Cana menjalankan motornya dengan keecepatan tinggi, karena sebentar lagi sudah waktunya jam pulang sekolah, ia tak mau membuat Otlan semakin menunggu lama.
Bel pertanda pulang pun berdengung nyaring, semua anak mulai memasukkan buku pelajaran kedalam tas, bersiap untuk pulang, termasuk kelas 2A, tempat Otlan dan Kenzo berada.
Sang guru pun lantas mengakhiri sesi belajarnya dan tak lupa untuk memberikan pekerjaan rumah sebelum keluar dari kelas.
Murid-murid pun segera keluar kelas saat sang guru telah keluar, berdesakan untuk bisa keluar lebih dulu.
Otlan yang biasanya memilih sepi baru keluar kaliin pun ikut berdesakan dengan banyak siswa/siswi, membuat ketiga temannya saling tatap namun mereka pun ikut mengantri di belakang (malas untuk ikut berdesakan).
Entah apa yang membuat pemuda itu begitu terbu-buru keluar kelas, ketika melihat lift banyak yang mengantri Otlan lebih memilih untuk menuruni tangga dengan sedikit berlari kecil. Ketiga temannya yang mengikutinya dari belakang menjadi terheran-heran dengan tingkah laku sang teman, tak hanya itu, Otlan pun berlarian di koridor, melewati lorong demi lorong agar bisa segera keluar dari sekolah, namun sekolahan tempat ia menimba ilmu sangatlah besar, belum sampai lobby tenaganya sudah lebih dulu habis.
Freddy yang melihat Otlan berhenti dan berganti menjadi berjalan tertawa kecil.
"Si Otlan kenapa ya?" Tanya Oyie penasaran.
"Lagi di tungguin yang," Ujar Freddy yang membuat kedua orang di sebelahnya menatapnya penasaran, namun tak lama Oyie pun memilih untuk berjalan cepat mengikuti Otlan tepat di belakang, ia sudah terlanjur kepo dengan crush sang teman.
"Gak mau ngikut kayak Oyie?" Tanya Freddy menatap sang pacar yang masih setia disampingnya.
Deki terlihat bimbang, namun tak lama pemuda itu pun ikut berjalan cepat menyusul kedua temannya yang lain.
Freddy hanya tertawa melihat tingkah kedua orang itu, namun ia diam-diam penasaran, bagaimana reaksi mereka melihat crush Otlan nanti? Dan bagaimana reaksi mahasiswa serta mahasiswi yang ada disana saat melihat seseorang yang wajahnya sama seperti seseorang yang sekolah di sana. Ia tak sabar melihat huru-hara yang akan terjadi.
Cana terus melajukan motornya dengan keecepatan lumayan tinggi, menyalip berbagai kendaraan yang menghalangi jalannya tanpa takut, hingga saat akan sampai di sekolahan Otlan, lajuan motornya pun perlahan menurun dan berhenti tepat di depan Otlan yang sedang berdiri di samping trotoar dengan ketiga temannya.
Para mahasiswa/mahasiswi yang berada di luar menatap Cana dengan penasaran dan mulai menggosip dengan teman-temannya saat melihat Cana sedang berbicara dengan Otlan.
Dibukanya helm kaca helm fullface yang ia kenakan hingga hanya terlihat bagian matanya saja sebelum bicara. "Ini gue Cana, mana HP gue?" Tanyanya tanpa berbasa-basi.
Oyie, Deki dan Freddy menatap Cana dengan pandangan yang berbeda, Deki serta Oyie menatapnya penasaran dan sedikit kecewa karena tidak bisa melihat rupa crush sang teman.
Otlan pun segera mengangsurakan HP Cana yang sejak tadi ia pegang.
Dengan segera Cana pun mengambilnya namun Otlan dengan sigap menjauhkannya Dari tangan Cana, membuat kening pemuda yang Masih mengenakan helm itu mengerenyitkan kening.
Otlan pun mendekati Cana dan mencondongkan tubuhnya ingin berbisik disamping helm Cana.
Semua orang yang melihat hal itu pun sangat terkejut, apalagi Kenzo yang baru tiba Dan langsung mendapatkan pemandangan tak menyehatkan seperti itu. Kedua tangannya pun mengepal erat.
"Anak buah lo di tangkep sama polisi," ujar Otlan berbisik yang membuat Cana membulatkan mata terkejut.
Ia tak percaya begitu saja dan segera mengambil HP-nya di tangan Otlan dengan cepat, hingga membuat Otlan terkejut dengan kegesitan tangan pemuda itu. Cana pun segera membuka HP-nya dan menemukan notifikasi dari Moren.
"Thanks," ujarnya dan mulai menyetarter kembali motornya, bersiap kembali malju di jalan raya.
Otlan yang tau Cana ingin segera pergi pun memegan lengan Cana dengan kedua tangannya, entah kenapa ia seakan tak ingin cepat berpisah dengan pemuda di depannya.
Cana menatapnya heran.
"Gue ikut," Ujar Otlan tegas, matanya pun menyiratkan kesungguhan.
Hanya dua kata namun mampu membuat Cana sedikit tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Ngapain?"
Otlan tak lantas menjawab, ia pun tak tau kenapa ingin ikut.
Cana mendesah berat dan melepaskan tangan Otlan dari lengannya, "Gue mau ngurus sesuatu bukan mau main, Otlan,"
"Gue tau." ujarnya keras kepala dan kembali menggenggam lengan Cana erat. "Siapa tau gue berguna di sana,"
Cana awalnya tak ingin membawa serta Otlan, namun melihat tatapan pemuda itu yang begitu bersungguh-sungguh membuatnya luluh. "Naik," ujarnya tak ingin memperpanjang masalah.
Otlan pun dengan cepat naik keatas jok motor di belakang Cana yang memang tinggi, namun setelah duduk ia bingung harus berpegangan dengan apa, karena joknya yang di desain menurun.
Freddy menatap Otlan dengan pandangan tak percaya, bukannya sang teman Masih denial? Kok sekarang tiba-tiba menjadi agresif seperti ini, Oyie dan Deki pun sama herannya, namun mereka memilih untuk diam, ingin mengamati tindak-tanduk sang teman lebih jauh.
Tanpa menunggu lama, Cana pun segera menjalankan motornya dengan keecepatan tinggi membuat Otlan sontak memeluk pinggang Cana erat, Dan tubuh yang menempel karena tubuhnya secara sepontan menurun saat motor melaju.
Kenzo melihat itu semua, dan spontan kakinya pun menendang pager besi sekolah membuat kakinya berdenyut menyakitkan.
Semua orang yang tadi menatap kearah Otlan penasaran berubah menatap Kenzo, melihat tingkah Kenzo yang sedang kesakitan sembari memukul pager besi di samping pemuda itu. Hal itu pun menjadi bahan perbincangan semua orang di sana. Bercocoklogi dengan liar.
Motor terus melaju dengan kecepatan tinggi, Otlan yang tidak terbiasa menaiki motor apalagi dengan kecepatan yang tinggi membuatnya takut, alhasil selama perjalanan ia hanya menutup matanya ketika berada di belokan ataupun menyalip kendaraan besar. Jantungnya berpacu dengan tak normal. Tangannya pun memeluk pinggang Cana dengan erat.
Saat sampai di tempat tujuan Cana pun menghentikan motornya di sisi lain trotoar tempat markasnya, dan benar saja ia melihat para polisi disana entah sedang mencari apa. Otlan pun ikut melihat kearah Cana menatap dan ia hanya diam bertanya dalam hati tentang bangunan di sebrang.
Cana pun kembali melajukan motornya dengan kecepatan biasa kearah bengkel yang tak jauh dari markasnya, saat sampai di bengkel pun ia tak lantas masuk kedalam seperti hari biasanya, ia melihat sekitar bengkel dan mencoba melihat kedalam apakah ada polisi disana, dan untungnya disana tak ada satupun polisi yang menjaga, kemungkinan besar bisnis bengkelnya menyatu belum tercium oleh kepolisian.
Ia pun turun dari motor, ingin berjalan masuk, namun melihat Otlan yang Masih duduk nyaman di atas motor membuatnya menatapnya bingung."Kenapa?"
"Kaki gue keram." Jar Otlan lirih, ia malu sebenarnya, namun mau bagaimana lagi, rasa kesemutan di kakinya sangat tak nyaman.
Tanpa babibu Cana pun memeluk pinggang Otlan dan menurunkannya dari motor, namun pemuda itu tak melepaskannya begitu saja, ia masih menggendong Otlan hingga masuk kedalam bengkel, membuat anak buahnya yang berada di bengkel menatap mereka bingung.
"Si boss bawa siapa itu?" Tanya Moren pada Edo yang mendapat angkatan bahu. Ia sama tak tahunya dengan semua orang di sana.
Dengan pelan di dudukannya Otlan di kursi kerjanya, di susul Edo beserta anak buahnya yang lain masuk kedalam ruangan.
Otlan yang di perlakukan secara tak lazim oleh Cana hanya terdiam membisu, namun bisa di liat jika pemuda itu malu.
Edo dkk berusaha menatap Otlan yang bersembunyi di belakang punggung Cana, seolah di sembunyikan dengan sengaja oleh sang tuna muda, dan saat melihat siapa orang di balik punggung Cana Edo pun terkejut, tak menyangka Cana berani membawa seseorang yang di gadang-gadang crush pemuda itu ketempat mereka, namun Moren serta lainnya yang tak tau siapa di belakang Cana hanya diam dengan pandangan bingung. (Moren memang mudah melupakan wajah seseorang)
Cana pun menatap anak buahnya yang berjejer rapi di ruangannya. "Udah ada yang mencaritau ada masalah apa?" Tanyanya tenang.
Semua anak buahnya pun saling melirik, karena yang bekerja di bengkel sejak tadi tak ada yang bisa keluar karena buru-buru mengerjakan mobil serta motor sebelum boss mereka datang.
Otlan menatap semua orang yang disana dengan sedikit negri, karena badan mereka yang besar penuh otot dan bertatto, bak preman yang suka mencari keributan di jalanan.
"Karena ini boss, masalah geng Fire kemaren," Edo lah yang membuka suara memberitahu.
Cana menaikkan alisnya, "Geng Fire?" Tanyanya tak paham, apa sangkut pautnya geng Fire dengan mereka.
Edo mengangguk mantap. "Tadi waktu aku tanya ke Salah satu kepolisian kalo orang-rang kita yang ngebunuh geng Fire."
Otlan membulatkan matanya tak percaya. Diam-diam ia merasakan takut.
Cana menutup matanya, ia tak habis pikir. "Kalian negebunuh mereka?" Tanyanya yang di balas gelengan kuat oleh semua anak buahnya.
"Kita semaleman di markas boss, gimana bisa ngebunuh mereka?" Bantah Salah satu anak buahnya yang bernama Vero.
"Kita cuman ngerjain anak buah meraka yang kita tangkep doang boss." Sahut orang di sebelah Vero yang tak kalah kekarnya.
"Lagian kita mana berani boss ngebunuh orang kalo gak di suruh sama boss." Sahut Moren yang sejak tadi terdiam.
Cana terdiam, kedua tangannya berlipat di depan dada dengan mata menyerang, mencari benang merah kenapa menjadi mereka yang tersangka? Apa karena anak buah Fire yang masih mereka sekap hingga tadi siang? Tapi darimana polisi tau mereka menyekap anggota Fire? Apakah ada yang mengadu? Tapi siapa?.
Melihat Cana hanya diam, Edo pun kembali bicara. "Katanya mereka dapat aduan gitu boss dari telpon, tapi pas di lacak gak tau siapa yang ngasih Tau."
"Lo tau darimana?" Tanya Moren heran dengan Edo yang bisa mendapatkan informasi seditail itu.
"Kebetulan kenalan bokap gue salah satu polisi yang ngeringkus markas kita." Ujarnya enteng.
"Terus gimana ini boss?" Tanya Agam yang berada paling pojok, "Kalau di diemin nanti bengkel kita juga pasti ketahuan sama mereka."
Cana hanya diam saja, ia berpikir keras bagaimana caranya membebaskan anak buahnya, ia butuh bukti yang kuat, karena kepolisian pun sudah mengantongi bukti berupa mereka menyekap anak buah Fire di markas.
Semua orang di ruangan itu saling tatap melihat Cana yang hanya diam saja, saling berbisik dengan satu sama lain.
"Kalian selesaiin kerjaan kalian," Ucapnya mengusir.
"Tapi boss-" Verdi terlihat ingin membantah, namun melihat wajah Cana yang menatapnya datar membuatnya kembali terdiam.
"Udah ayo balik kerja." Moren menengahi dengan apa yang terjadi dan mendorong tubuh teman-temanya untuk segera berjalan.
"Bang kalo anak yang lain gak bisa keluar gimana?" Tanya Verdi pada Moren. Meski mereka tak ada ikatan darah, namun persaudaraan mereka lebih kental Dari itu.
"Lo disana juga gak akan bisa bantu apa-apa, biarin si Cana mikirin solusinya, mereka pasti balik, Cana gak mungkin biarin mereka di sana terus." Ujar Moren mencoba menenangkan.
Meski berat namun Verdi dkk mencoba percaya dengan omongan Moren, karena tak sekali dua Kali mereka terlibat dengan kepolisian, namun kasus Kali ini berbeda dengan biasanya.
"Geng Fire itu markasnya yang kebakar semalem itu, kan?" Tanya Otlan memecahkan keheningan, ia sangat penasaran hingga tak bisa terus meredam pertanyaanya.
Cana sedikit tersentak saat mendengar suara Otlan yang mengalun tiba-tiba di belakang tubuhnya. Tubuhnya pun menoleh kebelakang. "Iya,"
"Kalo emang bukan kalian yang ngelakuin kenapa gak nyari pengacara aja?"
Cana duduk di ujung meja kerjanya sembari menatap Otlan. "Nyari pengacara jelas bakal di lakuin, tapin kita juga butuh saksi dan butuh bukti."
"Kalian sih pake nyekap orang segala, lagian ngapain coba nyekap-nyekap orang?" Gumam Otlan tak habis pikir.
Can mendengus. "Mereka itu orang yang mau ngebunuh gue kemaren, yang keroyokan di gang, yang gue suruh lo nelpon temen gua." Entah kenapa ia harus menjelaskan kepada Otlan.
"Ohh," gumam Otlan paham. Namun seakan mendapatkan ide ia pun menepuk tangannya keras dengan wajah seakan berhasil menyelasaikan penelitian yang berhenti bertahun-tahun. "Gue bisa jadi saksi, kan gue ada disana pas mereka main keroyokan, jadi kalian ada alasan kenapa kalian nyekap anak buah geng Fire."
Cana mendengus. "Ini masalah gue, lo gak usah ikutan, kita gak tau siapa orang di balik ini, kalo lo ikutan lo bisa di jadiin target mereka nanti." Tolaknya mentah-mentah.
"Kan lo bisa ngelindungin gue." Entah kenapa ia sangat pede mengutarakan pendapatnya.
"Otlan, gua gak tinggal bareng sama lo, gue gak bisa jagain lo 24jam."
"Siapa juga yang mau lo jagain 24jam?" Tanyanya meremehkan. "Gue hanya butuh penjagaan selama di luar rumah, kalo di rumah udah banyak bodyguard papa."
Cana hanya diam mendengar perkataan Otlan, ia tak ingin menarik pemuda di sampingnya untuk ikut andil dalam masalahnya.
Namun, selain Otlan dan Freddy tak ada orang lain yang melihat tawuran itu, Dan di sana pun area buta CCTV. Dan jika ia meminta tolong pada Freddy, belum tentu pemuda itu ingin membantunya.
"Kenapa lo ingin bantuin gue?" Tanya Cana memastikan tak ada unsur menjebak di dalamnya.
"Karena lo bisa bantuin Kenzo buat ngejauh dari gue, kalo lo di penjara nanti siapa yang bisa bikin Kenzo menjauh?"
Cana mendengus, ia tak habis pikir dengan pikiran Otlan yang sangat polos. Pemuda itu rela menjatuhkan dirinya ke lubang yang belum jelas isinya apa hanya demi menjauhi Kenzo. Seberapa besar Kenzo membuat pemuda itu ketakutan sebenarnya?.
Setelah memastikan banyak hal dalam pikirannya tentang kemanan Otlan, Cana pun menghubungi pengacara langganannya dan segera meminta tolong untuk di dampingi serta menjelaskan masalah apa yang terjadi, setelah pengacaranya menyanggupi ucapannya, Cana pun menyuruh Moren serta Edo untuk masuk kedalam menggunakan telpon kantor.
"Kenapa boss?" Tanya Moren dan Edo barengan.
"Petra di mana? Ketangkep juga?"
"Petra dari semalem belom balik boss ke markas, kayaknya Masih sibuk sama penelitian dia." Ujar Moren memberitahu.
"Telponion si Petra suruh nyadap CCTV markas dari 2 hari kemaren sampe sekarang, dan sekalian arah jalanan geng Fire, siapa tau kita nemuin jeckpot." Ucapnya yang segera di angguki oleh Moren dan pemuda itu pun segera pergi untuk melaksanakan perintah atasan.
"Lo ke apotek Farmasi, minta CCTV kemaren di jam 6 lewat 30an, kalo bisa sekalian CCTV di venue bulan yang arah parkir, di jam 7an, ah sekalian deh ke rumah gue minta CCTV di lantai 2 Dari jam 8.30 sampe pagi, terus pulangnya bawa mobil gue yang putih, yang biasanya gue parkirin di markas."
"Oke," Ucap Edo semangat dan segera keluar dari ruangan begitu saja.
Otlan menatap Cana heran. "Mau nyari bukti?" Tanyanya yang di balas senyuman misterius ala Cana. Otlan mendengus kesal dan memilih untuk memainkan ponselnya daripada mengurusi Cana yang juga sibuk dengan ponselnya tanpa ingin memberitahu.
Keduanya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga pintu ruangannya terbuka dariluar, menampilkan seseorang bersetelan rapi berdiri di tengah pintu.
Cana lantas berdiri dari duduknya Dan menghampiri sang tamu, menyambutnya dengan sopan.
"Duduk pak," Ujar Cana menyuruh tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruangan itu Dan mengambilkannya minuman serta cemilan yang ada di kulkas di ruangan itu.
Otlan menatapnya dengan bingung, menebak siapa orang itu hingga di perlakukan dengan sangat baik oleh Cana.
"Kamu sudah mencari buktinya, Na?" Tanya pria berusia 50an akhir itu setelah Cana duduk di sebebalahnya.
"Anak buah saya sedang mencarinya pak,"
"Untuk saksi bagaimana?"
Cana menatap Otlan yang juga Masih menatapnya dengan pandangan innocent. Sang tamu pun ikut menatap Otlan dan seakan paham.
"Saksinya udah ada, pak. Tapi kalau bisa jangan sampai melibatkan saksi,"
Sang pengacara terdiam sejenak "Saya usahakan tapi tidak bisa menjanjikan, karena kemungkinan besar masalah ini akan di bawa ke meja hijau."
Cana sebenarnya tak puas dengan jawaban sang pengacara, namun jika memang hanya cara ini bisa membebaskan anak buahnya, mau bagaimana lagi?.
Mereka pun lantas berdiskusi tentang apa yang harus di lakukan dan apa yang harus di hindari untuk saat ini, agar Cana serta teman-temannya yang belum tertangkap tak ikut mendekam dalam bui. Untungnya mereka selalu menjaga kerahasiaan Cana yang tak ingin mempublis apapun, hanya orang tertentu yang mengetahui siapa saja anak buah di dalam geng bernama Zero.
Geng Zero terkenal dengan dunia bayangan, bahkan tak banyak orang tau siapa orang yang mengendalikan geng besar itu.
Dan kesimpulan yang harus ia lakukan, menutup semua bisnisnya untuk sementara dan menyuruh anak buahnya yang tersisa ke kota lain dengan berpencar.
Otlan yang mendengar semua omongan kedua orang itu semakin bingung, memang Cana ini siapa? Dan apa yang di lakukan pemuda itu, usia mereka hanya bertaut beberapa tahun, namun kenapa bisa dunia mereka seberbeda ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar