Rabu, 26 Februari 2025

Orphic (nonohm)

 

Otlan yang merasa bosan hanya berdiam diri di sofa sembari memakan cemilan yang ada di meja pun memilih untuk bangkit berdiri dan berjalan mendekati Cana yang kini sibuk dengan komputer di depan pemuda itu.

Diseretnya kursi depan meja Cana dan membawanya ke samping pemuda itu, duduk disampingnya, ingin melihat apa yang dilakukan oleh Cana sejak tadi hingga mengacuhkannya seperti ini. Tabel tabel dengan huruf dan kata yang tak ia pahami terlihat didepan layar.

Cana menoleh kearah Otlan, menatap pemuda itu dengan pandangan bertanya.

"Gue bosen." Keluh Otlan dengan bibir mencebik lucu.

Wajar saja jika dia bosan, keduanya sudah di dalam satu ruangan sejak sejam yang lalu dan yang Cana lakukan hanya fokus pada kerjaannya.

"Pekerjaan gue masih banyak," Ujar Cana acuh tak acuh. Tangannya pun sibuk menggulirkan kursor mouse ke bawah.

Otlan berdecih namun ia memilih untuk tetap tinggal di samping Cana yang kini sibuk mengetik.

"Orang tua lo kan kaya, Na, ngapain sih kerja segininya? Toh nanti lo juga pasti dapat warisan dari ortu lo juga,"

"Gak semua orang kerja karena kekurangan uang." Ujarnya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer.

Kening Otlan berkerut. "Terus buat apa?"

"Main diluar sana kalo bosen." Usirnya. Jelas sekali ia tak ingin menjawab pertanyaan Otlan.

Otlan mendengus sebal namun ia tak berkata apapun. Ia sangat menghargai privasi seseorang, jika orang itu tak ingin memberitahunya yasudah.

Ia pun kini hanya fokus menatap Cana yang sibuk dengan kerjaannya. Iya menatap Cana, Memperhatikan wajah Cana yang sedang fokus dengan seksama. Menurutnya Cana yang sedang fokus itu jauh lebih tampan dari biasanya. 'Pasti dia punya mantan banyak orang ganteng gini,' pikirnya random.

Cana kembali menoleh saat merasa diperhatikan, ia menatap Otlan dengan pandangan bingungnya. Seolah berkata ada apa?.

"Udah ciuman sama pacar berapa kali?" Celetuknya begitu saja.

Cana menatapnya heran. "Kenapa?"

"Pengen tau aja, gak boleh?" Tanyanya dengan wajah innocent.

"Gak pernah," Ujar Cana apa adanya.

"Bohong banget." Tuduhnya gak percaya. "Kemaren aja jago gitu cium guenya."

"Gak pernah punya pacar dan gak tertarik buat pacaran."

"Terus tertariknya apa? HTS-an?" Wajah Otlan berubah kesal.

"FWB." Jawaban yang sangat tak pernah disangka oleh Otlan.

Otlan terdiam, ia terkejut mengetahui fakta ini. Jadi apa kata abangnya dan Kenzo itu suatu kebenaran?.

"Oh gitu." Ujarnya lesu. Sepertinya sulit untuk menjadi pacar pemuda di sampingnya ini.

"Kenapa?" Tanya Cana tanpa meralihkan tatapannya dari layar.

"Gak papa, pantes aja lo jago."

Cana hanya diam tanpa ingin menjawab perkataan aneh Otlan.

"Tapi lo pasti punya tipe kan?" Tanya Otlan masih berlanjut dengan keasbunannya. "Maksud gue tipe yang mungkin bakal lo jadiin pacar, atau istri atau suami gitu."

Cana menoleh kearah Otlan yang juga menatapnya dengan mata bulat menggemaskan milik pemuda itu. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda di sampingnya. Namun melihat Otlan yang masih menunggu jawabannya ia pun memilih untuk menjawab sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.

"Gak ada." Ujarnya apa adanya. Bagaimana dia bisa punya tipe kalau dia sendiri tak tertarik dengan hal percintaan.

Otlan memanyunkan bibirnya, namun ia tak ingin menyerah begitu saja. "Lebih suka cewek apa cowok?"

Tangan Cana berhenti mengetik sejenak, ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Otlan dan tak lama ia kembali mengetik. "Cowok." Jawabnya serampangan.

Senyum Otlan pun merekah. Kini ia ada harapan untuk melangkah menjadi kekasih pemuda itu.

"Yang keker apa yang imut" Tanyanya dengan harap-harap cemas. Jika tipe Cana yang imut habis sudah harapannya.

"Dua-duanya." Masih dengan melanjutkan pekerjaannya.

Entah Otlan harus bersedih atau bahagia mendengar perkataan Cana.

"Yang lebih muda atau tua?" Masih mencari peruntungan ternyata dia.

"Muda,"

Senyum Otlan pun melebar. Ada kemungkinan untuk Cana menyukainya kan? Dia lebih muda, cowok dan di point ke dua juga dia masuk kok, kan Cana bilang suka dua-duanya.

"Harus jago ciuman gak?" Tanyanya dengan tampang yang sangat serius.

"Gak." Yah karena menurutnya tak terlalu penting.

Namun sangat berbeda dengan Otlan, ia semakin yakin bahwa dirinya ada kesempatan untuk mendapatkan Cana, dia masuk ke semua point yang ditanyakan.

"Mau ciuman gak, Na?"

Tangan Cana seketika berhenti mengetik, kepalanya pun menoleh kearah Otlan dengan wajah bingung. Ia benar-benar tak tau kemana arah berpikir pemuda ini.

"Ciuman yuk? Gue pengen belajar ciuman." Ajaknya lagi dengan wajah tanpa dosa.

"Lo gak denger omongan kakak lo apa tadi?" Tolaknya tak ingin menambah masalah.

"Abang gak akan tau." Dan Cana Speechless mendengar jawaban tanpa dosa pemuda itu. "Yuk ciuman." Sambungnya tak tau malu.

"Gue gak bisa." Tolaknya mentah-mentah.

Otlan membrengutkan bibirnya. "Kenapa?"

Cana pun menoleh kearah Otlan, ia menatap pemuda itu dengan wajah serius. "Gue gak bisa kalo cuman ciuman."

"Yaudah lebih,"

Cana semakin tak habis pikir. "Lo gak takut yang diomongin abang lo jadi kenyataan?"

"Enggak." Jawabnya tanpa dosa.

Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Otlan menatap Cana dengan pandangan penuh harap, sedangkan Cana merasa heran dengan tingkah Otlan yang berbeda dari biasanya.

"Lo lagi pengen?" Tanyanya yang dijawab anggukan tak tau malu.

"Iya."

Merasa sudah tak ada alasan untuk menolak Cana pun mendekat kearah Otlan, menangkup wajah tampan pemuda di depannya dan menatap mata Otlan lurus. "Yakin?" Tanyanya kembali memastikan.

Otlan mengangguk pelan, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Mereka tak pernah berada di kondisi seperti ini, biasanya Cana lah yang main nyerobot, namun kali ini berbeda, ia yang meminta lebih dulu.

Melihat wajah Cana yang semakin mendekat membuat Otlan pun menutup matanya, kedua tangannya mengepal erat, ia begitu gerogi.

Cana tersenyum tipis melihat wajah Otlan yang nampak gusar, di elusnya pipi Otlan yang lembut dengan ibu jari. Menatap wajah Otlan dari dekat membuatnya sadar satu hal, bulu mata pemuda itu sangat lentik, hidungnya yang bangir nampak begitu sempurna dengan wajahnya yang tegas namun imut.

Dikecupnya ujung hidung Otlan yang membuat pemuda lebih muda darinya membuka mata terkejut.

Kedua mata mereka saling berpandangan dengan jarak yang begitu dekat. Kedua bola mata yang sangat cantik dan menggemaskan milik Otlan entah kenapa terasa begitu indah dimatanya.

Cana pun menutup matanya dan mulai memagut bibir bawah dan atas Otlan bergantian.

Jantung Otlan seakan ingin meledak, debarannya terasa begitu kencang namun ia menyukainya. Matanya pun kembali menutup menikmati pagutan lembut yang Cana berikan.

Bibir Otlan meski kering namun terasa begitu lembut, membuatnya ingin merasakan lebih. Lidahnya pun mulai keluar dari peraduannya, ikut meramaikan ciuman mereka di sore itu.

Otlan mengerutkan keningnya merasakan lidah Cana yang ingin masuk kedalam bibirnya, dengan ragu-ragu pemuda itu pun mulai membuka bibirnya membiarkan lidah Cana masuk.

Sensasi aneh ia rasakan kala lidah Cana mulai menginvasi mulutnya, mengabsen giginya yang rapi dan mengelus langit-langit bibirnya. Rasa geli namun nikmat membuatnya meloloskan sedikit erangan yang terpendam. Lidah tanpa tulang itu tak berhenti disana, ia dengan berani mulai mengelus lidah Otlan yang hanya diam dan mulai mengajaknya untuk bertarung. Otlan yang baru pertama kali hanya mengikuti dengan gerakan ragu-ragu.

Tangan kanannya yang tadi berada di pipi Otlan beralih ke tengkuk pemuda itu, mengelusnya dengan lembut. Tangan kirinya pun menarik pinggang Otlan untuk berganti posisi menjadi duduk diatas pahanya yang segera dituruti dengan senang hati tanpa melepaskan ciuman mereka.

Otlan duduk menyamping di paha Cana dengan kedua tangan yang meremat baju Cana. Air liur entah milik siapa menetes di dagu Otlan. Ciuman keduanya semakin intim meski sesekali ciuman mereka terlepas karena Otlan yang kehabisan oksigen, namun tak ada satu menit berikutnya bibir yang sudah sedikit bengkak kembali dicium dengan buas.

Erangan tertahan pun semakin keluar dari bibir Otlan, karena ciuman Cana yang semakin agresif dan menuntut. Tangan pemuda itu tak tinggal diam, tangan kanannya masuk kedalam kaos polos yang Otlan kenakan, mengelus absnya dengan lembut dengan terus naik keatas, mencari niple kecil milik yang lebih muda untuk dimainkan.

"𝘌𝘯𝘨𝘩~" Lenguhan terkejut tak mampu ditutupi, tubuhnya merinding merasakan elusan disertai cubitan kecil di pentilnya. Rasa geli dan enak yang ia rasakan membuatnya begitu terbuai. Perlahan namun pasti kontolnya pun mulai bangun dari tidur panjangnya.

Kedua insan didalam ruangan itu terus melakukan hal yang tak senonoh tanpa takut jika ada orang yang masuk kedalam ruangannya.

Dengan terpaksa Cana melepaskan ciumannya kala Otlan kembali kehabisan nafas entah sudah yang ke berapa kali tanpa melepaskan tangannya dari niple Otlan. Tatapan matanya yang buas terus memperhatikan Otlan yang sedang meraup oksigen sebanyaknya.

Penampilan pemuda itu sudah tak serapi tadi, bibir yang bengkak akibat cumbuannya dan air liur mereka yang menjadi satu menetes di dagu Otlan disertai mata yang sayu membuat pemuda itu begitu menggoda.

Melihat jakun Otlan yang naik turun dengan cepat membuat Cana sangat tertarik. Tanpa aba-aba Cana pun mencium jakun Otlan dan menghisapnya gemes.

Kepala Otlan sontak mendongak dan kedua tangan Otlan Otomatis bergerak keatas, meremat bahu lebar orang yang disukai, melampiaskan rasa frustasi yang kini menderanya.


--------


Spoiler selesai

Jumat, 14 Februari 2025

Kacau (Orphic)

 


"Makan dulu, Lan, hapenya nanti lagi." Tegur Cana melihat Otlan yang hanya memainkan hp-nya tanpa menyentuh makanan yang telah ia tata di depan pemuda itu.

Otlan hanya tersenyum dan menaruh hpnya di meja, tangannya pun mulai mengambil makanan di depannya secara acak.

"Lo dicariin sama anak buah lo, Na." Ujar Otlan memberitahu.

Cana mengangguk. "Nanti gue ke mereka." Ujarnya mulai ikut menyantap makanan di depan meraka.

Otlan terdiam sejenak, menimbang haruskah ia bertanya kemana saja pemuda ini belakangan? Setelah bergelut lumayan lama dengan pikirannya sendiri, Otlan pun memilih untuk bertanya.

"Lo kemana aja kemaren? Kenapa gak ada kabar sama sekali?" Tanyanya ragu-ragu. "Lo gak kenapa-kenapa kan?"

Cana mendongak menatap Otlan yang menatapnya dengan mata bulat menggemaskan milik pemuda itu. "Lagi pengen sendiri." Ujarnya singkat tanpa ingin memberitahu.

Otlan memberengutkan bibirnya, tak puas dengan jawaban Cana, ia pun mengacak-ngacak makanan di depannya, hasratnya untuk makan Seketika menguap. Kesal ia.

Cana melihat tingkah laku Otlan yang sangat mirip dengan keponakannya ketika merajuk pun membuatnya tersenyum tipis. "Maaf udah bikin lo kawatir, Otlan,"

Otlan nampak tak perduli dengan permintaan maaf Cana yang sudah berkali-kali ia dengar hari ini. "Seenggaknya kasih kabar," Gerutunya lirih namun masih di dengar dengan jelas oleh Cana.

Cana pun meletakkan sumpitnya di piring di depannya. "Gue gak terbiasa ngasih kabar ke siapapun Otlan,"

Otlan mendongak. "Emang bokap nyokap lo gak nyariin kalo lo ngilang?" Suaranya terdengar sekali jika ia kesal.

Cana menggeleng. "Gue terbiasa hidup sendiri, dan mereka juga gak tertarik sama kehidupan pribadi gue."

Otlan seketika terdiam, ia sedikit merasa bersalah karena ucapanya barusan, namun ia terlalu gengsi untuk meminta maaf.

"Temen-temen lo gimana? Mereka gak mungkin gak nyariin lo kan."

"Mereka chat gue kalau butuh sesuatu, mungkin ada masalah di bengkel atau di mana, kita punya kehidupan sendiri yang harus kita atur,"

Otlan merasa bingung, "Kak Agra? Gak mungkin kak Agra gak nyariin lo,"

"Dia udah terbiasa sama gue yang gak ada kabar."

Otlan speechless, ia bingung harus berkata apa lagi. "Tapi guenya butuh kabar dari lo, Na." Ujarnya lirih.

Diusaknya rambut Otlan lembut. "Lo akan terbiasa nantinya,"

"Gak mau!" Tolaknya mentah-mentah. "Gue gak mau terbiasa tanpa kabar dari lo."

Cana menaikkan alisnya bingung.

"Kalo lo kenapa-kenapa pas gak ngasih kabar ke gue gimana? Siapa yang bakal tau? Gue gak mau."

Cana pun terdiam, ia tak tau lagi harus berkata apa, yang ia lakukan selanjutnya hanya memberikan makanan ke piring Otlan dan tersenyum manis kala pemuda itu menatapnya. Ia tak akan bisa menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa ia lakukan.

Keduanya pun terdiam kembali, tak ada yang ingin memecahkan keheningan diantara mereka, sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Lo takut ya sama orang gila?" Tanya Otlan tiba-tiba yang membuat Cana menatapnya heran.

"Enggak."

"Terus kenapa lo kemaren tiba-tiba pinsan gitu?"

Cana terdiam, ia tau pasti Otlan akan bertanya tentang hal ini.

"Bukan gilanya yang bikin gue pinsan, tapi orangnya."

"Hah?" Siapa yang tak bingung jika mendapatkan jawaban yang seperti itu.

Cana menghela nafas berat, ia berusaha mengenyahkan bayangan menyeramkan yang tiba-tiba hadir di otaknya begitu saja.

"Dia mantan nani gue." Ujarnya berusaha setenang mungkin, berbeda dengan isi di dalam kepalanya yang riuh.

"Yang manggil nana nana itu?" Tanya Otla memastikan.

Cana mengangguk. "Lo tau kan, gak semua nanni itu baik, dan dia salah satunya yang gak baik itu."

Meski bingung namun Otlan memilih untuk tak bertanya lebih detail, ia tak ingin membuat seseorang yang ia suka merasa risih dengan ke-kepoannya.

"Jadi lo pinsan karena terkejut liat dia?"

Cana hanya tersenyum tipis menjawabnya, mereka pun lanjut mengobrol tentang hal lain. 


--------------------------------

Fernan mengerutkan keningnya melihat mobil asing yang terparkir di halaman rumahnya, namun ia tak ingin menebak siapa orang itu, karena kemungkinan besar dia adalah teman sang adik. Mungkin salah satu diantara mereka ada yang sudah berganti mobil.

Ia pun melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan siulan tipis, ia sedang bahagia karena semalam dia telah memenangkan pertandingan.

Langkahnya pun terhenti, keningnya berkerut dalam, ia mundurkan langkah kakinya untuk melihat lebih pasti siapa yang sedang makan dengan adiknya di meja makan, dan matanya pun membelalak terkejut melihat orang yang sangat ia kenal.

"LO NGAPAIN KESINI?" Tanyanya emos sembari melangkah mendekat.

Otlan dan Cana seketika menoleh keasal suara, dan Cana menghela nafas berat melihat musuhnya yang sudah menancapkan tarinya.

"PERGI LO DARI SINI! LO GAK DITERIMA DI RUMAH GUE!" Sambungnya menatap Cana dengan nyalang.

"Abang apaan sih? Dia kan tamu aku!" Otlan pun membela dengan tak kalah lantangnya.

"Tamu! Tamu! Udah gue bilang dia itu brengsek, kenapa sih lo bebel banget jadi bocah?!"

Tak ingin membuat suasana semakin keruh Cana pun memilih untuk mengalah. "Gue pulang," Pamitnya mengambik jaket yang ia sampirkan di kursi sebelahnya.

"Gue ikut!" Teriak Otlan mendekat kearah Cana.

Cana dan Fernan menatap Otlan dengan pandangan berbeda.

"Gak ada ya Otlan! Lo tetep di rumah! Gak usah lo pergi-pergi sama dia!" Fernan nampak sangar emosi.

"Lo di rumah aja." Ujar Cana yang tak ingin semakin terjadi kekacauan.

"Gak mau!" Namun Otlan yang keras kepala tak bisa diatur begitu saja.

"Lo mau ngapain ikut dia? Dia itu gak baik! Sini gak lo!" Fernan mencoba meraih lengan adiknya namun Otlan segera berkelit hingga menjauh dari jangkauan Fernan. "Otlan! Jangan aneh-aneh, lo tuh omega, kalo lo hamil gimana anjing?!"

"Hamil tinggal hamil. Gitu aja repot. Wle."

"Anjing lo jadi anak! Sini gak!" Fernan pun mulai ingin mengejar sang adik, namun Otlan dengan cepat menarik tangan Cana untuk menjauh dari sana sambil berlari, mengabaikan teriakan membahana dari Fernan untuk menyuruhnya berhenti.

Jangan tanya Cana, pemuda itu sudah speechless sejak Fernan berkata hamil, memang apa yang akan dia lakukan? Bahkan ia sudah lama tak menyentuh Otlan karena ia tak ingin merusak pemuda itu lebih jauh.


Date (?) (Orphic)

 

Giardini

"Anak gantengnya mami mau kemana? Pagi-pagi udah rapi dan wangi aja." Sapa nyonya gunadhya melihat anaknya yang terlihat berbeda dari biasanya.

Kenzo tersenyum malu-malu. "Mau jalan sama Otlan." Ujarnya sebelum duduk di meja makan yang telah penuh berbagai macam hidangan.

Maid yang bertugas mengambilkan makanan pun mulai melakukan tugasnya dengan hati-hati.

Nyonya Gunadhya tersenyum tipis mendengarnya, sebenarnya ia tak terlalu suka anaknya mengajar seseorang yang tak menyukainya, apalagi setelah yang terjadi kemaren. Namun melarang anaknya juga ta bisa, Kenzo sangat keras kepala melebihi semua orang di rumahnya.

"Mau jalan kemana?" Tanya sang papi dengan mata yang terus menatap koran, membaca berita yang sedang terjadi belakangan ini.

"Ke Giardini." Ujarnya mulai memakan-makanan yang sudah tersedia di piringnya.

"Jangan capek-capek," Nasehat sang papi yang hanya di balas gumaman. Pria itu pun melipat korannya dan mulai ikut memakan makanannya seperti keluarganya yang lain.

"Jangan kelamaan ya sayang mainnya, inget kata dokter apa? Gak boleh terlalu bersemangat dan jangan sampe kecapean."

Kenzo mendengus. Ia kesal. Selalu seperti ini, dia belum jalan sudah ada larangan. "Ia mami, ia papi."

Suasana pagi di rumah megah itu terasa damai, tak ada percakapan yang berlanjut, hanya suara dentingan sendok dan garpu. Bahkan tak ada pencarian sang anak sulung yang tak ikut makan, seolah tak perduli.

-----

Otlan melirik arlojinya malas, jika bukan karena ingin melerai kedua temannya yang akhir-akhir selalu berdebat ia pasti masih berada di rumah, memeluk guling dan selimut sembari menunggu kabar dari seseorang yang entah sekarang berada dimana.

Sebuah mobil asing masuk kedalam pekarangan rumahnya, ia sedikit berharap bahwa itu Cana (karena Cana sering membawa mobil yang berbeda) namun harapan hanya tinggal harapan. Bukan sosok Cana yang muncul dari kursi belakang, melainkan sang kembaran, alias Kenzo. Rasa bahagia yang sesaat ia rasakan tadi menguap begitu saja.

"Ngapain lo ke sini?" Tanya Otlan tak suka ketika Kenzo telah berada di dekatnya.

"Mau jemput kamu, Fredi udah jalan duluan." Ujarnya dengan senyuman manis. Ia bahagia bisa melihat pujaan hatinya setiap hari seperti ini.

Otlan berdecak. Temannya itu benar-benar berniat menjodohkannya dengan Kenzo. Sialan!.

"Ayo, Lan masuk mobil, disini panas nanti kamu makin kepanasan." Ujarnya sangat perhatian, ia pun menaruh tangannya diatas kepala Otlan hanya agar melindungi Otlan dari paparan sinar matahari.

Tak ingin berdebat, Otlan pun masuk kedalam mobil, namun bukan duduk di kursi belakang, pemuda itu memilih duduk disamping supir, membuat Kenzo dan sang supir terkejut.

"Lan kok duduk di depan? Ayo kebelakang aja sama aku." Ujar Kenzo berusaha membuka pintu yang sudah tertutup.

Otlan pun kembali menutup pintunya dan menguncinya agar Kenzo tak bisa membukanya lagi. "Lo cepetan naik deh, Zo. Udah panas ini," Ia sama sekali tak mengindahkan keinginan Kenzo.

Kenzo memberengutkan bibirnya kesal, ia. Pun berjalan kearah belakang dan duduk dengan nyaman. Masih tak terima Otlan memilih duduk disamping supir daripada dirinya.

Sang supir tanpa banyak bicara segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Otlan. Ia sedikit takut akan kemarahan sang tuan muda meski ia tak melakukan kesalahan apapun.

Kenzo dan Otlan saling diam. Jika Kenzo diam karena kesal terhadap Otlan, berbeda dengan Otlan, pemuda itu diam karena ragu haruskah ia bertanya pada supir Kenzo tentang Cana? Lama pemuda itu berpikir hingga akhirnya ia pun membulatkan tekatnya.

Bapak ada liat Cana belakangan ini?" Tanyanya memecah keheningan disana.

Sang supir yang tiba-tiba di tanya pun sedikit tersentak. "Gak liat den, kayaknya den Cana gak pulang belakangan ini."

Kenzo berdecak kesal. Cana lagi, cana lagi, Cana lagi dan cana lagi. Kenapa sih yang Otlan bahas selalu saja Cana? Apa hebatnya orang itu daripada dirinya.

"Mati si Cana!." Celetuk Kenzo yang sudah teramat kesal.

Otlan hanya diam mendengar celetukan sinis itu. Ia sedang malas untuk berdebat.

Sang supir yang mendengarnya hanya diam saja tanpa berani membantah, karena ia sudah tau pasti kedua saudara kembar ini tak pernah akur.

"Cana mulu yang lo cari. Hebatnya dia apa sih Lan? Gue sama Cana juga bagusan gue kemana-mana." Sambungnya menyombongkan diri.

Otlan menghela nafas berat. Ia hanya diam saja dan tak ingin menyahut perkataan sinis Kenzo. Entah karena terlalu kawatir sama Cana atau bagaimana tenaganya menjadi hilang begitu dan membuatnya gampang malas.

Seolah rasa kesalnya hilang begitu saja, Kenzo pun mendekatkan dirinya ke kursi Otlan. "Nanti mau naik apa aja Lan?" Tanyanya excited.

Otlan meliriknya bingung. Bukannya tadi pemuda itu kesal padanya?. "Males naik-naik." Sahutnya acuh tak acuh.

"Pernah naik bianglala gak, Lan? Katanya bagus banget pemandangan binglala dari sana." Kenzo sepertinya sangat excited dengan rencana mereka hari ini.

"Males. Panas." Namun Otlan tetaplah Otlan, pemuda itu sama sekali tak peduli dengan lawan bicaranya.

"Yahh, padahal katanya bagus, sayang gak sih Lan kalo gak naik?" Bibirnya pun maju beberapa centi, terlihat menggerakkan namun tidak bagi Otlan, pemuda itu malah menatapnya geli.

"Kalo mau naik aja, gak ada yang larang lo buat naik." Ujarnya sembari memainkan hpnya.

"Maunya naik sama kamu Otlan, pasti makin bagus, soalnya kamu ganteng banget hari ini." Pujinya tulus.

Perjalanan mereka pun diwarnai dengan celotehan Kenzo tentang apa saja yang harus mereka naiki hari ini tentu dengan Otlan yang menjawab malas-malasan menolak semua tawaran Kenzo hingga mereka telah tiba di tempat tujuan.

Keduanya pun turun dari mobil, Otlan pun segera menelpon Freddy, bertanya mereka ada dimana, yang dijawab bahwa mereka bertiga telah masuk sejak tadi, dan menunggu kedatangannya di tempat wahana roller coster.

"Freddy sama yang lain udah masuk ya?" Tanyanya yang di deheman malas oleh Otlan. "Ayok masuk, Lan kalo gitu." Sambungnya dan menggandeng lengan Otlan yang segera ditampik kasar oleh sang empu tangan.

"Gak usah pegang-pegang, gue gak suka." Ujarnya dan melenggang pergi begitu saja, mengabaikan wajah sedih Kenzo.

Namun kesedihan pemuda itu tak berlangsung lama, ia pun segera menghampiri Otlan dan berjalan bersisihan dengan pujaanya. Tak apa tak bergandengan tangan, asal masih terus bersama Otlan ia akan selalu bahagia.

"Nanti mau naik wahana roller coaster gak?" Tanya Kenzo setelah mereka masuk kedalam wahana. Ia telah membeli tiket sebelumnya, jadi mereka bisa langsung masuk tanpa harus mengantri untuk membeli tiket.

"Malas." Sahut Otlan sama seperti jawabannya di mobil sejak tadi.

Kenzo membrengutkan bibirnya. "Kenapa? Kamu takut ketinggian ya?" Pertanyaan yang tak dijawab oleh Otlan.

"Otlan mau minum gak? Ini panas banget, kalo mau aku beliin," Ujarnya perhatian.

"Enggak." Tolaknya mentah-mentah.

"Gak haus emang?" Lagi-lagi pertanyaannya tak dijawab oleh Otlan.

Perjalanan mereka pun diiringi dengan pertanyaannya-pertanyaan perhatian dari Kenzo namun selalu dijawab malas oleh Otlan, bahkan pemuda itu tak jarang mengabaikan pertanyaan Kenzo, namun entah kenapa Kenzo selalu saja ada pertanyaan atau bahkan ucapan yang dia keluarkan.

"Berisik banget," Keluh Otlan dalam hati yang tak sampai hati ia sampaikan.

Kini meraka telah sampai di tempat rollercoaster, Freddy pun segera mengajak Otlan dan Kenzo untuk ikut naik dengan mereka, dengan akal bulus Freddy, Otlan yang awalnya ingin duduk bersama Oyie pun ia gagalkan dan membuat pemuda itu duduk bersama Kenzo, sedangkan Oyie ia tahan di belakang.

Saat Otlan tersadar bahwa bukan Oyie yang duduk di sampingnya, rollercoaster pun sudah berjalan pelan, kepalanya menoleh kebelakang mencari tahu dimana temannya, dan ia melihat Oyie berada dalam sekapan Freddy yang mencoba memberontak yang tak ikut naik.

"Sialan Freddy sialan." Batinnya kesal bukan main. Ia telah dibohongi oleh temannya sendiri.

Sedangkan Kenzo kegirangan bukan main, ia tak pernah naik wahana seperti ini karena dilarang orang tuanya, takut jika penyakitnya kambuh, dan sekarang ia bisa naik terlebih ia duduk disebelah seseorang yang sangat ia sukai.

Dua pemuda dengan perasaan yang berbeda sedang naik wahana rollercoaster.

Tingkah jail Freddy tak hanya sampai disana, pemuda itu terus saja bisa menjebak Otlan dan Kenzo untuk satu kursi, otak cerdiknya selalu bisa menipu sang teman. Dari mulai biang lala yang seharusnya Oyie ikut menjadi berdua saja, masuk rumah hantu dan meninggalkan Otlan serta Kenzo membuat hanya mereka yang masuk, sedangkan ia dan Deki serta Oyie tak jadi ikut main (tentu lagi-lagi ia yang menarik paksa Oyie) hingga membuat Otlan marah dan memilih untuk pulang, tak peduli dengan perkataan Freddy yang terus meminta maaf, pemuda itu bahkan memesan Taxi yang selalu ia hindari (karena waktu kecil sang abang selalu menakutinya bahwa taxi bisa membawa orang pergi dan tak akan di kembalikan) bahkan pemuda itu pun memblock nomor Freddy saking kesalnya ia.

Namun bagi Kenzo, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan untuknya, dan akan selalu ia kenang, sampai kapanpun itu.

Kamis, 13 Februari 2025

Gagal lagi (orphic)


Freddy menatap Otlan bingung kala pemuda itu hanya menghela nafas sambil menatap layar hpnya. Nasi goreng kesukaan pemuda itu bahkan tak disentuh sama sekali.

"Lo kenapa sih?" Tanya Freddy yang sudah gerah melihat Otlan yang terlihat gelisah selama beberapa hari belakangan.

Otlan menggeleng, ia malu untuk berterus terang.

"Ada masalah apa, Lan? Dari kemaren kamu gak semangat gitu," Tanya Oyie yang sudah tak bisa membendung rasa penasarannya.

Namun Otlan tak ingin menjawab pertanyaan itu, ia hanya diam sembari melihat roomchatnya dengan Cana yang masih tak ada balasan.

"Cana ya?" Tebak Deki setelah menelan Sandwichnya dan tepat sasaran.

Otlan hanya membrengutkan bibirnya.

Oyie dan Freddy menghela nafas lelah dan Deki yang kembali asik memakan makan siangnya. Membiarkan temannya untuk bergalau sendiri tanpa ingin ikut campur.

Kenzo yang baru datang ke meja tempat Otlan dan yang lainnya duduk di kantin tersenyum manis menatap Otlan. "Siang, Lan." Sapanya ceria.

Otlan meliriknya malas dan memilih untuk kembali mengetik kata demi kata di roomchatnya dengan Cana, dan ia berharap kali ini akan dijawab pemuda itu yang entah kemana.

"Makanannya kenapa belom di makan? Gak suka? Mau aku pesenin yang lain?" Tanyanya perhatian.

Namun Otlan masih membisu, ia asik dengan pikirannya sendiri tentang di mana Cana, kenapa pemuda itu tak ada kabar sama sekali 3 harian ini.

"Mau makan apa, Lan? Biar aku pesenin." Ujarnya dengan wajah yang masih cerah ceria, meski Otlan tak menanggapi keberadaanya. "Hotdog mau? Atau Burger gitu?"

Freddy yang merasa kasian pun berkata "Dia lagi galau, Zo. Biarin aja."

Kenzo mengerutkan keningnya. "Galau kenapa?" Tanyanya bingung.

"Gara-gara abang lo ngilang, dia jadi kesepian." Ledek Freddy yang di balas decakan sebal oleh Otlan.

Wajah Kenzo seketika berubah kesal. "Ngapain sih, Lan mikirin dia? Gak usah peduliin dia, paling dia lagi asik sama lontenya,"

Otlan mendongak terkejut, tak hanya Otla, Freddy, Deki dan Oyie pun menatap Kenzo terkejut, namun tak lama wajah Oyie berubah terlihat tak percaya.

"Gak usah ngaco deh," Ujar Otlan tak percaya. Meski dalam lubuk hatinya ia pun merasakan kebimbangan, namun ia masih tak ingin mempercayai itu.

"Serius, Lan. Dia beberapa hari ini gak pulang ke rumah, biasanya dia main sama lontenya kalo gak pulang." Ucapan Kenzo mampu membuat Otlan semakin bimbang. Benarkah?.

"Mending tanya ke temennya dulu, Lan, jangan langsung percaya gitu aja." Ujar Oyie yang masih tak mau mempercayai ucapan Kenzo mentah-mentah.

"Nanya ke temen itu percuma. Namanya temen pasti belain temennya, mana ada temen yang mau jelekin temennya." Sanggah Kenzo tak suka.

Deki dan Freddy saling pandang, namun keduanya tak tau harus mengatakan apa, yang mereka lakukan hanya diam menyimak.

"Tanya aja dulu, Lan." Ujar Oyie tak memperdulikan ucapan Kenzo sama sekali.

Kenzo mendengus kesal. "Aku bisa anterin kamu ke tempat dia nyewa lonte biasanya kalo kamu gak percaya, Lan." Ujar Kenzo tak ingin kalah.

Otlan yang mendengar ucapan mereka pun bingung harus melakukan apa. Satu sisi ia ingin mengiyakan ajakan Kenzo, tapi ia juga takut jika itu memang nyata.

Oyie tak bisa membantah lagi, jadi gadis itu pun memilih diam, menunggu jawaban temannya.

"Gimana, Lan? Mau kan ke sana?" Tanya Kenzo yang sangat yakin bahwa ucapannya adalah benar adanya.

Otlan menatap ketiga temannya yang juga sedang menunggunya untuk mengambil keputusan. Merasa tak bisa mengelak, pemuda itu pun terpaksa mengiyakan ajakan Kenzo. Ia hanya berharap bahwa dugaan Kenzo itu salah, ia hanya takut. Takut untuk patah hati.

Kenzo tersenyum melihat anggukan Otlan, ini saatnya untuk ia bongkar kebusukan Cana agar Otlan tak lagi melihat Cana sebagai orang yang baik.

-----------------------

Visualisasi gedung / rumah penyewaan



Berjam-jam telah berlalu, matahari yang tadi bersinar terik kini telah sedikit meredupkan cahayanya, semilir angin sore itu terasa begitu menyejukkan namun tidak bagi Otlan, pemuda yang sedang berada di dalam mobil beserta ke empat orang lainnya merasa ketakutan yang luar biasa. Hatinya terus berdentum tak nyaman.

Gadis cantik yang duduk di sebelah Otlan menggenggam tangan Otlan lembut, melihat wajah Otlan yang gelisah membuatnya ikut merasakan hal yang sama. Namun tak ada kata penenang yang bisa ia utarakan, karena ia pun takut kata-katanya nanti akan jadi boomerang.


Otlan tersenyum tipis pada temannya itu, namun sayangnya rasa gelisah yang ia rasakan tak kunjung menghilang. 

 

Disamping Oyie ada Kenzo yang terus menatap luar jendela, memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dari bangunan di depannya, bangunan yang seperti gedung biasa, tapi didalamnya penuh akan luar biasa.

Freddy dan Deki yang berada di depan pun melakukan hal yang sama seperti Kenzo, mereka pun penasaran apakah perkataan Kenzo benar atau hanya karangan agar bisa mendapatkan Otlan.

Mereka berlima berada di dalam mobil milik Freddy, saat supirnya telah sampai pemuda itu segera menyuruh sang supir untuk pulang dengan Taxi, agar ia dan teman-temannya bisa satu mobil. Sang supir pun tak membantah keinginan tuan mudanya, ia dengan patuh menerima perintah begitu saja.

Dan kini mereka sudah berada di depan gedung bersama keempat orang lainnya, menunggu seseorang yang tak tau apakah akan datang atau tidak.

Awalnya Kenzo tak setuju dengan ucapan Freddy, ia ingin naik mobilnya sendiri tentu dengan mengajak Otlan, namun Otlan yang tak ingin berduaan dengan Kenzo langsung saja masuk kedalam mobil Freddy dan diikuti oleh Oyie yang duduk di sampit Otlan. Melihat itu mau tak mau Kenzo pun ikut naik ke mobil Freddy, membuat Otlan berada di tengah, antara Oyie dan Kenzo, namun saat Kenzo sudah duduk nyaman di mobil Freddy, Otlan dengan segera tukeran duduk dengan Oyie, hingga membuat gadis cantik itu yang berada di tengah. Tentu saja hal itu membuat Kenzo tak terima, ia terus berusaha agar Otlan kembali ke tempat duduknya, namun perkataan Oyie yang pedas dan didukung oleh Deki membuatnya hanya diam kesal, apalagi setelah Freddy berkata lebih baik dia naik mobilnya sendiri dan tak usah ikut di mobilnya kalo masih ingin kekeuh Otlan berada di samping pemuda itu. Yasudahlah, yang penting dia masih bisa melihat Otlan.

Deki melihat jam di pergelangan tangannya, sudah 2 jam mereka mengintai rumah di depannya ini, namun selama itu pula Cana tak menampakkan batang hidungnya. "Ini sampe kapan nunggunya?" Tanyanya yang sudah lelah. Ia ingin pulang dan mengistirahatkan tubuhnya.

Otlan dan Oyie yang juga sedang menatap luar mobil ikut menatap Deki, berharap pengintaian gak jelas ini bisa segera selesai.

"Sampe dia dateng." Ujar Kenzo enteng.

Deki melirik pemuda itu dari kaca tengah di mobil malas. "Kapan datengnya?"

"Ya pas dia mau dateng!" Kenzo yang kesabarannya setipis tissue sedikit tak suka mendengar pertanyaan aneh Deki.

Freddy hanya mendengarkan saja tanpa ingin menyela, ia terus mengawasi orang yang berlalu-lalang, takut mangsa mereka terlewat.

Deki menghela nafas kesal. "Kalo dia gak dateng?" Tanyanya yang membuat Kenzo semakin sebal.

"Dia pasti dateng!" Ujarnya yakin.

"Kapan datengnya?!" Deki pun ikut kesal jadinya.

"Bawel banget sih, tinggal nunggu doang banyak tanya!"

Deki menghela nafas lelah. Kesabaran yang tipis selalu diuji kala berbicara dengan Kenzo. Pemuda itu selalu bisa membuatnya kesal. "Doang kata lo? Kita udah nunggu 2 jam disini, dan gak ada tuh kakak lo dateng! Ini pasti akal-akalan lo doang kan biar Otlan gak suka lagi sama Cana makanya lo ngarang kek gini!"

Kenzo tak terima di tuduh begitu saja. Meski memang tujuannya untuk membuat Otlan ilfeel pada Cana, tapi dia ta berbohong. "Gue bukan tukang bohong, Cana emang selalu kesini kok!"

"Terus mana buktinya? Mana Cananya mana? Udah 2 jam itu si Cana gak ada muncul!"

"Nanti juga muncul! Makanya sabar!"

Deki sudah siap menyemburkan makian namun perkataan Freddy membuatnya kembali diam.

"Udah deh gak usah berantem." Kepala pemuda itu pun menatap kearah sang pacar dan menatapnya sayang. "Kita tunggu sejam lagi, kalo si Cana gak ada dateng kita pulang," Sambungnya mengambil jalan tengah.

Deki mengangguk patuh. "Beneran ya sejam doang?" Ujarnya memastikan yang di balas senyuman manis sang pacar. 

"Gak bisa gitu dong! Kita harus nunggu sampe Cana dateng, kalo pas kita pulang terus Cana baru dateng gimana?"

Deki berdecak malas. Oyie pun melirik pemuda disampingnya dengan penuh kesinisan, jangan tanyakan Otlan, pemuda itu sudah tak ada tenaga untuk ikut nimbrung, ia hanya terus berharap bahwa ucapan Kenzo itu salah.

"Karena lo doang yang kekeuh ingin nunggu sampe Cana datang, lo aja yang nunggu di sini. kalo dia udah dateng baru kasih info ke kita. Gampangkan?" Kata Freddy tak ingin terpancing.

"Ya gak bisa gitu dong!"

"Bisa! Lo gak usah egois! Gue gak mau nunggu gak jelas lebih lama di sini." Ujar Oyie dengan mata memicing tajam.

"Kalo lo gak mau nunggu Cana sampe dateng, ngapain nyuruh kita nunggu sampe dia dateng? Lo pikir kita babu lo yang bisa lo perintah?" Deki sudah teramat lelah dengan sifat Kenzo rupanya.

Freddy menghela nafas berat. Ia harus apa agar mereka tak lagi berantem hanya perkara menunggu seperti ini. Ia pun tak ingin jika harus menunggu sampe entah kapan yang bahkan Cana belum tentu datang kesana dan tau tempat ini saja belum tentu. Kecuali pemuda itu sudah sering kesini.

Tiba-tiba ia mendapatkan ide. "Lo semuanya disini jangan kemana-mana, gue mau nanya dulu ke orang Cana sering kesini apa gak," Ucap Freddy mengambil jalan tengah.

Kenzo tersenyum cerah, akhirnya ia bisa membuktikan bahwa Cana memang sebrengsek apa yang dia katakan.

Deki dan Oyie hanya mengangguk, membiarkan Freddy keluar dari mobil untuk mencari tau, berbeda dengan Otlan yang semakin cemas. Kalau yang Kenzo ucapkan itu benar apa yang harus ia lakukan kedepannya? Haruskah ia move on? Namun jika mengingat lagi, semua perbuatan Cana padanya waktu melakukan "itu" Memang terasa sangat ahli. Wajahnya pun berubah pias. Meski begitu, sudut hatinya masih tak terima dan denial.

Freddy melepas baju seragamnya dan hanya memakai kaos putih polos sebelum masuk kedalam bangunan yang cukup ramai, karena sejak 2 jam lalu banyak orang yang keluar masuk tanpa henti. 


Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari petunjuk dimana ia harus bertanya, karena tak mungkin ia menanyai semua orang di ruangan itu yang kini menatapnya dengan dengan berbagai pandangan. Tentu saja tak jauh dari menggoda.


Dengan serampangan ia pun memberhentikan seseorang yang sedang melewatinya. Ia tersenyum manis kala orang itu menatapnya.


"Maaf saya hanya pegawai biasa, bukan--" Ucap wanita itu.


"Bukan kak." Potong Freddy yang membuat wanita itu menatapnya bingung. "Saya gak mau mesen, tapi mau nanya. Bisa kan?" Lanjutnya yang membuat wanita muda itu mengangguk dan mimik wajah yang berubah santai, tak setakut tadi. Pasalnya tak jarang pelanggan yang ngeyel ingin tidur dengannya meski sudah ia bilang berkali-kali bahwa ia hanya pegawai biasa. 


"Jadi saya lagi nyari temen saya, kakak kenal sama yang namanya Cana? Katanya dia sering kesini." 


Wanita muda itu mengerutkan keningnya sebelum menggeleng yakin. "Saya gak pernah denger nama itu, tapi coba kamu tanya sama pemilik bisnis ini saja, kebetulan saya juga ingin menemui beliau."


Freddy tanpa sungkan mengangguk setuju. 


Kedua orang itu pun berjalan ke salah satu sofa yang sudah terisi, namun tak seperti sofa kebanyakan yang selalu dihuni banyak orang, disana hanya ada satu orang yang sedang duduk sembari menikmati cerutunya.


"Madam Ji, ibu berkas yang anda minta, dan ada yang ingin bertemu dengan anda." Ucap wanita tadi sopan setelah menaruh berkas entah apa itu di meja depan wanita yang sedang menikmati cerutunya. 


Orang yang di panggil madam Ji pun menoleh.


Freddy segera membungkukkan badannya sopan. "Perkenalkan, nama saya Freddy, saya ingin bertanya tentang salah satu pelanggan anda madam."


Kening madam ji mengkerut, tangannya pun bergerak mengusir, "Semua hal tentang pelanggan saya itu rahasia." 


"Saya hanya bertanya apa Cana berada disini madam, karena sudah 3 harian dia tidak pulang, orang tuanya khawatir." Ujarnya berbohong. 


Madam Ji yang awalnya acuh tak acuh padanya kini kembali menatap Freddy, menatap pemuda itu dari atas hingga bawah. Menilai. 


"Cana?" Tanyanya yang diangguki oleh Freddy. 

"Disini tak ada pelanggan yang bernama Cana." Sambungnya yang seketika membuat Freddy kebingungan. 


"Madam serius? Katanya dia sering kesini, madam." 


Wanita berambut ikal itu mengangguk. "Saya tak akan pernah lupa nama pelanggan saya, apalagi jika dia sering kesini."


Kini giliran Freddy yang memasang wajah bingung. Jadi yant mereka lakukan sejak 2 jam tadi hanya sia-sia?.


Pemuda itu pun tersenyum tak enak hati. "Kalau begitu saya permisi madam, mungkin informasi dari kenalan saya salah." Ujarnya berlalu begitu saja. 


Madam Ji menatap punggung Freddy yang menjauh dengan pandangan yang sulit diartikan. 


"Kasih tau pelanggan yang bernama kuro bahwa ada yang mencarinya." Ujarnya pada sang asisten yang segera di lakukan. 


Ia tak berbohong tentang tak ada pelanggan yang bernama Cana, karena semua pelanggannya selalu mempunyai nama samaran untuk memesan, yang tau nama asli dari sang pemesan hanya dirinya.


Freddy berjalan cepat kearah mobilnya dan duduk di depan kemudi. "Disana gak ada yang namanya Cana." Ujarnya saat baru duduk di kursinya. 


Perkataannya memuat beragam reaksi dari orang di mobil itu. Tentu Otlan memancarkan reaksi lega yang luar biasa. 


"Bohong! Gak mungkin gak ada Cana, udah jelas-jelas dia sering kesini." Ujar Kenzo tak terima. 


Freddy menatap pemuda itu nyalang. "Kalo lo gak percaya tanya aja sama semua orang disana, mereka gak ada yang kenal Cana, anjing! Ngotot banget." Emosi yang sejak tadi ia tahan pun meledak juga. 


"Oke! Bakal gue buktiin kalo emang Cana itu sering kesini!" Ujarnya pede dan turun dari mobil begitu saja. 


Freddy menghela nafas kesal melihat tingkah semena-mena teman satu kelas mereka. 


"Udahlah tinggalin aja dia, paling juga buat onar nanti di dalam, gue gak mau nanggung malu lagi kayak pas di bioskop kemaren." Ujar Deki yang sudah kesal bukan main. 


"Iya ayo pergi, gue laper." Otlan yang sejak tadi hanya diam pun bersuara. "Toh lo udah mastiin emang Cana gak pernah kesana kan? Ngapain di sini lama-lama."


"Iya, ayo pergi dah, tinggalin aja dia. Kesel banget gue, dari tadi bikin emosi mulu, mana jelekin sodara kembarnya terus ke Otlan." Oyie pun memberikan komentar. 


Tak ingin menimbang-nimbang, Freddy pun melajukan mobilnya kala Kenzo telah masuk ke dalam gedung. Ia juga lapar, karena sejak pulang sekolah mereka belum mengisi perut sama sekali.


"Mending lo tanyain ke kak Agra soal Cana, siapa tau dia tau Cana di mana, dan kenapa gak bales chat lo, Lan." Ujar Freddy sembari menyetir.


Oyie mengangguk setuju. "Iya, tanyain aja ke sahabatnya, dia pasti tau Cana dimana." Dukungnya dengan senyuman manis. 


"Iya dah, Lan. Harusnya kita ngikutin omongan Oyie aja, daripada ngikutin omongan orang nyebelin itu." Deki pun ikut memberi dukungan. 


Otlan hanya diam, haruskah ia mengechat teman crushnya itu? Namun ia sudah sangat khawatir karena sejak pemuda itu keluar daru rumah sakit, ia tak ada kabar sama sekali. 


"Iya deh gue chat dulu." Putusnya yang mendapatkan senyuman dukungan dari teman-temannya. 


Sedangkan disis Kenzo, pemuda itu sedang menanyai semua orang yang ada di sana dan bertanya soal Cana, namun orang di sana tak ada yang mengenal Cana hingga membuatnya kesal dan mengamuk karena berpikir mereka semua berbohong. 


Sedangkan sang madam sejak tadi terus memperhatikan hanya diam di tempat, ia pikir awalnya Kenzo adalah pelanggan setianya, namun ternyata bukan. Ia pun menyuruh asistennya untuk memanggil satpam dan mengusir Kenzo dari sana, karena sudah membuat kekacauan. 

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...