![]() |
| Visualisasi Agra dan Kenzo |
Agra berjalan beriringan dengan Petra masuk ke dalam Cafe, ia pun ikut mengantri dengan sang teman yang tadi menjemputnya dari kampus. Kepalanya menoleh ke penjuru Cafe, melihat suasana Cafe yang ramai. Matanya pun tertuju pada satu pemuda yang sedang duduk termenung di sudut Cafe samping jendela.
Ditepuknya pundak pria di sampingnya minta atensi. "Gue nyamperin Kenzo dulu, makananya samain punya lo aja." Ujarnya sembari menunjuk kearah Kenzo.
Petra menatap kearah yang di tunjuk dan mengangguk kecil.
Agra pun berjalan menjauh dari antrian dan mendekat kearah Kenzo, duduk di depan pemuda itu setelah menaruh tas ranselnya ke kursi sampingnya.
Kenzo menatap Agra malas, namun ia tak ada keinginan untuk menjauh.
"Ngalamunin apa? Otlan?" Tebaknya tepat sasaran.
"Bukan urusan lo." Ujarnya cuek, ia masih menatap luar jendela dengan pikiran bercabang.
Agra menatap Kenzo penuh simpati, ia sebenarnya merasa kasian dengan Kenzo, karena hidup pemuda itu yang tak kalah susah dari Cana, mereka hanya dua orang yang menjadi target salah didik, jika saia orang tua mereka tidak pilih kasih, ia yakin hubungan saudara kembar ini tak akan seburuk ini.
"Kenapa sih bisa suka banget sama Otlan?" Tanya Agra sedikit penasaran.
"Bukan urusan lo." Lagi-lagi jawaban yang sama cueknya.
Agra menghela nafas berat. Kenzo jauh lebih susah untuk diajak bicara dibanding Cana, pemuda itu seolah tak ingin ada orang yang menyentuh hidupnya.
"Mau sampai kapa lo ngejar Otlan kek gini, Zo? Gak kasian sama diri sendiri?" Tanya Agra to the point.
Kenzo yang memang mudah marah jika ada orang mengganggu kehidupannya, tangannya pun menggebrak meja kesal, membuat semua pengunjung terkejut dan menoleh kearah mereka dengan penasaran tak terkecuali Petra. matanya menatap Agra dengan emosi menggebu.
"Kenapa? Lo mau nyuruh gue mundur biar temen lo bisa menang?" Tanyanya sinis.
Agra menatap Kenzo dengan pandangan datar. "Bahkan tanpa gue ngomong gini ke lo, lo pasti udah tau kan kalo Cana yang menang,"
Kenzo mengeratkan giginya kesal, kedua tangannya pun mengepal kuat. Sayangnya yang dikatakan oleh Agra ada benarnya. Kenapa harus Cana lagi? Kenapa hidup pemuda itu jauh lebih bagus dari hidupnya? Kenapa hanya dia yang menderita?.
"Jangan pernah merjuangin orang yang ga mau lo perjuangin, Zo. Karena semua bakal sia-sia. Semua 𝘦𝘧𝘧𝘰𝘳𝘵 yang lo kasih ke dia, gak akan perna dia liat."
Kenzo mendengus. "Sok tau." Ia masih tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Otlan, karena baginya hanya Otlan yang layak untuk berada di sampingnya, menemaninya, dan menyanding nama keluarganya.
Agra menghela nafas berat. Ia tau usahanya akan sia-sia, namun ia juga tak ingin melihat orang yang ia kenal jatuh semakin dalam ke jurang yang dibuat sendiri.
"Gue ngasih tau sebagai orang yang pernah temenan sama lo dan gak ingin lo kenapa-kenapa, Zo. Otlan bukan satu-satunya orang di dunia ini, lo berhak dapetin yang cintanya setara sama lo."
"Gue gak perduli, gue hanya mau Otlan, cuman dia yang layak buat gue, ga ada orang lain."
Ke keras kepalaan pemuda itu jauh lebih keras dari Cana dan ia sudah tau ini, namun ia tak menyangka kerasnya akan seperti ini.
Agra lagi-lagi menghela nafas berat. Yasudahlah, kalau memang Kenzo sendiri sudah memutuskan untuk mengejar Otlan, ia mau bicara sampai berbusa pun percuma. Karena dia hanya akan mendengarkan dirinya sendiri. Mungkin nanti akan ada masanya pemuda itu lelah dan memilih menyerah. Namun ia hanya berharap saat itu terjadi ada seseorang yang mau menemani Kenzo bangkit dari keterpurukannya.
"Good luck." Ujarnya berdiri dan kembali mencangklongkan ransel ke pundaknya.
Kenzo menatap Agra kesal. Ia berpikir bahwa Cana menyuruh Agra untuk berbicara dengannya agar ia melepaskannya Otlan, namun sayangnya ia tak akan pernah melepaskan Otlan. Tak akan!.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar