"Mau makan apa?" Tanya Cana begitu mereka telah sampai ke tempat makan langganan Cana dan memilih tempat duduk untuk mereka singgahi.
"Samain aja," Kata Otlan sembari duduk nyaman di kursi kayu panjang. Ia tak mengambil pusing soal makananan, karena makanan yang dipesan Cana biasanya enak dan sesuai dengan seleranya. "Pinjem hp lo dong Na, data gue abis." Sambungnya dengan cengiran lebar.
Cana pun memberikan hpnya ke Otlan dan segera berjalan menjauh dari sisi Otlan dan masuk kedalam cafe yang bernuansa alam (karena tadi mereka berada di luar Cafe) untuk memesan makanan mereka.
Otlan segera membuka hp Cana untuk menghidupkan 𝘏𝘰𝘵𝘴𝘱𝘰𝘵 di Hp itu dan meletakkannya begitu saja di depannya setelah tersambung.
Cana menatap papan menu diatas untuk memilih menu yang mungkin disukai oleh Otlan, di depannya sudah ada beberapa orang yang juga mengantri.
Sedangkan Otlan sibuk melihat video-video lucu dihpnya. Tanpa sengaja ia melirik kearah Hp Cana yang menyala karena ada notifikasi pesan, tangannya dengan cekatan mengambil kembali hp Cana dan melihat notifikasi sms dari sang ayah (memastikan ia tadi tak salah membaca).
'𝘊𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪? 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢?' Tanyanya dalam hati, perasannya menjadi tak menentu sejak membaca notif itu. Wajahnya seketika berubah keruh.
Cana yang telah selesai memesan pun berjalan keluar dari Cafe dengan membawa papan nomor berisi antrian makanan mereka. Dengan santai pemuda itu pun duduk di depan Otlan.
Otlan menatap Cana dan memberikan Hp pemuda itu tanpa ada senyuman sama sekali.
Cana yang memang acuh tak acuh terhadap sekitar tak menyadari perubahan mood Otlan yang terjun bebas, ia dengan santai memainkan hpnya.
"Lo mau pergi?" Tanya Otlan lirih, melihat Cana yang tak perduli membuatnya bertanya juga.
Cana mendongak menatap Otlan. Kepalanya pun mengangguk santai.
Melihat anggukan pemuda itu semakin membuat hatinya merasa tak nyaman. "Kemana?"
"Otoa,"
"Ngapain?"
"Ngurus cabang bokap yang mau bangkrut."
"Berapa lama?." Hatinya semakin berdentum tak nyaman. Ia takut akan sesuatu yang belom pasti.
"Kurang lebih sebulan,"
"Lama banget." Keluhnya, namun tak ayal hatinya sedikit merasa lega, ia pikir Cana akan pindah ke sana untuk mengurus bisnis keluarganya.
Cana tak menjawab keluhan Otlan, karena ia pun tak tau harus menjawab apa. Karena baginya sebulan itu sebentar.
"Kapan berangkatnya?." Otlan merasa jadi pewawancara jika bicara dengan Cana, namun pemuda itu tak akan mau membuka mulut jika tak ditanya. Sedikit sebal namun mau bagaimana lagi.
"Senin besok siang"
"Tiga hari lagi dong Na?" Keluh Otlan dengan kening mengkerut dan bibir maju beberapa senti. Pertanda ia tak suka. Namun terlihat menggemaskan untuk orang lain yang melihat.
"Iya..." Ujarnya bingung dengan reaksi Otlan sangat berbeda dengan Agra dan kenalannya yang lain.
Otlan mencebikkan bibirnya gemas. Ia terdiam beberapa saat karena merasa kesal.
Cana yang tak tau apa salahnya hanya diam dan sesekali melirik Otlan yang masih 𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘦𝘬.
"Kenapa?" Tanya Cana yang tak kunjung paham dengan ke 𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘦𝘬𝘢𝘯 Otlan, pemuda itu menatap Otlan dengan wajah 𝘪𝘯𝘯𝘰𝘤𝘦𝘯𝘵.
Otlan tak lantas menjawab, pemuda itu menghela nafas berat. "Lo ngajak gue kesini karena mau pergi?" Tanya Otlan 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵, Berharap jawabannya iya. Namun gelengan kepala pemuda itu membuat Otlan semakin kesal.
"Gue emang dari kemaren pengen 𝘮𝘦 𝘵𝘪𝘮𝘦 ke sini,"
"Terus ngapain lo ngajakin gue kalo gitu?" Wajahnya sudah seperti orang yang siap ingin melahap pemuda itu bulat-bulat.
"Karena lo lagi bete tadi." Jawaban yang terlampau jujur.
Otlan mendengus kesal. "Jadi lo gak ada niatan ngajak gue ke sini buat ngasih tau lo bakal pergi sebulan gitu?" Cana mengangguk bingung. "Yang artinya lo bakal ninggalin gue sebulan tanpa ngomong apapun gitu?" Lagi-lagi Cana mengangguk.
Ingin rasanya Otlan mengamuk kesal.
"Lo gak inget sama apa yang gue omongin kemaren Na? Kasih tau gue, susah banget ya buat lo?"
Cana terdiam, ia kini tau apa salahnya. Dia bahkan lupa jika Otlan memintanya untuk mengabari jika ingin pergi.
Keduanya terdiam. Cana yang tak ingin membela diri meski ia tak yakin dirinya 100% salah karena tak pernah menjanjikan akan mengabari pemuda itu. Dan Otlan yang kesal karena merasa dirinya tak dianggap penting oleh Cana.
Cana menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia melirik Otlan yang sibuk bermain ponsel dan mengabaikannya. Ingin rasanya dia meminta tolong pada Agra apa yang harus dia lakukan sekarang agar Otlan tak lagi ngambek, namun pemuda itu sedang sibuk menggarap tugasnya, ia tak sampai hati harus mengganggu untuk sesuatu yang tak begitu penting.
"Gue minta maaf." Ujarnya setelah berpikir cukup lama. "Gue gak terbiasa ngasih tau siapapun, Otlan, ini hal yang baru buat gue, tapi gue bakal selalu ngabarin lo kalo udah sampe sana," Sambungnya dengan wajah serius.
Otlan hanya meliriknya tanpa arti.
Cana menggaruk rambut belakangnya yang tak gatal. Kepalanya menoleh kesamping, dan disana ia melihat seseorang yang sedang membujuk sang lawan duduknya dengan meraih tangan gadis itu dan terus meminta maaf. Ia tak tau itu bakal berhasil dengan Otlan atau tidak, namun satu hal yang ia tau, ia harus melakukanya jika tak ingin di diamkan terus.
Dengan canggung Cana mengulurkan tangannya dan meraih tangan Otlan yang berada diatas meja dengan hp di genggaman pemuda itu. Dengan canggung ia mencoba menggenggam tangan Otlan dan menatap wajah pemuda itu yang terkejut akan sikapnya. "Maaf," Hanya itu yang ia ucapkan, namun ia bersungguh-sungguh dalam berucap.
Otla terdiam kaku. Tak pernah ia bayangkan jika Cana akan melakukan 𝘴𝘬𝘪𝘯𝘴𝘩𝘪𝘱 dengannya selain hal yang berhubungan dengan ranjang.
Kepalanya mengangguk beberapa kali dengan senyuman indah terukir di sana. Katakanlah ia bodoh, hanya begini saja ia sudah luluh.
Cana pun tersenyum lebar dan semakin mengeratkan genggaman tangan mereka yang dibalas genggaman oleh Otlan, tak ingin genggaman mereka terlepas begitu saja.
"Tapi gue punya 1 syarat." Ujar Otlan dengan wajah serius.
"Apa?"
"Sebelum lo pergi, lo harus sama gue terus, pokoknya seharian harus sama gue."
Cana tersenyum lembut. "Iya," Dan hal itu semakin membuat Otlan tersenyum bahagia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar