Sabtu, 22 Maret 2025

Prompt Metanoa


#SadaOhm #NanonOhm 


Sada dan Nanon itu musuh bebuyutan dari mereka kecil, gak tau kenapa mereka hobi rebutan, di tambah Nanon yang sekarang sedang gencar ngedeketin adik tingkat yang dimana itu pacar Sada, baku hantam sudah jadi makanan mereka sehari-hari.


Sedangkan dilain sisi, kedatangan Nanon di hidup Ohm yang terasa berat seakan menjadi penyegar tersendiri


Visualisasi Nanon & Ohm 




Visualisasi : Sada & Ohm




Selasa, 18 Maret 2025

Diajak ke rumah

 

"Kenapa?" Tanya Cana sedikit heran melihat Otlan yang menggerutu sendiri sembari memukuli kepalanya.

Otlan menggeleng keras dan tersenyum aneh. Cana melihatnya semakin merasa heran, namun ia tak ingin memberikan komentar apapun.

"Habis ini mau kemana?" Tanya Cana memilih untuk tak melanjutkan obrolan mereka tadi, ia sudah sedikit lelah menemani Otlan yang banyak tenaga untuk mengelilingi mall, tapi tiap ditanya mau beli apa pemuda itu hanya diam dan terus melihat sekitar, seolah dia pun tak berniat untuk membeli.

"Ke taman aja yuk." Ajaknya setelah terdiam cukup lama. Sebenarnya iapun tak tau harus kemana lagi. Yang ia tau hanya ia ingin pergi bersama Cana seharian.

"Panas Otlan, ke tempat yang lain aja."

Otlan mencebikkan bibirnya gemas. Selalu saja ditolak jika ia mengajak ke taman. Entah ada apa pria itu dengan taman hingga se anti ini dengan taman.

"Lo tuh kenapa sih kalo diajak ketaman selalu gak mau?"

Cana terdiam, tak ingin menjawab.

Otlan berdecih, ia pun berjalan lebih dulu karena kesal dengan Cana yang seringn saja menjadi bisu ketika ditanya sesuatu. Sebenarnya ia bisa bertanya dengan Agra, namun ia ingin tau dari Cana bukan orang lain.

Tanpa berkata apapun Cana berjalan di belakang Otlan, ia biarkan Otla merasa kesal dengannya tanpa ingin menjelaskan sesuatu hal yang bisa menimbulkan trauma untuknya. Nyatanya bayangan masa kecilnya masih terekam jelas ketika ia tanpa sengaja bersinggungan dengan hal yang membuatnya teringat hal "𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶".

Otlan menoleh kebelakang, melihat Cana yang masih mengikutinya berjalan, ia pun menghembuskan nafas kesal, ia harus terima kenyataan kalau Cana memang seperti ini.

"Yaudah ayo ke hotel. Gue pengen tidur siang." Ujarnya masih dengan wajah cemberut.

"Gue anterin pulang." Tutur pemuda itu yang membuat Otlan mendelik ganas.

"Gak mau!," Tolaknya mentah-mentah. "Lo baru janji sama gue kalo bakal nemenin seharian ya Na!!"

"Ke rumah gue kalo gitu," Putusnya mencari jalan tengah.

"Gak mau nanti ketemu Kenzo."

"Rumah gue, bukan rumah ortu." Jelasnya singkat.

"OOohh," Ia berpikir sejenak. "Ayok ke rumah lo kalo gitu." Sambungnya, ia sedikit penasaran dengan rumah Cana, ia ingin tau kemana pemuda itu saat tak bisa dihubungi.

Meski Cana malas membawa orang untuk bermain ke rumahnya, bahkan Agra teman masa kecilnya saja selalu ia tolak jika ingin ikut kerumahnya, namun ia juga sudah lelah jika harus berkeliling dengan Otlan, tenaganya terasa diserap.

Dan rumahnya terasa jauh lebih baik ketimbang hotel, karena jika mereka di hotel adegan selanjutnya pasti tak jauh dari hal yang menyenangkan. Ia tak ingin membuat pemuda itu semakin terperosok lebih jauh, meski awalnya dia lah yang membuat pemuda polos itu menjadi seperti ini.

Ngambek

 


"Mau makan apa?" Tanya Cana begitu mereka telah sampai ke tempat makan langganan Cana dan memilih tempat duduk untuk mereka singgahi.

"Samain aja," Kata Otlan sembari duduk nyaman di kursi kayu panjang. Ia tak mengambil pusing soal makananan, karena makanan yang dipesan Cana biasanya enak dan sesuai dengan seleranya. "Pinjem hp lo dong Na, data gue abis." Sambungnya dengan cengiran lebar.

Cana pun memberikan hpnya ke Otlan dan segera berjalan menjauh dari sisi Otlan dan masuk kedalam cafe yang bernuansa alam (karena tadi mereka berada di luar Cafe) untuk memesan makanan mereka.

Otlan segera membuka hp Cana untuk menghidupkan 𝘏𝘰𝘵𝘴𝘱𝘰𝘵 di Hp itu dan meletakkannya begitu saja di depannya setelah tersambung.

Cana menatap papan menu diatas untuk memilih menu yang mungkin disukai oleh Otlan, di depannya sudah ada beberapa orang yang juga mengantri.

Sedangkan Otlan sibuk melihat video-video lucu dihpnya. Tanpa sengaja ia melirik kearah Hp Cana yang menyala karena ada notifikasi pesan, tangannya dengan cekatan mengambil kembali hp Cana dan melihat notifikasi sms dari sang ayah (memastikan ia tadi tak salah membaca).

'𝘊𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪? 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢?' Tanyanya dalam hati, perasannya menjadi tak menentu sejak membaca notif itu. Wajahnya seketika berubah keruh.

Cana yang telah selesai memesan pun berjalan keluar dari Cafe dengan membawa papan nomor berisi antrian makanan mereka. Dengan santai pemuda itu pun duduk di depan Otlan.

Otlan menatap Cana dan memberikan Hp pemuda itu tanpa ada senyuman sama sekali.

Cana yang memang acuh tak acuh terhadap sekitar tak menyadari perubahan mood Otlan yang terjun bebas, ia dengan santai memainkan hpnya.

"Lo mau pergi?" Tanya Otlan lirih, melihat Cana yang tak perduli membuatnya bertanya juga.

Cana mendongak menatap Otlan. Kepalanya pun mengangguk santai.

Melihat anggukan pemuda itu semakin membuat hatinya merasa tak nyaman. "Kemana?"

"Otoa,"

"Ngapain?"

"Ngurus cabang bokap yang mau bangkrut."

"Berapa lama?." Hatinya semakin berdentum tak nyaman. Ia takut akan sesuatu yang belom pasti.

"Kurang lebih sebulan,"

"Lama banget." Keluhnya, namun tak ayal hatinya sedikit merasa lega, ia pikir Cana akan pindah ke sana untuk mengurus bisnis keluarganya.

Cana tak menjawab keluhan Otlan, karena ia pun tak tau harus menjawab apa. Karena baginya sebulan itu sebentar.

"Kapan berangkatnya?." Otlan merasa jadi pewawancara jika bicara dengan Cana, namun pemuda itu tak akan mau membuka mulut jika tak ditanya. Sedikit sebal namun mau bagaimana lagi.

"Senin besok siang"

"Tiga hari lagi dong Na?" Keluh Otlan dengan kening mengkerut dan bibir maju beberapa senti. Pertanda ia tak suka. Namun terlihat menggemaskan untuk orang lain yang melihat.

"Iya..." Ujarnya bingung dengan reaksi Otlan sangat berbeda dengan Agra dan kenalannya yang lain.

Otlan mencebikkan bibirnya gemas. Ia terdiam beberapa saat karena merasa kesal.

Cana yang tak tau apa salahnya hanya diam dan sesekali melirik Otlan yang masih 𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘦𝘬.

"Kenapa?" Tanya Cana yang tak kunjung paham dengan ke 𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘦𝘬𝘢𝘯 Otlan, pemuda itu menatap Otlan dengan wajah 𝘪𝘯𝘯𝘰𝘤𝘦𝘯𝘵.

Otlan tak lantas menjawab, pemuda itu menghela nafas berat. "Lo ngajak gue kesini karena mau pergi?" Tanya Otlan 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵, Berharap jawabannya iya. Namun gelengan kepala pemuda itu membuat Otlan semakin kesal.

"Gue emang dari kemaren pengen 𝘮𝘦 𝘵𝘪𝘮𝘦 ke sini,"

"Terus ngapain lo ngajakin gue kalo gitu?" Wajahnya sudah seperti orang yang siap ingin melahap pemuda itu bulat-bulat.

"Karena lo lagi bete tadi." Jawaban yang terlampau jujur.

Otlan mendengus kesal. "Jadi lo gak ada niatan ngajak gue ke sini buat ngasih tau lo bakal pergi sebulan gitu?" Cana mengangguk bingung. "Yang artinya lo bakal ninggalin gue sebulan tanpa ngomong apapun gitu?" Lagi-lagi Cana mengangguk.

Ingin rasanya Otlan mengamuk kesal.

"Lo gak inget sama apa yang gue omongin kemaren Na? Kasih tau gue, susah banget ya buat lo?"

Cana terdiam, ia kini tau apa salahnya. Dia bahkan lupa jika Otlan memintanya untuk mengabari jika ingin pergi.

Keduanya terdiam. Cana yang tak ingin membela diri meski ia tak yakin dirinya 100% salah karena tak pernah menjanjikan akan mengabari pemuda itu. Dan Otlan yang kesal karena merasa dirinya tak dianggap penting oleh Cana.

Cana menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia melirik Otlan yang sibuk bermain ponsel dan mengabaikannya. Ingin rasanya dia meminta tolong pada Agra apa yang harus dia lakukan sekarang agar Otlan tak lagi ngambek, namun pemuda itu sedang sibuk menggarap tugasnya, ia tak sampai hati harus mengganggu untuk sesuatu yang tak begitu penting.

"Gue minta maaf." Ujarnya setelah berpikir cukup lama. "Gue gak terbiasa ngasih tau siapapun, Otlan, ini hal yang baru buat gue, tapi gue bakal selalu ngabarin lo kalo udah sampe sana," Sambungnya dengan wajah serius.

Otlan hanya meliriknya tanpa arti.

Cana menggaruk rambut belakangnya yang tak gatal. Kepalanya menoleh kesamping, dan disana ia melihat seseorang yang sedang membujuk sang lawan duduknya dengan meraih tangan gadis itu dan terus meminta maaf. Ia tak tau itu bakal berhasil dengan Otlan atau tidak, namun satu hal yang ia tau, ia harus melakukanya jika tak ingin di diamkan terus.

Dengan canggung Cana mengulurkan tangannya dan meraih tangan Otlan yang berada diatas meja dengan hp di genggaman pemuda itu. Dengan canggung ia mencoba menggenggam tangan Otlan dan menatap wajah pemuda itu yang terkejut akan sikapnya. "Maaf," Hanya itu yang ia ucapkan, namun ia bersungguh-sungguh dalam berucap.

Otla terdiam kaku. Tak pernah ia bayangkan jika Cana akan melakukan 𝘴𝘬𝘪𝘯𝘴𝘩𝘪𝘱 dengannya selain hal yang berhubungan dengan ranjang.

Kepalanya mengangguk beberapa kali dengan senyuman indah terukir di sana. Katakanlah ia bodoh, hanya begini saja ia sudah luluh.

Cana pun tersenyum lebar dan semakin mengeratkan genggaman tangan mereka yang dibalas genggaman oleh Otlan, tak ingin genggaman mereka terlepas begitu saja.

"Tapi gue punya 1 syarat." Ujar Otlan dengan wajah serius.

"Apa?"

"Sebelum lo pergi, lo harus sama gue terus, pokoknya seharian harus sama gue."

Cana tersenyum lembut. "Iya," Dan hal itu semakin membuat Otlan tersenyum bahagia.

Senin, 10 Maret 2025

Jangan mengejar seseorang yang tak ingin di kejar

 

Visualisasi Agra dan Kenzo

Agra berjalan beriringan dengan Petra masuk ke dalam Cafe, ia pun ikut mengantri dengan sang teman yang tadi menjemputnya dari kampus. Kepalanya menoleh ke penjuru Cafe, melihat suasana Cafe yang ramai. Matanya pun tertuju pada satu pemuda yang sedang duduk termenung di sudut Cafe samping jendela.

Ditepuknya pundak pria di sampingnya minta atensi. "Gue nyamperin Kenzo dulu, makananya samain punya lo aja." Ujarnya sembari menunjuk kearah Kenzo.

Petra menatap kearah yang di tunjuk dan mengangguk kecil.

Agra pun berjalan menjauh dari antrian dan mendekat kearah Kenzo, duduk di depan pemuda itu setelah menaruh tas ranselnya ke kursi sampingnya.

Kenzo menatap Agra malas, namun ia tak ada keinginan untuk menjauh.

"Ngalamunin apa? Otlan?" Tebaknya tepat sasaran.

"Bukan urusan lo." Ujarnya cuek, ia masih menatap luar jendela dengan pikiran bercabang.

Agra menatap Kenzo penuh simpati, ia sebenarnya merasa kasian dengan Kenzo, karena hidup pemuda itu yang tak kalah susah dari Cana, mereka hanya dua orang yang menjadi target salah didik, jika saia orang tua mereka tidak pilih kasih, ia yakin hubungan saudara kembar ini tak akan seburuk ini.

"Kenapa sih bisa suka banget sama Otlan?" Tanya Agra sedikit penasaran.

"Bukan urusan lo." Lagi-lagi jawaban yang sama cueknya.

Agra menghela nafas berat. Kenzo jauh lebih susah untuk diajak bicara dibanding Cana, pemuda itu seolah tak ingin ada orang yang menyentuh hidupnya.

"Mau sampai kapa lo ngejar Otlan kek gini, Zo? Gak kasian sama diri sendiri?" Tanya Agra to the point.

Kenzo yang memang mudah marah jika ada orang mengganggu kehidupannya, tangannya pun menggebrak meja kesal, membuat semua pengunjung terkejut dan menoleh kearah mereka dengan penasaran tak terkecuali Petra. matanya menatap Agra dengan emosi menggebu.

"Kenapa? Lo mau nyuruh gue mundur biar temen lo bisa menang?" Tanyanya sinis.

Agra menatap Kenzo dengan pandangan datar. "Bahkan tanpa gue ngomong gini ke lo, lo pasti udah tau kan kalo Cana yang menang,"

Kenzo mengeratkan giginya kesal, kedua tangannya pun mengepal kuat. Sayangnya yang dikatakan oleh Agra ada benarnya. Kenapa harus Cana lagi? Kenapa hidup pemuda itu jauh lebih bagus dari hidupnya? Kenapa hanya dia yang menderita?.

"Jangan pernah merjuangin orang yang ga mau lo perjuangin, Zo. Karena semua bakal sia-sia. Semua 𝘦𝘧𝘧𝘰𝘳𝘵 yang lo kasih ke dia, gak akan perna dia liat."

Kenzo mendengus. "Sok tau." Ia masih tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Otlan, karena baginya hanya Otlan yang layak untuk berada di sampingnya, menemaninya, dan menyanding nama keluarganya.

Agra menghela nafas berat. Ia tau usahanya akan sia-sia, namun ia juga tak ingin melihat orang yang ia kenal jatuh semakin dalam ke jurang yang dibuat sendiri.

"Gue ngasih tau sebagai orang yang pernah temenan sama lo dan gak ingin lo kenapa-kenapa, Zo. Otlan bukan satu-satunya orang di dunia ini, lo berhak dapetin yang cintanya setara sama lo."

"Gue gak perduli, gue hanya mau Otlan, cuman dia yang layak buat gue, ga ada orang lain."

Ke keras kepalaan pemuda itu jauh lebih keras dari Cana dan ia sudah tau ini, namun ia tak menyangka kerasnya akan seperti ini.

Agra lagi-lagi menghela nafas berat. Yasudahlah, kalau memang Kenzo sendiri sudah memutuskan untuk mengejar Otlan, ia mau bicara sampai berbusa pun percuma. Karena dia hanya akan mendengarkan dirinya sendiri. Mungkin nanti akan ada masanya pemuda itu lelah dan memilih menyerah. Namun ia hanya berharap saat itu terjadi ada seseorang yang mau menemani Kenzo bangkit dari keterpurukannya.

"Good luck." Ujarnya berdiri dan kembali mencangklongkan ransel ke pundaknya.

Kenzo menatap Agra kesal. Ia berpikir bahwa Cana menyuruh Agra untuk berbicara dengannya agar ia melepaskannya Otlan, namun sayangnya ia tak akan pernah melepaskan Otlan. Tak akan!.

Rabu, 05 Maret 2025

Otlan bagi Kenzo (orphic)

 


Kenzo menghela nafas panjang. Melihat postingan Otlan tentang Cana membuat hatinya berdenyut menyakitkan. Ia selalu berpikir apa yang kurang darinya hingga Otlan selalu lebih memilih berpihak pada Cana? Apa yang menarik dari Cana? Dan apa perbedaan diantara mereka yang bisa menarik pemuda itu hingga terus menatap kearah Cana dan malah selalu menghindarinya.

Otlan itu cinta pertamanya, Satu-satunya orang yang menolongnya tanpa pamrih.

Awalnya ia berpikir Otlan menolongnya waktu itu karena ada maunya seperti orang kebanyakan, namun setelah mereka kembali bertemu pemuda itu seolah tak menganggapnya ada, dan hal itu membuatnya merasa aneh, karena tak biasanya orang mendekatinya tanpa ada maksud terselubung.

Namun semakin lama ia pantau Otlan, semakin tau bahwa pemuda itu memang tak ada maksud lain, dia hidup dengan dunianya sendiri tanpa perduli sekitar.

Itu pertama kalinya ada seseorang yang berhasil menarik perhatiannya. Dan karena itu ia jadi terbiasa mengikuti Otlan kemanapun, melihat aktivitas pemuda itu dan keceriaannya entah kenapa bisa membuatnya sangat bahagia, kebahagiaan yang berbeda dari yang ia rasakan untuk keluarganya.

Awalnya ia berpikir ia sudah merasa cukup hanya dengan melihat pemuda itu dari jauh, mengaguminya dan menyayanginya, namun kehadiran Cana ditengah mereka membuat semuanya rusak. Otlannya telah direbut begitu saja.

Lagi-lagi ini karena penyakitnya, jika ia tak punya penyakit ini, Cana tak akan disuruh keluarganya untuk menggantikan dirinya, dan kalau bukan karena penyakitnya ia pasti sudah berada di bangku kuliahan seperti teman sebayanya. Semua ini karena penyakit sialan ini.

Satu-satunya hal yang ia syukuri dari penyakitnya karena bertemu Otlan dan bisa melihat pemuda itu.

Otlan itu bagaikan taman bunga di gurun sahara, ia memberikan ke indahan untuk hidupnya yang tak ada arti.

"Hei, boleh duduk bareng?" Sapa gadis manis bertubuh mungil menyapa dengan ceria, di tangan gadis itu ada secup es entah varian apa.

"Enggak." Ujarnya cuek. Ia sudah menduga untuk apa gadis itu menyapanya.

Gadis itu tak perduli dan segera duduk di depan Kenzo, membuat Kenzo menatapnya kesal.

"Jangan cuek-cuek gitu ah kak, nanti gantengnya luntur." Godanya dengan senyuman manis.

Kenzo menatapnya risih. "Ada apa?" Tanyanya berterus terang. Karena tidak mungkin orang akan mendekatinya tanpa maksud tersembunyi.

"Mau kenalan aja sih, nama aku Bila." Ujarnya mengulurkan tangan memperkenalkannya diri.

Kenzo hanya menatap tanpa minat uluran tangan gadis itu. Belakangan ini orang-orang yang satu sekolah dengannya seolah ingin berdekatan dengannya, namun ia tau pasti tak ada yang tulus dari mereka.

"Gak usah basa-basi, mau ngomong apa?"

Bila Memberengut kan bibirnya gemas. Persis kata orang-orang, Kenzo itu dingin, dia hanya akan mencair jika di depan Otlan. Namun tak apa-apa, ia suka seseorang yang penuh tantangan seperti Kenzo. Karena jika ia berhasil menaklukannya akan banyak hal "baik" yang akan datang padanya.

"Mau ngajak kenalan aja kak, gak boleh emang? Kan sama-sama single ini." Ia masih berusaha merayu Kenzo dengan senyuman manisnya.

Kenzo tak menanggapi omong kosong gadis itu, ia pun tanpa berkata apapun meninggalkan mejanya begitu saja, melangkah keluar dari kantin.

Menjadi anak yang tersohor di negerinya adalah suatu hal yang melelahkan, ada saja orang yang mendekatinya karena ada "niat" Terselubung, hingga membuatnya tak bisa berpikir positif tentang mereka yang mendekatinya, karena memang mereka semua tak ada yang tulus, kecuali Otlan.

Lagi-lagi ia iri dengan hidup Cana, pemuda itu bisa bebas bergerak kemana saja karena memang ia tak pernah di publikasikan sejak kecil, dan akhirnya ia hanya menanggung semuanya sendiri, ditambah pemuda itu yang selalu membawa masker jika keluar rumah. Lengkap sudah hidup pemuda itu. Kehidupan yang sangat ia inginkan. Sial. Kenapa hal baik selalu berpihak pada sang kembaran.

Tidak! Setidaknya Otlan tidak boleh jatuh ke tangan kembarannya, ia yang lebih dulu menemukan Otlan, jadi Otlan adalah miliknya, ia tidak bisa menjadi milik Cana. Tidak sekarang dan untuk selamanya.

Mungkin usahanya selama ini belum cukup menyakinkan pemuda itu, sekarang ia harus lebih keras mengejar Otlan, karena pemuda itu adalah satu-satunya kebahagiaannya. Dan kebahagiaannya tak boleh direbut 𝙡𝙖𝙜𝙞. Cukup dulu pemuda itu merebut temannya, kali ini ia tidak akan membiarkan Otlan direbut oleh orang yang sama.

Selasa, 04 Maret 2025

Wisuda (orphic)

 

Visualisasi 

Cana menghentikan mobilnya di pekarangan halaman rumah Otlan, bibirnya melengkungkan senyum melihat Otlan yang sedang berjalan kearah mobilnya dan duduk nyaman di Sampingnya.

"Pagiii," Sapanya ceria, moodnya terlihat bahagia hari ini.

'𝘎𝘢𝘯𝘵𝘦𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪 𝘊𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘬𝘦 𝘶𝘱 𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘨𝘪𝘵𝘶,' Pujinya dalam hati melihat wajah orang yang disukai bermake-up tipis untuk menghadiri acara spesialnya.

"Pagi," Jawab Cana sembari membelokan mobilnya agar bisa keluar dari ruma Otlan dengan mudah. "Gak papa kan nanti ikut nunggu di 𝘩𝘢𝘭𝘭?"

"Gak papa kok, gue malah seneng." Ujarnya dengan senyuman manis. "Bunda sama ayah ikut masuk?"

"Enggak, mereka nunggu diluar," Ujarnya fokus menatap jalanan.

Otlan menatapnya terkejut. "Kenapa diluar? Kenapa gak ikut masuk juga?"

"Ada batasan orang yang dibawa masuk,"

Otlan terdiam namun senyumnya semakin tersungging manis. Ia merasa sangat spesial, alih-alih menyuruh orang tuanya untuk menemaninya masuk, pemuda ini malah memilihnya. Ahh betapa bahagianya dia.

Perjalanan pagi itu terasa ramai seperti hari biasanya, namun Cana yang sudah terbiasa dengan jalanan membuat pemuda itu gampang terbebas dari kemacetan dan sampai di kampusnya dengan cepat.

Keduanya pun berjalan bersisian masuk kedalam kampus sembari berbincang kecil, senyuman tipis pun tak jarang mampir di bibir indah Cana mendengar celotehan Otlan yang tak jelas ujungnya.

Selama mereka berjalan, selalu menjadi pusat perhatian. Siapa di kampus itu yang tak kenal Cana? Pemuda tampan yang irit bicara disertai kecerdasan itu tentu menjadi topik menarik untuk diperbincangkan oleh mereka yang satu fakultas ataupun tidak.

Mereka bertanya-tanya siapa orang yang berada di samping Cana? Kekasihnya atau saudaranya? Namun jika saudara wajah mereka tak ada kesamaan sama sekali hingga mereka pun berasumsi bahwa pemuda tampan di samping Cana adalah pacar pemuda itu. Kehebohan pun tak bisa dihindari.

Otlan duduk dengan nyaman di kursinya yang bersebelahan dengan Cana di bangku paling belakang, (seharusnya Cana berada di depan, namun pemuda itu memilih duduk paling belakang bersama Otlan) tak sedikit pun pemuda itu merasa bosan karena ia sibuk mengoceh sembari memperlihatkan hal-hal lucu dari hpnya dengan Cana yang di jawab didengarkan dengan seksama dan sesekali tertawa jika benar konten yang ditampilkan memang lucu bagi humornya yang tinggi itu.

Keduanya sibuk sendiri mengabaikan sekitarnya yang sedang sibuk dan ramai sendiri akan acara hari ini.

Hingga pemberitahuan diatas podium beralih ke jurusan yang Cana ambil, nama pemuda itu pun terpanggil sebagai mahasiswa terbaik tahun itu dan memintanya untuk memberikan beberapa patah kata pada semua orang yang datang.

Otlan bertepuk tangan penuh akan rasa bangga, ia pun merekam moment Cana yang naik keatas podium untuk menerima gelar barunya hingga memberikan beberapa patah kata di tempat yang telah di sediakan.

Tak banyak yang dikatakan pemuda itu, khas dirinya yang malas untuk bicara panjang, dia hanya berterimakasih pada semua dosen dan memberitahu motivasi bagi anak-anak lain untuk tak menyerah meski ada yang mendapatkan nilai tak sesuai harapannya. Pemuda itu tak ada menyinggung tentang keluarganya sama sekali, tak ada dikata terimakasih yang dia layangkan seolah orang tuanya tak berarti.

Otlan tersenyum manis menyambut kedatangan Cana yang telah sampai kembali disampingnya dan duduk nyaman di kursinya. Satu yang ia tangkap dari kemaren hingga sekarang. Cana tak dekat dengan keluarganya.

Acara pun terus berlanjut tanpa ada hambatan.

--------

Setelah berjam-jam berada di ruangan yang penuh akan manusia kini Otlan bisa merasakan udara segar yang terasa menyenangkan. Ia pun mengikuti langkah Cana yang berjalan mendekati keluarganya beserta Agra yang sedang berbincang kecil.

"Kak Canaaa," Seru gadis kecil menjauh dari orang tuanya dan berlari mendekati Cana dengan tangan merentang, meminta untuk dj peluk.

Cana pun berjongkok menyamakan tinggi mereka dan memeluk ponakan kesayangannya. Keduanya berpelukan dengan bahagia.

Namun yang tidak diketahui Cana gadis itu memasang wajah permusuhan untuk Otlan dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Cana sembari me-meletkan lidahnya. Seolah mengejek.

Otlan pun ikut me-meletkan lidahnya sembari menunjukan map Ijazah yang Cana berada di tangannya. Keduanya pun saling melempar tatapan permusuhan tak ingin kalah.

Agra menoleh kearah Otlan dan Cana, wajah jail pun pemuda itu layangkan. "Ciee ciee Asik betul wisuda ditemenin ayang." Ujarnya menggoda.

Ayah bundanya hanya tersenyum melihat kedatangan mereka, namun senyumnya berbeda dari biasanya.

"Jadian juga enggak, main diajak ke hal penting aja, Kan." Sambungnya begitu Cana dan Otkan berada di samping mereka.

"Bacot." Ujar Cana yang semakin membuat Agra semangat untuk bertingkah jail.

Otlan hanya diam saja, namun senyum diwajahnya tentu menandakan bahwa pemuda itu bahagia.

"Gimana rasanya nemenin Cana di dalem? Merasa spesial gak, Lan?." Goda wanita itu.

Otlan tersenyum salah tingkah. "Ah bunda mah." Yah dia memang sudah sedekat itu dengan orang tua sambung Cana.

"Bukan lagi itu bun, liat aja wajahnya, kayak ngejek kita yang gak diajak ke dalam." Kompor sang suami yang segera dibantah Otlan.

"Dih fitnah dih,"

"Udahlah yah bun jangan di godain terus." Bela Cana.

Sang bunda dan sang ayah kompak menjawab. "Dibelain banget kayak pacaran aja."

"Enggak yaa! Kak Cana gak boleh pacaran!" Protes Alea tegas.

"Dih," Refleks  Otlan menjawab perkataan Alea sinis, dan karena hal itu godaan lainnya pun bergantian menggoda kedua pemuda itu, tidak lebih tepatnya menggoda Otlan yang gampang sekali terpancing.

Siang itu pun berlalu dengan cerah ceria, tawa di wajah mereka tak kunjung padam termasuk Cana. Dia merasa hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya, dan dia berterimakasih pada Otlan karena selalu bisa membuat suasana terasa jauh lebih hidup, dan ia berjanji untuk selalu membahagiakan pemuda itu apapun yang terjadi. 

Senin, 03 Maret 2025

Gak bisa (orphic)

 

Setelah mengantarkan Otlan kerumahnya Cana pun segera kembali ke rumah orang tuanya, ia lupa memberitahukan mereka bahwa besok adalah hari wisudanya.

Ia tak berharap banyak jika kedua orang tuanya bisa datang, setidaknya berharap ada salah satu diantara mereka yang akan datang di hari pentingnya.

Cana pun memasukan mobilnya ke garasi, ia Pandangi garasi sebelum masuk kedalam rumah. Ia datang disaat yang tepat, orang tuanya sedang berada di rumah sekarang.

Di langkahkan kakinya masuk kedalam rumah dengan pelan, tujuan utamanya adalah tempat kerja sang ayah. Namun suara tawa dari ruang keluarga membuatnya berubah pikiran. Ia pun segera melangkahkan kakinya keasal suara, dan di sana ada kedua orang tuanya serta Kenzo sedang menonton TV.




Tanpa berkata apapun Cana segera duduk di single sofa, membuat orang yang berada di sana menoleh kearahnya sebentar sebelum kembali menonton TV.

"Tumben udah pulang kak." Sapa sang papi menyapa dengan senyuman teduh.

Kenzo mendengus kesal, moodnya berubah jelek seketika karena kedatangan sang saudara kembar yang selalu merebut apa yang dia inginkan. Termasuk kebebasan.

Jika orang bilang dia tukang iri, memang benar ia selalu iri sama Cana. Hidupnya terlalu bebas sedangkan dia bagaikan burung dalam sangkar. Ia pun ingin merasakan nakal, dan jarang pulang seperti kana, tapi ia tau maminya tak akan mengizinkan, bahkan bisa menjadi sangat rewel jika keinginannya tak dia turuti.

Sedangkan Cana? Bahkan ia tak pulang seminggu pun maminya tak akan marah.

"Besok aku wisuda, papi sama mami bisa dateng?" Ucapnya datar.

Rasa kesal dalam diri Kenzo semakin membesar, ia berpikir Cana sengaja berbicara di depannya tentang ini karena ingin memberitahunya bahwa dia jauh lebih baik dari Kenzo.

Kecerdasan dan kesehatan yang ia idamkan kenapa ada di diri Cana? Sedangkan ia? Hanya sisa buangan hingga Membuatnya masih berada di sekolah senior diusianya yang seharusnya sudah kejenjang kuliah.

Kedua orang tuanya nampak sangat terkejut.

"Kenapa baru bilang sekarang? Mami besok ada meeting sama client!" Seru sang mami kesal.

"Iya kak kenapa baru sekarang? Papi besok harus ke NY untuk meeting."

"Lupa," Ujarnya cuek. Sangat berbeda dengan kedua orang tuanya. "Kalo gak bisa dateng yaudah," Sambungnya tak mempermasalahkan, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Kedua orang tuanya sibuk hingga selalu menomor sekian kan dirinya, tapi berbeda dengan Kenzo, jika untuk sang adik kembar, mau sesibuk apapun mereka, mereka tak akan membiarkan Kenzo sendirian.

Kenzo tersenyum samar mendengar jawaban kedua orang tuanya. Katakanlah ia jahat karena bahagia diatas penderitaan orang lain, tapi ia tak perduli, selama Cana tak bisa mendapatkan apa yang dia mau seperti dirinya itu terasa impaskan?.

"Gak bisa di undur jadi lusa kak?" Nego sang papi.

Cana yang sudah berdiri ingin berjalan menjauh pun mengurungkan niatnya. "Kampusnya bukan punya aku." Singkat padat dan menyebalkan. Cana pun berlalu begitu saja dari sana.

"Kamu gak bisa batalin meeting kamu? Anak kamu wisuda besok." Ujar sang kepala keluarga pada sang istri.

"Kamu aja yang batalin ke NY, bisa gak? Jangan nyuruh aku kalo kamu sendiri gak bisa."

Keduanya terdiam beberapa saat, hingga sang kepala keluarga menatap anak sulungnya yang sedang memakan cemilannya dengan santai sembari menonton TV.

"Adek bisa gak datang ke wisuda kakak besok?" Ia sepertinya masih ingin mencari solusi dari permasalahan yang ada.

Kenzo menggeleng keras. "Gak bisa, mending aku ke sekolah bisa liat Otlan daripada dateng ke acara Cana." Tolaknya mentah-mentah.

"Sebentar aja dek, habis itu kamu bisa dateng ke sekolah kok."

Sang istri menatap suaminya tak percaya. "Kamu gila ya? Kenzo itu lemah malah kamu suruh bolak-balik gitu, kalo penyakitnya kumat gimana? Gak kasian kamu sama Ken?"

Sang kepala keluarga hanya terdiam mendengar perkataan sang istri, karena yang dikatakan wanita cantik itu ada benarnya.

Kenzo yang dibela pun segera memeluk sayang sang mami. Memang hanya maminya yang akan selalu mengerti dirinya.

"Lagian Cana udah bilang gak papa yaudah, cuman wisuda ini gak usah dibikin ribet lah kak." Sambungnya masih sedikit kesal.

Suasana disana pun kembali tenang, namun yang tak mereka sadari sikap mereka seperti inilah yang membuat anak sulung mereka semakin menjauh dari uluran tangan mereka, bahkan bisa dikatakan pemuda itu sudah tak perduli lagi dengan keluarga kandungnya.

Minggu, 02 Maret 2025

Ketemu (orphic)

 

Otlan yang menunggu kedatangan Cana di depan pager rumahnya pun tersenyum cerah kala ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya dengan jendela yang turun menampik sosok yang ia tunggu sejak tadi. Ia pun segera masuk kedalam mobil dan duduk di samping kemudi, tak lupa memakai seatbelt.

"Kenapa nunggu diluar?" Tanya Cana sedikit heran. Tak biasanya pemuda itu menunggu di depan pager.

"Gak papa lagi pengen aja." Jawabnya sekenanya. Sebenernya ia tak ingin sang abang marah kayak waktu itu jika melihat ia pergi dengan Cana bukan menemaninya nge gym.

Cana yang memang tak begitu hobi bicara hanya diam mendengar jawaban Otlan.

"Udah makan Na?" Tanyanya perhatian, sejak meraka semakin dekat ia jadi tau jika Cana gampang lupa untuk makan jika tidak ada yang mengingatkan.

"Belum," Jawabnya dengan fokus melihat jalanan yang sedikit ramai.

"Kebiasaan." Ujar Otlan malas. Sebal ia dengan pola makan pemuda itu. "Mau makan dulu gak?"

"Nani aja sekalian sama yang lain."

"Gak laper?" Tanyanya yang di jawab gelengan pelan. "Yaudah." Ia pun pasrah dengan keputusan pemuda itu.

"Mereka datang ke sini ada acara apa?" Tanyanya yang tak ingin kediaman melanda mereka.

"Dateng ke wisuda gue besok senin."

Otlan menganggukkan kepalanya mengerti. "Nanti gue dateng ke sana ya, mulai jam berapa?"

Cana melirik Otlan heran. "Lo gak sekolah?" Tanyanya yang dijawab gelengan dengan cengiran khas pemuda itu.

"Bolos sesekali gak papa kali Na, gak ada ulangan ini."

"Gue jemput kalo gitu,"

Otlan menatapnya dengan pandangan terkejut. "Serius?" Ia tak yakin dengan ucapan Cana.

"Daripada lo ke sasar, mending bareng gue." Ujarnya tanpa beban. "Tapi nanti lo ikut masuk ke hall kalo bareng gue."

"Loh terus ortu lo gimana? Gabung sama mereka?"

"Belom tentu mereka bisa dateng. Tapi kalo lo gak mau nanti nunggu diluar aja."

"Mau! Mau banget nemenin," Ujarnya buru-buru, takut Cana berubah pikiran yang bisa membuatnya menyesal tanpa ujung.

"Oke,"

Dan percakapan pun terus berlanjut dengan berbagai topik (tentu Otlan yang membawanya) hingga kini mereka telah sampai bandara, menunggu keluarga Cana yang katanya lagi mengantri untuk mengambil koper.

Otlan yang berdiri di samping Cana sedikit gelisah, nanti ia harus menyapa bagaimana untuk menyambut keluarga Cana, dan ia harus memperkenalkan diri seperti apa?. Sedang asyik dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari keluarga Cana yang sudah datang mendekati mereka.

"Kak Canaaaa!" Teriakan cempreng penuh kebahagiaan terdengar membuyarkan lamunan Otlan. Pemuda itu pun menatap keasal suara dan berganti melihat Cana yang sedang melambaikan tangan. Binar kebahagiaan nampak di mata yang biasanya kosong.

Cana menyambut kedua orang tua di depannya dengan pelukan hangat serta anak kecil di samping sang bunda yang sudah merentangkan tangan minta di peluk. "Kamu apa kabar Zel?" Tanya Cana mengelus wajah Keponakannya sayang.

Otlan tersenyum tipis dan menyalimi kedua orang tua itu, ia masih bingung harus bereaksi seperti apa. Matanya pun sesekali melihat interaksi Cana dengan gadis kecil itu yang nampak berbeda dari Cana biasanya.

"Pacarnya kak Cana ya?" Sapa satu-satunya wanita diantara mereka.

Otlan yang mendengarnya hanya menggeleng malu-malu, kedua tangannya saling meremat. jujur ia bahagia mendengar perkataan itu.

"Temen bun." Jawab Cana setelah melepaskan gadis kecil itu dari pelukannya.

Tentu jawaban Cana membuat Otlan sebal, namun memang kenyataannya seperti itu. Tapi pertanyaannya, temen mana yang intens mengewe?.

"Iya temen." Ujar Otlan dengan hati yang retak.

Kedua orang dewasa di sana saling pandang. Mereka seolah mengetahui sesuatu.

Cana tanpa berkata apapun mengambil koper milik sang keponakan, membawakannya, berjalan keluar dari bandara sembari menggandeng gadis kecil kesayangannya meninggalkan Otlan di belakang bersama kedua orang tua gadis itu.

"Tumben banget ya kakak mau ajak temennya ketemu kita." Ujar sang lelaki matang disamping wanita cantik yang di panggil bun.

Cana menoleh kebelakang dengan terus berjalan. "Biasanya juga aku ajak Agra."

"Beda kak, kalo Agra memang teman kamu dari kecil, selain dia kan gak ada lagi yang kamu ajak Ketemu kita." Bantah sang wanita itu memaparkan rasa penasarannya.

Cana tak menjawab perkataan itu, ia pun tak tau kenapa mengajak Otlan tadi, mungkin karena mereka terbiasa kemana-mana berdua belakangan ini membuatnya berinisiatif untuk mengajaknya.

Gadis kecil di samping Cana beberapa kali melirik Otlan dengan pandangan tak suka, ia seolah bisa merasakan adanya saingan dalam merebut perhatian sang sepupu.

Sedangkan Otlan sibuk sendiri mendengar perkataan dua orang itu. Apa itu artinya dia special?. Dan Senyumnya pun merekah sempurna.

Kedua orang dewasa disana saling pandang, dan secara bersamaan tersenyum kala Cana tak bisa membantah ucapannya.

"Nama kamu siapa tadi nak?" Tanya sang wanita disamping Otlan lembut.

"Otlan tante." Ujarnya dengan senyum kecil. Ia masih malu.

"Jangan panggil tante, panggil bunda aja kayak Cana." Ujarnya yang seketika membuat Otlan tersenyum kian lebar dan mengangguk malu-malu.

"Udah berapa lama deket sama Cana?" Tanya mulai mencari informasi.

"Udah lama tan, eh bun udah setengah tahun lebih."

Lagi-lagi kedua orang itu saling pandang dengan senyuman misterius.

"Otlan," Panggil wanita itu dengan nada yang sangat lembut. 

Otlan menoleh, menatapnya dengan tatapan bertanya. 

"Bunda titip jagain Cana ya, dia anaknya susah diatur soalnya." Ujarnya dengan senyuman tulus. "Kalo ada yang jagain dia disini bunda jadi tenang,"

Meski bingung namun Otlan tetap mengangguk. "Iya bun, pasti Otlan jagain Cana," Ujarnya dangan cengiran yang khas. Bahkan tanpa diminta pun pemuda itu dengan senang hati akan menjaga Cana, karena ia menyukainya dengan sangat dalam. 


Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...