Kenzo menghela nafas panjang. Melihat postingan Otlan tentang Cana membuat hatinya berdenyut menyakitkan. Ia selalu berpikir apa yang kurang darinya hingga Otlan selalu lebih memilih berpihak pada Cana? Apa yang menarik dari Cana? Dan apa perbedaan diantara mereka yang bisa menarik pemuda itu hingga terus menatap kearah Cana dan malah selalu menghindarinya.
Otlan itu cinta pertamanya, Satu-satunya orang yang menolongnya tanpa pamrih.
Awalnya ia berpikir Otlan menolongnya waktu itu karena ada maunya seperti orang kebanyakan, namun setelah mereka kembali bertemu pemuda itu seolah tak menganggapnya ada, dan hal itu membuatnya merasa aneh, karena tak biasanya orang mendekatinya tanpa ada maksud terselubung.
Namun semakin lama ia pantau Otlan, semakin tau bahwa pemuda itu memang tak ada maksud lain, dia hidup dengan dunianya sendiri tanpa perduli sekitar.
Itu pertama kalinya ada seseorang yang berhasil menarik perhatiannya. Dan karena itu ia jadi terbiasa mengikuti Otlan kemanapun, melihat aktivitas pemuda itu dan keceriaannya entah kenapa bisa membuatnya sangat bahagia, kebahagiaan yang berbeda dari yang ia rasakan untuk keluarganya.
Awalnya ia berpikir ia sudah merasa cukup hanya dengan melihat pemuda itu dari jauh, mengaguminya dan menyayanginya, namun kehadiran Cana ditengah mereka membuat semuanya rusak. Otlannya telah direbut begitu saja.
Lagi-lagi ini karena penyakitnya, jika ia tak punya penyakit ini, Cana tak akan disuruh keluarganya untuk menggantikan dirinya, dan kalau bukan karena penyakitnya ia pasti sudah berada di bangku kuliahan seperti teman sebayanya. Semua ini karena penyakit sialan ini.
Satu-satunya hal yang ia syukuri dari penyakitnya karena bertemu Otlan dan bisa melihat pemuda itu.
Otlan itu bagaikan taman bunga di gurun sahara, ia memberikan ke indahan untuk hidupnya yang tak ada arti.
"Hei, boleh duduk bareng?" Sapa gadis manis bertubuh mungil menyapa dengan ceria, di tangan gadis itu ada secup es entah varian apa.
"Enggak." Ujarnya cuek. Ia sudah menduga untuk apa gadis itu menyapanya.
Gadis itu tak perduli dan segera duduk di depan Kenzo, membuat Kenzo menatapnya kesal.
"Jangan cuek-cuek gitu ah kak, nanti gantengnya luntur." Godanya dengan senyuman manis.
Kenzo menatapnya risih. "Ada apa?" Tanyanya berterus terang. Karena tidak mungkin orang akan mendekatinya tanpa maksud tersembunyi.
"Mau kenalan aja sih, nama aku Bila." Ujarnya mengulurkan tangan memperkenalkannya diri.
Kenzo hanya menatap tanpa minat uluran tangan gadis itu. Belakangan ini orang-orang yang satu sekolah dengannya seolah ingin berdekatan dengannya, namun ia tau pasti tak ada yang tulus dari mereka.
"Gak usah basa-basi, mau ngomong apa?"
Bila Memberengut kan bibirnya gemas. Persis kata orang-orang, Kenzo itu dingin, dia hanya akan mencair jika di depan Otlan. Namun tak apa-apa, ia suka seseorang yang penuh tantangan seperti Kenzo. Karena jika ia berhasil menaklukannya akan banyak hal "baik" yang akan datang padanya.
"Mau ngajak kenalan aja kak, gak boleh emang? Kan sama-sama single ini." Ia masih berusaha merayu Kenzo dengan senyuman manisnya.
Kenzo tak menanggapi omong kosong gadis itu, ia pun tanpa berkata apapun meninggalkan mejanya begitu saja, melangkah keluar dari kantin.
Menjadi anak yang tersohor di negerinya adalah suatu hal yang melelahkan, ada saja orang yang mendekatinya karena ada "niat" Terselubung, hingga membuatnya tak bisa berpikir positif tentang mereka yang mendekatinya, karena memang mereka semua tak ada yang tulus, kecuali Otlan.
Lagi-lagi ia iri dengan hidup Cana, pemuda itu bisa bebas bergerak kemana saja karena memang ia tak pernah di publikasikan sejak kecil, dan akhirnya ia hanya menanggung semuanya sendiri, ditambah pemuda itu yang selalu membawa masker jika keluar rumah. Lengkap sudah hidup pemuda itu. Kehidupan yang sangat ia inginkan. Sial. Kenapa hal baik selalu berpihak pada sang kembaran.
Tidak! Setidaknya Otlan tidak boleh jatuh ke tangan kembarannya, ia yang lebih dulu menemukan Otlan, jadi Otlan adalah miliknya, ia tidak bisa menjadi milik Cana. Tidak sekarang dan untuk selamanya.
Mungkin usahanya selama ini belum cukup menyakinkan pemuda itu, sekarang ia harus lebih keras mengejar Otlan, karena pemuda itu adalah satu-satunya kebahagiaannya. Dan kebahagiaannya tak boleh direbut 𝙡𝙖𝙜𝙞. Cukup dulu pemuda itu merebut temannya, kali ini ia tidak akan membiarkan Otlan direbut oleh orang yang sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar