Jumat, 23 Mei 2025

Vc (nonohm)

 


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan pemuda dengan balutan handuk di pinggang dan handuk kecil di leher sebelum ia usak rambutnya yang basah habis shampoan. Ia pun melangkah kearah almari di ruangan itu sebelum suara dari handphone menghentikan langkahnya, membuatnya beralih berjalan kearah meja kecil di samping ranjang. Namun sayangnya sebelum ia berhasil mengangkat panggilan itu, panggilannya telah lebih dulu mati.

Keningnya mengkerut melihat banyaknya panggilan tak terjawab, tanpa berpikir panjang ia pun segera mendial nomor itu kembali dan segera diangkat oleh sang lawan setelah mengubahnya menjadi panggilan video call.

Cana tak ambil pusing, ia pun segera menyetujuinya dan melihatkan wajah Otlan yang nampak sedang kesal. "Ada masalah?" Tanyanya sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah.

"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘪?" Tanya Otlan yang mengacuhkan pertanyaanya.

"Iya," Jawab Cana singkat. "Ada apa?" Tanyanya lagi, memastikan tak ada masalah serius yang menimpa pemuda itu.

"𝘎𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘱𝘢, 𝘬𝘪𝘳𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢," Ujar Otlan apa adanya.

Cana mengangguk singkat, pemuda itu pun meletakkan hpnya di nakas dan menyenderkannya di dinding agar tak jatoh, yang menampilkan ruangan kamar tempat ia tidur belakangan ini. Sedangkan ia berjalan kearah almari, melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Keduanya diam, Cana yang sibuk mencari baju untuk ia kenakan dan Otlan yang bingung harus berbicara apa.

"𝘕𝘢," Panggil Otlan yang sudah bosan dengan keheningan.

"Hmm?" Sahutan tak jelas Cana berikan, pemuda itu masih asik memilih baju untuk ia bawa tidur malam ini.

"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘳𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘖𝘵𝘰𝘢?"

Tangan Cana yang ingin mengambil kaos oblong untuk ia kenakan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Otlan, namun tak lama ia melanjutkan kegiatannya. "Iya."

Otlan memberungutkan bibirnya mendengar jawaban Cana. "𝘔𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘰 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢."

"Iya," .

Otlan berdecak kesal. "𝘉𝘦𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘦𝘮-𝘤𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢?"

Setelah memakai baju dan celananya, pemuda itu pun kembali berjalan kearah hpnya berada, duduk di tepi ranjang. "Cem-ceman apa?" Ia tak paham dengan bahasa yang Otlan layangkan.

"𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘰 𝘴𝘶𝘬𝘢!"

Cana mendengus. Darimana ia mendapatkan orang yang dia suka kalau kerjaanya setiap hari hanya menatap kertas dan memutar otak agar ia bisa membuktikan kepada sang papi bahwa ia berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna.

"Kamu gak belajar?" Tanya Cana mengalihkan topik.

Otlan menaikkan alisnya. "𝘒𝘰𝘬 𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘩𝘪𝘯 𝘵𝘰𝘱𝘪𝘬? 𝘉𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘺𝘢" Tanpa ingin menyembunyikan rasa ketidaksukaanya.

"Di sini terlalu sibuk, gimana bisa nemuin orang di suka?" Cana memilih menjawab, meski sebenarnya ia malas.

"𝘉𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨!" Masih tak percaya ternyata.

"Banyak yang harus dibenahi di sini, gak ada waktu buat nyari orang yang disuka," Ujarnya apa adanya. Bahkan hanya untuk bersenang-senang di club malam pun ia tak kepikiran.

Ah ngomong-ngomong sudah berapa lama ia tak melakukan hal kesukaanya itu? Sepertinya sudah terlalu lama, akhir-akhir ini ia hanya melakukannya dengan Otlan, dan tak ada kepikiran untuk melakukannya dengan orang lain.

"𝘖𝘰𝘰𝘩𝘩," Meski masih sedikit tak percaya.

"Kamu gak belajar?" Tanyanya lagi yang dijawab gelenga kepala oleh Otlan.

"𝘔𝘢𝘭𝘦𝘴, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳-𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨,"

"Kenapa gak bilang? Udah periksa?" Entah kenapa ia khawatir pada pemuda itu.

Lagi-lagi Otlan menggeleng kecil. "𝘊𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘰𝘬, 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨."

"Mual gak?"

Kali ini pemuda itu mengangguk. "𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘰𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘩, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘩,"

"Coba besok periksa,"

"𝘔𝘢𝘭𝘦𝘴 𝘢𝘩."

"Mau periksa sama Agra?"

"𝘎𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶. 𝘊𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢, 𝘮𝘢𝘭𝘦𝘴 𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢."

Otlan adalah orang yang keras kepala. "Yaudah, tapi kalo masih gitu terus sampe aku pulang, kamu harus mau periksa."

"𝘚𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘨𝘢𝘬? 𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶,"

"Iya,"

"𝘐𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢?"

"Iya sama aku periksanya."

Dan senyuman Otlan mengembang. "𝘖𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘢𝘭 𝘺𝘢,"

Keduanya terdiam, Cana yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk dan Otlan yang menatap Cana dengan pandangan tergoda, entah kenapa ia tiba-tiba sangat ingin disentuh oleh pemuda yang lebih tua darinya itu. Ia gigit bibirnya sensual. Gerakan yang Cana lakukan pun tak aneh-aneh, gerakannya sama seperti orang kebanyakan saat mengeringkan rambut, namun entah kenapa ia begitu tergoda.

"𝘕𝘢," Panggil Otlan pelan, nafasnya sudah memburu, bahkan tubuh bagian selatannya sudah berdiri dengan sendirinya.

"Hmm?" Hanya gumaman yang tak jelas Cana berikan untuk menjawah panggilannya.

"𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 VCS 𝘣𝘦𝘭𝘰𝘮?"

Pertanyaan Otlan membuat tangan Cana berhenti bergerak, kepalanya menatap layar hp dan menatap Otlan dengan pandangan yang sulit diartikan.

Otlan disebrang sana menanti jawaban Cana dengan menahan malu. Bantal yang ia peluk menjadi sasaran giginya untuk ia gigit. Ia tak pernah menyangka dirinya akan seberani ini.

"Belum,"

"𝘔𝘢𝘶 𝘯𝘺𝘰𝘣𝘢 𝘨𝘢𝘬?" Sudsh terlanjur malu, ia lebih memilih untuk melangkah lebih jauh.

"Kamu lagi pengen?"

Otlan mengangguk malu-malu, tangannya pun mengarahkan kearah selangkannya yang sudah menegak dibalik boxer yang ia kenakan. "𝘕𝘪𝘩 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘰 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢," Sepertinya urat malunya sudah terputus.

Cana menelan saliva susah payah. Baru saja tadi mikir sesuatu hal yang jorok, kini Otlan sudah datang menawarkan sesuatu yang sangat menggiurkan. Yah meski ia tau ia tak akan sepenuhnya puas.

"Lepas celanamu, aku pengen lihat udah segede apa."

Otlan menaruh hpnya di ranjang begitu saja dan dengan grusak-grusuk ia melepas celananya, setelahnya ia pun kembali mengambil hpnya dan memperlihatkan penisnya yang sudah mengacung sempurna.

Cana menjilat bibir bawahnya. Andai saja jarak mereka dekat, ia sudah pasti menghampiri pemuda itu dan melakukan hal-hal yang ia sukai di sana, membuat Otlan untuk terus mengerang kenikmatan dan menyebut namanya dengan penuh gairah. Ahh sial, bagaimana ia bisa begitu terangsang hanya dengan begini saja? Semua hal tentang Otlan memang selalu bisa membuatnya gila.

"𝘗𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘦𝘮𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢,  𝘕𝘢. 𝘈𝘩𝘩𝘩." Ujar Otlan yang sudah menggerakkan tangannya di penisnya maju mundur. Sialan! Sisi binal Otlan sudah keluar sepenuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...