Angin berhembus pelan di salah satu kota Alana, sinar mentari yang sangat terik pun perlahan menghilang tertutup oleh kabut hitam membuat suasana menjadi sangat sejuk.
Cana menoleh kearah jendela dan melihat dunia luar yang sedang mendung, daun pohon di halaman rumahnya pun bergoyang-goyang mengikuti arah angin, namun pemuda itu tak perduli dan kembali menatap dokument di pangkuannya.
Tak lama suara gemuruh dan petir pun terdengar kencang dengan tiba-tiba diiringi dengan turunnya air dari langit, mengagetkan seseorang yang sedang tertidur lelap di lantai atas.
Belum genap nyawanya terkumpul, suara gemuruh kembali terdengar, kali ini jauh lebih kencang dari sebelumnya diikuti kilatan petir yang menyeramkan, seakan siap untuk melukai apapun.
"AHHH!" Pekik Otlan terkejut dan takut secara bersamaan, pemuda itu pun sontak keluar kamar dengan berlari tanpa memakai alas kaki, menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Cana menoleh kearah lantai diatasnya kala mendengar teriakan Otlan disusul suara berisik langkah kaki, ia tak langsung bangkit dari sofanya, ditaruhnya dokument ke meja dan menatap tangga yang kini terdengar riuh, langkah kaki Otlan yang sedang berlari.
Tak lama Otlan telah sampai di lantai 1, pemuda itu pun terus berlari hingga sampai di sofa tempat Cana duduk dan segera menghambur di pangkuan pemuda itu, memeluk lehernya erat.
Cana yang kebingungan hanya diam di sofa membiarkan Otlan duduk di pangkuannya sembari memeluknya erat.
Gemuruh guntur dan petir kembali terdengar, membuat Otlan semakin merapatkan tubuh mereka, badannya sedikit bergetar ketakutan.
Meski ia tak begitu memahami situasi yang terjadi, namun Cana berinisiatif untuk menepuk punggung yang lebih muda beberapa kali berupaya menenangkan. Hanya ini yang ia tau cara untuk menenangkan seseorang, karena sang paman yang dulu memeluknya dan menepuk punggungnya lembut kala ia sedang ketakutan. Tak ada kata penenang atau kata-kata manis lainnya, hanya pelukan dan elusan di punggung dikala guntur dan petir semakin aktif mengeluarkan suaranya.
Setiap guntur bergemuruh setiap itu pula Otlan terkejut dan memeluk Cana semakin erat, menyembunyikan wajahnya di pundak yang lebih tua dan menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara ketakutan, meski beberapa kali suara ketakutannya terlepas tanpa sengaja saat suara petir menyambar kencang.
Cana melirik kearah Otlan yang sedang ketakutan, ia kini tau bahwa pemuda itu sedang ketakutan. Dengan susah payah diambilnya remot gorden di meja samping berkas-berkas pekerjaannya dan membuat gordennya bergerak sendiri untuk menutupi semua kaca di rumah itu. Meski tak bisa menghilangkan suara petir dan gledek tapi setidaknya pemandangan mengerikan di luar tidak terlihat.
Entah sudah berapa lama mereka berdiam dengan posisi saling memeluk di ruang TV yang terang karena semua lampu telah menyala. Dan kini suara gledek serta petir sudah tidak lagi terdengar, hanya sesekali kilatnya masih menampakan keperkasaannya.
"Masih takut?" Tanya Cana pelan. Tak ingin membuat Otlan semakin tertekan.
Mendengar suara Cana mengalun lembut menyadarkannya akan satu hal, bahwa kini yang ia peluk bukanlah sang abang seperti hari biasanya, melainkan seseorang yang sangat ia sukai.
Dengan cepat Otlan melepaskan pelukannya dan berganti duduk di samping Cana, suasana canggung terasa, meski hanya Otlan yang merasakannya sedangkan Cana merasa biasa saja.
"Maaf kak tiba-tiba meluk gini," Ujarnya tak enak hati, ia pun takut Cana merasa risih dengan tingkah lakunya meski ia tak sengaja melakukan hal ini. Rasa takutnya tak bisa membuatnya berpikir jernih.
Cana tersenyum tipis, entah kenapa melihat sisi lain Otlan selalu bisa membuatnya senang, karena ia merasa pemuda itu membutuhkan perlindungannya. Dielusnya rambut Otlan yang terjuntai karena kepalanya menunduk dalam. "Mau makan?" Tanyanya mengalihkan topik obrolan. "Pasti laper kan habis tidur tadi." Sambungnya sembari menyisir rambut Otlan kebelakang.
Otlan menatapnya malu-malu, ia ingin melihat reaksi Cana dan wajah pemuda itu nampak biasa saja, sama seperti hari biasanya tanpa ada perubahan apapun, seolah tak perduli dengan tindakannya tadi.
"Mau makan?" Tanyanya lagi kala pandangan mereka bertemu.
"Makan apa?" Tanyanya berusaha bersikap biasa aja, mengimbangi tingkah Cana.
"Mau makan apa? Biar gue masakin."
"Lo bisa masak?" Tanyanya dengan mata penuh ingin tau.
Cana mengangguk. "Yang simple aja."
Otlan tersenyum manis, "Mau nasi goreng seafood dong. Bisa?" Dengan wajah penuh harap.
"Bisa," Ujar Cana dan berdiri dari sofa, berjalan kearah pantri yang rapi dengan perlengkapan yang lengkap.
Otlan mengikutinya berjalan di belakang, bahkan saat pemuda itu mondar-mandir mengambil bahan-bahan di kulkas pun ia ikuti dengan wajah penuh senyum.
Cana menatap Otlan yang juga menatapnya. "Lo duduk aja," Usirnya halus.
Otlan menggeleng. "Nanti kalo tiba-tiba ada guntur lagi gimana?"
Perkataan Otlan tak ia sanggah lagi, pemuda itu hanya diam dan melanjutkan memotong-motong bahannya dengan cekatan. Sedangkan Otlan terus menatap semua pergerakannya dengan mata berseri. Ia tak menyangka Cananya bisa sesempurna ini. Ia tatap wajah Cana yang sedang fokus memotong, senyumnya pun nampak sangat memuja pemuda itu. 'ππ¦π£π¦π―π¦π³π―πΊπ’ πΊπ’π―π¨ π₯πͺπ’ π¨π’π¬ π£πͺπ΄π’ πͺπ΅πΆ π’π±π’ π΄πͺπ©?' batinnya bangga.
Cana sama sekali tidak merasa terganggu dengan adanya Otlan di sampingnya, pemuda itu pun memasak dengan cekatan, hingga kini nasi goreng seafood pesanan Otlan telah siap dihidangkan.
Bau harum dari masakan Cana membuat cacing di perut Otlan berbunyi nyaring.
Cana menatapnya dengan wajah geli sedangkan Otlan tersenyum tanpa dosa. "Ayo makan." Ujarnya membawa 2 piring nasi goreng seafood ke meja.
Otlan dengan semangat mengikuti Cana di belakang dan duduk di samping pemuda itu, mulai melahapnya dengan excited, ingin tau rasa masakan yang dibuat oleh kesayangannya ini.