"Ini pak, data yang bapak minta kemaren." Ujar pengelola motel yang sedang ia tangani.
Cana pun mengambil beberapa dokumen yang terulur dan mulai membacanya, melihat angka pengunjung yang tiap tahun menurun. Tak ada yang salah dari data yang diberikan.
Cana pun menggerakkan tangannya mengusir, ia harus bisa menaikkan angka pengunjung ke motelnya karena itu adalah perintah dari sang papi.
Ia putar kursi kebelakang, menjadi menghadap ke kaca yang memperlihatkan keindahan alam disana. Matanya menerawang jauh memikirkan rencana untuk kedepannya.
Kotanya sangat indah, wisata alamnya pun masih sangat terjaga, dan view dari motelnya pun berada di tempat yang tepat. Tak ada yang salah dari motelnya, pelayanannya pun baik, makanan juga enak, harga pun masih standar (menurutnya) terus apa yang salah?.
Otaknya pun berusaha mencari solusi apalagi untung menangani permasalahan mereka, menyebarkan brosur sudah di lakukan, mengiklankan motelnya pun sudah ia lakukan, bahkan ia juga merenovasi beberapa bagian agar menarik pengunjung, namun tak ada perubahan sama sekali, padahal ia sudah di sana hampir satu bulan. Rencananya gagal total. Ia terlalu jumawa hingga berpikir bisa menyelesaikan dalam waktu singkat.
Dering handphone terdengar, membuyarkan lamunannya, ia pun memutar kursinya dan mengambil handphone yang masih berdering, nama Otlan cengeng terpampang di sana. Ia pun segera mengangkatnya dan seketika wajah Otlan terlihat di layarnya.
"Lagi di mana?" Tanyanya sedikit heran, tak biasanya Otlan berada di luar dan tak memberitahunya terlebih dahulu, biasanya pemuda itu selalu memberitahunya jika ingin keluar.
"𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘦𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘰𝘯 𝘴𝘺𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨." Ujar Otlan dengan menyipitkan matanya karena terik matahari yang begitu menyengat. "𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢?"
Cana mengangguk singkat.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang terulur kewajah Otlan dengan 𝘵𝘪𝘴𝘴𝘶𝘦, mengelap keringat yang berada di wajah Otlan.
Otlan pun segera menyingkirkan tangan itu, terlihat risih. "𝘈𝘱𝘢𝘢𝘯𝘴𝘪𝘩 𝘡𝘰, 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘯𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘨𝘶𝘦 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."
Kening Cana mengkerut. '𝘡𝘰?' "Pergi bareng Kenzo?" Meski ada tanda tanya di nada suaranya, tapi ia tau pasti Zo siapa yang dimaksud Otlan.
Sebelum Otlan menjawab, suara lain dari sebrang terdengar.
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘓𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘫𝘢, 𝘯𝘺𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘦𝘮𝘢𝘯." Suara Kenzo terdengar jelas. Seperti sengaja.
Otlan memincingkan matanya kesal. "𝘠𝘢 𝘭𝘰 𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘨𝘶𝘦 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘧𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘊𝘢𝘯𝘢, 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘭𝘰 𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦."
Cana semakin tak paham dengan apa yang terjadi. Biasanya Otlan paling gak mau jika pergi dan ada Kenzo di sana, namun kenapa sekarang pergi bersama. Apa pemuda itu sudah mulai membuka hati? Memikirkan hal itu ada sesuatu yang tak nyaman hadir di hatinya begitu saja.
"𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘧𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢, 𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."
Otlan memasang wajah sinis mendengarnya. "𝘌𝘩 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘪𝘯 𝘊𝘢𝘯𝘢." 𝘜𝘫𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩. "𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘭𝘰 𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦? 𝘚𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘩 𝘡𝘰, 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘱𝘳𝘪𝘷𝘢𝘴𝘪." 𝘚𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩. "𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰! 𝘓𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘺𝘢? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦!!" 𝘒𝘦𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘖𝘵𝘭𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘱𝘪𝘴.
Cana yang melihat dan mendengar semuanya hanya diam, memperhatikan layar yang bergersk-gerak.
"𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰! 𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢 𝘭𝘰 𝘵𝘶𝘩 𝘯𝘺𝘦𝘣𝘦𝘭𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵! 𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘨𝘶𝘦, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘭𝘰 𝘨𝘢𝘬 𝘨𝘶𝘦 𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪!"
Cana menaikkan alisnya. Jadi kali ini Otlan yang berinisiatif mengajak Kenzo? Benarkah pemuda itu sudah mulai membuka hati?.
Setelah cukup lama terdiam dan gambar layar di hpnya yang sudah tak bergerak lagi, Cana pun mulai berbicara.
"Tumben ngajak Kenzo pergi." Setelah mengatakan itu ia pun mengatup bibirnya rapat, tak seharusnya ia ikut campur masalah orang lain.
Otlan mengelap keringat di wajahnya dengan lengan, senyumnya pun merekah. "Terpaksa tau, kalo aku gak mau jodohin Kenzo sama Fion gak akan aku ajak dia."
"Jodohin?" Tanyanya heran.
Otlan mengangguk. "Fion tuh kayak suka gitu sama Kenzo, tiap nongkrong bareng pasti dia ngeliatin Kenzo atau berusaha ngajak Kenzo ngobrol, jadi aku berencana mau jodohin mereka aja. Kan kalo Kenzo udah sama Fion dia gak akan gangguin aku lagi." Ujarnya terus terang dengan mata menatap wajah di layar hpnya penuh puja.
Cana mengangguk paham.
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢?" Tanya Otlan yang sudah rindu berat dengan orang pujaanya.
Cana menggeleng pelan. "Belom tau, kayaknya masih lama."
Otlan berdecak kesal. "𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯, 𝘬𝘰𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢!"
Cana tak bisa berkata apapun karena memang semuanya meleset dari rencana, ia pun sedikit tertekan oleh jiwa ambisnya saat tak bisa mencapai 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 yang dia inginkan.
"Kamu nemenin Fion 𝘴𝘺𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨 apa?" Ujarnya berusaha mengalihkan 𝘵𝘰𝘱𝘪𝘤, meski ia tau Otlan semakin kesal 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.
"𝘎𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶," Jawabnya cuek. Ia pun menatap kearah lain, pertanda tak ingin berbicara dengan pemuda itu terlebih dahulu.
Cana menghela nafas. "Kerjaanku belom selesai, target yang diminta papi belom terpenuhi, kalo aku pulang sebelum mendapatkan target yang disuruh namanya gak bertanggung jawab sama kerjaan, Otlan." Ujarnya menerangkan. Iapun tak tau sejak kapan ia terbiasa menerangkan sesuatu yang tak penting begini, tapi jika tak dijelaskan Otlan akan semakin marah dan susah dibujuknya. Ia tak ingin merepotkan Agra terus.
"𝘠𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪!" Ujarnya dengan mengerucutkan bibir, meski tak mau mengalihkan wajahnya kearah layar.
"Iya bisa, nanti pulang dua hari sebelum kamu ujian." Ujarnya mengalah.
Otlan melirik kearah layar sanksi. "𝘉𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘰𝘰𝘯𝘨?" Tanyanya masih kesal.
"Bener." Ujar Cana dengan senyuman tipis. Sedikit gemas dengan tingkah Otlan akhir-akhir ini yang berbeda dari biasanya.
"𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘢𝘫𝘢!"
"Jadi kamu nemenin Fion syuting apa?"
Otlan menggeleng. "Gak tauu, tapi katanya sih jadi 𝘉𝘳𝘢𝘯𝘥 𝘈𝘮𝘣𝘢𝘴𝘴𝘢𝘥𝘰𝘳 gitu, terus sekarang lagi promosi sambil direkam."
Cana membulatkan matanya, ide datang tiba-tiba ke otaknya. kenapa ia tak kepikiran untuk menyewa 𝘪𝘯𝘧𝘭𝘶𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳.
"Kamu tau 𝘪𝘯𝘧𝘭𝘶𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 atau aktris yang sedang naik daun sekarang?" Tanyanya, karena ia tak mengikuti dunia perfilman atau dunia media sosial. Hidupnya hanya diisi dengan bengkel, rental, dan kuliah. Namun sekarang ia sudah lulus, dan berganti menjadi budak korporat perusahaan sang papi.
Otlan terdiam sejenak, berpikir siapa. "𝘍𝘪𝘰𝘯?" Ujarnya ragu. "Kayaknya Fion 𝘴𝘪𝘩, 𝘴𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢-𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, terus 𝘧𝘪𝘭𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘦𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘰𝘮𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴. Kemaren 𝘫𝘶𝘨𝘢 menangin 𝘢𝘸𝘢𝘳𝘥𝘴 𝘥𝘪𝘢. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?"
Cana menganggukkan kepalanya paham. "Kamu ada nomor Fion kan? Aku minta, atau nomor managernya."
Otlan memincingkan matanya curiga. "𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯?"
"Mau ngajakin kerja sama."
"𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘱𝘢?"
"𝘠𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 sama."
Otlan menatap Cana penuh curiga, perkataan Kenzo beberapa waktu lalu terngiang di kepalanya. "𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰?"
Cana menatap Otlan bingung. Tak paham alur pembicaraan mereka kali ini.
"𝘋𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘪𝘯 𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘍𝘪𝘰𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘰𝘯 𝘨𝘪𝘵𝘶? 𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘕𝘢? 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘯𝘨𝘦𝘳𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘦𝘯𝘻𝘰?"
Cana menghela nafas berat mendengar tuduhan tak berdasar dari Otlan.
"Aku lagi nyari influencer buat promosiin motel papi."
"𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘍𝘪𝘰𝘯? 𝘒𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯!" Wajahnya nampak masih tak percaya.
"Kamu yang bilang kalau dia lagi naik daun."
Otlan terdiam. Benar! Tadi mereka baru saja berbicara soal influencer yang baru naik daun.
"𝘠𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘍𝘪𝘰𝘯! 𝘒𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯!" Masih tak terima rupanya.
"Aku gak tau aktor, aktris atau influencer,"
Otlan terdiam, menggalu ingatan apakah pernah mereka membicarakan tentang gosip, dan memang pernah, namun Cana hanya menjadi pendengar, bahkan ia nampak tak tertarik, dan setiap diajak ghibah soal Artis yang sedang terkena skandal pun respon pemuda itu acuh tak acuh, hingga membuatnya kesal sendiri.
"Atau kamu mau nanyain Fion buat jadwal dia bulan ini?" Lama tak mendapatkan respon, Cana memilih jalur lain, agar Otlan tak semakin ngambek gak jelas (lagi).
"𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩, 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘍𝘪𝘰𝘯!"
"Aku butuh seseorang yang lagi digandrungi sama masyarakat sekarang," Karena sebetulnya ia sudah ingin pulang, namun pekerjaannya sangat mengekangnta dengan posesif.
Otlan mengerucutkan bibirnya. "𝘠𝘢𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘩 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 Fion."
"𝘛𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘱𝘢?" Tiba-tiba suara asing yang begitu lembut terdengar dari sebrang.
Otlan menoleh, nampak Fion dan Kenzo berada tak jauh darinya.
"𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴 𝘴𝘺𝘶𝘵𝘪𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘍𝘪?" Tanya Otlan yang di balas anggukan dan senyuman lembut gadis itu.
Kenzo segera mengambil posisi duduk di dekat Otlan, menatap layar Handphone sang pujaan yang menampilkan wajah saudara kembarnya. Wajahnya seketika berubah kesal. Bahkan saat mereka jauh pun Otlan selalu memilih pemuda itu daripada dirinya.
Fion mengangguk dan duduk di samping Otlan. "𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘬, 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘱𝘢?" Tanyanya 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 disebut-sebut.
"𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘪 𝘊𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 ada yang kosong 𝘨𝘢𝘬? 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 sama."
"𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢?" Tanyanya bingung.
"𝘐𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘪𝘯𝘧𝘭𝘶𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘳𝘰𝘮𝘰𝘴𝘪𝘪𝘯 𝘮𝘰𝘵𝘦𝘭𝘯𝘺𝘢,"
"𝘒𝘢𝘭𝘰 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘨𝘦𝘳𝘬𝘶 𝘢𝘫𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩," Ujarnya tak enak hati.
"Lowongin 1 atau 2 hari bisa tidak? Saya kasih 2 kali lipat dari harga biasanya, ah tidak, 3 kali lipat." Sahut Cana tiba-tiba saat mendengar penolakan. Ia tak ingin lebih lama di sana, entah kenapa ia ingin sekali segera pergi dan mengajak Otlan untuk kulineran malam seperti sebelum-sebelumnya.
"𝘈𝘩𝘩," Fion nampak bimbang. Sebenarnya ia tergiur, namun jika ia mengambilnya, ia harus merelakan hari liburnya.
Kenzo tersenyum, sepertinya itu ide yang bagus. Ia tau Cana itu seperti apa, kembarannya suka sekali "𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯" dengan banyak orang, jika Fiona ke sana, Cana pasti tertarik dengan gadis ini, dan hal itu bisa membuat pemuda itu menjauh dari Otlannya.
"𝘈𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘢𝘫𝘢 𝘍𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 Otoa, lumayan buat liburan, di sana pemandangannya bagus kok." Kenzo berusaha mengompori yang mendapatkan reaksi berbeda dari kedua orang yang mengenalnya. Tumben sekali dia mau membantu Cana, biasanya ia berusaha menggagalkan rencana Cana.
"𝘖𝘩 𝘺𝘢? 𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢?" Ia pun semakin tertarik mendengar perkataan Kenzo.
Kenzo tersenyum cerah, rencananya menghasut telah berhasil.
"Hanya mempromosikan Motel," Ujar Cana.
"𝘉𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘰𝘮𝘰𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘨𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢?" Ia 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 bertanya rinci, karena ia tau akomodasi di sana sangat susah, dan itu menjadi alasan ia malas untuk ke Otoa padahal ia sangat ingin menikmati pemandangan alam di sana yang katanya tak ada duanya, belum lagi banyaknya preman yang suka memalak.
"Saya akan menyiapkan semuanya, jika anda ingin pergi-pergi juga saya akan menjamin keamanan anda." Ujar Cana mantap.
"𝘉𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘐𝘮𝘦𝘴𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘳𝘪𝘯𝘤𝘪 𝘴𝘰𝘢𝘭 kerjaan nya." Kapan 𝘭𝘢𝘨𝘪 ia bisa liburan tapi dibayar 3kali lipat? Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.
Otlan membrengut. Meski ia tau mereka hanya membicarakan bisnis, namun tetap saja ia tak suka.
Kenzo yang melihat wajah cemberut Otlan pun mengelus pipi pemuda itu, gemas sekali dia. Yang segera di tampik dengan kasar oleh Otlan.
"𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘡𝘰, 𝘢𝘩!" Teriaknya kesal dan berusaha mendorong tubuh Kenzo menjauh, yang ditanggapi dengan tawa oleh Kenzo.
Fion dan Cana yang sedang membahas bisnis dari handphone Otlan sedikit terdistraksi dengan teriakan kesal Otlan tadi. Cana sebenarnya sangat penasaran apa yang terjadi di sana, namun ia tak bisa bertanya ke seseorang yang tak ia kenal. Akhirnya ia hanya diam berusaha menahan rasa ingin taunya.