. "𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘰𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘩, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘩,"

"Coba besok periksa,"

"𝘔𝘢𝘭𝘦𝘴 𝘢𝘩."

"Mau periksa sama Agra?"

"𝘎𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶. 𝘊𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢, 𝘮𝘢𝘭𝘦𝘴 𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢."

Otlan adalah orang yang keras kepala. "Yaudah, tapi kalo masih gitu terus sampe aku pulang, kamu harus mau periksa."

"𝘚𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘨𝘢𝘬? 𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶,"

"Iya,"

"𝘐𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢?"

"Iya sama aku periksanya."

Dan senyuman Otlan mengembang. "𝘖𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘢𝘭 𝘺𝘢,"

Keduanya terdiam, Cana yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk dan Otlan yang menatap Cana dengan pandangan tergoda, entah kenapa ia tiba-tiba sangat ingin disentuh oleh pemuda yang lebih tua darinya itu. Ia gigit bibirnya sensual. Gerakan yang Cana lakukan pun tak aneh-aneh, gerakannya sama seperti orang kebanyakan saat mengeringkan rambut, namun entah kenapa ia begitu tergoda.

"𝘕𝘢," Panggil Otlan pelan, nafasnya sudah memburu, bahkan tubuh bagian selatannya sudah berdiri dengan sendirinya.

"Hmm?" Hanya gumaman yang tak jelas Cana berikan untuk menjawah panggilannya.

"𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 VCS 𝘣𝘦𝘭𝘰𝘮?"

Pertanyaan Otlan membuat tangan Cana berhenti bergerak, kepalanya menatap layar hp dan menatap Otlan dengan pandangan yang sulit diartikan.

Otlan disebrang sana menanti jawaban Cana dengan menahan malu. Bantal yang ia peluk menjadi sasaran giginya untuk ia gigit. Ia tak pernah menyangka dirinya akan seberani ini.

"Belum,"

"𝘔𝘢𝘶 𝘯𝘺𝘰𝘣𝘢 𝘨𝘢𝘬?" Sudsh terlanjur malu, ia lebih memilih untuk melangkah lebih jauh.

"Kamu lagi pengen?"

Otlan mengangguk malu-malu, tangannya pun mengarahkan kearah selangkannya yang sudah menegak dibalik boxer yang ia kenakan. "𝘕𝘪𝘩 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘰 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢," Sepertinya urat malunya sudah terputus.

Cana menelan saliva susah payah. Baru saja tadi mikir sesuatu hal yang jorok, kini Otlan sudah datang menawarkan sesuatu yang sangat menggiurkan. Yah meski ia tau ia tak akan sepenuhnya puas.

"Lepas celanamu, aku pengen lihat udah segede apa."

Otlan menaruh hpnya di ranjang begitu saja dan dengan grusak-grusuk ia melepas celananya, setelahnya ia pun kembali mengambil hpnya dan memperlihatkan penisnya yang sudah mengacung sempurna.

Cana menjilat bibir bawahnya. Andai saja jarak mereka dekat, ia sudah pasti menghampiri pemuda itu dan melakukan hal-hal yang ia sukai di sana, membuat Otlan untuk terus mengerang kenikmatan dan menyebut namanya dengan penuh gairah. Ahh sial, bagaimana ia bisa begitu terangsang hanya dengan begini saja? Semua hal tentang Otlan memang selalu bisa membuatnya gila.

"𝘗𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘦𝘮𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢,  𝘕𝘢. 𝘈𝘩𝘩𝘩." Ujar Otlan yang sudah menggerakkan tangannya di penisnya maju mundur. Sialan! Sisi binal Otlan sudah keluar sepenuhnya.

Rabu, 21 Mei 2025

Rencana

 

"Ini pak, data yang bapak minta kemaren." Ujar pengelola motel yang sedang ia tangani.

Cana pun mengambil beberapa dokumen yang terulur dan mulai membacanya, melihat angka pengunjung yang tiap tahun menurun. Tak ada yang salah dari data yang diberikan.

Cana pun menggerakkan tangannya mengusir, ia harus bisa menaikkan angka pengunjung ke motelnya karena itu adalah perintah dari sang papi.

Ia putar kursi kebelakang, menjadi menghadap ke kaca yang memperlihatkan keindahan alam disana. Matanya menerawang jauh memikirkan rencana untuk kedepannya.



Kotanya sangat indah, wisata alamnya pun masih sangat terjaga, dan view dari motelnya pun berada di tempat yang tepat. Tak ada yang salah dari motelnya, pelayanannya pun baik, makanan juga enak, harga pun masih standar (menurutnya) terus apa yang salah?.

Otaknya pun berusaha mencari solusi apalagi untung menangani permasalahan mereka, menyebarkan brosur sudah di lakukan, mengiklankan motelnya pun sudah ia lakukan, bahkan ia juga merenovasi beberapa bagian agar menarik pengunjung, namun tak ada perubahan sama sekali, padahal ia sudah di sana hampir satu bulan. Rencananya gagal total. Ia terlalu jumawa hingga berpikir bisa menyelesaikan dalam waktu singkat.

Dering handphone terdengar, membuyarkan lamunannya, ia pun memutar kursinya dan mengambil handphone yang masih berdering, nama Otlan cengeng terpampang di sana. Ia pun segera mengangkatnya dan seketika wajah Otlan terlihat di layarnya.

"Lagi di mana?" Tanyanya sedikit heran, tak biasanya Otlan berada di luar dan tak memberitahunya terlebih dahulu, biasanya pemuda itu selalu memberitahunya jika ingin keluar.

"𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘦𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘰𝘯 𝘴𝘺𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨." Ujar Otlan dengan menyipitkan matanya karena terik matahari yang begitu menyengat. "𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢?"

Cana mengangguk singkat.

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang terulur kewajah Otlan dengan 𝘵𝘪𝘴𝘴𝘶𝘦, mengelap keringat yang berada di wajah Otlan.

Otlan pun segera menyingkirkan tangan itu, terlihat risih. "𝘈𝘱𝘢𝘢𝘯𝘴𝘪𝘩 𝘡𝘰, 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘯𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘨𝘶𝘦 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."

Kening Cana mengkerut. '𝘡𝘰?' "Pergi bareng Kenzo?" Meski ada tanda tanya di nada suaranya, tapi ia tau pasti Zo siapa yang dimaksud Otlan.

Sebelum Otlan menjawab, suara lain dari sebrang terdengar.

"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘓𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘫𝘢, 𝘯𝘺𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘦𝘮𝘢𝘯." Suara Kenzo terdengar jelas. Seperti sengaja.

Otlan memincingkan matanya kesal. "𝘠𝘢 𝘭𝘰 𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘨𝘶𝘦 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘧𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘊𝘢𝘯𝘢, 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘭𝘰 𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦."

Cana semakin tak paham dengan apa yang terjadi. Biasanya Otlan paling gak mau jika pergi dan ada Kenzo di sana, namun kenapa sekarang pergi bersama. Apa pemuda itu sudah mulai membuka hati? Memikirkan hal itu ada sesuatu yang tak nyaman hadir di hatinya begitu saja.

"𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘧𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢, 𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."

Otlan memasang wajah sinis mendengarnya. "𝘌𝘩 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘪𝘯 𝘊𝘢𝘯𝘢." 𝘜𝘫𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩. "𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘭𝘰 𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦? 𝘚𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘩 𝘡𝘰, 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘱𝘳𝘪𝘷𝘢𝘴𝘪." 𝘚𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩. "𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰! 𝘓𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦!!" 𝘒𝘦𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘖𝘵𝘭𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘱𝘪𝘴.

Cana yang melihat dan mendengar semuanya hanya diam, memperhatikan layar yang bergersk-gerak.

"𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰! 𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢 𝘭𝘰 𝘵𝘶𝘩 𝘯𝘺𝘦𝘣𝘦𝘭𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵! 𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘨𝘶𝘦 𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪!"

Cana menaikkan alisnya. Jadi kali ini Otlan yang berinisiatif mengajak Kenzo? Benarkah pemuda itu sudah mulai membuka hati?.

Setelah cukup lama terdiam dan gambar layar di hpnya yang sudah tak bergerak lagi, Cana pun mulai berbicara.

"Tumben ngajak Kenzo pergi." Setelah mengatakan itu ia pun mengatup bibirnya rapat, tak seharusnya ia ikut campur masalah orang lain.

Otlan mengelap keringat di wajahnya dengan lengan, senyumnya pun merekah. "Terpaksa tau, kalo aku gak mau jodohin Kenzo sama Fion gak akan aku ajak dia."

"Jodohin?" Tanyanya heran.

Otlan mengangguk. "Fion tuh kayak suka gitu sama Kenzo, tiap nongkrong bareng pasti dia ngeliatin Kenzo atau berusaha ngajak Kenzo ngobrol, jadi aku berencana mau jodohin mereka aja. Kan kalo Kenzo udah sama Fion dia gak akan gangguin aku lagi." Ujarnya terus terang dengan mata menatap wajah di layar hpnya penuh puja.

Cana mengangguk paham.

"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢?" Tanya Otlan yang sudah rindu berat dengan orang pujaanya.

Cana menggeleng pelan. "Belom tau, kayaknya masih lama."

Otlan berdecak kesal. "𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯, 𝘬𝘰𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢!" 

Cana tak bisa berkata apapun karena memang semuanya meleset dari rencana, ia pun sedikit tertekan oleh jiwa ambisnya saat tak bisa mencapai 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 yang dia inginkan.

"Kamu nemenin Fion 𝘴𝘺𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨 apa?" Ujarnya berusaha mengalihkan 𝘵𝘰𝘱𝘪𝘤, meski ia tau Otlan semakin kesal 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.

"𝘎𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶," Jawabnya cuek. Ia pun menatap kearah lain, pertanda tak ingin berbicara dengan pemuda itu terlebih dahulu.

Cana menghela nafas. "Kerjaanku belom selesai, target yang diminta papi belom terpenuhi, kalo aku pulang sebelum mendapatkan target yang disuruh namanya gak bertanggung jawab sama kerjaan, Otlan." Ujarnya menerangkan. Iapun tak tau sejak kapan ia terbiasa menerangkan sesuatu yang tak penting begini, tapi jika tak dijelaskan Otlan akan semakin marah dan susah dibujuknya. Ia tak ingin merepotkan Agra terus.

"𝘠𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪!" Ujarnya dengan mengerucutkan bibir, meski tak mau mengalihkan wajahnya kearah layar.

"Iya bisa, nanti pulang dua hari sebelum kamu ujian." Ujarnya mengalah.

Otlan melirik kearah layar sanksi. "𝘉𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘰𝘰𝘯𝘨?" Tanyanya masih kesal.

"Bener." Ujar Cana dengan senyuman tipis. Sedikit gemas dengan tingkah Otlan akhir-akhir ini yang berbeda dari biasanya.

"𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘢𝘫𝘢!"

"Jadi kamu nemenin Fion syuting apa?"

Otlan menggeleng. "Gak tauu, tapi katanya sih jadi 𝘉𝘳𝘢𝘯𝘥 𝘈𝘮𝘣𝘢𝘴𝘴𝘢𝘥𝘰𝘳 gitu, terus sekarang lagi promosi sambil direkam."

Cana membulatkan matanya, ide datang tiba-tiba ke otaknya. kenapa ia tak kepikiran untuk menyewa 𝘪𝘯𝘧𝘭𝘶𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳.

"Kamu tau 𝘪𝘯𝘧𝘭𝘶𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 atau aktris yang sedang naik daun sekarang?" Tanyanya, karena ia tak mengikuti dunia perfilman atau dunia media sosial. Hidupnya hanya diisi dengan bengkel, rental, dan kuliah. Namun sekarang ia sudah lulus, dan berganti menjadi budak korporat perusahaan sang papi.

Otlan terdiam sejenak, berpikir siapa. "𝘍𝘪𝘰𝘯?" Ujarnya ragu. "Kayaknya Fion 𝘴𝘪𝘩, 𝘴𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢-𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, terus 𝘧𝘪𝘭𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘦𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘰𝘮𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴. Kemaren 𝘫𝘶𝘨𝘢 menangin 𝘢𝘸𝘢𝘳𝘥𝘴 𝘥𝘪𝘢. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?"

Cana menganggukkan kepalanya paham. "Kamu ada nomor Fion kan? Aku minta, atau nomor managernya."

Otlan memincingkan matanya curiga. "𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯?"

"Mau ngajakin kerja sama."

"𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘱𝘢?"

"𝘠𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 sama."

Otlan menatap Cana penuh curiga, perkataan Kenzo beberapa waktu lalu terngiang di kepalanya. "𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰?"

Cana menatap Otlan bingung. Tak paham alur pembicaraan mereka kali ini.

"𝘋𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘪𝘯 𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘍𝘪𝘰𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘰𝘯 𝘨𝘪𝘵𝘶? 𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘕𝘢? 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘯𝘨𝘦𝘳𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰?"

Cana menghela nafas berat mendengar tuduhan tak berdasar dari Otlan.

"Aku lagi nyari influencer buat promosiin motel papi."

"𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘰𝘯? 𝘒𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯!" Wajahnya nampak masih tak percaya.

"Kamu yang bilang kalau dia lagi naik daun."

Otlan terdiam. Benar! Tadi mereka baru saja berbicara soal influencer yang baru naik daun.

"𝘠𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘍𝘪𝘰𝘯! 𝘒𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯!" Masih tak terima rupanya.

"Aku gak tau aktor, aktris atau influencer,"

Otlan terdiam, menggalu ingatan apakah pernah mereka membicarakan tentang gosip, dan memang pernah, namun Cana hanya menjadi pendengar, bahkan ia nampak tak tertarik, dan setiap diajak ghibah soal Artis yang sedang terkena skandal pun respon pemuda itu acuh tak acuh, hingga membuatnya kesal sendiri.

"Atau kamu mau nanyain Fion buat jadwal dia bulan ini?" Lama tak mendapatkan respon, Cana memilih jalur lain, agar Otlan tak semakin ngambek gak jelas (lagi).

"𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩, 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘍𝘪𝘰𝘯!"

"Aku butuh seseorang yang lagi digandrungi sama masyarakat sekarang," Karena sebetulnya ia sudah ingin pulang, namun pekerjaannya sangat mengekangnta dengan posesif.

Otlan mengerucutkan bibirnya. "𝘠𝘢𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘩 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 Fion."

"𝘛𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘱𝘢?" Tiba-tiba suara asing yang begitu lembut terdengar dari sebrang.

Otlan menoleh, nampak Fion dan Kenzo berada tak jauh darinya.

"𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴 𝘴𝘺𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘍𝘪?" Tanya Otlan yang di balas anggukan dan senyuman lembut gadis itu.

Kenzo segera mengambil posisi duduk di dekat Otlan, menatap layar Handphone sang pujaan yang menampilkan wajah saudara kembarnya. Wajahnya seketika berubah kesal. Bahkan saat mereka jauh pun Otlan selalu memilih pemuda itu daripada dirinya.

Fion mengangguk dan duduk di samping Otlan. "𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘬, 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘱𝘢?" Tanyanya 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 disebut-sebut.

"𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘪 𝘊𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 ada yang kosong 𝘨𝘢𝘬? 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 sama."

"𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢?" Tanyanya bingung.

"𝘐𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘪𝘯𝘧𝘭𝘶𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘳𝘰𝘮𝘰𝘴𝘪𝘪𝘯 𝘮𝘰𝘵𝘦𝘭𝘯𝘺𝘢,"

"𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘨𝘦𝘳𝘬𝘶 𝘢𝘫𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩," Ujarnya tak enak hati.

"Lowongin 1 atau 2 hari bisa tidak? Saya kasih 2 kali lipat dari harga biasanya, ah tidak, 3 kali lipat." Sahut Cana tiba-tiba saat mendengar penolakan. Ia tak ingin lebih lama di sana, entah kenapa ia ingin sekali segera pergi dan mengajak Otlan untuk kulineran malam seperti sebelum-sebelumnya.

"𝘈𝘩𝘩," Fion nampak bimbang. Sebenarnya ia tergiur, namun jika ia mengambilnya, ia harus merelakan hari liburnya.

Kenzo tersenyum, sepertinya itu ide yang bagus. Ia tau Cana itu seperti apa, kembarannya suka sekali "𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯" dengan banyak orang, jika Fiona ke sana, Cana pasti tertarik dengan gadis ini, dan hal itu bisa membuat pemuda itu menjauh dari Otlannya.

"𝘈𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘢𝘫𝘢 𝘍𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 Otoa, lumayan buat liburan, di sana pemandangannya bagus kok." Kenzo berusaha mengompori yang mendapatkan reaksi berbeda dari kedua orang yang mengenalnya. Tumben sekali dia mau membantu Cana, biasanya ia berusaha menggagalkan rencana Cana.

"𝘖𝘩 𝘺𝘢? 𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢?" Ia pun semakin tertarik mendengar perkataan Kenzo.

Kenzo tersenyum cerah, rencananya menghasut telah berhasil.

"Hanya mempromosikan Motel," Ujar Cana.

"𝘉𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘰𝘮𝘰𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘨𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢?" Ia 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 bertanya rinci, karena ia tau akomodasi di sana sangat susah, dan itu menjadi alasan ia malas untuk ke Otoa padahal ia sangat ingin menikmati pemandangan alam di sana yang katanya tak ada duanya, belum lagi banyaknya preman yang suka memalak.

"Saya akan menyiapkan semuanya, jika anda ingin pergi-pergi juga saya akan menjamin keamanan anda." Ujar Cana mantap.

"𝘉𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘐𝘮𝘦𝘴𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘳𝘪𝘯𝘤𝘪 𝘴𝘰𝘢𝘭 kerjaan nya." Kapan 𝘭𝘢𝘨𝘪 ia bisa liburan tapi dibayar 3kali lipat? Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.

Otlan membrengut. Meski ia tau mereka hanya membicarakan bisnis, namun tetap saja ia tak suka.

Kenzo yang melihat wajah cemberut Otlan pun mengelus pipi pemuda itu, gemas sekali dia. Yang segera di tampik dengan kasar oleh Otlan.

"𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘡𝘰, 𝘢𝘩!" Teriaknya kesal dan berusaha mendorong tubuh Kenzo menjauh, yang ditanggapi dengan tawa oleh Kenzo.

Fion dan Cana yang sedang membahas bisnis dari handphone Otlan sedikit terdistraksi dengan teriakan kesal Otlan tadi. Cana sebenarnya sangat penasaran apa yang terjadi di sana, namun ia tak bisa bertanya ke seseorang yang tak ia kenal. Akhirnya ia hanya diam berusaha menahan rasa ingin taunya.


Minggu, 04 Mei 2025

Member baru

 

                 Visualisasi : Fiona

"Halo semuanya," Sapa gadis cantik nan manis tiba-tiba, membuat Otlan yang ingin mengangkat panggilan dari Cana tanpa sengaja salah menekan dan malah merijectnya.

Semua orang menoleh keasal suara dan seketika tersenyum manis menyambut kedatangan member baru diantara mereka. (Kecuali Kenzo, karena ia tak mengenal gadis itu)

"Eh Fion udah sampe, sini sini duduk." Oyie pun dengan gembira menyuruh sepupunya untuk duduk disampingnya, menyuruh Otlan untuk bergeser ke kursi yang lain.

Otlan tanpa protes segera berpindah dan memberikan kursinya pada gadis cantik nan manis sepupu sang sahabat, meski ia agak kesal karena tangannya salah menekan tombol, dan saat di chat lagi Cana tak segera memberikan balasan.

"Halo Otlan," Sapa Fiona dengan senyuman manis."

"Halo Fion, lama gak ketemu," Sapa Otlan tak kalah ramahnya.

"Fion kenapa sekarang udah jarang main sama kita? Lagi sibuk banget apa sampe gak mau join." Sapa Freddy.

"Artis kita ini emang sibuk banget sampe lupa sama temennya." Goda Deki.

"Iya dong, kan artis papan nih gue sekarang." Ujar Fiona main-main yang disoraki malas oleh teman-temannya. Kepalanya menoleh kearah Orang yang duduk disamping Otlan dan ia pun memasang bingung. "Alah kalian sok-sokan kehilangan gue padahal udah nambah member."

"Kenzo mah bukan penambahan member, dia pengen deketin Otlan itu makanya ikut kumpul." Celetuk Freddy yang di balas decakan malas oleh Otlan.

Fiona menoleh keara Otlan dan memasang wajah menggoda. "Ciee Otlan sekarang udah berani pacaran ciee." Godanya menyikut pundak Otlan dengan pundaknya.

"Gak yaa! Gue gak suka sama dia, jangan mikir aneh-aneh." Ceplos Otlan tanpa perasaan.

Fiona seketika terdiam dan menatap Kenzo tak enak hati. Ia tak bermaksud membuat pemuda itu merasa buruk, ia hanya ingin menggoda Otlan saja awalnya.

"Iya Otlan emang gak suka Kenzo, tapi dia suka Cana, kakaknya Kenzo." Sahut Oyie yang membuat Fiona terdiam bingung, ia tak menyangka sang sepupu akan ceplas-ceplos di depan orangnya langsung, dan hal ini semakin membuat Fiona tak enak hati. Gadis cantik itupun mencubit paha sepupunya untuk menegur tanpa langsung, namun diabaikan oleh Oyie. Biasanya Oyie tak begini, namun kenapa hari ini berbeda.

Fiona menatap Kenzo tak enak hati namun pemuda itu seolah tak perduli, dan malah mengambilkan makanan untuk ia taruh di piring Otlan. Gadis itu sedikit bingung dengan kondisi yang terjadi.

"Gue gak suka Zo," Protes Otlan dan mengembalikan makanan yang baru diambilkan oleh Kenzo ke piring yang lain.

"Biasanya kamu suka pasta Lan," Ucap Kenzo sedikit sedih, karena Otlan selalu menolah pemberiannya, meski ini sudah sering terjadi.

Otlan hanya diam saja tak perduli dan malah asik dengan handphonenya.

Deki yang melihat Fiona hanya memperhatikan pun memilih untuk angkat bicara.

"Fion mau pesen apa? Ayo gue temenin pesen."

Fiona tersenyum manis, "Ayok," Ujarnya dan berdiri dari kursi, ia harus mencari tau apa yang terjadi, karena tingkah Otlan dan Oyie berbeda dari yang ia tau biasanya.

"Halo Na," Suara Otlan mengalihkan perhatian Fiona yang ingin menjauh dari Deki, dan ia melihat Otlan sedang asik bertelpon ria, dan Oyie yang menyindir temennya secara halus tanpa memperdulikan Kenzo yang sudah memasang wajah kesal.

"Ayok Fion," Ajak Deki menarik tangan Fiona untuk berjalan. Gadis itu pun segera mengikuti Deki. Banyak pertanyaan yang kini ada di otak cerdasnya.

Senin, 21 April 2025

Makin bahaya (nonohm)

 


Dengan pelan Cana membopong Otlan yang sedang tertidur pulas kearah ranjang, berusaha sebaik mungkin untuk tak membanggakan pemuda itu yang nampak sangat kelelahan.

Pelan-pelan di letakkannya Otlan keatas ranjang yang sudah rapi dan bersih.

Entah karena goncangan yang terlalu terasa atau memang Otlan gampang terbangun, matanya terbuka kala Cana telah berhasil menidurkannya keatas ranjang.

"Sorry, tidur lagi aja." Ujar Cana yang menyadari bahwa Otlan terbangun, ia pun menarik selimut sampai dada, dan ingin meninggalkannya agar kembali tidur. Namun tangannya yang di genggam Otlan menghentikan langkahnya.

"Kenapa? Ada yang sakit?" Tanyanya perhatian.

Otlan mengangguk. "Badan gue sakit semua." Ujarnya serak dengan bibir mengerucut lucu.

Cana pun duduk di tepi ranjang samping Otlan dan memijit kaki yang lebih muda meski tertutupi selimut.

"Tidur lagi, nanti pas jam 9 gue bangunin buat pulang." Ujarnya masih terus memijit.

Otlan pun mengangguk patuh, pemuda itu kembali memejamkan matanya dan tak lama tertidur pulas. Nampaknya ia sangat lelah karena aktivitas mereka tadi siang.

Cana sesekali melirik Otlan yang sudah tertidur dan tersenyum tipis, perkataannya tentang pujian yang baru saja ia twet tadi bukanlah omong kosong, kenyataannya Otlan memang masih sangat tampan meski ia sedang tertidur pulas, pantas saja sang adik begitu tergila-gila pada pemuda ini.

Meski Otlan telah tertidur pulas hal itu tak membuat Cana untuk segera menyudahi pijitannya, pemuda itu nampak menyukai memijit sambil menatap wajah tampan yang sekarang berada di atas ranjangnya. Namun siapa yang menyangka, wajah tampan yang innocent itu hanya sebuah tipuan muslihat. Ia masih ingat betul bagaimana binalnya Otlan tadi. Bahkan kata jorok keluar dengan leluasa membuatnya gemas hingga tak bisa menghentikan birahinya sendiri.

Kepalanya menggeleng berusaha mengenyahkan bayangan menyenangkan yang baru saja mereka akhiri, mengingat 𝘩𝘰𝘭𝘦 Otlan yang lecet karena perbuatannya membuatnya segera menghentikan otak mesumnya.

Kana pun memilih keluar kamar untuk menyegarkan kembali pikirannya yang sudah tak terkontrol, pemuda itu semakin hari semakin berbahaya, ada saja kelakuan yang membuatnya kalang kabut. Namun ia pun menyukainya.

Sabtu, 12 April 2025

Makan sore - nonohm

 


Angin berhembus pelan di salah satu kota Alana, sinar mentari yang sangat terik pun perlahan menghilang tertutup oleh kabut hitam membuat suasana menjadi sangat sejuk.

Cana menoleh kearah jendela dan melihat dunia luar yang sedang mendung, daun pohon di halaman rumahnya pun bergoyang-goyang mengikuti arah angin, namun pemuda itu tak perduli dan kembali menatap dokument di pangkuannya.

Tak lama suara gemuruh dan petir pun terdengar kencang dengan tiba-tiba diiringi dengan turunnya air dari langit, mengagetkan seseorang yang sedang tertidur lelap di lantai atas.

Belum genap nyawanya terkumpul, suara gemuruh kembali terdengar, kali ini jauh lebih kencang dari sebelumnya diikuti kilatan petir yang menyeramkan, seakan siap untuk melukai apapun.

"AHHH!" Pekik Otlan terkejut dan takut secara bersamaan, pemuda itu pun sontak keluar kamar dengan berlari tanpa memakai alas kaki, menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

Cana menoleh kearah lantai diatasnya kala mendengar teriakan Otlan disusul suara berisik langkah kaki, ia tak langsung bangkit dari sofanya, ditaruhnya dokument ke meja dan menatap tangga yang kini terdengar riuh, langkah kaki Otlan yang sedang berlari.

Tak lama Otlan telah sampai di lantai 1, pemuda itu pun terus berlari hingga sampai di sofa tempat Cana duduk dan segera menghambur di pangkuan pemuda itu, memeluk lehernya erat.

Cana yang kebingungan hanya diam di sofa membiarkan Otlan duduk di pangkuannya sembari memeluknya erat.

Gemuruh guntur dan petir kembali terdengar, membuat Otlan semakin merapatkan tubuh mereka, badannya sedikit bergetar ketakutan.

Meski ia tak begitu memahami situasi yang terjadi, namun Cana berinisiatif untuk menepuk punggung yang lebih muda beberapa kali berupaya menenangkan. Hanya ini yang ia tau cara untuk menenangkan seseorang, karena sang paman yang dulu memeluknya dan menepuk punggungnya lembut kala ia sedang ketakutan. Tak ada kata penenang atau kata-kata manis lainnya, hanya pelukan dan elusan di punggung dikala guntur dan petir semakin aktif mengeluarkan suaranya.

Setiap guntur bergemuruh setiap itu pula Otlan terkejut dan memeluk Cana semakin erat, menyembunyikan wajahnya di pundak yang lebih tua dan menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara ketakutan, meski beberapa kali suara ketakutannya terlepas tanpa sengaja saat suara petir menyambar kencang.

Cana melirik kearah Otlan yang sedang ketakutan, ia kini tau bahwa pemuda itu sedang ketakutan. Dengan susah payah diambilnya remot gorden di meja samping berkas-berkas pekerjaannya dan membuat gordennya bergerak sendiri untuk menutupi semua kaca di rumah itu. Meski tak bisa menghilangkan suara petir dan gledek tapi setidaknya pemandangan mengerikan di luar tidak terlihat.

Entah sudah berapa lama mereka berdiam dengan posisi saling memeluk di ruang TV yang terang karena semua lampu telah menyala. Dan kini suara gledek serta petir sudah tidak lagi terdengar, hanya sesekali kilatnya masih menampakan keperkasaannya.

"Masih takut?" Tanya Cana pelan. Tak ingin membuat Otlan semakin tertekan.

Mendengar suara Cana mengalun lembut menyadarkannya akan satu hal, bahwa kini yang ia peluk bukanlah sang abang seperti hari biasanya, melainkan seseorang yang sangat ia sukai.

Dengan cepat Otlan melepaskan pelukannya dan berganti duduk di samping Cana, suasana canggung terasa, meski hanya Otlan yang merasakannya sedangkan Cana merasa biasa saja.

"Maaf kak tiba-tiba meluk gini," Ujarnya tak enak hati, ia pun takut Cana merasa risih dengan tingkah lakunya meski ia tak sengaja melakukan hal ini. Rasa takutnya tak bisa membuatnya berpikir jernih.

Cana tersenyum tipis, entah kenapa melihat sisi lain Otlan selalu bisa membuatnya senang, karena ia merasa pemuda itu membutuhkan perlindungannya. Dielusnya rambut Otlan yang terjuntai karena kepalanya menunduk dalam. "Mau makan?" Tanyanya mengalihkan topik obrolan. "Pasti laper kan habis tidur tadi." Sambungnya sembari menyisir rambut Otlan kebelakang.

Otlan menatapnya malu-malu, ia ingin melihat reaksi Cana dan wajah pemuda itu nampak biasa saja, sama seperti hari biasanya tanpa ada perubahan apapun, seolah tak perduli dengan tindakannya tadi.

"Mau makan?" Tanyanya lagi kala pandangan mereka bertemu.

"Makan apa?" Tanyanya berusaha bersikap biasa aja, mengimbangi tingkah Cana.

"Mau makan apa? Biar gue masakin."

"Lo bisa masak?" Tanyanya dengan mata penuh ingin tau.

Cana mengangguk. "Yang simple aja."

Otlan tersenyum manis, "Mau nasi goreng seafood dong. Bisa?" Dengan wajah penuh harap.

"Bisa," Ujar Cana dan berdiri dari sofa, berjalan kearah pantri yang rapi dengan perlengkapan yang lengkap.

Otlan mengikutinya berjalan di belakang, bahkan saat pemuda itu mondar-mandir mengambil bahan-bahan di kulkas pun ia ikuti dengan wajah penuh senyum.

Cana menatap Otlan yang juga menatapnya. "Lo duduk aja," Usirnya halus.

Otlan menggeleng. "Nanti kalo tiba-tiba ada guntur lagi gimana?"

Perkataan Otlan tak ia sanggah lagi, pemuda itu hanya diam dan melanjutkan memotong-motong bahannya dengan cekatan. Sedangkan Otlan terus menatap semua pergerakannya dengan mata berseri. Ia tak menyangka Cananya bisa sesempurna ini. Ia tatap wajah Cana yang sedang fokus memotong, senyumnya pun nampak sangat memuja pemuda itu. '𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩?' batinnya bangga.

Cana sama sekali tidak merasa terganggu dengan adanya Otlan di sampingnya, pemuda itu pun memasak dengan cekatan, hingga kini nasi goreng seafood pesanan Otlan telah siap dihidangkan.

Bau harum dari masakan Cana membuat cacing di perut Otlan berbunyi nyaring.

Cana menatapnya dengan wajah geli sedangkan Otlan tersenyum tanpa dosa. "Ayo makan." Ujarnya membawa 2 piring nasi goreng seafood ke meja.

Otlan dengan semangat mengikuti Cana di belakang dan duduk di samping pemuda itu, mulai melahapnya dengan excited, ingin tau rasa masakan yang dibuat oleh kesayangannya ini.


Sabtu, 22 Maret 2025

Prompt Metanoa


#SadaOhm #NanonOhm 


Sada dan Nanon itu musuh bebuyutan dari mereka kecil, gak tau kenapa mereka hobi rebutan, di tambah Nanon yang sekarang sedang gencar ngedeketin adik tingkat yang dimana itu pacar Sada, baku hantam sudah jadi makanan mereka sehari-hari.


Sedangkan dilain sisi, kedatangan Nanon di hidup Ohm yang terasa berat seakan menjadi penyegar tersendiri


Visualisasi Nanon & Ohm 




Visualisasi : Sada & Ohm




Selasa, 18 Maret 2025

Diajak ke rumah

 

"Kenapa?" Tanya Cana sedikit heran melihat Otlan yang menggerutu sendiri sembari memukuli kepalanya.

Otlan menggeleng keras dan tersenyum aneh. Cana melihatnya semakin merasa heran, namun ia tak ingin memberikan komentar apapun.

"Habis ini mau kemana?" Tanya Cana memilih untuk tak melanjutkan obrolan mereka tadi, ia sudah sedikit lelah menemani Otlan yang banyak tenaga untuk mengelilingi mall, tapi tiap ditanya mau beli apa pemuda itu hanya diam dan terus melihat sekitar, seolah dia pun tak berniat untuk membeli.

"Ke taman aja yuk." Ajaknya setelah terdiam cukup lama. Sebenarnya iapun tak tau harus kemana lagi. Yang ia tau hanya ia ingin pergi bersama Cana seharian.

"Panas Otlan, ke tempat yang lain aja."

Otlan mencebikkan bibirnya gemas. Selalu saja ditolak jika ia mengajak ke taman. Entah ada apa pria itu dengan taman hingga se anti ini dengan taman.

"Lo tuh kenapa sih kalo diajak ketaman selalu gak mau?"

Cana terdiam, tak ingin menjawab.

Otlan berdecih, ia pun berjalan lebih dulu karena kesal dengan Cana yang seringn saja menjadi bisu ketika ditanya sesuatu. Sebenarnya ia bisa bertanya dengan Agra, namun ia ingin tau dari Cana bukan orang lain.

Tanpa berkata apapun Cana berjalan di belakang Otlan, ia biarkan Otla merasa kesal dengannya tanpa ingin menjelaskan sesuatu hal yang bisa menimbulkan trauma untuknya. Nyatanya bayangan masa kecilnya masih terekam jelas ketika ia tanpa sengaja bersinggungan dengan hal yang membuatnya teringat hal "𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶".

Otlan menoleh kebelakang, melihat Cana yang masih mengikutinya berjalan, ia pun menghembuskan nafas kesal, ia harus terima kenyataan kalau Cana memang seperti ini.

"Yaudah ayo ke hotel. Gue pengen tidur siang." Ujarnya masih dengan wajah cemberut.

"Gue anterin pulang." Tutur pemuda itu yang membuat Otlan mendelik ganas.

"Gak mau!," Tolaknya mentah-mentah. "Lo baru janji sama gue kalo bakal nemenin seharian ya Na!!"

"Ke rumah gue kalo gitu," Putusnya mencari jalan tengah.

"Gak mau nanti ketemu Kenzo."

"Rumah gue, bukan rumah ortu." Jelasnya singkat.

"OOohh," Ia berpikir sejenak. "Ayok ke rumah lo kalo gitu." Sambungnya, ia sedikit penasaran dengan rumah Cana, ia ingin tau kemana pemuda itu saat tak bisa dihubungi.

Meski Cana malas membawa orang untuk bermain ke rumahnya, bahkan Agra teman masa kecilnya saja selalu ia tolak jika ingin ikut kerumahnya, namun ia juga sudah lelah jika harus berkeliling dengan Otlan, tenaganya terasa diserap.

Dan rumahnya terasa jauh lebih baik ketimbang hotel, karena jika mereka di hotel adegan selanjutnya pasti tak jauh dari hal yang menyenangkan. Ia tak ingin membuat pemuda itu semakin terperosok lebih jauh, meski awalnya dia lah yang membuat pemuda polos itu menjadi seperti ini.

Ngambek

 


"Mau makan apa?" Tanya Cana begitu mereka telah sampai ke tempat makan langganan Cana dan memilih tempat duduk untuk mereka singgahi.

"Samain aja," Kata Otlan sembari duduk nyaman di kursi kayu panjang. Ia tak mengambil pusing soal makananan, karena makanan yang dipesan Cana biasanya enak dan sesuai dengan seleranya. "Pinjem hp lo dong Na, data gue abis." Sambungnya dengan cengiran lebar.

Cana pun memberikan hpnya ke Otlan dan segera berjalan menjauh dari sisi Otlan dan masuk kedalam cafe yang bernuansa alam (karena tadi mereka berada di luar Cafe) untuk memesan makanan mereka.

Otlan segera membuka hp Cana untuk menghidupkan 𝘏𝘰𝘵𝘴𝘱𝘰𝘵 di Hp itu dan meletakkannya begitu saja di depannya setelah tersambung.

Cana menatap papan menu diatas untuk memilih menu yang mungkin disukai oleh Otlan, di depannya sudah ada beberapa orang yang juga mengantri.

Sedangkan Otlan sibuk melihat video-video lucu dihpnya. Tanpa sengaja ia melirik kearah Hp Cana yang menyala karena ada notifikasi pesan, tangannya dengan cekatan mengambil kembali hp Cana dan melihat notifikasi sms dari sang ayah (memastikan ia tadi tak salah membaca).

'𝘊𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪? 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢?' Tanyanya dalam hati, perasannya menjadi tak menentu sejak membaca notif itu. Wajahnya seketika berubah keruh.

Cana yang telah selesai memesan pun berjalan keluar dari Cafe dengan membawa papan nomor berisi antrian makanan mereka. Dengan santai pemuda itu pun duduk di depan Otlan.

Otlan menatap Cana dan memberikan Hp pemuda itu tanpa ada senyuman sama sekali.

Cana yang memang acuh tak acuh terhadap sekitar tak menyadari perubahan mood Otlan yang terjun bebas, ia dengan santai memainkan hpnya.

"Lo mau pergi?" Tanya Otlan lirih, melihat Cana yang tak perduli membuatnya bertanya juga.

Cana mendongak menatap Otlan. Kepalanya pun mengangguk santai.

Melihat anggukan pemuda itu semakin membuat hatinya merasa tak nyaman. "Kemana?"

"Otoa,"

"Ngapain?"

"Ngurus cabang bokap yang mau bangkrut."

"Berapa lama?." Hatinya semakin berdentum tak nyaman. Ia takut akan sesuatu yang belom pasti.

"Kurang lebih sebulan,"

"Lama banget." Keluhnya, namun tak ayal hatinya sedikit merasa lega, ia pikir Cana akan pindah ke sana untuk mengurus bisnis keluarganya.

Cana tak menjawab keluhan Otlan, karena ia pun tak tau harus menjawab apa. Karena baginya sebulan itu sebentar.

"Kapan berangkatnya?." Otlan merasa jadi pewawancara jika bicara dengan Cana, namun pemuda itu tak akan mau membuka mulut jika tak ditanya. Sedikit sebal namun mau bagaimana lagi.

"Senin besok siang"

"Tiga hari lagi dong Na?" Keluh Otlan dengan kening mengkerut dan bibir maju beberapa senti. Pertanda ia tak suka. Namun terlihat menggemaskan untuk orang lain yang melihat.

"Iya..." Ujarnya bingung dengan reaksi Otlan sangat berbeda dengan Agra dan kenalannya yang lain.

Otlan mencebikkan bibirnya gemas. Ia terdiam beberapa saat karena merasa kesal.

Cana yang tak tau apa salahnya hanya diam dan sesekali melirik Otlan yang masih 𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘦𝘬.

"Kenapa?" Tanya Cana yang tak kunjung paham dengan ke 𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘦𝘬𝘢𝘯 Otlan, pemuda itu menatap Otlan dengan wajah 𝘪𝘯𝘯𝘰𝘤𝘦𝘯𝘵.

Otlan tak lantas menjawab, pemuda itu menghela nafas berat. "Lo ngajak gue kesini karena mau pergi?" Tanya Otlan 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵, Berharap jawabannya iya. Namun gelengan kepala pemuda itu membuat Otlan semakin kesal.

"Gue emang dari kemaren pengen 𝘮𝘦 𝘵𝘪𝘮𝘦 ke sini,"

"Terus ngapain lo ngajakin gue kalo gitu?" Wajahnya sudah seperti orang yang siap ingin melahap pemuda itu bulat-bulat.

"Karena lo lagi bete tadi." Jawaban yang terlampau jujur.

Otlan mendengus kesal. "Jadi lo gak ada niatan ngajak gue ke sini buat ngasih tau lo bakal pergi sebulan gitu?" Cana mengangguk bingung. "Yang artinya lo bakal ninggalin gue sebulan tanpa ngomong apapun gitu?" Lagi-lagi Cana mengangguk.

Ingin rasanya Otlan mengamuk kesal.

"Lo gak inget sama apa yang gue omongin kemaren Na? Kasih tau gue, susah banget ya buat lo?"

Cana terdiam, ia kini tau apa salahnya. Dia bahkan lupa jika Otlan memintanya untuk mengabari jika ingin pergi.

Keduanya terdiam. Cana yang tak ingin membela diri meski ia tak yakin dirinya 100% salah karena tak pernah menjanjikan akan mengabari pemuda itu. Dan Otlan yang kesal karena merasa dirinya tak dianggap penting oleh Cana.

Cana menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia melirik Otlan yang sibuk bermain ponsel dan mengabaikannya. Ingin rasanya dia meminta tolong pada Agra apa yang harus dia lakukan sekarang agar Otlan tak lagi ngambek, namun pemuda itu sedang sibuk menggarap tugasnya, ia tak sampai hati harus mengganggu untuk sesuatu yang tak begitu penting.

"Gue minta maaf." Ujarnya setelah berpikir cukup lama. "Gue gak terbiasa ngasih tau siapapun, Otlan, ini hal yang baru buat gue, tapi gue bakal selalu ngabarin lo kalo udah sampe sana," Sambungnya dengan wajah serius.

Otlan hanya meliriknya tanpa arti.

Cana menggaruk rambut belakangnya yang tak gatal. Kepalanya menoleh kesamping, dan disana ia melihat seseorang yang sedang membujuk sang lawan duduknya dengan meraih tangan gadis itu dan terus meminta maaf. Ia tak tau itu bakal berhasil dengan Otlan atau tidak, namun satu hal yang ia tau, ia harus melakukanya jika tak ingin di diamkan terus.

Dengan canggung Cana mengulurkan tangannya dan meraih tangan Otlan yang berada diatas meja dengan hp di genggaman pemuda itu. Dengan canggung ia mencoba menggenggam tangan Otlan dan menatap wajah pemuda itu yang terkejut akan sikapnya. "Maaf," Hanya itu yang ia ucapkan, namun ia bersungguh-sungguh dalam berucap.

Otla terdiam kaku. Tak pernah ia bayangkan jika Cana akan melakukan 𝘴𝘬𝘪𝘯𝘴𝘩𝘪𝘱 dengannya selain hal yang berhubungan dengan ranjang.

Kepalanya mengangguk beberapa kali dengan senyuman indah terukir di sana. Katakanlah ia bodoh, hanya begini saja ia sudah luluh.

Cana pun tersenyum lebar dan semakin mengeratkan genggaman tangan mereka yang dibalas genggaman oleh Otlan, tak ingin genggaman mereka terlepas begitu saja.

"Tapi gue punya 1 syarat." Ujar Otlan dengan wajah serius.

"Apa?"

"Sebelum lo pergi, lo harus sama gue terus, pokoknya seharian harus sama gue."

Cana tersenyum lembut. "Iya," Dan hal itu semakin membuat Otlan tersenyum bahagia.

Senin, 10 Maret 2025

Jangan mengejar seseorang yang tak ingin di kejar

 

Visualisasi Agra dan Kenzo

Agra berjalan beriringan dengan Petra masuk ke dalam Cafe, ia pun ikut mengantri dengan sang teman yang tadi menjemputnya dari kampus. Kepalanya menoleh ke penjuru Cafe, melihat suasana Cafe yang ramai. Matanya pun tertuju pada satu pemuda yang sedang duduk termenung di sudut Cafe samping jendela.

Ditepuknya pundak pria di sampingnya minta atensi. "Gue nyamperin Kenzo dulu, makananya samain punya lo aja." Ujarnya sembari menunjuk kearah Kenzo.

Petra menatap kearah yang di tunjuk dan mengangguk kecil.

Agra pun berjalan menjauh dari antrian dan mendekat kearah Kenzo, duduk di depan pemuda itu setelah menaruh tas ranselnya ke kursi sampingnya.

Kenzo menatap Agra malas, namun ia tak ada keinginan untuk menjauh.

"Ngalamunin apa? Otlan?" Tebaknya tepat sasaran.

"Bukan urusan lo." Ujarnya cuek, ia masih menatap luar jendela dengan pikiran bercabang.

Agra menatap Kenzo penuh simpati, ia sebenarnya merasa kasian dengan Kenzo, karena hidup pemuda itu yang tak kalah susah dari Cana, mereka hanya dua orang yang menjadi target salah didik, jika saia orang tua mereka tidak pilih kasih, ia yakin hubungan saudara kembar ini tak akan seburuk ini.

"Kenapa sih bisa suka banget sama Otlan?" Tanya Agra sedikit penasaran.

"Bukan urusan lo." Lagi-lagi jawaban yang sama cueknya.

Agra menghela nafas berat. Kenzo jauh lebih susah untuk diajak bicara dibanding Cana, pemuda itu seolah tak ingin ada orang yang menyentuh hidupnya.

"Mau sampai kapa lo ngejar Otlan kek gini, Zo? Gak kasian sama diri sendiri?" Tanya Agra to the point.

Kenzo yang memang mudah marah jika ada orang mengganggu kehidupannya, tangannya pun menggebrak meja kesal, membuat semua pengunjung terkejut dan menoleh kearah mereka dengan penasaran tak terkecuali Petra. matanya menatap Agra dengan emosi menggebu.

"Kenapa? Lo mau nyuruh gue mundur biar temen lo bisa menang?" Tanyanya sinis.

Agra menatap Kenzo dengan pandangan datar. "Bahkan tanpa gue ngomong gini ke lo, lo pasti udah tau kan kalo Cana yang menang,"

Kenzo mengeratkan giginya kesal, kedua tangannya pun mengepal kuat. Sayangnya yang dikatakan oleh Agra ada benarnya. Kenapa harus Cana lagi? Kenapa hidup pemuda itu jauh lebih bagus dari hidupnya? Kenapa hanya dia yang menderita?.

"Jangan pernah merjuangin orang yang ga mau lo perjuangin, Zo. Karena semua bakal sia-sia. Semua 𝘦𝘧𝘧𝘰𝘳𝘵 yang lo kasih ke dia, gak akan perna dia liat."

Kenzo mendengus. "Sok tau." Ia masih tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Otlan, karena baginya hanya Otlan yang layak untuk berada di sampingnya, menemaninya, dan menyanding nama keluarganya.

Agra menghela nafas berat. Ia tau usahanya akan sia-sia, namun ia juga tak ingin melihat orang yang ia kenal jatuh semakin dalam ke jurang yang dibuat sendiri.

"Gue ngasih tau sebagai orang yang pernah temenan sama lo dan gak ingin lo kenapa-kenapa, Zo. Otlan bukan satu-satunya orang di dunia ini, lo berhak dapetin yang cintanya setara sama lo."

"Gue gak perduli, gue hanya mau Otlan, cuman dia yang layak buat gue, ga ada orang lain."

Ke keras kepalaan pemuda itu jauh lebih keras dari Cana dan ia sudah tau ini, namun ia tak menyangka kerasnya akan seperti ini.

Agra lagi-lagi menghela nafas berat. Yasudahlah, kalau memang Kenzo sendiri sudah memutuskan untuk mengejar Otlan, ia mau bicara sampai berbusa pun percuma. Karena dia hanya akan mendengarkan dirinya sendiri. Mungkin nanti akan ada masanya pemuda itu lelah dan memilih menyerah. Namun ia hanya berharap saat itu terjadi ada seseorang yang mau menemani Kenzo bangkit dari keterpurukannya.

"Good luck." Ujarnya berdiri dan kembali mencangklongkan ransel ke pundaknya.

Kenzo menatap Agra kesal. Ia berpikir bahwa Cana menyuruh Agra untuk berbicara dengannya agar ia melepaskannya Otlan, namun sayangnya ia tak akan pernah melepaskan Otlan. Tak akan!.

Rabu, 05 Maret 2025

Otlan bagi Kenzo (orphic)

 


Kenzo menghela nafas panjang. Melihat postingan Otlan tentang Cana membuat hatinya berdenyut menyakitkan. Ia selalu berpikir apa yang kurang darinya hingga Otlan selalu lebih memilih berpihak pada Cana? Apa yang menarik dari Cana? Dan apa perbedaan diantara mereka yang bisa menarik pemuda itu hingga terus menatap kearah Cana dan malah selalu menghindarinya.

Otlan itu cinta pertamanya, Satu-satunya orang yang menolongnya tanpa pamrih.

Awalnya ia berpikir Otlan menolongnya waktu itu karena ada maunya seperti orang kebanyakan, namun setelah mereka kembali bertemu pemuda itu seolah tak menganggapnya ada, dan hal itu membuatnya merasa aneh, karena tak biasanya orang mendekatinya tanpa ada maksud terselubung.

Namun semakin lama ia pantau Otlan, semakin tau bahwa pemuda itu memang tak ada maksud lain, dia hidup dengan dunianya sendiri tanpa perduli sekitar.

Itu pertama kalinya ada seseorang yang berhasil menarik perhatiannya. Dan karena itu ia jadi terbiasa mengikuti Otlan kemanapun, melihat aktivitas pemuda itu dan keceriaannya entah kenapa bisa membuatnya sangat bahagia, kebahagiaan yang berbeda dari yang ia rasakan untuk keluarganya.

Awalnya ia berpikir ia sudah merasa cukup hanya dengan melihat pemuda itu dari jauh, mengaguminya dan menyayanginya, namun kehadiran Cana ditengah mereka membuat semuanya rusak. Otlannya telah direbut begitu saja.

Lagi-lagi ini karena penyakitnya, jika ia tak punya penyakit ini, Cana tak akan disuruh keluarganya untuk menggantikan dirinya, dan kalau bukan karena penyakitnya ia pasti sudah berada di bangku kuliahan seperti teman sebayanya. Semua ini karena penyakit sialan ini.

Satu-satunya hal yang ia syukuri dari penyakitnya karena bertemu Otlan dan bisa melihat pemuda itu.

Otlan itu bagaikan taman bunga di gurun sahara, ia memberikan ke indahan untuk hidupnya yang tak ada arti.

"Hei, boleh duduk bareng?" Sapa gadis manis bertubuh mungil menyapa dengan ceria, di tangan gadis itu ada secup es entah varian apa.

"Enggak." Ujarnya cuek. Ia sudah menduga untuk apa gadis itu menyapanya.

Gadis itu tak perduli dan segera duduk di depan Kenzo, membuat Kenzo menatapnya kesal.

"Jangan cuek-cuek gitu ah kak, nanti gantengnya luntur." Godanya dengan senyuman manis.

Kenzo menatapnya risih. "Ada apa?" Tanyanya berterus terang. Karena tidak mungkin orang akan mendekatinya tanpa maksud tersembunyi.

"Mau kenalan aja sih, nama aku Bila." Ujarnya mengulurkan tangan memperkenalkannya diri.

Kenzo hanya menatap tanpa minat uluran tangan gadis itu. Belakangan ini orang-orang yang satu sekolah dengannya seolah ingin berdekatan dengannya, namun ia tau pasti tak ada yang tulus dari mereka.

"Gak usah basa-basi, mau ngomong apa?"

Bila Memberengut kan bibirnya gemas. Persis kata orang-orang, Kenzo itu dingin, dia hanya akan mencair jika di depan Otlan. Namun tak apa-apa, ia suka seseorang yang penuh tantangan seperti Kenzo. Karena jika ia berhasil menaklukannya akan banyak hal "baik" yang akan datang padanya.

"Mau ngajak kenalan aja kak, gak boleh emang? Kan sama-sama single ini." Ia masih berusaha merayu Kenzo dengan senyuman manisnya.

Kenzo tak menanggapi omong kosong gadis itu, ia pun tanpa berkata apapun meninggalkan mejanya begitu saja, melangkah keluar dari kantin.

Menjadi anak yang tersohor di negerinya adalah suatu hal yang melelahkan, ada saja orang yang mendekatinya karena ada "niat" Terselubung, hingga membuatnya tak bisa berpikir positif tentang mereka yang mendekatinya, karena memang mereka semua tak ada yang tulus, kecuali Otlan.

Lagi-lagi ia iri dengan hidup Cana, pemuda itu bisa bebas bergerak kemana saja karena memang ia tak pernah di publikasikan sejak kecil, dan akhirnya ia hanya menanggung semuanya sendiri, ditambah pemuda itu yang selalu membawa masker jika keluar rumah. Lengkap sudah hidup pemuda itu. Kehidupan yang sangat ia inginkan. Sial. Kenapa hal baik selalu berpihak pada sang kembaran.

Tidak! Setidaknya Otlan tidak boleh jatuh ke tangan kembarannya, ia yang lebih dulu menemukan Otlan, jadi Otlan adalah miliknya, ia tidak bisa menjadi milik Cana. Tidak sekarang dan untuk selamanya.

Mungkin usahanya selama ini belum cukup menyakinkan pemuda itu, sekarang ia harus lebih keras mengejar Otlan, karena pemuda itu adalah satu-satunya kebahagiaannya. Dan kebahagiaannya tak boleh direbut 𝙡𝙖𝙜𝙞. Cukup dulu pemuda itu merebut temannya, kali ini ia tidak akan membiarkan Otlan direbut oleh orang yang sama.

Selasa, 04 Maret 2025

Wisuda (orphic)

 

Visualisasi 

Cana menghentikan mobilnya di pekarangan halaman rumah Otlan, bibirnya melengkungkan senyum melihat Otlan yang sedang berjalan kearah mobilnya dan duduk nyaman di Sampingnya.

"Pagiii," Sapanya ceria, moodnya terlihat bahagia hari ini.

'𝘎𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪 𝘊𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘬𝘦 𝘶𝘱 𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘨𝘪𝘵𝘶,' Pujinya dalam hati melihat wajah orang yang disukai bermake-up tipis untuk menghadiri acara spesialnya.

"Pagi," Jawab Cana sembari membelokan mobilnya agar bisa keluar dari ruma Otlan dengan mudah. "Gak papa kan nanti ikut nunggu di 𝘩𝘢𝘭𝘭?"

"Gak papa kok, gue malah seneng." Ujarnya dengan senyuman manis. "Bunda sama ayah ikut masuk?"

"Enggak, mereka nunggu diluar," Ujarnya fokus menatap jalanan.

Otlan menatapnya terkejut. "Kenapa diluar? Kenapa gak ikut masuk juga?"

"Ada batasan orang yang dibawa masuk,"

Otlan terdiam namun senyumnya semakin tersungging manis. Ia merasa sangat spesial, alih-alih menyuruh orang tuanya untuk menemaninya masuk, pemuda ini malah memilihnya. Ahh betapa bahagianya dia.

Perjalanan pagi itu terasa ramai seperti hari biasanya, namun Cana yang sudah terbiasa dengan jalanan membuat pemuda itu gampang terbebas dari kemacetan dan sampai di kampusnya dengan cepat.

Keduanya pun berjalan bersisian masuk kedalam kampus sembari berbincang kecil, senyuman tipis pun tak jarang mampir di bibir indah Cana mendengar celotehan Otlan yang tak jelas ujungnya.

Selama mereka berjalan, selalu menjadi pusat perhatian. Siapa di kampus itu yang tak kenal Cana? Pemuda tampan yang irit bicara disertai kecerdasan itu tentu menjadi topik menarik untuk diperbincangkan oleh mereka yang satu fakultas ataupun tidak.

Mereka bertanya-tanya siapa orang yang berada di samping Cana? Kekasihnya atau saudaranya? Namun jika saudara wajah mereka tak ada kesamaan sama sekali hingga mereka pun berasumsi bahwa pemuda tampan di samping Cana adalah pacar pemuda itu. Kehebohan pun tak bisa dihindari.

Otlan duduk dengan nyaman di kursinya yang bersebelahan dengan Cana di bangku paling belakang, (seharusnya Cana berada di depan, namun pemuda itu memilih duduk paling belakang bersama Otlan) tak sedikit pun pemuda itu merasa bosan karena ia sibuk mengoceh sembari memperlihatkan hal-hal lucu dari hpnya dengan Cana yang di jawab didengarkan dengan seksama dan sesekali tertawa jika benar konten yang ditampilkan memang lucu bagi humornya yang tinggi itu.

Keduanya sibuk sendiri mengabaikan sekitarnya yang sedang sibuk dan ramai sendiri akan acara hari ini.

Hingga pemberitahuan diatas podium beralih ke jurusan yang Cana ambil, nama pemuda itu pun terpanggil sebagai mahasiswa terbaik tahun itu dan memintanya untuk memberikan beberapa patah kata pada semua orang yang datang.

Otlan bertepuk tangan penuh akan rasa bangga, ia pun merekam moment Cana yang naik keatas podium untuk menerima gelar barunya hingga memberikan beberapa patah kata di tempat yang telah di sediakan.

Tak banyak yang dikatakan pemuda itu, khas dirinya yang malas untuk bicara panjang, dia hanya berterimakasih pada semua dosen dan memberitahu motivasi bagi anak-anak lain untuk tak menyerah meski ada yang mendapatkan nilai tak sesuai harapannya. Pemuda itu tak ada menyinggung tentang keluarganya sama sekali, tak ada dikata terimakasih yang dia layangkan seolah orang tuanya tak berarti.

Otlan tersenyum manis menyambut kedatangan Cana yang telah sampai kembali disampingnya dan duduk nyaman di kursinya. Satu yang ia tangkap dari kemaren hingga sekarang. Cana tak dekat dengan keluarganya.

Acara pun terus berlanjut tanpa ada hambatan.

--------

Setelah berjam-jam berada di ruangan yang penuh akan manusia kini Otlan bisa merasakan udara segar yang terasa menyenangkan. Ia pun mengikuti langkah Cana yang berjalan mendekati keluarganya beserta Agra yang sedang berbincang kecil.

"Kak Canaaa," Seru gadis kecil menjauh dari orang tuanya dan berlari mendekati Cana dengan tangan merentang, meminta untuk dj peluk.

Cana pun berjongkok menyamakan tinggi mereka dan memeluk ponakan kesayangannya. Keduanya berpelukan dengan bahagia.

Namun yang tidak diketahui Cana gadis itu memasang wajah permusuhan untuk Otlan dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Cana sembari me-meletkan lidahnya. Seolah mengejek.

Otlan pun ikut me-meletkan lidahnya sembari menunjukan map Ijazah yang Cana berada di tangannya. Keduanya pun saling melempar tatapan permusuhan tak ingin kalah.

Agra menoleh kearah Otlan dan Cana, wajah jail pun pemuda itu layangkan. "Ciee ciee Asik betul wisuda ditemenin ayang." Ujarnya menggoda.

Ayah bundanya hanya tersenyum melihat kedatangan mereka, namun senyumnya berbeda dari biasanya.

"Jadian juga enggak, main diajak ke hal penting aja, Kan." Sambungnya begitu Cana dan Otkan berada di samping mereka.

"Bacot." Ujar Cana yang semakin membuat Agra semangat untuk bertingkah jail.

Otlan hanya diam saja, namun senyum diwajahnya tentu menandakan bahwa pemuda itu bahagia.

"Gimana rasanya nemenin Cana di dalem? Merasa spesial gak, Lan?." Goda wanita itu.

Otlan tersenyum salah tingkah. "Ah bunda mah." Yah dia memang sudah sedekat itu dengan orang tua sambung Cana.

"Bukan lagi itu bun, liat aja wajahnya, kayak ngejek kita yang gak diajak ke dalam." Kompor sang suami yang segera dibantah Otlan.

"Dih fitnah dih,"

"Udahlah yah bun jangan di godain terus." Bela Cana.

Sang bunda dan sang ayah kompak menjawab. "Dibelain banget kayak pacaran aja."

"Enggak yaa! Kak Cana gak boleh pacaran!" Protes Alea tegas.

"Dih," Refleks  Otlan menjawab perkataan Alea sinis, dan karena hal itu godaan lainnya pun bergantian menggoda kedua pemuda itu, tidak lebih tepatnya menggoda Otlan yang gampang sekali terpancing.

Siang itu pun berlalu dengan cerah ceria, tawa di wajah mereka tak kunjung padam termasuk Cana. Dia merasa hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya, dan dia berterimakasih pada Otlan karena selalu bisa membuat suasana terasa jauh lebih hidup, dan ia berjanji untuk selalu membahagiakan pemuda itu apapun yang terjadi. 

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...