"Kenapa?" Tanya Cana sedikit heran melihat Otlan yang menggerutu sendiri sembari memukuli kepalanya.
Otlan menggeleng keras dan tersenyum aneh. Cana melihatnya semakin merasa heran, namun ia tak ingin memberikan komentar apapun.
"Habis ini mau kemana?" Tanya Cana memilih untuk tak melanjutkan obrolan mereka tadi, ia sudah sedikit lelah menemani Otlan yang banyak tenaga untuk mengelilingi mall, tapi tiap ditanya mau beli apa pemuda itu hanya diam dan terus melihat sekitar, seolah dia pun tak berniat untuk membeli.
"Ke taman aja yuk." Ajaknya setelah terdiam cukup lama. Sebenarnya iapun tak tau harus kemana lagi. Yang ia tau hanya ia ingin pergi bersama Cana seharian.
"Panas Otlan, ke tempat yang lain aja."
Otlan mencebikkan bibirnya gemas. Selalu saja ditolak jika ia mengajak ke taman. Entah ada apa pria itu dengan taman hingga se anti ini dengan taman.
"Lo tuh kenapa sih kalo diajak ketaman selalu gak mau?"
Cana terdiam, tak ingin menjawab.
Otlan berdecih, ia pun berjalan lebih dulu karena kesal dengan Cana yang seringn saja menjadi bisu ketika ditanya sesuatu. Sebenarnya ia bisa bertanya dengan Agra, namun ia ingin tau dari Cana bukan orang lain.
Tanpa berkata apapun Cana berjalan di belakang Otlan, ia biarkan Otla merasa kesal dengannya tanpa ingin menjelaskan sesuatu hal yang bisa menimbulkan trauma untuknya. Nyatanya bayangan masa kecilnya masih terekam jelas ketika ia tanpa sengaja bersinggungan dengan hal yang membuatnya teringat hal "𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶".
Otlan menoleh kebelakang, melihat Cana yang masih mengikutinya berjalan, ia pun menghembuskan nafas kesal, ia harus terima kenyataan kalau Cana memang seperti ini.
"Yaudah ayo ke hotel. Gue pengen tidur siang." Ujarnya masih dengan wajah cemberut.
"Gue anterin pulang." Tutur pemuda itu yang membuat Otlan mendelik ganas.
"Gak mau!," Tolaknya mentah-mentah. "Lo baru janji sama gue kalo bakal nemenin seharian ya Na!!"
"Ke rumah gue kalo gitu," Putusnya mencari jalan tengah.
"Gak mau nanti ketemu Kenzo."
"Rumah gue, bukan rumah ortu." Jelasnya singkat.
"OOohh," Ia berpikir sejenak. "Ayok ke rumah lo kalo gitu." Sambungnya, ia sedikit penasaran dengan rumah Cana, ia ingin tau kemana pemuda itu saat tak bisa dihubungi.
Meski Cana malas membawa orang untuk bermain ke rumahnya, bahkan Agra teman masa kecilnya saja selalu ia tolak jika ingin ikut kerumahnya, namun ia juga sudah lelah jika harus berkeliling dengan Otlan, tenaganya terasa diserap.
Dan rumahnya terasa jauh lebih baik ketimbang hotel, karena jika mereka di hotel adegan selanjutnya pasti tak jauh dari hal yang menyenangkan. Ia tak ingin membuat pemuda itu semakin terperosok lebih jauh, meski awalnya dia lah yang membuat pemuda polos itu menjadi seperti ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar