Selasa, 22 Oktober 2024

Orphic - Nonohm (kamuflase)

 


Melihat kamar Kenzo yang tiba-tiba gelap, Cana pun segera keluar dari kamar Agra, meloncat dari jendela lantai 2 tanpa takut akan tergelincir yang bisa membuatnya patah tulang.

Setelah turun dengan mulus, pemuda itu pun segera berjalan keluar dengan cepat.

Agra yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya hanya menghela nafas lelah, karena sudah terbiasa dengan tingkah laku temannya yang di luar nalar. Ia pun kembali mengerjakan tugasnya tanpa merasa cemas.

Cana berjalan dengan cepat masuk kedalam rumah tanpa ada yang tau, kebetulan para hanya ada satu security di depan rumahnya dan ia pun sedang sibuk menonton pertandingan sepak bola, sedangkan yang lainnya berkeliling memastikan keadaan rumah aman.

Cana yang tau betul letak titik buta setiap CCTV di rumahnya pun berjalan tanpa hambatan, namun terkadang ia harus bersembunyi karena bertemu dengan security yang berjaga, mencari arah lain agar bisa terus bergerak tanpa ketahuan.

Entah apa akan ia lakukan, pemuda itu hanya tak ingin menampilkan dirinya di CCTV dan tak ingin pula kehadirannya di ketahui oleh security. Ia ingin masuk kedalam rumah tanpa diketahui oleh siapapun.

Saat sampai di tangga yang jarang terpakai (karena mereka lebih suka menggunakan lift) Cana pun berjalan dengan tenang, dan ia pun mengechat anak buahnya untuk segera memanipulasi CCTV di lantai 3, kamar adiknya berada.

Setelah berada di lantai 3, Cana pun berjalan dengan tenang saat ia telah memastikan CCTV tak berjalan normal. Berjalan dengan langkah pasti, matanya pun terlihat menajam, nampak menyimpan beribu dendam yang tak bisa ia lampiaskan.

Di bukanya kamar Kenzo dengan pelan, berjalan ke dalam ruangan yang luas itu, setelah dekat dengan ranjang Kenzo, ia pun mengambil bantal putih yang tak di pakai si pemuda dan mengitari ranjang dengan langkah pelan agar tak menimbulkan sura.

Ia tatap wajah damai Kenzo beberapa saat sebelum menekan bantal ke wajah Kenzo, membatasi ruang untuk bernafas.

Kenzo memberontak dengan semua tenaga yang ia punya, namun tenaga Cana jauh lebih besar darinya, hingga ia sulit bernafas, bisa di pastikan penyakitnya kambuh kembali.

Mendengar suara nafas seperti terjepit, Cana dengan segera melemparkan bantal ke samping kasurnya yang kosong dan berganti menjadi mencekik pemuda itu.

Kenzo mendelikkan matanya melihat Cana yang menatapnya datar, kedua tangannya berusaha melepaskan cekikan di lehernya yang semakin membuatnya susah bernafas. Ia seperti sekarat.

"Kalo lo masih berani deketin Otlan gue bakal pastiin detik berikutnya lo udah gak bernyawa." Ujarnya mengancam dan segera melepaskan cekikan di lehernya.

Dengan nafas yang terputus-putus Kenzo mencoba menekan tombol di samping kasurnya agar ada seseorang segera datang ke kamarnya dan menyelamatkan hidupnya uang sudah di ambang batas.

"Inget kata gue baik-baik." Ujarnya sebelum keluar dari kamar Kenzo dengan langkah cepat namun tak menimbulkan bunyi.

Berbelok kearah tangga dan segera terjun turun saat mendengar langkah kaki mendekat tanpa takut ia salah pijakan nantinya. Tangga di rumahnya di desain melingkar, itu membuat Cana bisa segera menuju lantai 2 ketika ia terjun bebas, dan saat di lantai 2 pun ia kembali loncat hingga sampai lantai 1 tanpa merasa kesulitan dan segera keluar dari rumahnya tanpa hambatan.

Sarung tangan yang sengaja ia pakai sejak tadi pun ia kantongi dan meloncat keluar dari pembatas pagar rumahnya, berjalan kearah motornya yang sengaja ia parkir di depan rumah Agra.

Benar-benar orang yang lincah.

Di balik helm fullfacenya Cana terlihat tersenyum, kedua tangannya pun ia lepaskan dari stang beberapa detik dengan suara tawa yang keluar dari bibirnya. Ia nampak bahagia setelah melakukan hal kriminal pada sodaranya.

Sebenarnya ia melakukan itu bukan untuk Otlan, tapi untuk membalaskan dendam dirinya yang selalu mendapatkan masalah dari Kenzo. Nanti ia akan memperlakukan Otlan lebih baik sebagai tanda permintaan maafnya karena sudah memanfaatkan kondisi pemuda itu. 

Malam ini ia sangat bahagia, jadi biarkan ia merayakan malam ini dengan berdisko dan di temani beberapa alkohol atau beberapa beta yang menjual dirinya di sana nanti.

Ahhh andai saja anak buahnya tak sedang dalam masa buruan polisi, ia pasti sudah mengajak mereka untuk berpesta malam ini.

Yasudahlah, sendirian pun juga menyenangkan, mungkin nanti akan ada seseorang yang menemaninya sepanjang malam seperti sebelum-sebelumnya.

Minggu, 20 Oktober 2024

Orphic


Cana menjalankan motornya dengan keecepatan tinggi, karena sebentar lagi sudah waktunya jam pulang sekolah, ia tak mau membuat Otlan semakin menunggu lama.

Bel pertanda pulang pun berdengung nyaring, semua anak mulai memasukkan buku pelajaran kedalam tas, bersiap untuk pulang, termasuk kelas 2A, tempat Otlan dan Kenzo berada.

Sang guru pun lantas mengakhiri sesi belajarnya dan tak lupa untuk memberikan pekerjaan rumah sebelum keluar dari kelas.

Murid-murid pun segera keluar kelas saat sang guru telah keluar, berdesakan untuk bisa keluar lebih dulu.

Otlan yang biasanya memilih sepi baru keluar kaliin pun ikut berdesakan dengan banyak siswa/siswi, membuat ketiga temannya saling tatap namun mereka pun ikut mengantri di belakang (malas untuk ikut berdesakan).

Entah apa yang membuat pemuda itu begitu terbu-buru keluar kelas, ketika melihat lift banyak yang mengantri Otlan lebih memilih untuk menuruni tangga dengan sedikit berlari kecil. Ketiga temannya yang mengikutinya dari belakang menjadi terheran-heran dengan tingkah laku sang teman, tak hanya itu, Otlan pun berlarian di koridor, melewati lorong demi lorong agar bisa segera keluar dari sekolah, namun sekolahan tempat ia menimba ilmu sangatlah besar, belum sampai lobby tenaganya sudah lebih dulu habis.

Freddy yang melihat Otlan berhenti dan berganti menjadi berjalan tertawa kecil.

"Si Otlan kenapa ya?" Tanya Oyie penasaran.

"Lagi di tungguin yang," Ujar Freddy yang membuat kedua orang di sebelahnya menatapnya penasaran, namun tak lama Oyie pun memilih untuk berjalan cepat mengikuti Otlan tepat di belakang, ia sudah terlanjur kepo dengan crush sang teman.

"Gak mau ngikut kayak Oyie?" Tanya Freddy menatap sang pacar yang masih setia disampingnya.

Deki terlihat bimbang, namun tak lama pemuda itu pun ikut berjalan cepat menyusul kedua temannya yang lain.

Freddy hanya tertawa melihat tingkah kedua orang itu, namun ia diam-diam penasaran, bagaimana reaksi mereka melihat crush Otlan nanti? Dan bagaimana reaksi mahasiswa serta mahasiswi yang ada disana saat melihat seseorang yang wajahnya sama seperti seseorang yang sekolah di sana. Ia tak sabar melihat huru-hara yang akan terjadi.

Cana terus melajukan motornya dengan keecepatan lumayan tinggi, menyalip berbagai kendaraan yang menghalangi jalannya tanpa takut, hingga saat akan sampai di sekolahan Otlan, lajuan motornya pun perlahan menurun dan berhenti tepat di depan Otlan yang sedang berdiri di samping trotoar dengan ketiga temannya.

Para mahasiswa/mahasiswi yang berada di luar menatap Cana dengan penasaran dan mulai menggosip dengan teman-temannya saat melihat Cana sedang berbicara dengan Otlan.

Dibukanya helm kaca helm fullface yang ia kenakan hingga hanya terlihat bagian matanya saja sebelum bicara. "Ini gue Cana, mana HP gue?" Tanyanya tanpa berbasa-basi.



Oyie, Deki dan Freddy menatap Cana dengan pandangan yang berbeda, Deki serta Oyie menatapnya penasaran dan sedikit kecewa karena tidak bisa melihat rupa crush sang teman.

Otlan pun segera mengangsurakan HP Cana yang sejak tadi ia pegang.

Dengan segera Cana pun mengambilnya namun Otlan dengan sigap menjauhkannya Dari tangan Cana, membuat kening pemuda yang Masih mengenakan helm itu mengerenyitkan kening.

Otlan pun mendekati Cana dan mencondongkan tubuhnya ingin berbisik disamping helm Cana. 

Semua orang yang melihat hal itu pun sangat terkejut, apalagi Kenzo yang baru tiba Dan langsung mendapatkan pemandangan tak menyehatkan seperti itu. Kedua tangannya pun mengepal erat.

"Anak buah lo di tangkep sama polisi," ujar Otlan berbisik yang membuat Cana membulatkan mata terkejut.

Ia tak percaya begitu saja dan segera mengambil HP-nya di tangan Otlan dengan cepat, hingga membuat Otlan terkejut dengan kegesitan tangan pemuda itu. Cana pun segera membuka HP-nya dan menemukan notifikasi dari Moren.

"Thanks," ujarnya dan mulai menyetarter kembali motornya, bersiap kembali malju di jalan raya.

Otlan yang tau Cana ingin segera pergi pun memegan lengan Cana dengan kedua tangannya, entah kenapa ia seakan tak ingin cepat berpisah dengan pemuda di depannya.

Cana menatapnya heran.

"Gue ikut," Ujar Otlan tegas, matanya pun menyiratkan kesungguhan.

Hanya dua kata namun mampu membuat Cana sedikit tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Ngapain?"

 Otlan tak lantas menjawab, ia pun tak tau kenapa ingin ikut.

Cana mendesah berat dan melepaskan tangan Otlan dari lengannya, "Gue mau ngurus sesuatu bukan mau main, Otlan,"

"Gue tau." ujarnya keras kepala dan kembali menggenggam lengan Cana erat. "Siapa tau gue berguna di sana,"

Cana awalnya tak ingin membawa serta Otlan, namun melihat tatapan pemuda itu yang begitu bersungguh-sungguh membuatnya luluh. "Naik," ujarnya tak ingin memperpanjang masalah.

Otlan pun dengan cepat naik keatas jok motor di belakang Cana yang memang tinggi, namun setelah duduk ia bingung harus berpegangan dengan apa, karena joknya yang di desain menurun.

Freddy menatap Otlan dengan pandangan tak percaya, bukannya sang teman Masih denial? Kok sekarang tiba-tiba menjadi agresif seperti ini, Oyie dan Deki pun sama herannya, namun mereka memilih untuk diam, ingin mengamati tindak-tanduk sang teman lebih jauh.

Tanpa menunggu lama, Cana pun segera menjalankan motornya dengan keecepatan tinggi membuat Otlan sontak memeluk pinggang Cana erat, Dan tubuh yang menempel karena tubuhnya secara sepontan menurun saat motor melaju.

Kenzo melihat itu semua, dan spontan kakinya pun menendang pager besi sekolah membuat kakinya berdenyut menyakitkan.

Semua orang yang tadi menatap kearah Otlan penasaran berubah menatap Kenzo, melihat tingkah Kenzo yang sedang kesakitan sembari memukul pager besi di samping pemuda itu. Hal itu pun menjadi bahan perbincangan semua orang di sana. Bercocoklogi dengan liar.

Motor terus melaju dengan kecepatan tinggi, Otlan yang tidak terbiasa menaiki motor apalagi dengan kecepatan yang tinggi membuatnya takut, alhasil selama perjalanan ia hanya menutup matanya ketika berada di belokan ataupun menyalip kendaraan besar. Jantungnya berpacu dengan tak normal. Tangannya pun memeluk pinggang Cana dengan erat.

Saat sampai di tempat tujuan Cana pun menghentikan motornya di sisi lain trotoar tempat markasnya, dan benar saja ia melihat para polisi disana entah sedang mencari apa. Otlan pun ikut melihat kearah Cana menatap dan ia hanya diam bertanya dalam hati tentang bangunan di sebrang.

Cana pun kembali melajukan motornya dengan kecepatan biasa kearah bengkel yang tak jauh dari markasnya, saat sampai di bengkel pun ia tak lantas masuk kedalam seperti hari biasanya, ia melihat sekitar bengkel dan mencoba melihat kedalam apakah ada polisi disana, dan untungnya disana tak ada satupun polisi yang menjaga, kemungkinan besar bisnis bengkelnya menyatu belum tercium oleh kepolisian.

Ia pun turun dari motor, ingin berjalan masuk, namun melihat Otlan yang Masih duduk nyaman di atas motor membuatnya menatapnya bingung."Kenapa?"

"Kaki gue keram." Jar Otlan lirih, ia malu sebenarnya, namun mau bagaimana lagi, rasa kesemutan di kakinya sangat tak nyaman.

Tanpa babibu Cana pun memeluk pinggang Otlan dan menurunkannya dari motor, namun pemuda itu tak melepaskannya begitu saja, ia masih menggendong Otlan hingga masuk kedalam bengkel, membuat anak buahnya yang berada di bengkel menatap mereka bingung.

"Si boss bawa siapa itu?" Tanya Moren pada Edo yang mendapat angkatan bahu. Ia sama tak tahunya dengan semua orang di sana.

Dengan pelan di dudukannya Otlan di kursi kerjanya, di susul Edo beserta anak buahnya yang lain masuk kedalam ruangan.

Otlan yang di perlakukan secara tak lazim oleh Cana hanya terdiam membisu, namun bisa di liat jika pemuda itu malu.

Edo dkk berusaha menatap Otlan yang bersembunyi di belakang punggung Cana, seolah di sembunyikan dengan sengaja oleh sang tuna muda, dan saat melihat siapa orang di balik punggung Cana Edo pun terkejut, tak menyangka Cana berani membawa seseorang yang di gadang-gadang crush pemuda itu ketempat mereka, namun Moren serta lainnya yang tak tau siapa di belakang Cana hanya diam dengan pandangan bingung. (Moren memang mudah melupakan wajah seseorang)

Cana pun menatap anak buahnya yang berjejer rapi di ruangannya. "Udah ada yang mencaritau ada masalah apa?" Tanyanya tenang.

Semua anak buahnya pun saling melirik, karena yang bekerja di bengkel sejak tadi tak ada yang bisa keluar karena buru-buru mengerjakan mobil serta motor sebelum boss mereka datang.

Otlan menatap semua orang yang disana dengan sedikit negri, karena badan mereka yang besar penuh otot dan bertatto, bak preman yang suka mencari keributan di jalanan.

"Karena ini boss, masalah geng Fire kemaren," Edo lah yang membuka suara memberitahu.

Cana menaikkan alisnya, "Geng Fire?" Tanyanya tak paham, apa sangkut pautnya geng Fire dengan mereka.

Edo mengangguk mantap. "Tadi waktu aku tanya ke Salah satu kepolisian kalo orang-rang kita yang ngebunuh geng Fire."

Otlan membulatkan matanya tak percaya. Diam-diam ia merasakan takut.

Cana menutup matanya, ia tak habis pikir. "Kalian negebunuh mereka?" Tanyanya yang di balas gelengan kuat oleh semua anak buahnya.

"Kita semaleman di markas boss, gimana bisa ngebunuh mereka?" Bantah Salah satu anak buahnya yang bernama Vero. 

"Kita cuman ngerjain anak buah meraka yang kita tangkep doang boss." Sahut orang di sebelah Vero yang tak kalah kekarnya.

"Lagian kita mana berani boss ngebunuh orang kalo gak di suruh sama boss." Sahut Moren yang sejak tadi terdiam.

Cana terdiam, kedua tangannya berlipat di depan dada dengan mata menyerang, mencari benang merah kenapa menjadi mereka yang tersangka? Apa karena anak buah Fire yang masih mereka sekap hingga tadi siang? Tapi darimana polisi tau mereka menyekap anggota Fire? Apakah ada yang mengadu? Tapi siapa?.

Melihat Cana hanya diam, Edo pun kembali bicara. "Katanya mereka dapat aduan gitu boss dari telpon, tapi pas di lacak gak tau siapa yang ngasih Tau."

"Lo tau darimana?" Tanya Moren heran dengan Edo yang bisa mendapatkan informasi seditail itu.

"Kebetulan kenalan bokap gue salah satu polisi yang ngeringkus markas kita." Ujarnya enteng.

"Terus gimana ini boss?" Tanya Agam yang berada paling pojok, "Kalau di diemin nanti bengkel kita juga pasti ketahuan sama mereka."

Cana hanya diam saja, ia berpikir keras bagaimana caranya membebaskan anak buahnya, ia butuh bukti yang kuat, karena kepolisian pun sudah mengantongi bukti berupa mereka menyekap anak buah Fire di markas.

Semua orang di ruangan itu saling tatap melihat Cana yang hanya diam saja, saling berbisik dengan satu sama lain.

"Kalian selesaiin kerjaan kalian," Ucapnya mengusir.

"Tapi boss-" Verdi terlihat ingin membantah, namun melihat wajah Cana yang menatapnya datar membuatnya kembali terdiam.

"Udah ayo balik kerja." Moren menengahi dengan apa yang terjadi dan mendorong tubuh teman-temanya untuk segera berjalan.

"Bang kalo anak yang lain gak bisa keluar gimana?" Tanya Verdi pada Moren. Meski mereka tak ada ikatan darah, namun persaudaraan mereka lebih kental Dari itu.

"Lo disana juga gak akan bisa bantu apa-apa, biarin si Cana mikirin solusinya, mereka pasti balik, Cana gak mungkin biarin mereka di sana terus." Ujar Moren mencoba menenangkan.

Meski berat namun Verdi dkk mencoba percaya dengan omongan Moren, karena tak sekali dua Kali mereka terlibat dengan kepolisian, namun kasus Kali ini berbeda dengan biasanya.

"Geng Fire itu markasnya yang kebakar semalem itu, kan?" Tanya Otlan memecahkan keheningan, ia sangat penasaran hingga tak bisa terus meredam pertanyaanya.

Cana sedikit tersentak saat mendengar suara Otlan yang mengalun tiba-tiba di belakang tubuhnya. Tubuhnya pun menoleh kebelakang. "Iya,"

"Kalo emang bukan kalian yang ngelakuin kenapa gak nyari pengacara aja?" 

Cana duduk di ujung meja kerjanya sembari menatap Otlan. "Nyari pengacara jelas bakal di lakuin, tapin kita juga butuh saksi dan butuh bukti."

"Kalian sih pake nyekap orang segala, lagian ngapain coba nyekap-nyekap orang?" Gumam Otlan tak habis pikir.

Can mendengus. "Mereka itu orang yang mau ngebunuh gue kemaren, yang keroyokan di gang, yang gue suruh lo nelpon temen gua." Entah kenapa ia harus menjelaskan kepada Otlan.

"Ohh," gumam Otlan paham. Namun seakan mendapatkan ide ia pun menepuk tangannya keras dengan wajah seakan berhasil menyelasaikan penelitian yang berhenti bertahun-tahun. "Gue bisa jadi saksi, kan gue ada disana pas mereka main keroyokan, jadi kalian ada alasan kenapa kalian nyekap anak buah geng Fire." 

Cana mendengus. "Ini masalah gue, lo gak usah ikutan, kita gak tau siapa orang di balik ini, kalo lo ikutan lo bisa di jadiin target mereka nanti." Tolaknya mentah-mentah.

"Kan lo bisa ngelindungin gue." Entah kenapa ia sangat pede mengutarakan pendapatnya.

"Otlan, gua gak tinggal bareng sama lo, gue gak bisa jagain lo 24jam."

"Siapa juga yang mau lo jagain 24jam?" Tanyanya meremehkan. "Gue hanya butuh penjagaan selama di luar rumah, kalo di rumah udah banyak bodyguard papa."

Cana hanya diam mendengar perkataan Otlan, ia tak ingin menarik pemuda di sampingnya untuk ikut andil dalam masalahnya.

Namun, selain Otlan dan Freddy tak ada orang lain yang melihat tawuran itu, Dan di sana pun area buta CCTV. Dan jika ia meminta tolong pada Freddy, belum tentu pemuda itu ingin membantunya.

"Kenapa lo ingin bantuin gue?" Tanya Cana memastikan tak ada unsur menjebak di dalamnya.

"Karena lo bisa bantuin Kenzo buat ngejauh dari gue, kalo lo di penjara nanti siapa yang bisa bikin Kenzo menjauh?" 

Cana mendengus, ia tak habis pikir dengan pikiran Otlan yang sangat polos. Pemuda itu rela menjatuhkan dirinya ke lubang yang belum jelas isinya apa hanya demi menjauhi Kenzo. Seberapa besar Kenzo membuat pemuda itu ketakutan sebenarnya?.

Setelah memastikan banyak hal dalam pikirannya tentang kemanan Otlan, Cana pun menghubungi pengacara langganannya dan segera meminta tolong untuk di dampingi serta menjelaskan masalah apa yang terjadi, setelah pengacaranya menyanggupi ucapannya, Cana pun menyuruh Moren serta Edo untuk masuk kedalam menggunakan telpon kantor.

"Kenapa boss?" Tanya Moren dan Edo barengan.

"Petra di mana? Ketangkep juga?" 

"Petra dari semalem belom balik boss ke markas, kayaknya Masih sibuk sama penelitian dia." Ujar Moren memberitahu.

"Telponion si Petra suruh nyadap CCTV markas dari 2 hari kemaren sampe sekarang, dan sekalian arah jalanan geng Fire, siapa tau kita nemuin jeckpot." Ucapnya yang segera di angguki oleh Moren dan pemuda itu pun segera pergi untuk melaksanakan perintah atasan.

"Lo ke apotek Farmasi, minta CCTV kemaren di jam 6 lewat 30an, kalo bisa sekalian CCTV di venue bulan yang arah parkir, di jam 7an, ah sekalian deh ke rumah gue minta CCTV di lantai 2 Dari jam 8.30 sampe pagi, terus pulangnya bawa mobil gue yang putih, yang biasanya gue parkirin di markas."

"Oke," Ucap Edo semangat dan segera keluar dari ruangan begitu saja.

Otlan menatap Cana heran. "Mau nyari bukti?" Tanyanya yang di balas senyuman misterius ala Cana. Otlan mendengus kesal dan memilih untuk memainkan ponselnya daripada mengurusi Cana yang juga sibuk dengan ponselnya tanpa ingin memberitahu.

Keduanya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga pintu ruangannya terbuka dariluar, menampilkan seseorang bersetelan rapi berdiri di tengah pintu.

Cana lantas berdiri dari duduknya Dan menghampiri sang tamu, menyambutnya dengan sopan. 

"Duduk pak," Ujar Cana menyuruh tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruangan itu Dan mengambilkannya minuman serta cemilan yang ada di kulkas di ruangan itu.

Otlan menatapnya dengan bingung, menebak siapa orang itu hingga di perlakukan dengan sangat baik oleh Cana.

"Kamu sudah mencari buktinya, Na?" Tanya pria berusia 50an akhir itu setelah Cana duduk di sebebalahnya.

"Anak buah saya sedang mencarinya pak,"

"Untuk saksi bagaimana?" 

Cana menatap Otlan yang juga Masih menatapnya dengan pandangan innocent. Sang tamu pun ikut menatap Otlan dan seakan paham.

"Saksinya udah ada, pak. Tapi kalau bisa jangan sampai melibatkan saksi,"

Sang pengacara terdiam sejenak "Saya usahakan tapi tidak bisa menjanjikan, karena kemungkinan besar masalah ini akan di bawa ke meja hijau."

Cana sebenarnya tak puas dengan jawaban sang pengacara, namun jika memang hanya cara ini bisa membebaskan anak buahnya, mau bagaimana lagi?.

Mereka pun lantas berdiskusi tentang apa yang harus di lakukan dan apa yang harus di hindari untuk saat ini, agar Cana serta teman-temannya yang belum tertangkap tak ikut mendekam dalam bui. Untungnya mereka selalu menjaga kerahasiaan Cana yang tak ingin mempublis apapun, hanya orang tertentu yang mengetahui siapa saja anak buah di dalam geng bernama Zero.

Geng Zero terkenal dengan dunia bayangan, bahkan tak banyak orang tau siapa orang yang mengendalikan geng besar itu.

Dan kesimpulan yang harus ia lakukan, menutup semua bisnisnya untuk sementara dan menyuruh anak buahnya yang tersisa ke kota lain dengan berpencar.

Otlan yang mendengar semua omongan kedua orang itu semakin bingung, memang Cana ini siapa? Dan apa yang di lakukan pemuda itu, usia mereka hanya bertaut beberapa tahun, namun kenapa bisa dunia mereka seberbeda ini.

Rabu, 09 Oktober 2024

NonOhm - Orphic (main)

 

Suara bel di rumah besar kawasan elit Eunia terdengar, di depan pintu kayu yang besar itu terdapat Agra sedang berdiri di tengah-tengah sembari memainkan HP-nya, menunggu pintu  raksa di depannya terbuka.

Meski kini jam telah menunjukan angka setengah sebelas malam, namun Agra tetap bertamu di rumah orang, yang ia yakin belum pada tidur, apalagi temannya itu.

Tak lama pintu pun terbuka, dan menampilkan seorang maid di sana, membungkuk dengan sopan.

"Cana di rumah kan?" Tanya Agra berjalan masuk yang di ikuti sang maid.

"Iya den, den Cana di rumah sejak sore." Jawabnya sopan.

Agra pun mengangguk dan memberi kode dengan tangannya untuk sang maid agar tak mengikutinya yang segera di lakukan oleh gadis muda itu, karena dia sudah tau siapa Agra, dan tak ada pekerja di rumah itu yang tak tau tentang Agra, teman satu-satunya majikan tertua mereka.

"Mi please aku bosen di rumah." Rengek Kenzo memeluk lengan maminya dan mengerucutkan bibir, tak lupa tatapan mata yang menyanyu.


Agra yang sedang melewati ruang keluarga sontak berhenti dan mundur beberapa langkah untuk menyembunyikan dirinya di balik tatanan kayu pembatas, ingin tau apa yang sedang mereka obrolkan.

"Enggak Kenzo, kamu belajar di rumah sampe lulus!" Tolak sang mami mentah-mentah.

Agra menaikkan alisnya, ia pun segera memasang telinganya baik-baik.

"Mamiiii!" Rengek pemuda itu terlihat sedikit kesal, rangkulan di lengan maminya di lepas kasar. "Mami udah gak sayang sama Kenzo lagi yaa?!"

Agra memutar matanya malas. Sudah hapal dengan tingkah laku adik kembar temannya yang menjengkelkan ini.

"Justru mami ngelessin kamu di rumah karena mami sayang Kenzo. Mami gak mau kamu ngelakuin hal yang salah lagi di luar sana."

Kenzo berdecak kesal, kedua tangannya bersidakap depan dada. "Mami cuman sayang Cana aja ga sayang Kenzo."

Sang mami menghela nafas berat, kepalanya mendadak pusing, dokumen di pangkuannya pun sudah tak ia baca lagi.

"Kalo mami sayang Kenzo, mami gak akan halangin Kenzo buat sekolah lagi!"

Agra mencibikkan bibirnya sinis. 'Drama mulu hidupnya' batinnya tak kalah sinis.

"Kenzo tau Kenzo selama ini cuma nyusahin mami, tapi Kenzo juga gak mau punya penyakit ini mamii!! Kenzo juga mau kayak Cana yang sehat dan bisa pergi pergi terus."

"Kenzo dengerin mami, mami ngelarang kamu ke sekolah biar kamu gak ngelakuin hal kriminal lainnya, nak. Stalking in orang itu termasuk ha kriminal, mami gak mau kamu masuk penjara."

Kenzo tetap memasang wajah kesal. "Kan Kenzo udah bilang kalo Kenzo gak akan ngelakuin kesalahan yang sama mamii!!! Kenzo tau kesalahan Kenzo, mami cukup kasih kesempatan buat Kenzo dan liat kalo Kenzo udah berubah!!"

'Power rangers kali,' sahut Agra dalam hati.

Melihat maminta tak menanggapi omongannya, Kenzo pun kembali berbicara mengancam.

"Yaudah lah mami, Kenzo gak usa sekolah aja selamanya, biar Cana terus yang sekolaha gantiin Kenzo!" Ucapnya dan berjalan, ingin berjalan menjauh.

Sang mami yang mendengar perkataan anaknya seketika menarik tangannya dan menghentikannya untuk berjalan menjauh.

"Oke oke, besok kamu bisa sekolah lagi, jangan ngambek ya sayang, sini duduk lagi."

'Gampang banget luluhnya' batin Agra tak habis pikir.

Kenzo pun mengulum senyum dan kembali menatap sang mami dengan wajah masih pura-pura ngambek. "Beneran?" Tanyanya memastikan.

Sang mami mengangguk mengiyakan. "Iya sayang, sini duduk lagi,"

Kenzo pun segera duduk dan kembali memeluk lengan sang mami di sertai mencium pipi sang mami sayang. "Makasih mami, mami paling baik di dunia." Pujinya menyenderkan kepalanya di pundak sang mami.

Yang tak di ketahui semua orang di sana, senyuman Kenzo berubah menjadi senyuman miring dan pandangan mata yang menajam. 'Otlan, kamu itu hanya milik aku, gak boleh ada yang milikin kamu selain aku.' batinnya berucap pasti.

Merasa sudah tak perlu melanjutkan menguping, Agra pun segera keluar dari tempat persembunyiannya dan menyapa kedua orang yang sedang duduk di sofa.

"Malem tante, malem Kenzo, Cananya ada kan Tan di dalem?" Sapa Agra sesopan yang ia bisa.

Kedua orang yang sedang duduk di sofa pun menolehkan kepalanya kebelakang.

Sang nyonya rumah tersenyum lembut. "Ada Gra, Cana ada di dalem."

"Kalo gitu Agra permisi ya tante, marii." Ujarnya dan berjalan begitu saja.

Kenzo mendengus sinis, rasa iri di hatinya tak kunjung padam, entah kenapa semua hal yang ia mau Cana selalu mendapatkannya, sepertu halnya teman setia yang selalu ada untuk pemuda itu, Kenzo juga menginginkannya namun tak tau kenapa ia tak bisa. Semua orang yang mendekatinya hanya menginginkan sesuatu darinya tanpa ada ketulusan sama sekali.

"Inu udah jam 11 mami, mami tak takut mereka ngapa-ngapain? Si Agra kan omega."

"Kamu tenang aja, kakak kamu meski kelakuannya preman gitu dia gak akan berani ngelakuin hal yang di larang."

Bahkan Cana juga bisa mendapatkan kepercayaan sang mami yang tak pernah ia dapatkan.

Kenzo mendengus kesal namun tak mengatakan apapun, ia kesal kenapa Cana selalu lebih unggul darinya.

Agra pun berjala terus kearah lift dan masuk kedalam saat lift sudah terbuka, memencet angka 3 dimana ruangan khusus untuk Cana berada. Di lantai 2 ruangan untuk Kenzo.

Tak lama pintu pun terbuka, pemuda itu segera keluar dari lift dan berjalan lurus kearah salah satu kamar yang ada di sana, tanpa mengetuknya ia pun segera masuk kedalam dan melihat sang teman yang sedang fokus dengan laptop dan buku-buku.

Tanpa berkata apapun Agra menendang kursi Cana hingga bergerak menjauh dengan tiba-tiba.

Cana menatapnya sengit, namun ia tak mengatakan apapun dan kembali mendekat kearah laptopnya berada, ingin melanjutkan ketikannya yang sedang menggarap tugas untuk thesisnya.

"Gue denger tadi di bawah si Kenzo mau sekolah tuh besok." Ujar Agra mulai menggibah sembari berjalan kearah ranjang Cana yang sangat lebar.

Cana menoleh, "Terus?"

"Nyokap lo ngijinin," Jawabnya sembari duduk dengan nyaman di sofa depan ranjang kenzo, menidurkan tumbuhnya di sana.

Cana yang mendengar itu kembali melanjutkan mengetiknya.

"Kasian yang gak bisa ketemu Otlan besok," Goda Agra dengan wajah jail. Namun Cana sama sekali tak bereaksi. Seakan teringat sesuatu Agra pun kembali duduk. "Ohiya ngomongin soal Otlan HP lo masih kebawa tuh sama Otlan, terus katanya besok di ambil di sekolah aja."

"Hp?" Tanya Cana pada dirinya sendiri. Pemuda itu pun sontak mencari Hp di badannya dan benar saja ia tak menemukan benda pipih itu. "Tau darimana kalo Hp gue di bawa Otlan?"

"Dari Twitter Otlan, dia sendiri yang ngomong."

Mendengar jawaban itu, Cana pun segera membuka aplikasi twitte melalui web dan melihat akun Otlan, benar saja yang di katakan temannya. Ia pun segera men DM pemuda itu.

"Tapi kan besok yang dateng ke sekolah si Kenzo, hp lo gak bisa di ambil dong?" Tanya Agra penasaran

"Emang yang boleh dateng ke sekolah cuman anak sekolah sana?" Tanya Cana tanpa ingin menjawab pertanyaan temannya.

Agra mengerutkan keningnya dalam, ia tak paham hingga teringat ia di antar jemput sewaktu masih SMA dulu. Bibirnya pun menyunggingkan senyum mengejek.

"Oh mau jemput si ayang."

Cana hanya meliriknya malas tanpa ingin membalas.

"Pulang sana ke rumah, ngapain masih disini." Usirnya tanpa perasaan.

Agra tak mendengarkan, pemuda itu malah asik berselancar di yutub.

"Agra!"

Agra berdecak kesal. "Gue tidur disini ajalah, toh besok kelas pagi, berangkatnya juga bareng."

"Yaudah sana pindah ke kamar lain, jangan di sini."

"Gak mau," Ujarnya keras kepala dan asik kembali bermain sosia medianya.

Cana berdecak malas. Agra selalu suka menyusahkannya, pemuda itu setiap tidur di rumahnya selalu tak ingin langsung tidur di kamar lain, alhasil membuat Cana menggendongnya untuk di pindah kan ke kamar lain.

Tapi yasudah lah, selagi tak mengganggunya yang sedang serius mengerjakan thesis biarkan saja dia mau melakukan apa.

Jumat, 04 Oktober 2024

Enigma part 8 - Bersaing

Nanon dan Pawat pun kembali berjalan bersisian setelah Pawat merasa baikan, diikuti oleh Janeeyah serta Allira di belakang mereka.

Pawat menatap kearah bianglala dengan mata berbinar. "Ayo naik itu kak," ujarnya sembari menjuding bianglala, senyumnya pun merekah sempurna.

Nanon menaikkan alisnya, "Kincir angin?" Tanya Nanon memastikan.

Wajah pemuda itu nampak bingung. "Kincir angin itu yang mana kak?"

Nanon tersenyum gemas dan menjuding kearah bianglala. Kadang ia bingung kenapa Pawat bisa tidak tau nama wahana di sini. 

Pawat mengangguk antusias. "Iya, ayo naik itu, aku udah lama gak naik," ujarnya dengan mata berbinar lucu, penuh harap.

Namun sayang Nanon tak menyukai ide Pawat, wajahnya terlihat tak suka dengan ide yang baru saja Pawat katakan. "Kamu tadi baru muntah-muntah loh Ohm, naik yang lain aja deh," ujar Nanon menolak tegas.

Pawat pun membrengutkan bibirnya kesal. Nanon hanya diam saja melihat Pawat yang sedang ngambek. Biarlah, toh ini demi kebaikan pemuda itu.

Janeeyah yang merasa mendapatkan peluang untuk caper pun berjalan ke samping Nanon dan menatap tersenyum manis.

Pawat meendengus melihat wajah Janeeyah, ia sudah menebak apa yang ingin dilakukan gadis itu.

"Gimana kalo kita naik Carousel kak?" Ujar Janeeyah dengan mata bulat yang lucu.

Kening Pawat mengkerut. "Carousel itu apa?" Tanyanya bingung, karena wajar saja ia tak pernahmendengar kata itu di dunianya. 

Nanon mengangguk setuju. "Boleh." Ujarnya mengabaikan pertanyaan Pawat.

Pawat menatap Nanon kesal, "Carousel itu apa kak?!" Tanyanya sedikit menaikkan nada suaranya dan berbicara tepat di telinga pemuda itu.

Nanon pun kembali menatap Pawat tersenyum lembut, mengeelus rambut belakang Pawat tak kalah lembut. Bukannya kesal dengan tingkah laku Pawat, pemuda itu malah bersikap semakin lembut. "Itu Carousel," ujarnya dengan menjuding kearah yang dimaksud.

Janeeyah memutar matanya malas. 'Caper terus,' batinnya kesal.

Pawat pun menatap kearah yang di maksud Nanon dan mendengus tak suka. Carousel yang mereka maksud adalah komedi putar. "Gak mau ah, itu kan mainan anak-anak." Ujarnya menoleh mentah-mentah.

"Kamu kan masih anak-anak Ohm," Ujar Nanon menarik Pawat untuk kembali berjalan, namun Kali ini Nanon membawanya kearah antrian komedi putar.

Wajah Pawat seketika merona mendengar perkataan asal Nanon.

Janeeyah menendang tanah di bawahnya kesal. "Yang ngajak tadi kan aku!"

Allira mengelus lengan sahabatnya lembut. "Nanti pas udah di atas kita pisahin aja mereka, kamu sama kak Nanon, aku sama Pawat, biar mereka gak  bisa duduk bareng." 

Janeeyah pun menatap sahabatnya dengan mata berbinarsenang. "Bener juga, ayo kesana." Ujarnya bahagia dan mengapit lengan temannya untuk ikut mengantri di belakang Nanon serta Pawat.

Pawat masih mengerucutkan bibirnya, tak suka jika harus menaiki itu wahana, karena di tempat asalnya itu wahana hanya di naiki anak-anak, meski di sini banyak orang dewasa yang ikut naik, tapi tetap saja, tak ada ardenalinnya, Dan itu menurutnya tak seru.

Nanon yang tau Pawat masih ngambek pun mencubit pipi temannya gemas, yang berhasil mendapatkan side eye dari Pawat, namun Nanon malah tertawa karenanya.

"Nanti habis naik Carousel kita naik Kincir angin, gimana?" tanyanya mengalah. Ia tak mau seharian di ambekin oleh temannya yang menggemaskan ini.

Wajah Pawat seketika kembali cerita, bibirnya yang tadi maju pun berubah menjadi tersenyum manis. "Beneran?" Tanyanya memastikan.

Nanon mengangguk pelan. "Iya," 

Pawat pun sontak memeluk tubuh Nanon erat dan meloncat-loncat kecil di tempat karena keinginannya di kabulkan. "Sayang banget deh sama kak Nanon." Ujarnya bahagia dan refleks mencium pipi Nanon.

Nanon yang terkekeh dan tubuh Pawat agar tak jatuh menjadi mematung ketika pipinya di cium begitu saja. Telinganya pun memerah pertanda malu, namun ia tak mengatakan apapun. Nanon tak terbiasa dengan seseorang yang menciumnya, karena selama  17 tahun ia hidup, ini baru pertama Kali ada seseorang yang mncium pipinya, dan efeknya sungguh luar biasa, hanya ciuman pipi tapi mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Janeeyah membulatkan matanya tak terima melihat pipi Nanon di cium oleh orang lain, ia pun sudah bergerak maju tapi di hentikan Oleh sang sahabat, Allira menggeleng pelan, mencegahnya untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan dan berakibat mempermalukan dirinya sendiri di tempat umum.

Wajahnya merengut tak terima, tatapan matanya begitu terluka, ia ingin menangis rasanya, tak terima melihat orang yang ia sukai selama lebih dari 4 tahun dicium sama orang lain begitu saja.

Setelah sadar apa yang dilakukannya, Pawat pun melepaskan pelukannya di tubuh Nanon dan menunduk malu, ia merututuki tubuhnya sendiri yang bergerak tanpa ia minta.

Nanon pun sama malunya, tangannya yang tadi bertengger di pundak Pawat terlepas dan memasukkannya kedalam saku celana kain yang ia pakai.

Janeeyah Masih bersungut-sungut di belakang sana, Masih tak terima dengan apa yang ia liat, rasa kesalnya terhadap Pawat semakin meninggi.

Orang yang mengantri di kincir angin tak sebanyak antrian di wahana lainya, hingga kini mereka berempat telah berada di atas, sedang mencari ingin duduk dimana.

"Mau duduk dimana Ohm?" Tanya Nanon menatap Pawat yang masih sibuk memilih tempat duduk dengan berbagai macam bentuk.

Tatapan mata Pawat pun jatuh ke satu tempat, kuda putih. "Aku mau duduk di sana." Ujar Pawat excited dan berjalan mendahului Nanon untuk menaiki kuda putih incarannya

Allira memberikan kode kearah Janeeyah untuk menarik Nanon menjauh yang segera di lakukan oleh gadis itu.

Saat Nanon ingin berjalan mendekati kearah Pawat, Janeeyah pun mengapit lengan Nanon dan membawanya duduk di tempat yang mirip selayaknya kereta kuda pada film barbie, duduk berdampingan.

Sedangkan Allira segera duduk dikursi kuda sebelah Pawat, menghindari Nanon untuk menolak keinginan temannya.

Nanon yang tak perduli akan ingin duduk dimana memilih diam saja, toh di samping Pawat sudah ada Allira yang menemani.

"Berasa anggota kerajaan gak sih kak, duduk di sini," Ujar Janeeyah, wajahnya nampak berseri-seri karena Nanon tidak menolak ia ajak duduk berduaan di tempat yang biasanya di gunakan untuk berpacaran.

Nanon mengerutkan keningnya, bingung harus menjawab apa, karena ia tak merasakan seperti apa yang dikatakan Janeeyah. "Hehehe iya," ia pun memilih untuk berbohong.

Wajah gadis itu semakin bahagia mendengarnya, sekarang ia seakan merasakan menjadi putri suatu kerajaan yang menikah dengan Nanon, pipinya pun bersemu merah karena khayalannya sendiri.

"Kak liat deh, itu kayaknya enak," Ujar Pawat menjuding kearah stand makanan tanpa menatap Nanon. Kepalanya pun menoleh karena Nanon tak menanggapi ucapannya, dan ia terkejut mengetahui orang yang duduk di kursi kuda sampingnya bukanlah Nanon. 

Allira tersenyum miring dan melambaikan tangan seolah mengejek.

Pawat tak perduli dengan tingkah laku gadis itu, kepalanya pun menoleh kebelakang mencari sosok yang seharusnya duduk di sampingnya dan membrenggut sebal melihat Nanon yang duduk berduaan dengan gadis itu, apalagi Nanon yang terus menanggapi ocehan Janeeyah membuat rasa kesalnya menjadi berkali-kali lipat.

Pemuda itupun segera turun dari tempat duduknya, berjalan mendekati Nanon dengan langkah lebar.

Allira yang ingin mencegah pun kalah cepat dengan langkah Pawat yang berahir ia kembali duduk, karena tak ingin menjadi pusat perhatian di tempat ramai seperti ini.

Tanpa malu Pawat langsung duduk di pangkuan Nanon, membuat semua orang yang melihat tingkah lakunya menatapnya heran, begitupula Nanon yang terkejut saat Pawat tiba-tiba duduk di pangkuannya tanpa berkata apapun.

Janeeyah berdecak melihat tingkah caper pemuda itu. "Kamu ngapain sih? Gak malu apa di liatin orang-orang?" Ujarnya kesal.

Pawat tak menanggapi ucapan Janeeyah, hanya lirikan kesal yang ia layangkan untuk gadis itu.

"Kak Nanon tadi janji mau nemenenin kamu terus? Kok sekarang malah akunya di tinggal?" Protesnya sembari memiringkan kepala, ingin melihat wajah Nanon.

Nanon tersenyum lembut dan memeluk pinggang Pawat, Janeeyah yang melihat itu semakin menampilkan wajah tak suka ya.

"Tadi kan kamu udah duduk sama Allira." Ujarnya kesal, kembali menatap kedepan Dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Pawat meliriknya kesal. "Yang janji mau nemenin aku seharian kan kak Nanon, bukan Allira."

Nanon tersenyum gemas dan mengeelus kepala Pawat tak kalah gemesnya. "Sekarang aku temenin ini," 

Pawat mendecih mendengar jawaban Nanon. Apa-apaan jawaban dia itu? Namun ia tak memilih melanjutkan debatannya saat ia melirik kearah Janeeyah danmendapati gadis itu menatapnya dengan pandangan menusuk. Bukannya merasa takut Pawat malah dengan sengaja menyenderkan punggungnya ke dada Nanon dan memainkan jari jemari Nanon menautkan dengan jarinya sendiri. Memperlihakan ke Janeeyah bahwa gadis itu telah kalah dengan ya.

 Nanon hanya diam saja melihat tingkah laku Pawat, tangan kirinya yang tak di mainkan oleh Pawat ia buat untuk memeluk perut pemuda itu dan dagu pipi yang menempel di kepala Pawat, mencium bau harum pemuda itu yang entah kenapa sangat membuatnya nyaman.

Kelakuan Pawat yang aneh pun menjadi sorotan bagi semua orang yang berada di sekitar mereka, bisikan yang di sertai gosipan dari asumsi pribadi meluncur dengan indahnya.

Ingin rasanya ia jambak rambut Pawat dan melemparnya keluar dari arena, namun ia tak mau image lemah lembut yang sudah susah payah ia bangun ruska begitu saja.

"Kak Nanon lihat deh disana ada yang jualan CD klasik, nanti maumampir gak?" Ujar Janeeyah berusaha caper namun telinga Nanon seolah tuli, ia malah asik berbicara dengan Pawat yang Masih ngambek padanya.

Rasa emosinya semakin memuncak. Kenapa sekarang menyingkirkan Pawat sangat susah, apa yang harus ia lakukan agar Pawat menjauh dari calon pacarnya.

Kamis, 03 Oktober 2024

NonOhm - Orpic

 Cana telah selesai dengan pekerjaanya mengambil kembali mobil yang di sewa Dan tak lupa meminta uang tambahan karena mereka telah melebihi kontrak meminjam.


Setelah melihat mobilnya di bawa oleh anak buahnya, Cana pun berjalan kearah motornya, memakai sarung tangan serta helm sebelum menaikininya dan melajukannya ke jalan raya yang macet.


Namun Cana adalah seseorang yang sering terjebak kemacetan dan mengikuti balapan liar, hingga ia dengan mudah bisa terus melajukan motornya di gempuran klakson yang saling bersaut-sautan.


Tanpa sengaja ia melirik spion motornya dan melihat beberapa motor tak jauh darinya, ia ingat betul motor-motor itu sudah mengikutinya sejak ingin mengambil mobilnya yang di sewa, ingin memastikan apakah firasatnya benar, dengan sengaja ia pun mempercepat laju motornya, melewati mobil dan motor yang berhenti, mengambil celah dari truck dan mobil yang sedang berhenti hingga ia bisa terus melajukan motornya.


Dan benar saja saat ia menatap spion otor-motor itu terus mengikuti ya, seolah tak ingin kehilangan. Ia pun tersenyum sinis, dengan sengaja ia pun membelok-membelokan motornya di antara para pengemudi motor dan mobil yang terhenti, namun sepertinya yang mengikutinya bukanlah orang sembarangan, terbukti mereka Masih bisa terus mengejarnya.


Di belokkannya tang motor kearah jalanan perkampungan yang kecil, yang hanya bisa di lalui satu motor, para motor yang mengikutinya masih setia di belakang sana. Tempat sampah serta kayu yang berada di pinggir jalan dengan sengaja di tendang oleh Cana agar menghalangi jalan orang di belakangnya.


Para pemotor yang mengikutinya pun berhenti karena jalanan yang terdapat kayu Dan smapah berserakan, dengan cepat ia pun menelpon rekannya lain Dan memberitahu apa yang terjadi serta dijalan mana Cana akan berahir. Setelahnya mereka pun berputar arah untukbisa ikut mengepung meski nanti akan sedikit terlambat dariteman-temannya yang lain.


Beberapa meter di depan sana ada jalanan terdapat jalanan lebih besar, sebelum motornya berhasil keluar dari gang kecil pemuda itu pun menarik rem motornya kuat hingga membuat ban belakang motornya berdecit nyaring dan berasap lebar, motornya pun sedikit oleng karena rem yang mendadak, namun Cana dengan cepat bisa mengatasinya hingga kini ia berdiri dengan menopang motornya yang miring tepat dipinggir jalan lebar itu. 


Di depan para preman yang menghadang jalannya terdapat seseorang yang ia kanali. Drain, ketua geng Fire yang memang mempunyai dendam pribadi padanya karena kalah taruhan waktu hingga mobilnya beralih ketangannya.


Matanya menatap para sekumpulan orang yang sudah siap dengan kayu serta pisau di tangan masing-masing, dengan serampangan ia pun meletakkan motornya begitu saja dan mendekati mereka, membuang helm kearah para preman di depannya, memulai menendang serta menangkis keroyokan para preman itu.


Perkelahian pun tak bisa di hindari, entah ada berapa orang yang kini mengerebunginya, membuatnya berada di tengah, namun Cana bukanlah seseorang yang mudah takut, dengan gesit ia pun menghindari beberapa kayu serta pisau yang siapa menghujam tubuhnya.


Ditariknya kayu dari seorang preman entah siapa dengan kuat hingga terlepas dari tangan sang pemilik dan segera mengayunkannya ke sembarang arah hingga membuat para preman itu mundur selangkah.


Bibirnya tersenyum miring, ia sudah lama tak merasakan dikeroyok seperti ini, moment yang langka yang harus bisa ia atasi kalau tidak ingin nyawanya mela yang begitu saja.


Kini giliran Cana yang bergerak lincah menyerang para preman itu, menendang dan memukul dengan satu gerakan, kaki dan tangannya tak bisa diam, mereka bekerja sama untuk melumpuhkan musuh, satu gerakan menumbangkan dua orang.


Cana dengan gesit menunduk kala kayu hampir menggetok kepalanya dengan keras, seseorang yang membawa pisau siap menusuknya pun dengan ia tendang kuat hingga terplanting kebelakang. 


Sebanyak orang yang ia kalahkan, sebanyak itu pula para orang-orang itu bertambah, seakan tak ada habisnya.


Otlan berdecak kesal melihat kemacetan yang terjadi, ia pun kembali menatap jam tangannya yang terus bergulir ke samping.


"Gimana ini Di, acaranya udah mau mulai." Ujar Otlan kesal. 


Hari ini mereka berencana menonton konser dari band favorite mereka yang sedang singgah di negaranya, mereka berdua pun sudah siap dengan setelah baju rapi, tak lupa semprotan perfume kesayangan pun tercium pekat, namun macet di jalan hari ini membuat hati yang awalnya bahagia menjadi bamood tak karuan.


Freddy pun ikut kesal karenanya, kepalanya menoleh ke samping dan melihat seseorang yang keluar masuk di gang tak jauh dari tempat mobilnya berhenti, dan ia pun teringat jalan cepat kearah venue dengan melewati pemukiman kumuh di gang itu.


"Lan, lewat jalan itu mau? Tapi biasanya ada pencuri disana, asal dompet lo taroh di tempat aman jangan taroh di saku belakang pasti aman." Ajak Freddy menjuding kearah gang kecil yang tadi di masuki oleh beberapa motor.


"Ayo dah, gue gak mau ketinggalan acara." Ujarnya setuju begitu saja.


Mereka berdua pun lantas turun dari mobil dan berjalan kearah gang itu dengan cepat, Karena waktu mereka semakin terkikis.


Bau tak sedap sangat menyengat indra penciuman mereka, sampah serta kayu berserakan di jalanan, Freddy dan Otlan pun berjalan dengan hati-hati agar tak terkena cipratan lumpur atau menyenggol sampah yang berbau busuk.


Pertarungan antara Cana dan geng fire Masih terus berlanjut, kini nafas pemuda itu sudah sedikit memberat, tenaga pun sudah terkuras setengahnya, saat ia sedang menendang serta memukul preman di depannya, tiba-tiba ada orang yang mengarahkan  pisau kearahnya tanpa ia sadar, hingga Cana dengan refleks menahan pisau itu menggunakan tangan, menggenggamnya erat, membuat darah menetes dari genggamannya. Dengan serampangan ia pun menarik pisau itu dan membuangnya melambung tinggi entah nanti jatuh kemana. 


Tak perduli tangannya yang terluka, pemuda itu Masih erus bergerak luwes menghajar para preman itu.


Otlan dan Freddy yang melihat cahaya dari ujung lorong pun segera mempercepat langah kakinya, namun keduanya sontak berhenti kala melihat pertarungan yang tak jauh Dari mereka menghalangi jalan untuk keluar. 1 lawan entah berapa, namun nampaknya lebih dari 10. 


"Di ini gimana keluarnya," Tanya Otlan semakin kesal. Ada saja sesuatu untuk menghalangi mereka datang ke venue acara.


"Telfon polisi aja Lan, biar di bubarin," Ujar Freddi sembari memincingkan matanya, ia ingin melihat siapa orang di tengah-tengah yang sedang melawan pengeroyokan. Matanya pun membulat kala melihat seseorang itu. 


Dan Otlan pun segera mengikuti saran sang teman.


"Lan itu Cana bukan?" Tanyanya ingin memastikan, ia sedikit ragu dengan penlihatannya sendiri.


Otlan yang mendengar perkataan temannya seketika menolehkan kepalanya dan ikut melihat siapa orang yang di tengah. "Iya Di itu Cana," ujarnya sangat yakin.


Suara dari sebrang telfon terdengar saat panggilannya terangkat, namun mata Otlan yang masih memperhatikan sekitar Cana seketika berteriak panik kala ada orang yang ingin menusuk Cana Dari belakang. "CANA AWAS BELAKANG LO!!" Teriaknya membahana memberitahu.


Freddy yang tidak menduga sahabatnya akan berteriak pun seketika menarik Otlan untuk bersembunyi di belakang tong sampah dekat mereka, kala seseorang yang sedang memantau perkelahian dengan merokok menoleh kearah mereka. Ia tak ingin mati konyol di tempat seperti ini.


Cana yang mendengar seruan dari Otlan seketika menggerakan kaki kaki kananya untuk menendang orang di belakangnya hingga orang tersungkur ke tanah dengan keras. Cana menoleh kesal suara, karena ia tak melihat siapapun pemuda itu pun segera menendang siapapun untuk keluar dari kungkungan orang tak ada habisnya ini, sembari berjalan mundur ia masih terus menendang dan memukul siapapun hingga kini ia berada di tak jauh dari tempat persembuan Otlan serta Freddy yang sedang ketakutan.


Memang sengaja ia membawa para preman itu untuk mengerubungi kearah persmbunyian Otlan, agar boss mereka alias Dian tak menyakiti kedua kenalannya ini, dengan segera ia pun membuang HP-nya ke bawah kaki Otlan serta Freddy, membuat kedua pemua itu align bertatapan bingung.


"Telfon siapapun yang da di kontrak gue, suruh ke gang Mawar." Ucapnya dengan nafas yang Kian putus-pitus. Berkelahi dengan banyak orang dan lebih Dari 20 menit membuat stamina Cana semakin terkikis.


Otlan pun segera mengambil HP Cana dan mulai membuka HP itu yang tak terkenci, menekan aplikasi kontak dan mencari siapa yang akan mereka hubungi. 


Tangan Otlan berhenti sejenak di nama Chan Agraha. Freddy menatap ahabatnya dengan bingung kala Otlan tak kunjung mengeklik panggilan di nama itu dan malah kembali bergulir kearah nama orang lain yang tak ia mereka kenal dan mengeklik panggilan.


Monday nama yang tertera di sana. 


Tak lama panggilan itu pun terangkat. "Kenapa boss?" Tanya suara dari sebrang.


"Bisa ke gang Mawar gak? Si Cana lagi di keroyok banyak orang," ujar Otlan.


Panggilan pun terputus begitu saja. Otlan dan Freddy kembali saling bertatapan. Apa mereka salah menelfon orang?.


"Telfon yang lain Lan." Ujar Freddy yang segera di iyakan tanpa kata, namun siapapun yang ia panggil tak ada yang mengangkat, membuat mereka berdua semakin cemas.


"Telfon polisi, telfon polisi." Ujar Freddy, dan Otlan lagi-lagi melakukan apa yang Freddy katakan.


Namun lagi-lagi saat panggilan terangkat oleh pihak kepolisian Otlan tak kunjung berbicara malah mematikannya begitu saja karena tiba-tiba banyak orang yang datang memukuli para preman, membantu Cana. Freddy an Otlan kembali saling bertatapan,kini wajah mereka nampak lega. Untungnya bantuin segera datang.


Cana pun Masih ikut bertarung meski teenaganya sudah terkuras habis.


Drain segera menjalankan motornya untuk menjauh tanpa memperdulikan teman-temannya yang kini di keroyok oleh geng Cana, tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk membabat habis semua preman itu hingga babak belur, dan menalinya menjadi satu, mencegah mereka untuk kabur.


Cana menoleh kearah Freddy dan Otlan yang sudah keluar dari tempat persmbunyian mereka, pemuda itu pun segera mendekati kedua kenalannya sembari membuntal tangannya yang terluka dengan sapu tangan.


"Kalian ngapain lewat sini?" Tanyanya sedikit heran."Btw thanks buat yang tadi." Sambungnya dengan senyuman tipis.


Freddy menyenggol Otlan dengan wajah menggoda yang membuat Otlan mencubit pinggangnya kesal.


Cana menaikkan alisnya kala kedua remaja itu malah asik sendiri tanpa mau menjawab peerkataanya.


Freddy yang melihat wajah Cana Masih menunggu jawaban pun segera membalas Dan menahan tangan Otlan yang Masih ingin menyakiti pinggangnya. 


"Kita mau ke venue Mars yang di ujung jalan sana,"


Cana mengangguk paham. "Yaudah ayo gue anterin, kalo kalian jalan bakal telat sama acaranya." Ujarnya berlalu begitu saja.


Para bawahannya yang melihat interaksi sang boss dengan orang tak mereka kenal pun saling sikut dan bertanya siapa mereka, hingga Salah satu di antara mereka mengingat wajah Otlan dari twitter.


"Boss mau nge date bareng pacar ya?" Ujar Putra jail saat Cana sedang mendirikan motornya yang terjatuh di lantai.


"Pacar mata lo." Ujar Cana sadis, tapi Hal itu justru membuat mereka tertawa semakin menggoda.


"Pacar tuh Lan," Ujar Freddy ikut menggoda temannya.


"Lo Kali yang pacar, kan lo yang balas omongan Cana tadi," Sahut Otlan tak terima di katain pacar.


Sebelum Freddy sempat membalas ucapan Otlan, Cana sudah berada di depan mereka dengan naik motor kesayanganya, serta helm full face yang ia pakai.


"Ayo naik." Ujar Cana.


Freddy dan Otlan saling pandang. "Gak usah deh kita jalan aja, lagian motorlo joknya tinggi Gini, mana bisa boncengan berdua." Ujar Otlan sembari menarik tangan Freddy untuk jalan.


Cana menghentikan langkah Otlan dengan menggenggam tangan pemuda itu yang mengenggam tangan Freddy.


"Lo naik di jok belakang di, lo naik di depan." Ujar Cana.


Freddy dan Otlan saling tatap dengan pandangan yang berbeda.


"Gak mau ah. Udah ayo Di, jalan." Otlan kembali ingin menarik tangan Freddy, namun lagi-lagi dihentikan Oleh Cana.


Ditariknya tangan Otlan hingga mendekatkearahnya. "Udah ayo naik," Ujar Cana tak ingin di bantah.


"Gak--Canaaaa," bantah an Otlan berubah menjadi teriakan kala Cana dengan mudah menarik tubuhnya untuk duduk di depannya. Tentu saja Hal ini membuat para bawahan Cana menggoda ya, Dan Freddy yang sudah memasang wajah jail nggoda.


"Ayo Di naik, mau gue tarik juga biar bisa naik?" Tanyanya ang segera membuat Freddy naik ke jok belakang motornya.


"Pegangan pundak gue Di, Kali takut jatuh," Ucap Cana sebelum menjalan motornya kearah yang di tuju.


Otlan hanya diam saja dengan wajah menunduk, ia malu setengah mati. Apalagi setelah mereka sampai di venue dan membuat orang yang Masih berada di luar arena menatap mereka penasaran.


"Thanks ya," Ujar Freddi setelah turun, begitupula dengan Otlan.amun pemuda itu tak mengatakan apapun, jantungnya Masih berpacu dengan sangat cepat. Freddy hanya mengulum senyum melihat telinga temannya yang memerah sempurna.


"Nanti baliknya gue jemput." Ujarnya dan melenggang pergi tanpa ingin mendengar perkataan Dari kedua orang itu.


Setelah Cana menjauh Freddy pun menyikut lengan Otlan ingin menjaili sang teman, namun Otlan segera menjauh darinya, tak ingin mendengar perkataan apapun Dari sang teman.


Freddy tertawa di belakangnya, "Yaelah Lan, gitu aja mukanya udah merah banget, suka ya di peluk sama Cana?" 


Otlan tak memperdulikan perkataan temannya, pemuda itu semakin mempercepat kearahorang yang sedan mengantri untuk masuk kedalam venue setelah mengambil ticket dari dompetnya.

Rabu, 02 Oktober 2024

Enigma part 7 - Perhatian


"Kak udah pernah naik kora-kora belom?" Tanya Pawat sembari menatap kora-kora penuh minat.


"Kora-kora?" Tanyanya bingung, ia pun menatap sekitar permainan, mencari permainan  yang di maksud sang teman.


Pawat megangguk dan menoleh kearah Nanon. 'Disini namanya beda apa ya?' batinnya bertanya saat melihat wajah bingung Nanon. Tangannya pun menjuding kearah permainan yang ia maksud. "Itu kak kora-kora."


Nanon pun menoleh dan tersenyum tipis. "Oh perahu terbang," 


'Oh disini namanya perahu terbang ya? Jelek banget,' batinnya mengejek.


"Kamu yakin mau naik itu?" Tanya Nanon yang di jawab anggukan mantab Oleh Pawat.


"Kenapa? Kakak takut ketinggian?" Tanyanya yang mendapat gelengan dari Nanon.


"Enggak kok, ayok naik," ujarnya merangkul pundak Pawat dan mengajaknya untuk ikut mengantri. Tanpa tau bahwa Pawat terkejut saat tiba-tiba di rangkul, hatinya pun berdentum tak beraturan penuh rasa bahagia, dan ia tau pasti perasaan apa ini.


Janeeyah yang melihat Nanon mengantri di wahana perahu terbang pun segera menarik tangan sahabatnya untuk ikut mengantri.


"Jan kamu kan takut ketinggian," kata sang teman yang bernama Allira khawatir. 


"Kamu tenang aja, ada kak Nanon di depan, nanti aku bakal duduk sama dia, dan dia pasti bakal ngelindungin aku," ujarnya percaya diri.


Allira menatap Janeeyah heran. "Tapi di depan kita ada orang lain, kalo mereka yang duduk di samping kak Nanon gimana?"


Janeeyah terdiam sesaat, membenarkan ucapan sang sahabat. Gadis itu pun sontak menepuk pundak kedua orang di depannya yang membuat mereka menoleh, menatapnya penuh tanya.


"Kak, nanti kakak bisa jangan duduk sama orang di depan kakak gak? Aku mau duduk sama dia," ujarnya dengan wajah memelas. 


Wajahnya yang cantik seakan menyihir orang di ajak bicara hingga membuat mereka terpana.


Janeeyah menatap orang di depannya Masih dengan senyuman, tangannya pun melambai ketika melihat kedua pemuda di depannya terlihat tak focus. 


"Kak? Boleh gak?"


Kedua pemuda itu pun seketika kembali sadar setelah terpana beberapa saat dan mengangguk antusias. "Boleh, boleh," Ujar keduanya antusias.


Janeeyah pun kembali menatap sang teman dan tersenyum manis, sedangkan Allira menggeleng kecil, sudah terbiasa dengan peristiwa baru ia liat tadi.


"Aku deg-degan kak," Ujar Pawat menatap permainan di depannya yang Masih bergerak kekiri dan kekanan excited.


Nanon refleks mengelus rambut Pawat yang lembut dan mengacaknya gemas.


"Takut?" Tanyanya lembut.


Pawat terdiam kaku, jantungnya semakin berdetak tak karuan, kepalanya menggeleng pelan. "Dikit, hehehe," ujarnya dengan senyuman malu-malu.


Nanon tak mengatakan apapun, hanya tangannya yang terus mengelus rambut belakang Pawat, berusaha menenangkan.


Kini giliran mereka untuk naik kewahana, Nanon pun menyuruh Pawat untuk naik duluan dan baru di ikuti dia dari belakang.


Pawat pun duduk di baris ke tiga yang belum terisi sama orang lain, duduk dipojokan yang di ikuti oleh Nanon, tak lama Janeeyah pun ikut duduk di sebelah Nanon beserta Allira.


Pawat yang sedang asik mengobrol dengan Nanon tentang apapun yang dia liat seketika terhenti ketika ia melihat Janeeyah di samping Nanon, duduk berdempetan dengan pemuda itu, wajahnya sontak membrenggut tak suka.


Nanon menoleh kala Pawat terhenti bicara, "Kenapa?" Tanyanya tanpa tau apa penyebab Pawat memasang wajah menggemaskan itu.


Janeeyah pun memasang wajah sinis dan mulai merangkul lengan Nanon yang membuat pemuda itu menoleh kearahnya terkejut. "Jane, ngapain?" Tanyanya heran, berusaha menari tangannya yang di apit.


Janeeyah memasang wajah memelas, matanya yang indah pun menatapnya dengan pandangan memohon. "Aku takut kak," 


Pawat pun menghembuskan nafas kesal dan ikut merangkul lengan Nanon erat, menarik tubuh Nanon agar semakin mendekat padanya. 


Nanon yang ingin menjawab perkataan Janeeyah terhenti dan menoleh kearah Pawat, melihat temannya yang semakin memancarkan aura permusuhan. 


Nanon terdiam karena jarak ia dan Pawat yang semakin dekat membuatnya menjadi salah tingkah, apalagi harum tubuh Pawat yang menyapa indra penciumannya, mengabaikan kedua orang di sampingnya yang sedang saling pandang dengan tatapan membunuh.


Kapal pun mulai bergerak ke depan dan ke belakang dengan pelan, Janeeyah pun semakin mendekatkan tubuhnya pada Nanon, pipinya ia tempelkan pada lengan pemuda di sampingnya, Dan berteriak lirih. Ketakutannya bukanlah kebohongan, kalau tidak karena Nanon ia tak akan sudi menaiki wahana menakutkan seperti ini.


Melihat Janeeyah yang sudah mulai mengambil kesempatan, Pawat pun ikut melakukan apa yang di lakukan Janeeyah.


Nanon yang berada di tengah mereka semakin bingung, ia harus melakukan apa untuk menenangkan kedua orang di sampingnya ini. Akhirnya ia pun hanya diam pasrah, membiarkan kedua lengannya di apit kanan dan kiri.


Kapal semakin melaju dengan kencang, teriakan Janeeyah dan Pawat pun menggema, Nanon yang berada di samping mereka hanya diam, berusaha mengabaikan teriakan kedua orang di sampingnya yang begitu kencang, seolah saling berlomba untuk menghancurkan gendang telinganya.


Kapal semakin melaju dengan kencang, kapal terasa ingin terbalik mengayun saat berada di pucuk, teriakan Pawat serta Janeeyah pun semakin kencang hingga membuat Nanon semakin tak tahan dengan apa yang terjadi.


Orang yang berada di bawah tertawa melihat Nanon menjadi bahkan rebatan untuk di peluk, ada yang tertawa karena lucu ada pula yang iri, berandai-andai berada di posisi Nanon saat ini.


Entah sudah berapa kapal itu melaju dengan kencang, hingga perlahan kapal pun memelan Dan berhenti total. 


Orang-orang segera turun dari kapal, maun Nanon tetap berada di sana karena kedua orang di sampingnya Masih mengapitnya sangat erat.


Saat penumpang sudah turun Allira pun segera mengapit Janeeyah membantunya untuk berjalan turun dengan elan.


Nanon pun melakukan hal yang serupa, pemuda itu pun membantu Pawat untuk turun, menaruh tangan kanan Pawat di pundaknya dan memeluk ping gang Pawat posesif namun lembut.


"Kepala gue pusing banget Ra, pengen duduk," Ucap Janeeyah lemas.


Allira pun segera berjalan ke kursi yang teredia dan mendudukan Janeeyah disana dengan hati-hati. 


Setelah terduduk Janeeyah sontak mengeluarkan semua yang ada di perutnya, Allira yang melihat itu Hany diam karena jijik.


Merasa kasian dengan Janeeyah, Nanon pun segera membawa Pawat ke kursi yang sama dengan Janeeyah dan mengelus punggung Janeeyah lembut.


Pawat yang melihat sikap baik Nanon meendengus kesal, dan ia pun segera berpura-pura mual awalnya tak ada muntahan yang keluar, namun lamalama isi yang ada di perutnya ikut keluar meski dengan susah payah.


Nanon yang melihat itu pun berganti mengurut punggung Pawat lembut, menatapnya dengan kasian. "Mau minum air anget gak biar enakan?" Tanyanya lembut.


Janeeyah yang merasa di abaikan sontak kembali mengeluarkan suara muntahan membuat Nanon kembali mengurut bahu gadis itu, namun perhatiannya Masih tertuju kearah Pawat.


Allira yang melihat kedua orang itu sedang beradu muntahan menaikkan sudut bibirnya, tak habis pikir dengan kecaperan mereka berdua, dan ia memilih untuk mengamati saja tanpa ingin terlibat kecaperan di depan sana.


Pawat mengangguk pelan, "Boleh," ujarnya lemas. 


Nanon sontak menjauh dari sana, berjalan cepat kearah tokoyang tak jauh Dari tempat mereka.


Saat Nanon sudah menjauh dari mereka, Janeeyah pun mendorong tubuh Pawat kesal, wajahnya nampak kesal. "Kamu gak usah caper ke kak Nanon, kak Nanon itu milik aku!!"


Pawat menatapnya remeh. "Milk kamu?" Tanyanya penuh dengan celana."Kak Nanon yang ngajak aku ke sini, dia bilang mau ngedate sama aku, artinya kak Nanon gak suka kamu, sadar idir." Sambungnya tak kalah kesal. Meski ucapannya tak sepenuhnya benar, karena faktanya ia yang merengek ingin di temanin Nanon untuk kesini tadi malam. Tapi biarlah, toh Janeeyah tak tau ini.


Dengan geram di jambaknya rambut Pawat kasar kearahnya, "Mentang-mentang sekarang udah deket sama kak Nanon, kamu jadi lupa diri ya," ujarnya kesal.


Pawat meringis merasa kan kepalanya yang berdenyut karena jambakan Janeeyah yang tak main-main.


Refleks Pawat pun ikut menjambak rambut Janeeyah dengan kencang, melampiaskan rasa sakitnya membuat Janeeyah berteriak kesakitan.


Allira yang sejak tadi mengamati Nanon saat pergi (agar sang sahabat tak ketahuan sedang membully Pawat) sontak memisahkan keduanya. "Kak Nanon dateng," beritahunya yang membuat kedua remaja itu melepaskan jambakan tangannya di rambut masing-masing dan kembali bersikap lemas.


Orang-orang yang dis sebelah mereka menggeleng tak habis pikir. Dasar remaja. Begitu pikir mereka.


Pawat yang melihat rambut rontok Janeeyah di tangannya segera membersihkannya dan tersenyum puas. Pantas saja gadis itu berteriak kesakitan tadi.


Nanon telah sampai dengan membawa dua botol berisi minuman air anget dan memberikannya kearah Janeeyah serta Pawat yang di terima dengan lemas. Tidak! Lebih tepatnya pura-pura lemas.


Setelah kedua minuman di ambil, Nanon pun berjongkok di depan Pawat dan menaruh kedua kaki Pawat di kakinya, di lepasnya sneakers yang Pawat kenakan dan memijitnya lembut. "Sakit gak?" Tanya Nanon lembut.


Pawat menggeleng pelan, bibirnya mengulum senyum. Nanon ini tipe manusia sedikit bicara namun banyak tindakan. Dan semua tindakannya selalu di luar nalar, meski telihart sepele namun tak semua orang bisa.


Kepalanya menoleh kesamping, tanpa sengaja ia melihat Janeeyah yang menatapnya dengan aura membunuh, namun Pawat sama sekali tak takut, pemuda itu memasang wajah mengeje secara diam-diam.


Allira hanya mendesah pasrah. Pasti habis ini Janeeyah bakal memarahinyakarena kesal.


Nanon mendongak melihat Pawat yang sontak kembali memasang wajah lemas. "Mau pulang aja?" Tawarnya lembut. 


Pawat mengerutkan bibirnya. "Masak baru masuk udah keluar, belom naik yang lain, nyobain makanannya juga belom."


"Kalo gitu nunggu kamu enakan aja baru lanjut, oke?" awarnya yang mendapat senyuman cerah dan anggukan kepala pusing, namun tak lama ie mengelus pusing (pura-pura) gar Nanon semakinperhatian padanya dan Janeeyah yang semakin kesal tanpa bisa berbuat apa-apa.


Benar saja, Nanon pun sontak berdiri setelah meletakkan kaki Pawat di lantai Dan berdiri di belakang Pawat, mengurut kepala Dan leher pemuda itu dari belakang. Kini ia menang talak, melihat wajah masam Janeeyah semakin membuatnya bahagia.

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...