"Ini pak, data yang bapak minta kemaren." Ujar pengelola motel yang sedang ia tangani.
Cana pun mengambil beberapa dokumen yang terulur dan mulai membacanya, melihat angka pengunjung yang tiap tahun menurun. Tak ada yang salah dari data yang diberikan.
Cana pun menggerakkan tangannya mengusir, ia harus bisa menaikkan angka pengunjung ke motelnya karena itu adalah perintah dari sang papi.
Ia putar kursi kebelakang, menjadi menghadap ke kaca yang memperlihatkan keindahan alam disana. Matanya menerawang jauh memikirkan rencana untuk kedepannya.
Kotanya sangat indah, wisata alamnya pun masih sangat terjaga, dan view dari motelnya pun berada di tempat yang tepat. Tak ada yang salah dari motelnya, pelayanannya pun baik, makanan juga enak, harga pun masih standar (menurutnya) terus apa yang salah?.
Otaknya pun berusaha mencari solusi apalagi untung menangani permasalahan mereka, menyebarkan brosur sudah di lakukan, mengiklankan motelnya pun sudah ia lakukan, bahkan ia juga merenovasi beberapa bagian agar menarik pengunjung, namun tak ada perubahan sama sekali, padahal ia sudah di sana hampir satu bulan. Rencananya gagal total. Ia terlalu jumawa hingga berpikir bisa menyelesaikan dalam waktu singkat.
Dering handphone terdengar, membuyarkan lamunannya, ia pun memutar kursinya dan mengambil handphone yang masih berdering, nama Otlan cengeng terpampang di sana. Ia pun segera mengangkatnya dan seketika wajah Otlan terlihat di layarnya.
"Lagi di mana?" Tanyanya sedikit heran, tak biasanya Otlan berada di luar dan tak memberitahunya terlebih dahulu, biasanya pemuda itu selalu memberitahunya jika ingin keluar.
"๐๐ข๐จ๐ช ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ด๐บ๐ถ๐ต๐ช๐ฏ๐จ." Ujar Otlan dengan menyipitkan matanya karena terik matahari yang begitu menyengat. "๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข?"
Cana mengangguk singkat.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang terulur kewajah Otlan dengan ๐ต๐ช๐ด๐ด๐ถ๐ฆ, mengelap keringat yang berada di wajah Otlan.
Otlan pun segera menyingkirkan tangan itu, terlihat risih. "๐๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ๐ด๐ช๐ฉ ๐ก๐ฐ, ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช."
Kening Cana mengkerut. '๐ก๐ฐ?' "Pergi bareng Kenzo?" Meski ada tanda tanya di nada suaranya, tapi ia tau pasti Zo siapa yang dimaksud Otlan.
Sebelum Otlan menjawab, suara lain dari sebrang terdengar.
"๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ข๐ด๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ, ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ซ๐ข, ๐ฏ๐บ๐ข๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ." Suara Kenzo terdengar jelas. Seperti sengaja.
Otlan memincingkan matanya kesal. "๐ ๐ข ๐ญ๐ฐ ๐ข๐ซ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ข๐ฏ๐ข, ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ง๐ฐ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ข, ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ญ๐ฐ ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช๐ฏ ๐จ๐ถ๐ฆ."
Cana semakin tak paham dengan apa yang terjadi. Biasanya Otlan paling gak mau jika pergi dan ada Kenzo di sana, namun kenapa sekarang pergi bersama. Apa pemuda itu sudah mulai membuka hati? Memikirkan hal itu ada sesuatu yang tak nyaman hadir di hatinya begitu saja.
"๐๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ง๐ฐ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช."
Otlan memasang wajah sinis mendengarnya. "๐๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ญ๐ฐ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ช๐ฏ ๐๐ข๐ฏ๐ข." ๐๐ซ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ. "๐๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ญ๐ฐ ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช๐ฏ ๐จ๐ถ๐ฆ? ๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐ก๐ฐ, ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ท๐ข๐ด๐ช." ๐๐ข๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ. "๐๐ฆ๐ฏ๐ป๐ฐ! ๐๐ฐ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐บ๐ข? ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช๐ฏ ๐จ๐ถ๐ฆ!!" ๐๐ฆ๐ด๐ข๐ฃ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐๐ต๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฑ๐ช๐ด.
Cana yang melihat dan mendengar semuanya hanya diam, memperhatikan layar yang bergersk-gerak.
"๐๐ฆ๐ฏ๐ป๐ฐ! ๐๐ด๐ต๐ข๐จ๐ข ๐ญ๐ฐ ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต! ๐๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช๐ฏ ๐จ๐ถ๐ฆ, ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ฐ๐ฌ ๐ญ๐ฐ ๐จ๐ข๐ฌ ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช!"
Cana menaikkan alisnya. Jadi kali ini Otlan yang berinisiatif mengajak Kenzo? Benarkah pemuda itu sudah mulai membuka hati?.
Setelah cukup lama terdiam dan gambar layar di hpnya yang sudah tak bergerak lagi, Cana pun mulai berbicara.
"Tumben ngajak Kenzo pergi." Setelah mengatakan itu ia pun mengatup bibirnya rapat, tak seharusnya ia ikut campur masalah orang lain.
Otlan mengelap keringat di wajahnya dengan lengan, senyumnya pun merekah. "Terpaksa tau, kalo aku gak mau jodohin Kenzo sama Fion gak akan aku ajak dia."
"Jodohin?" Tanyanya heran.
Otlan mengangguk. "Fion tuh kayak suka gitu sama Kenzo, tiap nongkrong bareng pasti dia ngeliatin Kenzo atau berusaha ngajak Kenzo ngobrol, jadi aku berencana mau jodohin mereka aja. Kan kalo Kenzo udah sama Fion dia gak akan gangguin aku lagi." Ujarnya terus terang dengan mata menatap wajah di layar hpnya penuh puja.
Cana mengangguk paham.
"๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ข?" Tanya Otlan yang sudah rindu berat dengan orang pujaanya.
Cana menggeleng pelan. "Belom tau, kayaknya masih lama."
Otlan berdecak kesal. "๐๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข!"
Cana tak bisa berkata apapun karena memang semuanya meleset dari rencana, ia pun sedikit tertekan oleh jiwa ambisnya saat tak bisa mencapai ๐ต๐ข๐ณ๐จ๐ฆ๐ต yang dia inginkan.
"Kamu nemenin Fion ๐ด๐บ๐ถ๐ต๐ช๐ฏ๐จ apa?" Ujarnya berusaha mengalihkan ๐ต๐ฐ๐ฑ๐ช๐ค, meski ia tau Otlan semakin kesal ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
"๐๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ," Jawabnya cuek. Ia pun menatap kearah lain, pertanda tak ingin berbicara dengan pemuda itu terlebih dahulu.
Cana menghela nafas. "Kerjaanku belom selesai, target yang diminta papi belom terpenuhi, kalo aku pulang sebelum mendapatkan target yang disuruh namanya gak bertanggung jawab sama kerjaan, Otlan." Ujarnya menerangkan. Iapun tak tau sejak kapan ia terbiasa menerangkan sesuatu yang tak penting begini, tapi jika tak dijelaskan Otlan akan semakin marah dan susah dibujuknya. Ia tak ingin merepotkan Agra terus.
"๐ ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช!" Ujarnya dengan mengerucutkan bibir, meski tak mau mengalihkan wajahnya kearah layar.
"Iya bisa, nanti pulang dua hari sebelum kamu ujian." Ujarnya mengalah.
Otlan melirik kearah layar sanksi. "๐๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ฐ๐ฏ๐จ?" Tanyanya masih kesal.
"Bener." Ujar Cana dengan senyuman tipis. Sedikit gemas dengan tingkah Otlan akhir-akhir ini yang berbeda dari biasanya.
"๐๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฃ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ข๐ธ๐ข๐ด ๐ข๐ซ๐ข!"
"Jadi kamu nemenin Fion syuting apa?"
Otlan menggeleng. "Gak tauu, tapi katanya sih jadi ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐๐ฎ๐ฃ๐ข๐ด๐ด๐ข๐ฅ๐ฐ๐ณ gitu, terus sekarang lagi promosi sambil direkam."
Cana membulatkan matanya, ide datang tiba-tiba ke otaknya. kenapa ia tak kepikiran untuk menyewa ๐ช๐ฏ๐ง๐ญ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ.
"Kamu tau ๐ช๐ฏ๐ง๐ญ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ atau aktris yang sedang naik daun sekarang?" Tanyanya, karena ia tak mengikuti dunia perfilman atau dunia media sosial. Hidupnya hanya diisi dengan bengkel, rental, dan kuliah. Namun sekarang ia sudah lulus, dan berganti menjadi budak korporat perusahaan sang papi.
Otlan terdiam sejenak, berpikir siapa. "๐๐ช๐ฐ๐ฏ?" Ujarnya ragu. "Kayaknya Fion ๐ด๐ช๐ฉ, ๐ด๐ฐ๐ข๐ญ๐ฏ๐บ๐ข ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข-๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, terus ๐ง๐ช๐ญ๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐ฆ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ฐ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด. Kemaren ๐ซ๐ถ๐จ๐ข menangin ๐ข๐ธ๐ข๐ณ๐ฅ๐ด ๐ฅ๐ช๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข?"
Cana menganggukkan kepalanya paham. "Kamu ada nomor Fion kan? Aku minta, atau nomor managernya."
Otlan memincingkan matanya curiga. "๐๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ?"
"Mau ngajakin kerja sama."
"๐๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข?"
"๐ ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข sama."
Otlan menatap Cana penuh curiga, perkataan Kenzo beberapa waktu lalu terngiang di kepalanya. "๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ซ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ฆ๐ฏ๐ป๐ฐ?"
Cana menatap Otlan bingung. Tak paham alur pembicaraan mereka kali ini.
"๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ซ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ๐ช๐ฏ ๐๐ฆ๐ฏ๐ป๐ฐ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฐ๐ฏ ๐จ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ ๐๐ข? ๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฆ๐ฏ๐ป๐ฐ?"
Cana menghela nafas berat mendengar tuduhan tak berdasar dari Otlan.
"Aku lagi nyari influencer buat promosiin motel papi."
"๐๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ฐ๐ฏ? ๐๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ!" Wajahnya nampak masih tak percaya.
"Kamu yang bilang kalau dia lagi naik daun."
Otlan terdiam. Benar! Tadi mereka baru saja berbicara soal influencer yang baru naik daun.
"๐ ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐๐ช๐ฐ๐ฏ! ๐๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ!" Masih tak terima rupanya.
"Aku gak tau aktor, aktris atau influencer,"
Otlan terdiam, menggalu ingatan apakah pernah mereka membicarakan tentang gosip, dan memang pernah, namun Cana hanya menjadi pendengar, bahkan ia nampak tak tertarik, dan setiap diajak ghibah soal Artis yang sedang terkena skandal pun respon pemuda itu acuh tak acuh, hingga membuatnya kesal sendiri.
"Atau kamu mau nanyain Fion buat jadwal dia bulan ini?" Lama tak mendapatkan respon, Cana memilih jalur lain, agar Otlan tak semakin ngambek gak jelas (lagi).
"๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ, ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐๐ช๐ฐ๐ฏ!"
"Aku butuh seseorang yang lagi digandrungi sama masyarakat sekarang," Karena sebetulnya ia sudah ingin pulang, namun pekerjaannya sangat mengekangnta dengan posesif.
Otlan mengerucutkan bibirnya. "๐ ๐ข๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ช๐ฏ Fion."
"๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข?" Tiba-tiba suara asing yang begitu lembut terdengar dari sebrang.
Otlan menoleh, nampak Fion dan Kenzo berada tak jauh darinya.
"๐๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ด ๐ด๐บ๐ถ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ช?" Tanya Otlan yang di balas anggukan dan senyuman lembut gadis itu.
Kenzo segera mengambil posisi duduk di dekat Otlan, menatap layar Handphone sang pujaan yang menampilkan wajah saudara kembarnya. Wajahnya seketika berubah kesal. Bahkan saat mereka jauh pun Otlan selalu memilih pemuda itu daripada dirinya.
Fion mengangguk dan duduk di samping Otlan. "๐๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ, ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข?" Tanyanya ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข disebut-sebut.
"๐๐ฏ๐ช ๐ด๐ช ๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ช๐ฏ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ธ๐ข๐ญ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ, ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ada yang kosong ๐จ๐ข๐ฌ? ๐๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข sama."
"๐๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข?" Tanyanya bingung.
"๐๐บ๐ข, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ง๐ญ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ด๐ช๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฐ๐ต๐ฆ๐ญ๐ฏ๐บ๐ข,"
"๐๐ข๐ญ๐ฐ ๐ช๐ต๐ถ ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐จ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ ๐ข๐ซ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ," Ujarnya tak enak hati.
"Lowongin 1 atau 2 hari bisa tidak? Saya kasih 2 kali lipat dari harga biasanya, ah tidak, 3 kali lipat." Sahut Cana tiba-tiba saat mendengar penolakan. Ia tak ingin lebih lama di sana, entah kenapa ia ingin sekali segera pergi dan mengajak Otlan untuk kulineran malam seperti sebelum-sebelumnya.
"๐๐ฉ๐ฉ," Fion nampak bimbang. Sebenarnya ia tergiur, namun jika ia mengambilnya, ia harus merelakan hari liburnya.
Kenzo tersenyum, sepertinya itu ide yang bagus. Ia tau Cana itu seperti apa, kembarannya suka sekali "๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ" dengan banyak orang, jika Fiona ke sana, Cana pasti tertarik dengan gadis ini, dan hal itu bisa membuat pemuda itu menjauh dari Otlannya.
"๐๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ข๐ซ๐ข ๐๐ช, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฅ๐ช Otoa, lumayan buat liburan, di sana pemandangannya bagus kok." Kenzo berusaha mengompori yang mendapatkan reaksi berbeda dari kedua orang yang mengenalnya. Tumben sekali dia mau membantu Cana, biasanya ia berusaha menggagalkan rencana Cana.
"๐๐ฉ ๐บ๐ข? ๐๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข?" Ia pun semakin tertarik mendengar perkataan Kenzo.
Kenzo tersenyum cerah, rencananya menghasut telah berhasil.
"Hanya mempromosikan Motel," Ujar Cana.
"๐๐ถ๐ข๐ต ๐ข๐ฌ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฅ๐ข๐ด๐ช ๐จ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข?" Ia ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด bertanya rinci, karena ia tau akomodasi di sana sangat susah, dan itu menjadi alasan ia malas untuk ke Otoa padahal ia sangat ingin menikmati pemandangan alam di sana yang katanya tak ada duanya, belum lagi banyaknya preman yang suka memalak.
"Saya akan menyiapkan semuanya, jika anda ingin pergi-pergi juga saya akan menjamin keamanan anda." Ujar Cana mantap.
"๐๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฌ, ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐๐ฎ๐ฆ๐ด๐ด ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด๐ช๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ณ๐ช๐ฏ๐ค๐ช ๐ด๐ฐ๐ข๐ญ kerjaan nya." Kapan ๐ญ๐ข๐จ๐ช ia bisa liburan tapi dibayar 3kali lipat? Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.
Otlan membrengut. Meski ia tau mereka hanya membicarakan bisnis, namun tetap saja ia tak suka.
Kenzo yang melihat wajah cemberut Otlan pun mengelus pipi pemuda itu, gemas sekali dia. Yang segera di tampik dengan kasar oleh Otlan.
"๐๐ฑ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ ๐ก๐ฐ, ๐ข๐ฉ!" Teriaknya kesal dan berusaha mendorong tubuh Kenzo menjauh, yang ditanggapi dengan tawa oleh Kenzo.
Fion dan Cana yang sedang membahas bisnis dari handphone Otlan sedikit terdistraksi dengan teriakan kesal Otlan tadi. Cana sebenarnya sangat penasaran apa yang terjadi di sana, namun ia tak bisa bertanya ke seseorang yang tak ia kenal. Akhirnya ia hanya diam berusaha menahan rasa ingin taunya.