Otlan yang merasa bosan hanya berdiam diri di sofa sembari memakan cemilan yang ada di meja pun memilih untuk bangkit berdiri dan berjalan mendekati Cana yang kini sibuk dengan komputer di depan pemuda itu.
Diseretnya kursi depan meja Cana dan membawanya ke samping pemuda itu, duduk disampingnya, ingin melihat apa yang dilakukan oleh Cana sejak tadi hingga mengacuhkannya seperti ini. Tabel tabel dengan huruf dan kata yang tak ia pahami terlihat didepan layar.
Cana menoleh kearah Otlan, menatap pemuda itu dengan pandangan bertanya.
"Gue bosen." Keluh Otlan dengan bibir mencebik lucu.
Wajar saja jika dia bosan, keduanya sudah di dalam satu ruangan sejak sejam yang lalu dan yang Cana lakukan hanya fokus pada kerjaannya.
"Pekerjaan gue masih banyak," Ujar Cana acuh tak acuh. Tangannya pun sibuk menggulirkan kursor mouse ke bawah.
Otlan berdecih namun ia memilih untuk tetap tinggal di samping Cana yang kini sibuk mengetik.
"Orang tua lo kan kaya, Na, ngapain sih kerja segininya? Toh nanti lo juga pasti dapat warisan dari ortu lo juga,"
"Gak semua orang kerja karena kekurangan uang." Ujarnya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer.
Kening Otlan berkerut. "Terus buat apa?"
"Main diluar sana kalo bosen." Usirnya. Jelas sekali ia tak ingin menjawab pertanyaan Otlan.
Otlan mendengus sebal namun ia tak berkata apapun. Ia sangat menghargai privasi seseorang, jika orang itu tak ingin memberitahunya yasudah.
Ia pun kini hanya fokus menatap Cana yang sibuk dengan kerjaannya. Iya menatap Cana, Memperhatikan wajah Cana yang sedang fokus dengan seksama. Menurutnya Cana yang sedang fokus itu jauh lebih tampan dari biasanya. 'Pasti dia punya mantan banyak orang ganteng gini,' pikirnya random.
Cana kembali menoleh saat merasa diperhatikan, ia menatap Otlan dengan pandangan bingungnya. Seolah berkata ada apa?.
"Udah ciuman sama pacar berapa kali?" Celetuknya begitu saja.
Cana menatapnya heran. "Kenapa?"
"Pengen tau aja, gak boleh?" Tanyanya dengan wajah innocent.
"Gak pernah," Ujar Cana apa adanya.
"Bohong banget." Tuduhnya gak percaya. "Kemaren aja jago gitu cium guenya."
"Gak pernah punya pacar dan gak tertarik buat pacaran."
"Terus tertariknya apa? HTS-an?" Wajah Otlan berubah kesal.
"FWB." Jawaban yang sangat tak pernah disangka oleh Otlan.
Otlan terdiam, ia terkejut mengetahui fakta ini. Jadi apa kata abangnya dan Kenzo itu suatu kebenaran?.
"Oh gitu." Ujarnya lesu. Sepertinya sulit untuk menjadi pacar pemuda di sampingnya ini.
"Kenapa?" Tanya Cana tanpa meralihkan tatapannya dari layar.
"Gak papa, pantes aja lo jago."
Cana hanya diam tanpa ingin menjawab perkataan aneh Otlan.
"Tapi lo pasti punya tipe kan?" Tanya Otlan masih berlanjut dengan keasbunannya. "Maksud gue tipe yang mungkin bakal lo jadiin pacar, atau istri atau suami gitu."
Cana menoleh kearah Otlan yang juga menatapnya dengan mata bulat menggemaskan milik pemuda itu. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda di sampingnya. Namun melihat Otlan yang masih menunggu jawabannya ia pun memilih untuk menjawab sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.
"Gak ada." Ujarnya apa adanya. Bagaimana dia bisa punya tipe kalau dia sendiri tak tertarik dengan hal percintaan.
Otlan memanyunkan bibirnya, namun ia tak ingin menyerah begitu saja. "Lebih suka cewek apa cowok?"
Tangan Cana berhenti mengetik sejenak, ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Otlan dan tak lama ia kembali mengetik. "Cowok." Jawabnya serampangan.
Senyum Otlan pun merekah. Kini ia ada harapan untuk melangkah menjadi kekasih pemuda itu.
"Yang keker apa yang imut" Tanyanya dengan harap-harap cemas. Jika tipe Cana yang imut habis sudah harapannya.
"Dua-duanya." Masih dengan melanjutkan pekerjaannya.
Entah Otlan harus bersedih atau bahagia mendengar perkataan Cana.
"Yang lebih muda atau tua?" Masih mencari peruntungan ternyata dia.
"Muda,"
Senyum Otlan pun melebar. Ada kemungkinan untuk Cana menyukainya kan? Dia lebih muda, cowok dan di point ke dua juga dia masuk kok, kan Cana bilang suka dua-duanya.
"Harus jago ciuman gak?" Tanyanya dengan tampang yang sangat serius.
"Gak." Yah karena menurutnya tak terlalu penting.
Namun sangat berbeda dengan Otlan, ia semakin yakin bahwa dirinya ada kesempatan untuk mendapatkan Cana, dia masuk ke semua point yang ditanyakan.
"Mau ciuman gak, Na?"
Tangan Cana seketika berhenti mengetik, kepalanya pun menoleh kearah Otlan dengan wajah bingung. Ia benar-benar tak tau kemana arah berpikir pemuda ini.
"Ciuman yuk? Gue pengen belajar ciuman." Ajaknya lagi dengan wajah tanpa dosa.
"Lo gak denger omongan kakak lo apa tadi?" Tolaknya tak ingin menambah masalah.
"Abang gak akan tau." Dan Cana Speechless mendengar jawaban tanpa dosa pemuda itu. "Yuk ciuman." Sambungnya tak tau malu.
"Gue gak bisa." Tolaknya mentah-mentah.
Otlan membrengutkan bibirnya. "Kenapa?"
Cana pun menoleh kearah Otlan, ia menatap pemuda itu dengan wajah serius. "Gue gak bisa kalo cuman ciuman."
"Yaudah lebih,"
Cana semakin tak habis pikir. "Lo gak takut yang diomongin abang lo jadi kenyataan?"
"Enggak." Jawabnya tanpa dosa.
Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Otlan menatap Cana dengan pandangan penuh harap, sedangkan Cana merasa heran dengan tingkah Otlan yang berbeda dari biasanya.
"Lo lagi pengen?" Tanyanya yang dijawab anggukan tak tau malu.
"Iya."
Merasa sudah tak ada alasan untuk menolak Cana pun mendekat kearah Otlan, menangkup wajah tampan pemuda di depannya dan menatap mata Otlan lurus. "Yakin?" Tanyanya kembali memastikan.
Otlan mengangguk pelan, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Mereka tak pernah berada di kondisi seperti ini, biasanya Cana lah yang main nyerobot, namun kali ini berbeda, ia yang meminta lebih dulu.
Melihat wajah Cana yang semakin mendekat membuat Otlan pun menutup matanya, kedua tangannya mengepal erat, ia begitu gerogi.
Cana tersenyum tipis melihat wajah Otlan yang nampak gusar, di elusnya pipi Otlan yang lembut dengan ibu jari. Menatap wajah Otlan dari dekat membuatnya sadar satu hal, bulu mata pemuda itu sangat lentik, hidungnya yang bangir nampak begitu sempurna dengan wajahnya yang tegas namun imut.
Dikecupnya ujung hidung Otlan yang membuat pemuda lebih muda darinya membuka mata terkejut.
Kedua mata mereka saling berpandangan dengan jarak yang begitu dekat. Kedua bola mata yang sangat cantik dan menggemaskan milik Otlan entah kenapa terasa begitu indah dimatanya.
Cana pun menutup matanya dan mulai memagut bibir bawah dan atas Otlan bergantian.
Jantung Otlan seakan ingin meledak, debarannya terasa begitu kencang namun ia menyukainya. Matanya pun kembali menutup menikmati pagutan lembut yang Cana berikan.
Bibir Otlan meski kering namun terasa begitu lembut, membuatnya ingin merasakan lebih. Lidahnya pun mulai keluar dari peraduannya, ikut meramaikan ciuman mereka di sore itu.
Otlan mengerutkan keningnya merasakan lidah Cana yang ingin masuk kedalam bibirnya, dengan ragu-ragu pemuda itu pun mulai membuka bibirnya membiarkan lidah Cana masuk.
Sensasi aneh ia rasakan kala lidah Cana mulai menginvasi mulutnya, mengabsen giginya yang rapi dan mengelus langit-langit bibirnya. Rasa geli namun nikmat membuatnya meloloskan sedikit erangan yang terpendam. Lidah tanpa tulang itu tak berhenti disana, ia dengan berani mulai mengelus lidah Otlan yang hanya diam dan mulai mengajaknya untuk bertarung. Otlan yang baru pertama kali hanya mengikuti dengan gerakan ragu-ragu.
Tangan kanannya yang tadi berada di pipi Otlan beralih ke tengkuk pemuda itu, mengelusnya dengan lembut. Tangan kirinya pun menarik pinggang Otlan untuk berganti posisi menjadi duduk diatas pahanya yang segera dituruti dengan senang hati tanpa melepaskan ciuman mereka.
Otlan duduk menyamping di paha Cana dengan kedua tangan yang meremat baju Cana. Air liur entah milik siapa menetes di dagu Otlan. Ciuman keduanya semakin intim meski sesekali ciuman mereka terlepas karena Otlan yang kehabisan oksigen, namun tak ada satu menit berikutnya bibir yang sudah sedikit bengkak kembali dicium dengan buas.
Erangan tertahan pun semakin keluar dari bibir Otlan, karena ciuman Cana yang semakin agresif dan menuntut. Tangan pemuda itu tak tinggal diam, tangan kanannya masuk kedalam kaos polos yang Otlan kenakan, mengelus absnya dengan lembut dengan terus naik keatas, mencari niple kecil milik yang lebih muda untuk dimainkan.
"𝘌𝘯𝘨𝘩~" Lenguhan terkejut tak mampu ditutupi, tubuhnya merinding merasakan elusan disertai cubitan kecil di pentilnya. Rasa geli dan enak yang ia rasakan membuatnya begitu terbuai. Perlahan namun pasti kontolnya pun mulai bangun dari tidur panjangnya.
Kedua insan didalam ruangan itu terus melakukan hal yang tak senonoh tanpa takut jika ada orang yang masuk kedalam ruangannya.
Dengan terpaksa Cana melepaskan ciumannya kala Otlan kembali kehabisan nafas entah sudah yang ke berapa kali tanpa melepaskan tangannya dari niple Otlan. Tatapan matanya yang buas terus memperhatikan Otlan yang sedang meraup oksigen sebanyaknya.
Penampilan pemuda itu sudah tak serapi tadi, bibir yang bengkak akibat cumbuannya dan air liur mereka yang menjadi satu menetes di dagu Otlan disertai mata yang sayu membuat pemuda itu begitu menggoda.
Melihat jakun Otlan yang naik turun dengan cepat membuat Cana sangat tertarik. Tanpa aba-aba Cana pun mencium jakun Otlan dan menghisapnya gemes.
Kepala Otlan sontak mendongak dan kedua tangan Otlan Otomatis bergerak keatas, meremat bahu lebar orang yang disukai, melampiaskan rasa frustasi yang kini menderanya.
--------
Spoiler selesai


