Senin, 30 September 2024

Enigma part 6 - mulai suka

Suara notifikasi HP berdenting terdengar di ruang makan, semua orang yang berada di ruang makan menoleh kearah Nanon, merasa sedikit heran karena tak bisanya Nanon terus bermainan HP seperti ini, dan yang lebih aneh Nanon sibuk membalas chat entah siapa.


"Chattan sama siapa Non?" Tanya sang papa yang sudah sangat penasaran, anak tengahnya yang selalu membawa buku saat makan kini beralih membawa HP dan sibuk dengan benda pipih itu.


Nanon menghentikan jempolnya yang sedang menari di atas benda pipih itu dan menoleh kearah sang papa, dan ia baru sadar bahwa semua keuarganya ikut menatapnya penasaran.


"Cuman chattan sama temen." Ujarnya cuek dan meletakkan HP-nya di meja, ia pun beralih focus ke makanan, ingin menghabiskannya secepat mungkin, ia tak terbiasa mendapat atensi dari keluarganya.


Sang papa menatap istrinya yang juga menatap suaminya, tatapan mereka penuh tanya.


Kakak dan adiknya pun menatap Nanon dengan mata memincing, entah kenapa dua saudara ini selalu menjadikannya target dalam hal apapun, padahal Nanon tak pernah perduli sama mereka sejak kecil, ia hanya focus pada dirinya sendiri, namun kedua saudaranya terlihat tak suka.


Dengan susah payah Nanon menghabiskan makanannya dan segera bangkit berdiri setelah habis. "Aku udah selesai pa, ma, pergi dulu, mau main sama temen." Ujarnya melenggang pergi begitu saja yang menendang tatapan penuh tanya dari semua orang.


Denting HP kembali terdengar 


Ohm Pawat 

Kakak udah jalan?


NNNN

Udah, lagi jalan ke pemberhentian bus.


Ohm Pawat 

Aku jemput aja kak


NNN

Gak usah, beda arah.


Pawat memanyunkan bibirnya mendapat balasan penolakan dari Nanon. 


Ohm Pawat 

Tetep aku jemput, gak mau tau


ketiknya final dan segera menyuruh sang supir untuk segera melakukan mobilnya lebih cepat, takut Nanon berangkat dengan bus.


Nanon tersenyum melihat balasan keras kepala oleh Pawat, namun pemuda itu tak kembali membalas, ia kini mempercepat langkahnya agar lekas sampai di halte dan duduk di sana dengan nyaman, mengabaikan bus yang sedang berhenti menunggu para penumpang yang masih berdesakan untuk masuk semua. Bahkan hingga bus telah melaju ia tetap duduk dengan nyaman di sana.


Kepalanya pun menoleh kearah jalanan, melihat mobil dan transportasi umum yang lewat, di sana jarang ada motor, karena pemakaian motor yang di batesi jumlahnya, terlebih pajak yang di keluarkan pun cukup besar hingga membuat orang-orang memilih untuk transportasi umum.

Pawat tersenyum cerah ketika melihat Nanon masih duduk nyaman di bangku penunggu bus.


"Berhenti di depan orang pake baju putih itu pak, yang lagi duduk di halte." Pawat berujar excited.


Sang supir pun mengangguk dan menghentikan mobilnya di pemberhentian bus. Pawat dengan cepat membuka kursi penumpang dan turun dari sana, senyum cerahnya masih tersunging indah.


"Kak Nanon, pagi." Sapa Pawat begitu turun dari mobil.


Nanon tersenyum tipis Dan berdiri dari duduknya berjalan mendekati Pawat yang Masih berdiri di samping mobilnya.


"Pagi Ohm," sapanya balik. 


"Ayok masuk kak, keburu makin rame tempatnya." Ujar Pawat yang di angguki oleh Nanon.


Pemuda itu pun lantas kembali masuk kedalam mobil di ikuti Nanon, tak lama sang supir pun segera menjalankan mobilnya untuk menjauh dan berputar arah, karena tempat yang mereka ingin menghabiskan waktu berada di jalur yang berbeda.


Tak lama mobil pun sampai di tempat tujuan, tulisan Dreamland di atas pintu masuk yang sangat besar terlihat begitu indah.


Pawat dan Nanon keluar bebarengan. Dengan takjub Pawat melihat Dreamland di depannya, tempat bermain di dunia ini lebih indah dan besar dari asal dunianya.


"Aku mesen ticket dulu, kamu tunggu di kursi sana aja," Ucap Nanon berjalan menjauh setelah menunjuk kursi di bawah pohon yang sepi.


Pawat yang ingin menjawab perkataan Nanon pun terhenti, karena pemuda itu melewatinya begitu saja. Bibirnya maju beberapa Senti namun ia tak ingin mengambil pusing memilih segera berjalan kearah tempat duduk yang di tunjuk Nanon, menunggu dengan bermain HP.


Nanon sesekali menoleh kearah Pawat, bibirnya tersenyum melihat Pawat yang sedang asik memotret Dan tak lupa memotret dirinya sendiri. Semua tingkah yang di lakukan Pawat terlihat menggemaskan di matanya.


Perlalahan satu persatu orang yang mengantri di depannya pun pergi, kini giliran Nanon yang memesan 2 ticket untuk masuk yang segera di berikan oleh sang kasir.


Kini 2 ticket berada di tangannya, saat kakinya ingin melangkah menjauh tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. 


Kepala Nanon menoleh dan terlihatlah Janeeyah yang sedang mengantri dengan temannya. Gadis itu nampak jauh lebih cantik dengan riasan tipis dan pakaiannya yang casual.


"Kak Nanon kesini sama siapa?" Tanyanya basa-basi disertai senyuman manis.


"Sama Ohm, duluan ya," ujarnya dan melenggang pergi, seolah tak ingin berbicara lebih jauh.


Janeeyah yang masih ingin mengobrol memanyunkan bibirnya, matanya terus mengawasi punggung Nanon hingga berhenti di depan Pawat yang tengah memotret kucing yang sedang tiduran. Kakinya pun menghentak sebal, kedua tangannya saling meremat melampiaskan rasa kesalnya. 'Pawat lagi, Pawat terus, Pawat mulu, memang itu anak harus segera di singkirin.


Gadis di samping Janeeyah mengelus lengan temannya prihatin, gadis ini masih saja etia mengejar Nanon yang acuh tak acuh padanya dari dulu, padahal yang mengantri ingin menjadi kekasih gadis itu sangatlah banyak. Namun ia tak bisa berkata apapun, namanya juga cinta. Daripada membuat Janeeyah kesal padanya lebih baik ia diam.


Pawat mendongak kala seseorang berdiri di sampingnya, senyumnya pun merekah melihat Nanon yang tersenyum lembut menatapnya, tangannya pun terulur ingin membantu Pawat untuk berdiri yang segera di terima dengan senang hati.


Dengan lembut di tepuknya celana kain Pawat yang sedikit Kotor dan menggenggam tangannya untuk masuk kedalam.


Pawat tersenyum tersenyum malu-malu , ia tak pernah mendapatkan perlakuan yang semanis ini, bahkan semua mantan pacarnya dulu tak pernah selembut dan seperhatian ini, jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, namun ia sangat menyukai tiap detakannya, terasa begitu nyaman dan membahagiakan.


"Kamu udah makan?" Tanya Nanon menoleh kearah Pawat.


Pawat mengangguk pelan, senyum malu-malunya pun Masih tersungging indah.


Dengan gemas di cubitnya pipih Pawat yang tembem. Sudahkah ia bilang bahwa Pawat sangatlah menggemaskan?.


"Kak Nanon sakit," rengek Pawat mencoba melepaskan tangan Nanon dari pipinya.


Nanon tersenyum tanpa dosa setelah melepaskan pipi tembem itu, yang kini menjadi pipi favoritenya. Kembali di genggamnya dengan Pawat untuk terus melangkah.


Suasana taman bermain yang ramai tak membuat mereka malu untuk saling bergandengan tangan.


Janeeyah mendecih melihat kedua pemuda di depannya, apapun yang terjadi hari ini ia harus bisa membuat Pawat celaka.


Sedangkan Pawat dan Nanon yang berada di depannya asik mengobrol ringan tanpa Tau ada tatapan dari seseorang yang begitu penuh akan tekat dendam.

Sabtu, 21 September 2024

Enigma part 5 - Semakin dekat


Suasana kelas yang awalnya damai berubah riuh penuh pekikan-pekikan bahagia kala guru olahraga mereka mengatakan kalau mereka akan gabung dengan kelas 3 I, kelas unggulan tempat berkumpulnya orang pintar serta wajah yang goodlooking.


Sang guru menggeleng melihat anak didiknya yang begitu bergembira. "Kalian ganti baju dulu, setelah ganti baju langsung ke kolam renang," ujarnya sebelum meninggalkan kelas.


Para siswa pun segera keluar untuk mengganti baju di WC sedangkan para siswi segera mengusir siswa yang masih malas untuk pergi dari kelas.


Pawat pun segera keluar dari kelas, ingin sesegera mungkin berganti baju, entah kenapa ia begitu excited kali ini. bibirnya terus tersenyum bahagia.


Janeeyah menatap anak buahnya memberi kode untuk segera mengikuti Pawat yang di laksanakan dengan segera Oleh mereka, senyumnya merekah sinis. 'Ini balasan karena kamu udah mencuri perhatian kak Nanon.' batinnya penuh dendam. Ia pun segera mengganti baju seperti  teman-temannya yang lain. Akan ia gunakan kesempatan ini untuk membuat Nanon tertarik padanya.


Sesampainya di toilet Pawat pun mencari bilik yang kosong dan masuk kedalam tanpa memperhatikan sekitar, menaruh HP-nya di atas toilet Dan mulai melucuti baju seragamnya untuk ia ganti dengan baju renang, Namun saat tangannya ingin mengambil baju yang ia sampirkan di pintu, bajunya sudah hilang.


"Ada orang di luar gak?" teriaknya ingin meminta pertolongan, Namun semua orang diam, karena mereka tak berani jika harus melawan sekumpulan manusia bandel di sekolahnya yang sedang mengawasi mereka.


Pawat pun menggedor-nggedor pintu dengan kencang. "Ada orang gak, heii!!" Teriaknya lagi Namun tetap tak ada jawaban.


Kepalanya menoleh kearah toilet, dengan cekatan ia pun mengambil HP-nya dan mendial nomor Nanon, nerharap sang kakak kelas bisa membantunya.


Nanon yang sedang menonton teman-temannya mengambil nilai olahraga renang pun menoleh kala getaran HP-nya terdengar, matanya memincing melihat nama Ohm disana. 


"Aku keluar bentar," Ucapnya pada Perth yang di balas anggukan sembari berlalu.


Sesampainya di luar ia pun mengangkat panggilan Pawat . "Kenap-" belum sempat Nanon bertanya sudah terdengar suara Pawat yang yang terdrngar memelas dan panik.


"Kak Nanon tolong, aku kejebak di toilet, pintunya gak bisa di buka, terus baju aku juga ilang,"


"Kamu di toilet mana?" Tanya Nanon sembari berjalan menjauh dari ruangan swimming pool.


"Kak Nanon," sapa gadis-gadis kelas 2 III ketika Nanon melewati mereka dengan senyuman centil, Namun semuanya di abaikan oleh pemuda itu, ia sedang panik akan keadaan Pawat sekarang.


Mereka yang di abaikan bukannya sedih justru tersenyum sumringah melihat sifat cuek Nanon sembari terus menatap punggung Nanon yang menjauh.


"Aku di toilet lantai 2 kak, please tolongin aku, aku gak punya baju buat di pake," Ucapnya dengan bibir mengrecut, entah kenapa dia selalu refleks memanyunkan bibirnya ketika sedang gelisah, mungkin karena yang punya tubuh selalu begitu dulu jadi tubuhnya sudah terbiasa akan hal itu. 


"Iya ini aku lagi jalan ke sana," Ucap Nanon semakin mempercepat jalannya.


Tanpa sengaja Janeeyah dan Nanon berpapasan di tangga, gadis itu pun sontak tersenyum manis. "Kak Nanon mau kemana?" Tanyanya lemah lembut, namun Nanon mengabaikan gadis itu dan terus berjalan menuruni tangga dengan cepat. Wajahnya seketika membrenggut tak suka, karena lagi-lagi ia di abaikan.


Sang pelaku pembullyan yang mendengar Ohm telponan pun segera mengambil ember yang berada di toilet, mengisinya dengan air lalu membuangnya di bilik WC yang Pawat huni, mereka pun tertawa mendengar teriakan Pawat yang terkejut tiba-tiba di siram air, sang komandan kembali menyuruh anak buahnya untuk mengisi ember dengan air dan kembali membuangnya ke tempat Pawat.


Nanon yang mendengar teriakan Pawat pun semakin panik, takut adik kelasnya kenapa-kenapa. Ia yang awalnya berjalan cepat kini berubah menjadi lari, ia sekarang sudah tak perduli apapun, hingga kini ia telah sampai di WC yang di maksud Pawat dan mendorongnya agar bisa masuk, namun pintunya terkunci dari dalam, suara tawa dari dalam terdengar membahana.


Kepalanya menoleh ke sembarang arah mencari seseorang atau sesuatu yang bisa mendobrak pintu itu, namun kebetulan lorong di sana sepi.


Tak ada pilihan lain, pemuda itu pun mundur beberapa langkah dan menendang pintu di depannya berkali-kali dengan penuh tenaga.


Orang yang berada di dalam menatap pintu dengan heran, sang boss menyuruh anak buahnya untuk mencari tau ada apa, namun pintu tiba-tiba terbuka lebar membuat semua anak di dalam sana terkejut, dan yang lebih mengejutkan ada Nanon di tengah pintu yang terbuka lebar.


Nanon masuk kedalam dengan mata menatap tajam, semua anak hanya diam dan buru-buru keluar dari WC sebelum di babat habis oleh pemuda yang jago taekwondo itu.


Dengan panik Nanon pun segera berjalan kearah bilik yang Pawat tempati dan membuang pel kayu yang menyumbat pintu itu untuk terbuka, di sana ia bisa liat Pawat yang hanya mengenakan kaos dalaman putih serta boxer dan sudah basah kuyub.


Segera ditariknya Pawat keluar dari sana dan melepaskan baju olahraganya sendiri untuk di ganti dengan kaos dalaman pemuda itu yang basah menyisakan kaos dalamnya saja.


"Kakak gimana nanti?" Tanya Pawat menatap Nanon bak anak anjing yang hilang.


Nanon tersenyum manis hingga dimplenya semakin terlihat dan Pawat menjadi terpesona, sejak ia pindah dimensi, ia tak pernah melihat Nanon yang tersenyum begitu manis dan lembut.


"Aku bisa pake seragam yang lain." Ujarnya Masih menyodorkan bajunya.


Pawat pun mau tak mau melepaskan kaos dalamnya dan menggantinya dengan seragam Nanon, harum tubuh Nanon langsung masuk kedalam hidungnya, bau harumnya begitu lembut membuatnya ingin kembali menciumnya, namun ia tak berani melakukan itu karena takut Nanon akan ilfeel padanya.


Dengan lembut digenggamnya tangan Pawat untuk berjalan keluar dari wc. Keduanya pun keluar dari wc dengan bergandengan tangan.


"Kira-kira baju aku di mana ya kak?" Tanya Pawat menatap Nanon dari belakang.


Nanon menoleh kebelakang dan tersenyum tipis. "Biasanya mereka buang baju kamu kemana?" Tanya balik Nanon yang mendapat jawaban gelengan."Beli baru aja, nanti aku temenin ke tokonya." Tawar Nanon yang mendapat anggukan antusias oleh Pawat.


"Makasih," ujarnya lirih, suaranya terdengar melembut, dan Nanon hanya tersenyum mendengar peerkataanya.


Siswa dan siswi yang kebetulan lagi keluar kelas menatap keduanya heran, ada beberapa orang yang diam-diam memfoto mereka berdua untuk dibagikan ke dalam grupnya, namun Pawat serta Nanon tak perduli, mereka asik mengobrol ringa, tidak lebih tempatnya Pawat yang berceleteh sedangkan Nanon hanya menjawab sesekali jika di rasa perlu, keduanya pun terus berjalan hingga naik ke tangga yang akan membawa mereka naik ke lantai 3.


"Mampir ke kelasku dulu ya," anak Nanon yang di Jawab anggukan oleh Pawat. 


Langkah mereka pun berbelok kearah lorong kiri dimana kelas Nanon berada, pemuda itu pun mendorong masuk pintu kelasnya yang tertutup rapat.


Mahasiswa yang berada di dalam menoleh saat pintu seketika terbuka. "Nyari apa Non?" Tanyanya heran melihat Nanon yang kembali ke kelas dengan hanya memaki kaos dalaman.


"Ngambil seragam." Jawabnya cuek, pemuda itu pun terus melangkah kearah mejanya dengan tangan yang Masih beegndengan.


"Pake seragam Olga aku aja," tawar pemuda yang duduk satu bangku dengan ya.


"Boleh deh," Ujar Nanon mengiyakan.


Pemuda itu pun mengambil baju olganya dari loker dan memberikannya ke Nanon. "Memang baju Olga lo kemana?" Tanyanya sedikit heran.


Melihat Nanon yang memberikan celana olganya untuk Pawat seketika membuatnya terdiam paham.


"Thanks ya San," Ucapnya sembari memakai baju.


Pawat hanya diam, namun sejak tadi tia erus memperhatikan kedua orang itu seksama. Namun ia tetap memakai celana yang di berikan Nanon.


"Kamu kalo gak enak badan ke UKS aja, san." Kata Nanon setelah berganti pakaian.


Sandi tersenyum kecil kala melihat Pawat yang memanyunkan bibirnya mendengar Nanon yang perhatian padanya. "Aku males ke UKS-nya, jauh banget di lantai 1, mending tiduran di kelas." Ucap Sandi kembali tiduran ke tempatnya yang sudah ia sulap menjadi tempat tidur. Beberapa kursi ia buat berbaris panjang.


"Yaudah kalo gitu, kita duluan ya San," Ujar Nanon berpamitan Dan kembali menggandeng tangan Pawat untuk keluar kelas, yang di jawab lambaian tangan oleh Sandi, pemuda itu kembali memejamkan matanya.


"Itu siapa kak?" Tanya Pawat takut-takut.


"Temen sebangku." Ujar Nanon cuek. 


Bibir Pawat refleks manyun ke depan, seolah tak suka. "Oh," ujarnya singkat.


Nanon yang memang pada dasarnya tak peka terus berjalan hingga mereka telah sampai di ruangan kolam renang. Saat mereka telah sampai di sana semua temannya telah selesai mengambil nilai, kini giliran anak kelas 2.


Semua orang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda, termasuk Janeeyah, gadis itu mengepalkan tangannya semakin benci pada teman sekelasnya itu karena selalu berhasil menarik perhatian Nanon.


Sang guru menoleh. "Habis darimana kamu Non?" Tanyanya menyelidik.


"Bantuin Ohm pak," ujarnya tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut.


Pawat pun kembali meneruskan ucapan Nanon, "Tadi kak Nanon bantuin aku yang ke kunci di WC pak." Ujarnya sopan.


Sang guru mengangguk mengerti. "Kamu sana Non ambil nilai, habis kamu giliran kamu ya Wat." 


"Ohm gak bisa renang pak." Ujar Nanon membola sebelum Pawat menjelaskan kondisinya.


Sang guru menatap Nanon menyelidik, namun ia tak ingin mengambil pusing. "Kalo gitu nilai kamu E," Ujar gurunya pada Pawat.


Nanon menatap Pawat ingin tau reaksi pemuda itu, namun Pawat hanya tersenyum dan mengangguk setuju. Mau bagaimana lagi, kan ia memang tak bisa berenang.


"Kamu ngapain Masih disini? Sana loncat." Usir gurunya pada Nanon.


Nanon memberi kode ke Chimon untuk membawa Pawat ke tempat pemuda itu duduk sebelum berjalan menjauh, yang segera di lakukan oleh Chimon. 


Pemuda itu mendekati Pawat sebelum menjauh Dan mengajaknya untuk duduk dengan teman-temannya yang lain.


Tentu hal ini semakin membuat semua orang bertanya-tanya, sedeket apa Nanon dan Pawat sampai membuat Pawat bisa di terima dengan mudah oleh teman-tema pemuda itu. 


Nanon pun berjalan kearah tangga hingga berada di pundak, terus berjalan maju hingga berada di ujung dan tanpa ragu ia pun menceburkan diri kekolam di bawahnya membuat riak kecil disekitarnya.


Sang guru menatap Nanon dalam diam, memperhatikan gerakan muridnya sebelum terjun bebas dan segera memberikannya nilai.


 Setelah selesai pemuda itu pun keluar dari kolam renang Dan berjalan mendekati tempat teman-temannya berada.


Pengambilan nilai pun terus berlanjut, sang guru kembali memanggil muridnya untuk melanjutkan


Pawat tersenyum manis melihat Nanon mendekatinya, ia pun segera menggeser tubuhnya agar Nanon duduk tepat di sampingnya, untungnya pemuda itu tau maksud Dari tindakan Pawat, ia pun segera duduk di dekat pemuda.


"Yaelah," gumam Chimon mengejek temannya yang di abaikan.


"Yang udah punya cem-ceman mah beda,"  Perth pun ikut berkomentar, namun lagi-lagi anon mengabaikannya, berbeda dengan Pawat yang tersenyum malu-malu, sontak hal itu semakin membuat teman-teman satu kelas ikut menggoda mereka.


Tatapan mata Janeeyah tak pernah beralih, gadis itu menatap Pawat dengan kesal, mengawasi gerak-gerik pemuda itu dan mencibirnya dalam hati. 'Sok imut banget sialan!' selalu itu yang ia katakan.


========= Enigma ==========


Pengambilan nilai telah selesai, sang guru pun membebaskan mereka untuk bermain di kolam renang atau hanya mengobrol dengan teman-temannya, karena ia masih harus ke rumah sakit untuk merawat istrinya.


Nanon dengan telaten mengajari Pawat untuk berenang, kedua tangan Nanon pun berada di dada Pawat untuk menyangga agar tidak tenggelam. "Kakinya di lurusin Ohm, tangannya juga lurus, jangan takut kamu gak akan jatoh, gerakan tangan sama kaki pelan-pelan, iya kayak gitu, terus gerak gitu, nah pinter," Ucapnya memuji ketika Pawat melakukan hal yang benar. 


Pawat terdiam, ia bahagia,tak pernah ada yang memujinya ketika ia berhasil atau benar melakukan sesuatu. Sebutlah ia melankolis, tapi ia benar-benar terharu mendapat pujian itu.


Dengan semangat Pawat terus melakukan semua instruks Nanon dengan serius, hanya agar ia kembali mendapatkan pujian.


"Kayaknya mereka pacaran deh," Ucap gadis berkuncir ponitail di depan Janeeyah menatap Nanon yang sedang mengajari Pawat ke temannya.


"Aku juga mikir gitu, mereka sweet banget," Ucap temannya dengan wajah tersenyum bahagia. "Aku bakal layarin kapal mereka, hehehe." Sambungnya dengan terus menatap Nanon dan Pawat yang sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing.


Janeeyah mendecih kesal. "Kak Nanon itu cowok, Pawat juga cowok, jangan aneh-aneh deh!" Geramnya.


Semua orang yang berada di dekat mereka menatap Janeeyah aneh. 


Kedua gadis yang sedang bergosip tadi menatap Janeeyah sinis. "Kamu hidup di jaman apa sih kok Masih mikir gitu, Dari dulu cowok sama cowok juga udah banyak di sini." Ujar gadis yang pertama Kali bergosip.


Janeeyah mendecih dan berjalan menjauh, tak mau semakin merusak reputasinya yang sudah jelek oleh Pawat waktu itu.


"Aneh banget, kenapa sih dia sekarang jadi gitu?" Tanya gadis pertama yang bergosip denganheran, wajah kesal nampak terlihat.


Sang teman mengelus lengannya, menenangkan. "Dia kan suka kak Nanon dari lama, pasti gak terima lah kalo kak Nanon sama orang lain."


"Tapi dia bukan pacar kak Nanon, harusnya sadar diri." 


"Udah-udah, itu liat aja kak Nanon sama Pawat, sekarang mSalah lagi mainan air." 


Rasa kesal yang tadi di rasakan gadis berkuncir pun seketika menghilang, dan mereka kembali asik bergosip tentang dua orang pemuda di depan mereka yang sedang asik sendiri bermainan air sambil bercanda guru tanpa perduli akan sekitar.

Kamis, 19 September 2024

Enigma part 4 - Tertarik

                                

Bel sekolah telah berbunyi nyaring membuat mahasiswa dan mahasiswi berhaburan keluar kelas, ingin merasa kan Hidup bebas setelah berjam-jam di kekang oleh berbaigai mata pelajaran.


Kebetulan hari ini pulang cepat karena mendadak ada inspeksi dari pusat membuat guru-guru sangat sibuk.


Pawat mengeluarkan HP-nya ingin menelpon sang supir untuk segera menjemputnya namun matanya tanpa sengaja tertuju pada tanggal yang tertera di layar HP-nya, keningnya mengkerut merasa telah melupakan sesuatu hingga tiba-tiba memori tentang lembaran novel yang membuatnya masuk kedalam novel hinggap di otaknya.


"Ahh!" Pekiknya setelah teringat sesuatu yang penting.


Pemuda itu pun segera berlari keluar sekolah, setelah sampai di depan gerbang ia pun bingung harus berbelok ke kanan atau kiri, mengandalkan daya ingatnya tentang lokasi yang di tulis si penulih Pawat pun membelokkan kakinya ke kiri, berlari cepat dengan mata menatap kanan serta kirinya, memastikan apakah ia telah mengambil jalur yang benar.


Langkah kakinya berhenti melihat Janeeyah yang berada di depan caffe dengan beberapa preman di dekat gadis itu, terlihat sedang merencakan sesuatu, Pawat pun tersenyum sinis karena tebakannya benar, pemuda itu pun segera berlari berbalik arah kembali ke sekolah, jika Janeeyah Masih disana artinya mereka belum ketemu Nanon jadi ia bisa menggalkan rencana gadis itu.


Dengan sekuat tenaga Pawat berlari, jalanan yang menanjak membuatnya semakin ekstra mengeluarkan tenaga, matanya pun berbinar melihat Nanon yang sedang berjalan santai dengan headphone di telinganya, langkah kakinya pun semakin ia percepat agar lekas saapi didepan pemuda itu.


Setelah sampai di depan Nanon, ia pun menghentikan langkah kaki pemuda itu dengan meme gang kedua pundak Nanon, nafas Pawat memburu tak beraturan.


Nanon yang melihat Pawat ngos-ngosan menatapnya heran, pemuda itu pun menurunkan headset dari telinganya Dan membuatnya menggantung indah di leher pemuda itu.


"Kamu kenapa?" Tanya Nanon penasaran, kepalanya menoleh kebelakang Pawat untuk mencari tau apakah Pawat di kejar seseorang namun jalanan begitu sepi (karena rata-rata anak yang sekolah di sana di antara jemput Oleh supir) tidak ada tanda-tanda pemuda itu sedang di kejar oleh manusia lain.


Melihat Pawat yang terengah-engah membuat Nanon mengambil botol minuman di ranselnya dan menyerahkannya ke Pawat yang langsung di terima dengan senang hati, meminumnya hingga habis.


Di serahkannya kembali botol minuman ke Nanon dengan senyuman lebar yang diterima oleh Nanon dan memasukkannya kedalam tas.


"Ada apa Ohm?" Tanya Nanon mengulang pertanyaanya yang belum di Jawab.

 

Pawat menggeleng kecil. "Gak papa kak," ujarnya dengan senyuman dan menganggam tangan Nanon dan menariknya untuk ikut berlari.


Nanon terkejut saat tiba-tiba Pawat menariknya untuk berlari Namun tak mengatakan apapun.


Kepala Pawat sesekali menoleh kebelakang masih dengan terus berlari, senyuman lebar di bibirnya terlihat begitu indah.


Mata Nanon terpaku melihat Pawat yang tersenyum indah, sinar mentari sore yang menyinari tubuh Pawat membuat pemuda itu begitu menawan hingga Nanon tak sanggup mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Saat mereka hampir sampai di depan toko di mana Janeeyah sedang bersiap diri, pemuda itu pun menoleh kesamping kirinya dan memeletkan lidahnya, mengejek Janeeyah yang membulatkan matanya menatapnya terkejut, tangannya pun menjuding kearah Pawat tak percaya.


Nanon yang melihat Pawat bertingkah begitu, ia pun jadi ikut menoleh ke belakang (Karena mereka telah melewati Janeeyah beserta beberapa preman berwajah sangar) Dan ia pun tersenyum kecil, paham apa yang sedang terjadi.


Sedangkan Janeeyah mencak-mencak di tempatnya sembari mengupat kasar, tak percaya pemuda lemah yang dari dulu selalu ia bully sekarang selalu membuatnya marah. Tak bisa di biarkan begitu saja, ia harus bisa menyingkirkan pemuda itu secepatnya.


Pawat dan Nanon yang telah berada di pemberhentian bus pun berdiam diri dengan ngos-ngosan, Namun kekehan kecil keluar dari bibir yang lebih muda, seolah ia sedang sangat bahagia, dan Nanon hanya terus memperhatikannya terpana.


Pawat yang di perhatikan sebegitunya menjadi Salah tingkah sendiri, jantungnya berdegub keras, ia pun mengalihkan wajahnya kearah lain dengan senyum malu-malu.


Nanon pun ikut menoleh kearah lain, ia jadi Salah tingkah sendiri karena perbuatanya.


"Kamu hari ini ada less Ohm?" Tanya Nanon mencoba menghilangkan vibes awkward di antara mereka.


Pawat mengangguk pelan, masih tak berani menatap wajah Nanon. "Kakak ada less?" Tanyanya balik dengan lirikan kecil.


Nanon yang melihat menjadi sangat gemas dengan tingkah adik kelasnya. "Enggak," ujarnya yang di Jawab anggukan oleh Pawat.


Keduanya pun terdiam, bingung harus berkata apa, Nanon yang memang dasarnya suka kesunyian tak ada niatan untuk memecahkan keheningan di antara mereka, berbeda dengan Pawat yang merasa gelisah, ia tak bisa harus diam-diaman seperti ini, bibirnya ingin berkata namun ia pun tak tau harus berkata apa, hingga bus yang akan membawa Nanon pulang datang.


"Bisnya sudah dateng, duluan ya Ohm," ucapnya mengacak rambut Ohm lembut sebelum berjalan kearah pintu bis yang terbuka.


Pawat yang baru pertama Kali di perlakukan seperti itu mematung, jantungnya berdetak tak karuan, kepalanya mendongak untuk melihat dimana Nanon duduk, Dan entah sengaja atau tidak pemuda itu duduk di sebbelah jendela dengan lokasi tepat di depan Pawat berdiri.


Nanon tersenyum kecil melihat Pawat yang menatapnya dengan senyuman malu-malu, tangannya refleks melambai kala bis akan melaju yang di balas lambaian serupa oleh Pawat hingga keduanya sadar apa yang baru saja mereka lakukan, dan wajah mereka pun memerah malu.


========= Enigma ==========


Matahari telah berotasi menggantikan sang rembulan malam untuk menyinari belahan bumi lain memberitahu sang penghuni bumi untuk segera bangun dari kasurnya, dan mulai melakukan aktifitas mereka masing-masing.


Pelajaran sekolah yang sepi berubah menjadi ramai akan anak-anak yang berangkat sekolah, senyuman manis patri di bibir mereka kala bertemu dengan temannya dan mengobrol sembari berjalan untuk masuk kedalam kelas masing-masing.


Begitupula Pawat, pemuda itu yang telah berangkat pun berjalan melewati demi lorong dengan wajah bahagia, langkah kakinya terhenti kala ia melewati ruang perpustakaan, ia pun melangkah masuk kedalam yang masih sangat sepi, kakinya terus berjalan masuk kedalam hingga ia telah berada di pojok ruangan, kepalanya menoleh kekanan dan kiri mencari sosok Nanon yang seharusnya sudah berada disana, dan senyumnya pun mengembang begitu melihat Nanon yang  berada di pojok ruangan dan sibuk membaca buku dengan menyender ke dinding. 


"Kak Nanon pagi-pagi kok udah di sini?" Sapa Pawat berjalan mendekati.


Nanon pun menoleh kesal suara dan tersenyum kecil. "Iya, kamu juga ngapain pagi-pagi udah kesini?" Tanya balik Nanon tak kalah heran. Pasalnya ini baru pertama Kali ia melihat seseorang yang berada di perpus saat pagi hari selain dirinya.


Pawat tersenyum Salah tingkah. "Belom ngerjain PR kak, aku lupa," ujarnya dengan senyuman polos, padahal memang ia sengaja tak mengerjakan PR agar bisa ada alasan untuk dekat dengan Nanon di perpustakaan.


Nanon tersenyum lembut dan berdiri dari duduknya, "Ayo aku temani ngerjain PR," tawarnya tanpa di minta.


Pawat pun tersenyum lebar dan mengangguk antusias, ternyata benar novel yang ia baca, Nanon memang sebaik itu, padahal ia belum meminta tolong tapi Nanon sudah menawarinya tanpa banyak bicara.


Keduanya pun berjalan kearah meja dan duduk bersisian, dengan segera Pawat mengambil buku PR Dan buku pelajarannya, menaruhnya di meja dan membukanya.


Kening Nanon berkerut. "Buku yang aku pinjemin mana?" Tanyanya heran.


"Di minta sama Janeeyah kak kemaren, aku gak berani minta balik soalnya temen dia banyak Dan pasti bakal belain dia." Ujarnya dengan wajah memelas. "Maaf ya kak, aku gak bisa jagain bukunya."


Nanon tersenyum lembut dan mengelus kepala Pawat tak kalah lembut. "Mana PR-nya?" Dan Pawat pun segera menyodorkan bukunya yang segera di baca oleh Nanon, pemuda itupun menjelaskan cara mengerjakan tugas PR matematika dengan cara yang mudah untukdi pahami.


Pawat tersenyum senang kala PR-nya telah selesai dengan cepat, matanya berbinar bahagia. "Makasih banyak kak Nanon." Ujarnya sembari mencium buku PR-nya sebelum memasukkan kedalam tas, melampiaskan rasa bahagianya.


Nanon tersenyum gemas melihat tingkah Pawat yang entah kenapa selalu bisa menarik perhatiannya.


"Ohiya," ujarnya seakan teringat sesuatu, Nanon yang sejak tadi Masih menatap Pawat mengangkat alisnya, menunggu Pawat untuk kembali berbicara. "Kakak bisa renang kan?" Sambungnya bertanya yang di Jawab anggukan. "Kakak mau gak ajarin aku renang? Aku gak bisa renang soalnya." Mohonnya dengan wajah memelas back anak anjing.


Dan lagi-lagi Nanon pun mengelus rambut Pawat sebelum mengangguk setuju. "Boleh,"


"Yes!" Ujarnya Kian bahagia. "Kalo gitu aku duluan ya kak, bye kakak." Pamitnya ingin segera pergi.


"Ohm," panggil Nanon yang membuat Pawat berhenti melangkah. 


Pawat pun menoleh. "Kenapa kak?" Tanyanya Masih dengan wajah berserk bahagia.


"Siniin HP-nya," pin Tanya sembari berdiri Dan menodongkan tangan.


Meski bingung Namun Pawat tetap melakukan apa yang di mau Nanon, mengeluarkan HP-nya dari saku celana yang segera di terima oleh Nanon.


Pemuda itu pun mengetikkan sesuatu di HP Pawat sebelum mengembalikannya."Itu nomorku, kalo kamu ada apa-apa langsung chat aja." 


Pawat pun menerima HP-nya kembali dengan senyuman kian lebar. "Makasih kak." Ujarnya malu-malu dan segera berlalu dari sana. Siapa sangka ia akan mendapatkan nomor Nanon dengan mudah seperti ini. Akan ia pamerkan pada Janeeyah nanti, karena gadis itu pasti belum berhasil mendapatkan nomor Nanon. 


========== Enigma ==========


Bunyi bell istirahat telah berbunyi nyaring membuat semua siswa dan siswi berbondong-bondong untuk keluar dari kelas, tak seperti kebanyakan murid, Nanon menunggu di kelas dengan teman-temannya hingga sepi, malas rasanya ikut berdesakan.


"Yuklah cabut," Ujar Perth mengawali berdiri, berjalan keluar yang di ikuti teman-temannya yang lain.


"Nanti olganya renang kan?" Tanya Chimon ke teman-temannya yang di angguki.


"Katanya barengan sama anak kelas 2." Ucap Neo membuat Nanon refleks menatapnya Dan Chimon sadar akan hal itu.


"Ohiya? Anak kelas 2 berapa?" Tanya Chimon memincing, ingin melihat reaksi Nanon lebih jauh.


"Kurang tau aku, aku cuman denger Dari anak-anak tadi pagi kalo bakal barengan sama anak kelas 2,." Ucap Neo apa ada ya.


"Hoo gitu," Ujar Chimon mengangguk-angguk, "Menurut kamu kelas 2 berapa Non?" Sambungnya dengan tatapan mata jail.


Nanon menghendikkan buahnya seolah tak perduli, Namun diam-diam ia pun ingin Tau kelas Dan berapa dan berharap itu kelas 2 III dimana Pawat berada.


"Mungkin kelas 2 III" Ujar Perth Dari depan.


"Serius?" Wajah Chimon kembali menatap Nanon jail Namun tak di perdulikan. 


"Aku sempet denger sih kelas 2 III soalnya kemaren mereka gak jadi ambil nilai kan, pak Basuki kemaren kemana gitu pas jadwal Olga mereka, makannya di barengan sama kita." 


Informasi dari Perth diam-diam membuat Nanon menarik sudut bibirnya, namun tak lama bibirnya kembali datar saat melihat wajah Chimon yang semakin menatapnya jail, mengejek tanpa bicara.


Obrolan mereka pun terus berlanjut hingga mereka sampai di tikungan untuk ke kantin, langkah Nanon berhenti kala melihat Janeeyah sedang berjalan dengan teman-temannya ingin masuk kedalam kantin, pemuda itu pun membelokkan langkah kakinya untuk mendekati Janeeyah.


"Mau kemana Non?" Tanya Neo yang menyadari temannya menjauh, Chimon dan Perth pun ikut berhenti karena ya, mereka ingin tau Nanon mau kemana, hingga pemuda itu berhenti didepan Janeeyah beserta teman-temannya, Dan Chimon berdecak tak suka.


"Kenapa kak?" Tanya Jane dengan wajah berseri, tak pernah di sangka bahwa Nanon akan menghampirinya, senyuman manis pun melengkung sempurna.


"Balikin buku aku ke Ohm," singkat, padat dan mencengangkan.


Janeeyah refleks menggenggam tangan Nanon, membuat pemuda itu berhenti berjalan dan menatap gadis itu dingin, tak seperti biasanya.


"Maksudnya gimana kak?" Tanyanya berharap ia Salah mendengar.


Nanon menatap tangannya yang di genggam Jane segera di tepis, "Buku yang aku kasih ke Ohm balikin ke dia," Ulangnya menatap Jane tajam.


Janeeyah yang Masih tak percaya kembali bertanya. "Kenapa?" Kilatan matanya nampak terluka.


"Butuh alasan buat balikin sesuatu yang bukan hak kamu?" Tanyanya langsung menusuk ulu hati.


Oran-orang di sekitar menatap mereka dengan pandangan berbeda, Dan mereka sudah pasti akan menceritakan Hal menarik ini ke teman-temannya yang lain.


Pawat heran melihat orang-orang yang berhenti di tengah jalan, pemuda itu mencoba melewati mereka dengan susah payah, perutnyha sudah keroncongan meminta di isi oleh makanan, langkahnya pun terhenti melihat Nanon yang berbicara dengan Janeeyah, bibirnya refleks mengrecut maju tak suka.


"Kakak gak Tau kalo Pawat itu aneh? Dia selalu ngikutin aku kemanapun kak," Ucap Janeeyah mencoba menghasut.


Nanon menghela nafas, "Bukannya kamu yang selalu gangguin dia selama ini?" Tanya balik Nanon terlihat tak terpengaruh.


Janeeyah menggeleng keras. "Enggak kak! Kakak itu udah di tipu sama dia, dia yang gangguin aku, aku mana tega gangguin orang lain sih kak." Ujarnya dengan wajah sedih.


Chimon yang melihat itu mendecih dan segera membalas ucapan Janeeyah dengan sengak, menghentikan Pawat yang ingin membola diri.


"Gak usah banyak alasan deh Jane, aku udah denger sendiri Dari mulut kamu kalo kamu bakal gangguin Pawat lagi." 


Ucapan Chimon sontak membuat semua orang menatap mereka terkejut, tak percaya.


Nanon yang ingin menoleh kearah Chimon tanpa sengaja matanya melihat Pawat yang berdiri di antara krumuna manusia, mata mereka pun saling tatap dengan pandangan yang sulit di artikan


"Kak Chimon jangan fitnah aku gin, kalo aku ada Salah sama kak Chimon aku minta maaf, tapi aku gak pernah gangguin Pawat." Kata gadis itu mencoba membola diri.


Tanpa memperdulikan apapun Nanon segera berjalan mendekati Pawat Dan menariknya keluar dari kerumunan, mengabaikan wajah shock Pawat serta tatapan berbeda dari banyak orang.


"Heh?" Chimon membeo tak terima di angap fitnah. "Maksud kamu kuping aku budek gitu sampa Salah denger sama omongan kamu?"


"Gak gitu kak, maksud aku--"


"Aku gak mau denger apapun Jane!" Potong Nanon begitu saja, membuat Jane menoleh kearahnya dan wajahnya mengeras melihat Pawat yang berada di dekat pemudanya terlebih tangan pawat yang di gandeng oleh Nanon. "Jangan lupa balikin buku aku ke Ohm," sambungnya dan berlalu Masih terus menggandeng tangan pawat untuk masuk ke dalam kantin yang di ikuti oleh teman-temannya yang lain beserta tatapan penuh tanya dari semua orang, spekulasi liar pun keluar dari bibir orang-orang mengenai kejadian barusan.


Janeeyah menatap punggung Pawat yang Kian menjauh dengan penuh benci dan berlalu dari kantin, mengabaikan panggilan tman-temannya. Ada Hal yang harus ia lakukan sekarang.

Selasa, 17 September 2024

Enigma part 3 - Terkuak


Setelah kejadian tadi pagi yang menggemparkan Dan banyak orang yang Masih tak percaya, Pawat dengan santai berjalan di lorong sekolahan tanpa perduli bisik-bisik orang-orang di sekitarnya, sekarang tujuannya hanya satu, yaitu kantin. Perutnya sudah sangat lapar.


Setelah sampai di kantin ia pun memilih berjalan kearah stand makanan yang tak banyak orang mengantri, kepalanya menoleh kearah penjuru kantin yang luas, ia ingin mencari tempat duduk untuk ia makan, tanpa sengaja matanya menatap Nanon tengah duduk di pojok ruangan dengan beberapa temannya lain, ia pun tersenyum melihat ada space kosong di setelah Nanon.


Setelah beberapa orang yang mengantri di depannya selesai dengan pesanannya, Pawat pun dengan cepat memesan apa saja yang ada depannya tanpa memilih dulu apa yang ingin dia makan, yang terpenting bisa cepat selesai.


Senyumnya pun merekah setelah pesanannya jadi, dengan segera ia bawa langkah kakinya untuk mendekat kearah Nanon.


Sebelum duduk ia perhatikan sekitar seksama untuk mencari tau apa semua tempat sudah terisi hanya demi memperhalus rencananya, dan setelah memastikan semuanya aman, ia pun segera mendekati meja sang kakak kelasnya.


"Boleh join gak kak? Semua meja sudah penuh," Ucap Pawat mdengan wajah penuh harap.


Semua orang yang ada di sana saling berpandangan, bertanya lewat tatapan matanya.


"Duduk aja," Ujar Nanon yang sukses membuat semua orang termasuk teman-temannya menatapnya heran. Sejak kapan Nanon mengijinkan orang lain untuk duduk satu meja dengan mereka terlebih itu tepat di sampingnya.


Pawat tersenyum cerah. "Makasih banyak kak," Ucapnya riang dan menaruh iringnya di meja sebelum ikut duduk di samping Nanon.


Merasa di perhatikan Pawat pun kembali bersuara. "Ohiya Salam kenal ya kakak semuanya aku Ohm Pawat." Ujarnya riang yang di balas senyuman tipis oleh mereka Namun tak bisa membuang rasa penasaran yang begitu tinggi.


"Sejak kapan kalian deket?" Tanya Chimon memincing curiga.


Ohm tak berani menjawab, ia hanya melirik Nanon menunggu pemuda itu untuk menjawab, karena ia pun ingin Tau apa komentar Nanon terhadap dirinya, agar ia bisa melangkah lebih jauh kedepanya.


"Baru kemaren," Jawab Nanon acuh-tak acuh, pemuda itu sedang membaca bukunya karena ia telah menyelasaikan makan siangnya sejak tadi, sebelum Ohm datang ke mejanya.


Keempat temannya Masih memandangnya penasaran. "Kok bisa?" Tanya Toptap heran.


"Bisa aja," Jawaban Nanon sama sekali tak membuat mereka puas, alhasil ke empat pemuda itu menatap Ohm penasaran. 


Pawat yang di tatap mau tak mau membuka suaranya untuk menjelaskan. "Jadi kemaren aku habis di bully sama anak-anak, terus kak Nanon yang nolongin aku dan bawa ke UKS." Ujar Pawat lirih, nampaknya ia sedang membangun karaketer yang lemah dan tak berdaya.


Kini Chimon, Toptap, Perth dan Neo berganti menatap Ohm penasaran, Nanon pun diam-diam mendengarkan, ingin tau lebih jauh.


"Kamu di bully siapa?" Tanya Perth penasaran.


Pawat menatap mereka takut-takut, makanannya pun ia abaikan begitu saja, kedua tangannya saling meremat di bawah meja.


"Kalo gak mau cerita gak papa," Ucap Toptap perhatian.


Ketiga teman Nanon yang lain pun mengangguk membenarkan. "Iya bener, tapi kalo mau cerita, cerita aja, siapa tau kita bisa bantu." Ujar Neo dengan senyuman, Masih ingin Tau ternyata.


Pawat tak langsung menjawab, terlihat ragu haruskah ia bicara, Nanon hanya memperhatikan kelakuan Pawat Dari sudut matanya, tanpa ingin membuka suara.


"Sebenernya aku mau aja ngasih tau, tapi percuma, kalian gak akan percaya," Ujar Pawat yang membuat orang di meja itu heran.


"Loh kenapa kamu bisa mikir gitu?" Tanya Chimon semakin penasaran.


Pawat memanyunkan bibirnya kedepan, terlihat sangat menggemaskan. "Ya soalnya dia terkenalnya baik banget, jadi kalian gak akan percaya kalo tau,"


Perth menatap teman-temannya penasaran, bertanya lewat tatapan mata.


"Janeeyah ya?" Bisik Toptap lirih sembari memajukan badannya yang membuat mata Pawat membola terkejut, sedangkan teman-temanya menatapnya tak percaya, hampir saja ingin di bantah oleh Neo Namun Pawat segera bersuara.


Pawat ikut memajukan badannya. "Kakak tau darimana?" Tanyanya heran sekaligus excited.


Nanon menatap mereka berdua penuh, ia terlihat tertarik.


"Hei gak mungkin," Ujar Chimon yang mendapat cibiran oleh Pawat.


"Kan apa aku bilang, gak akan percaya"


Chimon seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Masak sih dek? Buktinya apa?" Tanya Perth yang membuat Pawat kembali memanyunkan bibirnya.


"Gimana mau ada bukti, orang mereka mainnya keroyokan," gumam lirih Pawat Masih terdengar oleh mereka semua.


Mereka pun terdiam, asih kurang terlalu percaya dengan apa yang mereka dengan, berbeda dengan Toptap yang mempercayai ucapan Pawat, karena ia pernah melihat Janeeyah memaki seorang pemulung dengan kasar, sedangkan Nanon ia tak ambil pusing dan tak ingin terlalu memikirkan apa yang dia dengar.


"Kak Nanon juga gak percaya ya sama aku?" Tanya Pawat dengan mata memelas seperti anjing yang akan di buang.


Nanon yang mendengar pertanyaan Pawat pun tersenyum manis dan mengelus kepala Pawat. "50-50."


Pawat memanyunkan bibirnya kesal, meski ia sudah menebak Namun tetap saja kesal.,padahal tak seharusnya ia kesal, Namun ia tetap menyendokkan makanan ke dalammulutnya meski sedikit menyamping tak ingin melihat Nanon.


Teman-temannya yang melihat kelakuan aneh Pawat saling pandang Dan berganti menatap Nanon yang hanya diam dan kembali membaca buku, seolah tak perduli Pawat ngambek.


"Menurut lo pada itu anak suka Nanon gak?" Tanya lirih Toptap melihat kelakuan Pawat yang ajaib.


"Masih nanya lo? Dia begitu tingkahnya masak kagak." Jawab Chimon tak kalah lirih yang di anguki oleh Perth.


Janeeyah yang melihat Pawat duduk satu meja yang sama dengan Nanon terlebih duduk tepat di samping pemuda itu membuanya mengepalkan tangan kuat-kuat, menahan emosi yang bergejolak. Gadis itu pun mengambil HP-nya dan mengechat anak buahnya untuk melakukan apa yang dia suruh.


========== Enigma ==========


Pawat sekuat tenaga mencoba memberontak dari apitan kedua orang anak buah Janeeyah yang tentu saja semuanya sia-sia, tenaga kedua orang itu lebih besar darinya, hingga kini mereka telah sampai di depan Janeeyah yang duduk di kursi dengan 4 orang pemuda di belakang gadis itu.


Dengan kasar di dorongnya Pawat ke tanah hingga terjerembab di depan Jane yang membuat semua orang di sana tertawa mencemooh.


Tanpa merasa bersalah Janeeyah menaruh kakinya di kepala Pawat, menginjaknya dengan keras. 


Pawat terdiam dengan tangan mengepal, ia dendam kesal sekali, Namun ia tak bisa memberontak karena tubuhnya lemah, tadi sebelum di bawa ke sini ia di hajar habis-habisan oleh dua orang yang mengapitnya.


"Aku liat-liat kamu makin gak tau diri ya, Wat." Ujar Jane kesal. "Berani banget kamu deketin kak Nanon," sambungnya semakin menekan kakinya ke kepala Pawat.


Pawat tak ingin menjawab, meski ingin sekali memaki, Namun ia tak bisa melakukannya karena bawahan gadis itu yang banyak Dan bertubuh kekar, sekali Ucap habis sudah riwayatnya.


"Sekali lagi aku liat kamu deketin kak Nanon bakal habisin detik itu juga." Ancamnya menginjak kepala Pawat dengan kekuatan penuh sebelum menjauh kan kakinya dari kepala Pawat Dan memberi kode anak buahnya untuk memukuli Pawat. "Karena kamu sudah jadi anak nakal, makan kamu harus nerima akibatnya." Sambungnya sebelum pergi berlalu dari sana untuk kembali ke kelasnya. .


Entah berapa lama Pawat di pukul habis-habisan kini ia tergeletak tak berdaya di taman sekolah yang sepi, matanya perlalahan memburam, staminya sudah hilang tak kuat lagi untuk terjaga.


Chimon yang sedang mencari bukunya di taman karena terjatuh dari lantai tiga menghentikan langkah kakinya saat ia melihat seseorang yang tertidur menyamping di tanah.


Dengan penasaran pemuda itu pun berjalan pelan mendekati orang itu, kepalanya melengok mencari tau siapa orang yang aneh tiduran di tanah, "Ohm Pawat." Pekiknya terkejut.


Kepalanya pun sontak menoleh keberbagai arah untuk mencari apakah ada orang lain sebelum membuat Pawat terlentang untuk ia bangunkan, namun melihat wajah Pawat yang babak belur semakin membuatnya terkejut bukam main.


Dengan segeraia telpon Nanon yang langsung di angkat oleh pemuda di sebrang.


"Kenapa?" Tanyanya Dari sebrang.


"Non lo mending ke taman sekarang, Ohm Pawat pinsan." Ujar Chimon panik, jika ia kuat membopong tubuh Pawat, sudah pasti akan ia lakukan sejak tadi, Namun ia sadar diri stamina ya tak sebanyak itu.


Nanon dengan cepat menutup telpon mereka Dan berlari keluar kelas membuat orang-orang yang berada di kelas menatapnya heran. 


Dengan sekuat tenaga ia berlari cepat agar lekas sampai di tempat tujuan. Bayangan wajah babak belur Pawat saat pertama kali ia melihatnya terbayang sempurna.


Dengan nafas terengah-rengah ia sampai di tempat Chimon berada, Dan tanpa babibu Nanon pun membopong Pawat ala bridal yang di ikuti Chimon dari belakang, membawanya ke UKS.


Janeeyah yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum senang, emosinya telah tersampaikan, gadis cantik itu pun berjalan anggun di lorong yang sepi karena sudah jam Masuk pelajaran hingga ia melihat Nanon yang berjalan cepat sembari membopong Pawat ala bridal. 


"Kak Nanon." Sapa gadis mendekati Nanon yang membuat langkah Nanon terhenti. "Ini Pawatnya kenapa?" Tanyanya sok perhatian.


"Gak Tau," ujarnya dan melenggang pergi melewatinya begitu saja.


Janeeyah yang Masih ingin berbasa-basi tercengang tak percaya, tangannya mengepal emosi hingga buku kukunya memutih, bahkan setelah pinsan begitu masih saja caper ke calon pacarnya, dan Nanon juga kenapa lebih memilih melewatinya begitu saja.


Gadis itu pun mencak-mencak di tempatnya dengan kesal. "Pawat sialan! Masih aja godain kak Nanon, awas aja nanti bakal aku bikin makin babak belur!" ujarnya kesal tanpa tau bahwa di belakang ada Chimon yang mendengar semua makiannya.


Chimon memang sengaja berjalan lambat, dia hanya malas untuk kembali ke kelas yang sedang kosong karena gurunya ada perlu, sedangkan Nanon berjalan cepat dengan langkah lebar membuatnya semakin tertinggal di belakang. Namun setelah mendengar makian Janeeyah keinginannya untuk kembali ke kelas pun ia urungkan.


Janeeyah yang sedang memutar tubuhnya untuk berbalik arah terkejut melihat Chimon yang berada di belakangnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Hehehe kak Chimon, kak Chimon apa kabar?" Sapanya sok lembut.


Chimon tak menjawab perkataanya hanya lirikan sinis yang di lakukan pemuda itu sebelum pergi melewatinya.


Janeeyah membrengutkan bibirnya kesal namun tak ingin mengambil pusing akan sikap Chimon, gadis itu pun menyibakan rambut panjangnya kebelakang sebelum berjalan menjauh.


========== Enigma ==========


Dengan telaten Nanon mengobati luka di wajah Pawat hati-hati, sedangkan Chimon hanya mengawasi gerak-gerik sahabatnya dari ranjang sebelah yang kosong, banyak hal yang kini berada di benaknya tenang sahabatnya sejak kecil ini.


Nanon yang terus di perhatikan oleh Chimon pun angkat suara. "Kenapa?" Tanya Nanon tanpa menatap Chimon.


"Kamu sama Janeeyah sudah sedeket apa?" Tanyanya penasaran.


Nanon mengerutkan keningnya dan menatap sahabatnya bingung. "Bisa aja," 


"Kamu gak ada perasaan kan ke cewek itu?" Tanyanya memastikan.


Nanon Kian menatap Chimon heran. "Ya enggak, kita aja jarang ngobrol." Ujarnya, ia kini  focus mengobati luka-luka di tubuh Pawat, baju yang di kenakan pemuda itu pun telah terbuka Dan pelakunya sudah pasti Nanon yang ingin tau dimana saja letak lebam di tubuh Pawat.


Chimon sedikit bernafas lega. "Jangan deket-deket deh sama itu cewek," ujarnya yang membuat Nanon mengerutkan keningnya.


Kepala Nanon pun menoleh kearah Chimon, "Kenapa tiba-tiba??" Tanyanya heran.


Chimon menghela nafas kasar. "Kayaknya yang di omongin Pawat tuh bener,"


Kening Nanon Kian mengkerut dalam. "Soal?" Tanyanya bingung.


"Tentang orang yang bully dia."


Kini Nanon telah sepenuhnya focus kearah sorang terpecayanya, menatapnya lamat-lamat ingin mendengarkan lebih rinci.


"Tadi kamu papasan kan sama itu cewek?" Tanya Chimon yang di Jawab anggukan. "Nah pas kamu sudah jalan aku denger dia maki-maki Pawat terus bilang bakal bikin Pawat makin babak belur gitu lah." ujarnya menatap Nanon dengan raut serious, membuktikan ia tak sedang bercanda.


Nanon terdiam beberapa saat berpikir tentang apa yang Chimon katakan. "Oke," ujarnya begitu saja dan kembali mengobati luka di badan Pawat.


Chimon tak terkejut dengan jawaban Nanon, karena memang kelakuan Nanon seperti ini, menuruti apa yang di katakan orang terdekatnya, meski kadang ia emosi dengan sikap temannya ini, namun ia justru bersyukur sifat Nanon yang ini.

Jumat, 06 September 2024

Enigma Part 2 - Hidup baru


Dengan sisa-sisa kenangan yang di miliki si pemilik tubuh, Pawat berjalan melewati rumah demi rumah dan menaiki tangga satu persatu yang menjulang tinggi dengan Nanon di sampingnya, jangan tanya Pawat kenapa Nanon ingin menemaninya pulang, karena pemuda itu di tanya pun tak memberikan jawaban yang puas, hingga kini ia telah tiba di rumah mewah milik keluarga si pemilik tubuh.


Ia pun menatap kagum rumah di depannya, kepalanya menoleh ke samping melihat Nanon yang terus memperhatikannya, ragu-ragu ia memencet bel.


"Lo gak mau balik Non?" Tanya Pawat sedikit mengusir.


Nanonmenatapnya bingung, 'Apa itu lo?' Namun ia tak mengatakan apapun Dan memilih untuk menjawab. "Nanti kalo kamu udah masuk." Ujarnya menunggu dengan tenang di sebelah Pawat.


Pawat memberenggutkan bibirnya gemas, dan semua itu tak luput dari pandangan Nanon.


Pintu gerbang mewah nan tertutup pun perlalahan terbuka dan menampilkan sang maid yang membuka pagar dengan sopan.


"Sore tuan muda," Sapa sang maid sembari menunduk hormat.


Pawat tergugu di tempatnya, ia sangat malu mendapatkan respon yang sangat di luar dugaan."Sore," Jawabnya kikuk. 


Pawat kembali menoleh kearah Nanon, menatap pemuda itu yang juga sedang menatapnya, seolah menunggunya untuk masuk. 


Dengan ragu Pawat pun masuk ke dalam dan sang maid segera menutup pintu garasi itu sebelum berjalan di belakang Pawat dengan sopan, kepalanya sesekali menoleh kearah Nanon, memastikan pemuda itu apa sudah pergi.


Melihat Pawat telah masuk kedalam rumah dengan aman, Nanon pun memilih untuk putar balik, meski ia harus berjalan jauh karena perumahan Pawat dan rumahnya berbeda tapi ia tetep menemaninya karena takut terjadi apa-apa di jalan, di matanya Pawat adalah sosok yang rapuh.


Mengeluarkan Headset dari tas dan mulai mendengarkan lagu kesukaanya untuk menemaninya bejalan di jalan yang sepi.


========== Enigma==========


Pawat berjalan dengan pelan, matanya menatap sekitar dengan pandangan kagum, bibirnya tersenyum lebar, terlihat ia sangat bahagia.


"Siapapun lo yang udah buat gue masuk ke dalam novel ini makasih banget, gue jadi bisa ngerasain jadi orang kaya," Batinya bahagia. 


"Tuan muda sudah makan malam?" Tanya seseorang yang terlihat seperti kepala pelayan bertanya dari arah samping kananya, raut wajahnya terlihat khawatir begitu melihat memar di wajah Ohm, namun ia tak berani mengatakan apapun, takut membuat sang tuan muda marah seperti kemaren, karena menurutnya terlalu ikut campur. 


Pawat menoleh dan menggeleng. "Belom. Ada makanan apa ya, bi?" Tanyanya mendekati sang kepala pelayan. Di dalam novel sang pemilik tubuhnya lumayan dekat dengan wanita paruh baya itu.


"Bibi masak makanan kesukaan aden," Ujarnya dengan tersenyum lembut.


Pawat pun berjalan kearah meja Mayanikuti kedua pelayan tadi dan melihat banyaknya menu yang di hidangkan. Dengan susah payah Pawat menahan air liurnya yang ingin menetes.


Tanpa babibu Pawat pun berjalan kearah kursi dan duduk dengan nyaman.


Maid yang sejak tadi mengikutinya pun mulai mengambilkannya makanan. Nampak jelas terlihat Pawat sangat menyukai kehidupannya sekarang.


"Papi sama Mami kemana?" Tanyanya menatap sang kepala asisten yang berdiri di samping kirinya.


"Tuan dan nyonya ada keperluan di luar kota den, Minggu depan baru pulang." 


"Syukurlah, jadi gak harus bingung harus gimana kalo ketemu mereka nanti," Batinya semakin bahagia.


Pawat pun segera melahap makanannya dengan bahagia. Dia tidak menyangka bahwa hidup si pemilik tubuh yang asli begitu enak, dan ia tak mau mati konyol di tangan Janeeyah, ia ingin hidup bahagia dengan menikmati semua kekayaan ini. Dan ia sudah tau harus bagaimana untuk mempertahankan kehidupannya. Tekatnya sudah sangat bulat, beberapa rencana licik pun sudah ia susun dengan rapi di otaknya.


========== Enigma ==========

Nanon berjalan masuk kedalam rumah yang megah namun sepi itu, kedua telinganya masih tersumbat headset.


Keningnya mengkerut melihat seseorang berdiri di depan kamarnya, di tangan pemuda itu terdapat HP dengan apel tergigit keluaran terbaru, dan Nanon sudah tau apa maksud sodaranya berdiri di sana.


Nanon pun kembali berjalan dengan memainkan hp-nya, tak ingin menggubris kelakuan adik kandungnya yang beda 2 tahun darinya.


"Enak banget ya jadi anak yang di anggep sama ortu, apapun yang di ingini pasti di kabulin," Celetuk Karva saat Nanon melewatinya dan berusaha membuka kunci kamarnya. Namun Nanon seolah menganggapnya tak ada. Tak ingin menyerah Karva kembali melanjutkan. "Gak kayak seseorang yang baju sama tas aja gantinya setahun sekali." Oloknya dengan tawa mencemohoh.


Tapi Nanon sama sekali tak menganggapnya, pemuda itu langsung masuk kedalam begitu ia berhasil membuka kunci pintu kamarnya.


"Pantes aja lo gak di anggep sama ortu, dasar freak!" Makinya saat Nanon menutup pintu kamarnya. Kesal sekali ia, namun tak lama senyum sinisnya pun terbit dan ia pergi begitu saja dari sana.


Nanon menghela nafas berat. Ia sudah terbiasa dengan hidupnya yang seperti ini, menjadi bahan ejekan untuk kakak maupun adiknya karena ia yang tak begitu di perhatikan oleh orang tuanya, ia sudah kebal dengan semuanya, yang ia mau hanya agar ia  lulus cepat dan kuliah di kota yang jauh, hidup damai dengan duninya sendiri tanpa bayang keluarganya. Jika akselerasi masih ada sudah di pastikan ia sudah lulus dari tahun kemaren.


Di letakkannya tas ke atas meja belajar yang penuh dengan buku dan duduk di mejanya, di bukanya laptop dan menghidupkannya, ia ingin mengerjakan tugas yang baru tadi pagi di berikan.


Ting 


Suara notifikasi di hp membuatnya menoleh kearah layar HP-nya yang menyala, keningnya mengkerut melihat seseorang yang mengirim inbox ke akun facebooknya.


Ohm Pawat 

Hai kak nanon, ini aku tadi yang kakak tolongin hehehe

Maaf tiba-tiba inbox dan ngikutin kakak, aku cuman mau bilang makasih 


Di ambilnya Hp itu dan mulai mengetik balasan untuk seseorang di sebrang sana yang sedang tiduran di ranjang king sizenya sambil memakan buah.


NNN 

Iya


Dan kembali meletakan HP-nya di sebelah laptop, pemuda itu pun mengambil buku dalam tas dan membukanya, mencari lembaran PR yang harus ia kerjakan.


Sedangkan Pawat yang mendapat balasan super singkat itu memberenggut kesal. ia pun berganti tidurannya menjadi duduk menyender di headbord. Menggerutu sendiri karena sikap dingin Nanon.


"Duh gue harus bales apa ya biar dia mau ngelirik ke gue? Hidup mati gue ada di tangan dia nih," Katanya sedikit lebay,


Matanya pun menatap kamarnya yang luas, mencari inspirasi harus bagaimana lagi, hingga matanya menatap sudut ruangan yang berisi meja belajarnya dan ia tersenyum puas karena sudah mendapatkan ide.


"Mari caper dan bikin cewek jahat itu darah tinggi hahaha," Ujarnya mulai mengetik.


Ohm Pawat

Kak, kakak masih punya buku kelas 2 gak? Aku mau minjem

Aku pengen bagusin nilai, kan bentar lagi naik ke kelas 3

Boleh gak kak?


Dentingan notifikasi yang berurutan dari facebook pun kembali terdengar, Nanon yang sedang fokus mengerjakan tugasnya sedikit terganggu dan kembali mengambil hpnya.


NNN

Boleh, buku apa?


Pawat pun tersenyum bahagia, meski jawabannya masih singkat, yang terpenting capernya di tanggapi. "Dasar kutu buku," Makinya masih tersenyum cerah.


Ohm Pawat

Semua kak

Kalo boleh sekalian catatannya ya hehehehe 


NNN

Iya,besok aku anterin ke kelas kamu.


Ohm Pawat

Makasih banyakk kak nanonnn

lope lope lope


Kening Nanon mengkerut dalam."Lope lope?" tanyanya bingung sendiri, ia baru mendengar kata aneh yang entah apa itu.


Kepalanya pun menggeleng pelan dan tak ingin memikirkan kelakuan Pawat kian jauh, pemuda itu pun kembali mengetikan kata demi kata di laptopnya, kembali menggarap tugas.


========== Enigma ========== 


Terik mentari bersinar terang, seterang senyuman Pawat yang kian menikmati hidupnya sebagai anak tunggal orang kaya. Jika kemaren ia menangis histeris tak terima menjadi orang yang 'bodoh' kini ia justru menikmatinya dengan penuh suka cita.


Mobil berhenti tak jauh dari pemberhentian buss, kening Pawat mengkerut heran."Kenapa berhenti di sini kak?" Tanyanya penasaran.


sang supir menoleh ke belakang. "Kan dari dulu aden yang minta buat berhenti di sini." 


Pawat merutuki kebodohannya sendiri yang melupakan hal ini. Pemuda itu pun tersenyum garing. "Jalan lagi aja pak, berhenti di gerbang, aku gak mau lagi jalan kaki jauh," 


Sang supir pun segera menjalankan kembali mobilnya tanpa berpikir yang aneh-aneh, dan menghentikannya di depan gerbang sekolah yang megah.


"Makasihh," Ucapnya ceria sebelum turun dari mobil, pemuda itu pun berjalan dengan santai masuk kedalam sekolah, mengabaikan tatapan semua murid yang kini berbisik sembari menatapnya. Ia kesal, tapi harus ia tahan.


Dengan mengandalkan memori dari si pemilik tubuh Dan bantuan novel yang sudah habis ia baca, Pawat kini telah sampai di kelasnya, begitu ia menggeser pintu kelas semua orang di kelas menatapnya dan tak lama semuanya berbisik menggunjing.


Pawat membrenggut sebal, pantes saja sang pemilik tubuh yang asli malas bersekolah, siapa yang betah kalau hidupnya seperti ini, tapi tenang saja, ia sudah menyiapkanbanyak rencana untuk memulihkan nama si pemilik tubuh agar hidupnya tak semengenaskan sekarang.


Di hembuskannya nafas kasar dan segera duduk di kursinya yang sialnya berada di tengah, di sebelahnya sudah di isi oleh gadis cantik yang sepertinya sudah ilfeel padanya, padahal mereka belum pernah berbibacara. Semua ini karena si pemeran utama dalam novel yang menyebalkan itu.


Di keluarkannya hp dan mulai berselancar di dunia maya, mengabaikan sepenuhnya orang di sekelilingnya yang terang-terangan menyindirnya.


Nanon turun dari bus dan berjalan santai dengan headpone yang berada di kedua telinganya, setiap ia berjalan selalu ada orang yang berbisik sembari menatapnya kagum. Sangat bertolak belakang dengan yang Pawat alami.


Langkah kakinya pun dengan mantap berjalan melewati tiap lorong kelas, hingga di tikungan Jalan yang seharusnya Nanon berbelok namun pemuda itu tetap berjalan luruh kearah tangga, menaikinya satu persatu dengan tenang. Semua orang menatapnya bingung, mau kemana sang idola sekolah ini? Hingga banyak mahasiswi yang mengikutinya dari belakang saking keponya mereka.


"Eh kak Nanon? Tumben ke sini, nyari siapa?" Sapa Jane dengan tersenyum manis, berusaha menggaet hati sang pujaan hati, matanya pun berbinar bahagia, nampak sangat tergila-gila dengan Nanon.


Nanon pun melepaskan headphone dari telinganya dan menaruhnya di leher, "Nyari Ohm," Jawab Nanon cuek dengan kepala menoleh ke dalam kelas mencari sosok yang ia temui kemaren.


Ohm yang merasa terganggu dengan teriakan-teriakan kecil dari semua siswi di kelasnya pun memilih mencari tau penyebabnya. Dan wajahnya tersenyum cerah melihat Nanon yang sedang berdiri di depan kelasnya dengan gadis cantik sangat cantik di depan pemuda itu.


Janeeyah memberenggut kesal namun segera ia rubah mimik wajahnya menjadi ramah kembali. "Ohm siapa kak?" 


Sebelum Nanon menjawab, orang yang di maksud sudah lebih dulu menyapa dengan cerah ceria. 


"Kak Nanon nyariin aku ya?" Sapanya kepedean.


Semua orang di sana menatap mereka penasaran. 


Nanon mengangguk dan megambil beberapa buku untuk ia serahkan ke Ohm. "Ini titipan kamu." 


Pawat tersenyum cerah dan mengambilnya dengan suka cita, berbeda dengan gadis di depan Nanon yang menatapnya dengan aura membunuh, Pawat hanya meliriknya dan melirik name tag di dada gadis itu untuk memastikan sebelum tersenyum tipis.


"Makasih banyak ya kak, mau aja aku repotin," Ujarnya dan dengan nekat memeluk tubuh Nanon membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, begitu juga dengan Nanon, ia pun sama terkejutnya.


Dengan pelan tanpa ingin menyakiti Pawat, Nanon melepaskan pelukan mereka dengan mendorong pelan pinggang Pawat, memberi kode yang di turuti dengan senang hati. Senyum Pawat masih bertengger indah di sana.


"Kalo ada yang gak kamu ngerti bisa chat aku." Ujar Nanon sebelum berlalu pergi.


Pawat dengan sengaja melambaikan tangan mengantar kepergian Nanon, melewati lautan manusia yang mengerebungi mereka tadi.


Jane yang sudah tak bisa menahan rasa kesalnya dengan kasar menarik semua buku dari tangan Pawat.


Pawat yang belum siap dengan serangan mendadak pun terkejut bukan main hingga tubuhnya terdorong ke samping.


Semua orang yang melihat itu cukup terkejut, tidak percaya dewi baik hati Dan lemah lembut yang mereka kenal bisa se kasar itu.


Jane merutuki kebodohannya setelah tersadar kini banyak orang memperhatikan mereka. "Maaf ya Paw, aku gak maksud kasar sama kamu, aku cuman gak suka kamu jadiin kak Nanon target kamu, hanya karena aku suka sama kak Nanon," Ujarnya dengan mimik wajah menyesal.


Semua orang kini kembali saling berbisik.


Pawat menghela nafas kesal, namun setelahnya ia diam-diam tersenyum tipis. "Mau bermain akting menjadi sosok yang tak berdaya? Ayo aja!" 


"Jane kamu ngomong apa sih? Aku cuman minjem buku sama kak Nanon, aku cuman mau fokus ke pelajaran aku biar nilai aku naik, kamu kok tega mikir gitu sama aku?" Tanyanya dengan wajah yang terlihat sangat sedih. "Kamu salah paham Jane, aku gak pernah suka sama kamu, aku hanya mau temenan tapi kamu selalu salah paham, sekarang aku cuman mau fokus sama study aku, gak mau lagi ingin temenan sama kamu setelah kamu salah paham terus sama aku, dan akhirnya aku di bully sama orang-orang," Sambungnya dengan wajah memelas.


Janeeyah tergugu, ia tak menyangka Pawat akan berani membalas ucapannya, ini pertama kalinya Pawat berani membantah ucapannya setelah 5 tahun ia bully diam-diam. 


Melihat Jane yang terkejut Pawat pun berusaha mengambil kembali buku Nanon dari tangan gadis itu, namun Jane segera sadar dan menahannya dengan sekuat tenaga.


Pawat dengan sengaja mencondongkan tubuhnya kearah Jane dan saat tangan Janeeyah menyentuh lengannya dengan sengaja Pawat mendorong tubuhnya sendiri kebelakang hingga terjungkal. 


"Aww sakit Jane," pekik Pawat sok tersakiti.


Semua orang yang ada disana terkejut luar biasa, mereka menatap Pawat dan Jane bergantian.


Jane pun ikut terkejut saat Pawat jatuh dengan keras di lantai kelas.


Kepalanya menoleh ke semua orang yang menatapnya tak percaya. "Enggak, aku gak dorong dia, dia jatuh sendiri." Ucapnya berusaha membela diri, namun sepertinya tak ada yang percaya.


"Kamu pengen banget buku kak Nanon ya? Gak papa kalo kamu mau ambil, aku belajar sendiri aja gak papa," Katanya sok baik, dengan sengaja ia tepuk pundak Jane lembut. "Semangat ngejar kak Nanonnya ya," Sambungnya dan berjalan menjauh, berjalan ke tempat duduknya.


Ia sangat puas bisa mempermalukan gadis itu seperti apa yang gadis itu lakukan ke padanya setiap hari, dulu.


Sedangkan di depan kelas Jane berusaha menyakinkan semua orang yang menatapnya aneh, ia menggeleng keras, "Kalian salah paham, gak gitu maksud aku," namun semuanya percuma, orang lebih pecaya apa yang mereka liat daripada sangkalan gadis itu, hingga ia tak tau lagi harus berbicara apa dan ia memilih untuk kabur dari sana, padahal bel sebentar lagi berdenting.


To be continue

Selasa, 03 September 2024

Enigma Part 1 - Masuk dalam dunia Novel

Ohm belari ke pingir lapangan dengan terus menendang bola, matanya melirik kearah teman satu timnya yang berada tak jauh dari gawang, tanpa berpikir panjang Ohm pun menendang bola kearah sang teman tanpa tau ada tim lawan yang ingin mengambil alih bola dari tendangannya, alhasil setelah bola berhasil ia oper ke timnya kakinya pun tanpa sengaja ke tendang oleh tim lawan dengan keras, membuatnya jetuh ke tanah dengan begitu saja.


Rasa nyeri di kakinya sangat menyakitkan, ia sudah tak perduli lagi apakah bolanya berhasil ke oper dengan sempurna atau diambil oleh tim lain. Bahkan saat sorakan dari trimbun penonton yang menggema begitu kencang dengan yel-yel andalan kampus mereka karena berhasil mencetak gol tak membuatnya bahagia, ia ingin menangis rasanya menahan rasa sakit yang terelakkan di engkle kakinya.


Tiba-tiba banyak anak yang mengerebuninya bertanya apakah dia baik-baik saja yang tak ia jawab sama sekali, ingin memaki namun rasa nyeri di kakinya sangat menyakitkan membuatnya hanya terus mendesis menahan sakit hingga beberapa orang petugas kesehatan mendatanginya dengan membawa tandu, menyemprotkan pereda nyeri ke Kaki Ohm yang terluka untuk pertolongan awal, namun melihat Ohm yang tak ada reaksi membaik pun dengan segera dan hati-hati meletakkan Ohm ke tandu, membawanya ke  pinggir lapangan untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.


============ NonOhm ============


Kini Ohm telah berada di salah satu ruangan rumah sakit dengan kaki yang ter gips, tangannya sibuk menyecroll layar hp, berseluncur di youtube, menonton video-video yang menarik minatnya.


Pintu rumah sakit terbuka, masuklah seseorang yang mengenakan kaos oblong dengan celana kain selutut, melewati brankar-brankar pasien yang satu ruangan dengan Ohm, langkah kakinya pun berhenti di depan brankar Ohm yang sedang duduk menyender di headboard ranjang rumah sakit.


"Yo brodi, gimana kaki lo? Udah sembuh?" Sapa dan tanya pemuda itu meletakkan barang bawaanya ke meja di samping brankar Ohm yang kosong.


Ohm pun mendongakkan kepalanya menatap sang penyapa. "Bawa apa lo?" Tanyanya merasa tertarik dengan barang bawaan sang sahabat. 


"Bawa buah sama novel buat nemenin lo di sini." Ujar Tommy kut duduk di kuris ydi samping ranjang Ohm.


Ohm pun mengambil novel yang di maksud, membolak-balikan buku itu. "Bagus gak?" Tanya Ohm sedikit ragu.


"Kata kakak gue sih bagus, lagi booming itu novel, mana ada salah satu characternya mirip sama nama lo."


"Oh ya?" Mendengar penuturan dari sang teman tetap tak membuat Ohm begitu saja, wajah tak percaya masih berengger indah di sana. "Jadi pemain utama gue?"


Tommy menggeleng kecil."jadi character sampingan," Ujarnya mengambil buah Apel yang tadi ia bawa. 


"Oohh," sahutnya mulai membuka buku novel itu.


"Yaudah gue ke kampus dulu," Pamit Tommy yang mendapat anggukan dari Ohm.


Pemuda itu sedang asyik membaca novel, mengabaikan orang sekitar yang lalu-lalang.


Jika kalian tanya di mana keluarga Ohm, tidak ada, Ohm tidak punya keluarga, dia hidup di panti asuhan, dan setelah lulus SMA ia memilih untuk meningalkan panti asuhan karena ia keterima kuliah di luar kota dengan jalur beasiswa.


Menit demi meit berlalu berganti jam, sudah berjam-jam Ohm membaca Novel itu dengan tenang, bahkan ia tak tau jika di luar rumah sakit sedang hujan deras di sertai kilatan petir yang menakutkan.


Novel yang ia baca bercerita tentang perjuangan seorang gadis yang ingin  mendapatkan cinta dari sang pujaan hati (Nanon) meski dengan cara licik. Dalam proses mendapatkan hati sang pujaan hati, Jane (Nama dalam novel) pun memanfaatkan Pawat (Nama character lain dalam Novel) agar mendapat simpati dai Nanon, dan setelah Nanon pergi Jane akan semena-mena membully Pawat dengan sadis.


Di dalam Novel, jane menjadi sosok yang sadis di depan Pawat dan sosok yang lemah lembut serta penyabar bak dewi di depan semua orang, hingga pada akhirnya Nanon suka dengan Jane dan mereka pun berpacaran. 


Tapi nasib ngenes menimpa Pawat, pemuda itu mati mengenaskan karena di dorong ke danau oleh Jane, Pawat yang tak bisa berenang meninggal karena tenggelam.


"Anjing cerita apa ini," Protesnya tak terima. "Yang buat tolol." Makinya kembali."kalo gue yang baut certa bakal lebih bagus anjing, akan gue buat si Jane itu menderita dan gue yag bakal jadian sama Nanon. Pawat juga tolol banget, jadi laki kok lembek, mau aja di bully sama cewek bjir." makinya tak habis-habis, mengabaikan tatapan aneh dari orang yang sekamar dengannya.


"baca ini Novel bikin sebel aja,pengen rasanya masuk dalam novel dan gue kacauin rencana lo Jane!!"


Geledek menyambar dengan kencang setelah ucapan berakhir, membuat semua orang di dalam yang berada dalam ruangan terkejut bukan main, termasuk Ohm.


"Akan gue protes ini buku di sosmed si pembuat. Enak aja jadiin gue versi novel se ngenes itu." Ternyata kesalnya tak berkesudahan.


Ohm pun mengambil hp yang ia charge, dan mulai berseluncur di dunia maya, mencari pemilik akun si penulis.


Geledek kembali terdengar di sertai petir yang menyambar tak tentu arah.


Pemuda itu mulai mengetik kata-kata protes di kolom ig si penulis, sebelum Ohm selesai mengetik tiba-tiba ia tersengat listrik, dan hal itu membuat semua orang di bangsal berteriak memanggil suster dan dokter dengan panik.


Rumah sakit pun sontak heboh karena Ohm tersengat listrik.


============ NonOhm ============


Ohm mengerang pelan merasakan kepalanya berdenyut menyakitkan, perlahan ia buka matanya. "Gue pikir gue bakal mati," Ucapnya asal.


Keningnya berkerut melihat sekiar. "Loh gue di mana ini?" Tanyanya dalam hati.


Ia ingin berdiri namun tubuhnya tak bisa di gerakkan, matanya pun menatap bawah dan ternyata ia terikat di atas kursi. Ia pun semakin bingung.


Kepalanya kembali berdenyut tak menyenangkan, kilasan memori entah milik siapa silih berganti masuk kedalam otaknya. "Awhsss," desisnya saat memori memori itu tak kunjung berhenti menampkan diri hingga Ohm pun kembali pinsan dengan kondisi masih terikat di atas kursi.


Nanon sedang berjalan santai di belakang sekolah, ingin istirahat sejenak dari bisingnya orang-orang di sekolahan.


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada orang lain di sana kecuali dirinya, dengan pelan Nanon masuk kedalam gedung terbengkalai dan mengambil 1 bungkus nikotin serta korek yang ia bawa dari rumah dan mulai menghidupkannya. 


Dengan pelan ia keluarkan asap nikotin dari mulutnya, matanya pun menatap sekitar dan ia terkejut ada orang yang berada satu ruangan dengannya dan lebih emngejutkannya dia terikat.


Dengan cepat Nanon pun membuang rokoknya ke tanah dan ia injak dengan sepatu.


Berjalan cepat kearah Ohm dan menepuk-nepuk pipi Ohm lembut, dapat ia lihat beberapa lebam iru yang bersarang di wajah Ohm.


"Hey bangun, kamu denger aku gak?" Seru Nanon mencoba membangunkan, namun tak ada reaksi apapun dari Ohm, pemudaitu masih pinsan. Matanya menatap name tag si pemuda dan keningnye mengkerut. 'Ohm Pawat?' batinnya bertanya, ia tau siapa orang yang sedang terluka ini, dia adalah pemuda yang di kabarkan obses ke salah satu murid di sekolahnya hingga.


Nanon ingin mengabaikan pemuda itu di dalam gudang namun melihat Pawat yang di kondisi tak sadarkan diri membuatnya tanpa banyak berpikir langsung membebaskan Pawat dari lilitan tali dan menggendongnya ala bridal style, membawanya keluar dari gudang terbengkalai.



Semua pasang mata yang berada di luar kelas menatap Nanon penasaran, bahkan yang berada di kelas pun rela keluar kelas untuk melihat apa yang terjadi.


Jane yang berada yang melihat Nanon membopong Pawat mengepalkan tangannya kesal. Dalam hati akan membalas perbuatan Pawat nanti.


Pawat perlahan membuka matanya ketika merasakan guncangan, yang pertama hadir di penghilatannya adalah sosok tampan dan rupawan bak malaikat, sinar mentari yang menyinari nanon membuatnya berkilauan, di tambah wajahnya yang tampan nan lembut, persis malaikat dalam versi khayalannya ketika masih kecil.


"Gue kali ini meninggal beneran?" Igaunya lirih.


Nanon yang mendengar perkataan lemah Ohm pun menatap ke bawah dan melihat Ohm yang masih di keadaan antara sadar dan tidak.


"Sebentar lagi sampe UKS, tahan bentar." Ujarnya memberi tau.

 

"UKS?" Beonya tak paham. "Di akherat juga ada UKS?"


Celetukan Ohm membuat Nanon terkekeh, kepalanya menggeleng tak habis spikir.


Denga pelan Nanon menyeret pintu UKS  kesamping tanpa hambatan meski ada Ohm dalam gendongannya, dan masuk ke dalam matanya mencari sosok dokter yang seharusnya berjaga, namun ruangan itu kosong, Mungkin sang dokter jaga masih istirahat di kantin.


Nanon pun segera membawa Ohm yang kembali memejamkan matanya ke ranjang UKS dan meletakkannya hati-hati, dengan cekatan mengambil barang dan obat yang dia butuhkan, seolah sudah terbiasa dan tau di mana letak barang yang ia perlukan.


Setelah mendapatkan semua barang yang dia butuhkan, Nnao pun kembali berjalan kearah Ohm dan mulai mengompres wajah Ohm yang bengkak.


"Awwshhh." Desis Pawat merasakan nyeri di wajahnya. Dengan pelahan Pawat mulai membuka matanya kembali dan kembali melihat wajah Nanon yang di sinari cahaya matahari hingga membuatnya nmasih berkilau. "Di akherat masih bisa ngerasain sakit ternyata." Ujarnya.


Nanon terkekeh, merasa lucu dengan tingkah anak yang menurutnya aneh. "kamu belom meninggal Ohm," Ujar Nanon memberitahu.


Pawat mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kalo gue gak di akherat terus di mana? Kok malaikat di sini?"


Nanon mengerutkan keningnya bingung, tangannya yang sedangmengobati luka lebam di wajah Pawat berhenti sejenak, kepalanya menoleh sekitar mencari di mana malaikat yang di maksud.


"Malaikat? Dimana?" Tanyanya bingung saat tak menemkan apapun di ruangan itu.


Dengan polos Ohm menjuding Nanon.


Nanon mengkerutkan keningnya semakin tak habis pikir. Tak ingin berdebat lebih jauh Nanon pun kembali mengobati luka Ohmhati-hati. Dan Pawat yang meringis menahan sakit.


Matanya menatap sekitar, ruangan serba putih dan bau obat khas UKS membuatnya bingung, tapi hal yang paling masuk akal baginya adalah ia sudah meninggalkarena tersengat listrik, namun ia tak paham kenapa di akherat tak seperti bayanganya dan juga ada UKS di akherat.


Pawat tiba-tiba teringat kakinya yang sakit karena yang baru digips setelah petandingan kemaren, pemuda itu pun sontak bangkit berdiri mengabaikan tangan Nanon yang ingin memakaikan plaster di wajahnya yang terluka. Dengan penasaran Pawat meloncat-loncat dan menggoyangkan kakinya memastikan apakah benar sudah sembuh.


Nanon menatap Pawat aneh, 'Ini anak gila ya?' Batinya bertanya-tanya.


"Kaki gue sembuh!!" Pekiknya kegirangan. "Lihat-lihat kaki gue sembuh," Adunya menggoyangkan kakinya kearah Nanon.


Melihat Pawat yang begitu bahagia membuat Nanon tersenyum tipis, merasa lucu meski aneh.


"Emang kaki kamu kenapa?" Tanya Nanon penasaran.


"Kemaren pas lomba sepak bola antar kampus kaki gue di tendang anjir, sampe gue harus badrest di rumah sakit." Katanya masih memainan kakinya. 


Nanon menatap Pawat aneh, sejak kapan Pawat ikut lomba antar sekolah,dan apa dia bilang. Kampus? Mereka kan masih sekolah, apa maksudnya lomba antar kampus?.


Saat Nanon ingin kembali mengorek informasi, ada suara yang mengintrupsinya. "Loh Nanon, ada perlu apa?" Tanya sang dokter penjaga UKS ketika baru masuk runagan dan melihat Nanon yang duduk di pinggir ranjang.


Pawat menoleh, 'Nanon?' Batinnya bertanya. Matanya kembali menatap Nanon dan menatap name tag yang di seragam pemuda itu, di sana tertulis Nanon Korapat. seketika matanya membulat sempurna. 


"NANON KORAPAT?" Pekik Pawat mendahului Nanon yang ingin membalas sapaan sang dokter jaga.


Nanon pun kembali menatap Pawat. "Iya, aku Nanon korapat, kenapa?" tanyanya heran.


Sang dokter jaga menatap Ohm penasaran. "Dia kenapa Non?" 


Nanon menggeleng kecil. "Gak tau buk, aku liat di pinsan gudang tadi, makanya aku bawa ke UKS." Terang Nanon.


"Gudang?" Beo Pawat tak paham, seketika memori ia di tarik paksa ke gudang oleh beberapa orang pemuda dan di gebukin rame-rame masuk ke otaknya,memorinya sangat jelas hingga membuat kepalanya berdentum menyakitkan.


"Ohm kamu gak papa?" tanya Nanon perhatian, pemuda itu pun sontak mendekati Pawat dan menyuruhnya untuk duduk saat melihat wajah kesakitan di sana.


Ingatan menyakitkan terus berputar di sana, tak hanya pemuda rupanya yang disana, ada satu gadis yang tertawa melihatnya babak belur. 'Jane?' batinnya sata melihat name tag si gadis. 


Matanya kembali membola sempurna. Matanya menatap Nanon horor, yang di tatap menatapnya khawatir. 


"Apa kita bawa aja dia ke rumah sakit Non? Takutnya dia gagar otak ringan," Kata sang guru yang kut khawatirmenatap Pawat.


"Gimana ya bu? Aku ada ujian di kelas nanti, gak bisa kalo harus bawa dia ke rumah sakit," Ucap Nanon bingung.


"Nanon Korapat?" Tanya Ohm Pawat meminta kepastian.


Nanon mengangguk mengiyakan.meski bingung "Iya aku Nanon korapat."


"Kalo lo Nanon korapat, gue siapa?" Tanyanya.


Nanon melirik gurunya yang juga ikut meliriknya seolah berkata, 'beneran gagar otak'


"Ohm... Pawat?" Kata Nanon ragu-ragu.


"Gue Ohm Pawat?" Nanon mengangguk mengiyakan. "Udah kuliah?"


Nanon menggeleng, "Kita masih SMA, kamu kelas 2 aku kelas 3 di SMA Cahaya Bhakti."


Mata Pawat kembali membola. "SMA Bhakti," lirihnya, ia pun dengan lemas tiduran di bangsal. "Gue masuk kedalam novel?" sambungnya masih tak percaya.


Nanon dan sang guru jaga saling lirik, mereka khawatir apa Pawat amenesia?.


Masih menolak percaya Pawat kembali duduk dan menamparpipinya degan keras, membuat Nanon serta guru jaga terkejut bukan main.


"Sakiiitttt," Rengeknya dengan wajah menahan tangis. Bukan sakitnya yang membuat Pawat ingin menangis, namun fakta bahwa ia masuk kedalam dunia novel lah ang membuatnya ingin menangis kencang di tambah lagi ia mendapatkan peran yang sangat menyebalkan.

 

"Non sakiitttt," Adunya dengan berkavca-kaca.


Nanon pun melirik sang guru yang seolah memberi kode untuk mendekati Pawat yang ingin menangis, ragu-ragu Nanon mendekati Pawat dan memeluknya lembut tanpa berkata apapun.


Siang itu dalam ruangan UKS Pawat menangis jengkel. Nanon dan sang guru jaga yang melihatnya menangis hanya bisa bersimpati dan berusaha menenangkan meski mereka tak tau apa yang membuat Pawat menangis hingga sesenggukan. Namun ang pasti pandangan Nanon terhadap Ohm Pawat mulai berubah, Ohm Pawattak seperti berita rumor yang beredar.

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...