Minggu, 30 November 2025

Renjana


[ ๐š๐šŽ๐š—๐š“๐šŠ๐š—๐šŠ / ๐š๐šŠ๐šœ๐šŠ ๐š‘๐šŠ๐š๐š’ ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š”๐šž๐šŠ๐š ] 




๐’๐ข๐ง๐จ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฌ : 

Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? Bagi Omran rasanya itu sangat menyenangkan, meski ia hanya bisa melihat dari jauh itu sudah lebih dari cukup. Namun semuanya menjadi kacau ketika sahabatnya dengan lancang membuka rahasianya di depan keluarga mereka membuat semuanya menjadi rumit. 


Tapi dengan dukungan penuh dan jebakan dari sahabatnya membuat Omran menemukan kebahagiaan sejatinya meski dengan penuh perjuangan. 


๐Œ๐ž๐ž๐ญ ๐ญ๐ก๐ž ๐œ๐š๐ฌ๐ญ : 


 Ohm pawat as Omran Mahanta


 Nanon korapat as Nalendra Palmiera




๐‚๐š๐ฌ๐ญ ๐ฌ๐ฎ๐ฉ๐ฉ๐จ๐ซ๐ญ : 

prim chanikarn as Prima palmiera (adik nalendra) 


Davika as davina ( ibu nalendra) 
Ter chantavit as tara ( ayah nalendra) 



View benyapa as violet Mahendra (kakak omran) 



Baifern as Briyanna (Ibu omran) 
Nine  as Daniel Mahendra (Ayah omran) 



Minggu, 24 Agustus 2025

Overthinking (nonohm)

 


Merasakan perutnya yang semakin tak enak Otlan segera berdiri dari duduknya dan berjalan kearah sang guru yang sedang menulis di papan tulis sembari menerangkan tulisannya.

"Pak saya mau ijin ketoilet," Ijinnya yang segera di ijinkan oleh sang guru.

Pemuda itu pun segera keluar kelas dengan beberapa pasang mata yang terus memperhatikannya. Pasalnya akhir-akhir ini Otlan selalu nampak lemas, namun saat ditanya apa ia sakit jawabannya selalu ttidak, padahal tak pernah periksa ke dokter, dan hal itu membuat mereka semakin khawatir.

Belum juga sampai toilet perutnya sudah semakin bergejolak membuatnya tak bisa menahan lebih lama rasa mual yang ia dera. Pemuda itupun segera memuntahkan semua isi dalam perutnya ke dalam tong sampah yang dekat dengannya, bahkan saat isi perutnya telah kosong ia masih terus mual tanpa bisa dihentikan.

Tubuhnya luruh kelantai saat akhirnya rasa mual itu menghilang, tubuhnya lemas bukan main.

"Otlan? Ngapain duduk disitu?" Oyi berjalan mendekat kearah Otlan yang nampak lemas di samping tong sampah. Gadis itu pun segera membantu sang teman untuk berdiri dengan susah payah dan berjalan pelan. "Mau periksa aja ke dokter gak? Makin parah aja keliatannya lan." Usul sang teman yang nampak kawatir.

"Gak papa, nanti juga sembuh sendiri." Lagi dan lagi jawaban itu yang diberikan.

"Lo udah ngomong gini dari minggu kemaren ya lan, tapi lo gak sembuh-sembuh, malah makin parah aja. Gue anterin ke dokter aja ya nanti sepulang sekolah." Bujuknya

Otlan menggeleng. "Gue gak papa, besok juga sembuh kok." Ujarnya keras kepala. "๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข,"

Nampak semakin tak tertolong bucinnya.

Oyi mendesah pasrah.

"Lo mau kemana keluar kelas?" Tanya Otlan yang seakan baru tersadar.

"Mau keruang guru, disurh ngambik buku pak guru yang ketinggalan."

"Oh," Ujarnya mengangguk. "Fion ada ngasih kabar?" Tanyanya entah ia berharap jawaban apa yang akan diberikan Oyi.

"Kabar apa?" Tanyanya bingung.

"Ya kabar."

Oyi menatap temannya heran, namun ia tetap memilih menjawab. "Enggak, cuman semalem dia bilang mau ke Otoa buat kerja sambil liburan."

Otlan hanya diam mendengar perkataan Oyi.

"Lo tunggu disini, gue mau ambil buku dulu terus bawa lp ke UKS." Ucap Oyi yang segera berlalu meninggalkan temannya yang nampak asik dengan pikiranya sendiri.

Otlan mendesah, pikirannya kalut, banyak hal yang hinggap di pikirannya tentang Cana dan Fiona, meski ia sudah mencoba untuk menyingkirkannya, namun pikiran jelek itu terus datang dan bertambah banyak.

Berbeda dengan dua orang yang sedang ia pikirkan, mereka sedang asik dengan kerjaan masing-masing, Fiona yang sedang sibuk merekam dengan timnya, dan Cana yang sibuk berbicara dengan Putra tentang kerjaan yang harus ia lakukan nanti saat ia tinggal. Karena minggu besok ia harus sudah kembali ke Alana untuk menepatinya janji dengan Otlan.

Jumat, 23 Mei 2025

Vc (nonohm)

 


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan pemuda dengan balutan handuk di pinggang dan handuk kecil di leher sebelum ia usak rambutnya yang basah habis shampoan. Ia pun melangkah kearah almari di ruangan itu sebelum suara dari handphone menghentikan langkahnya, membuatnya beralih berjalan kearah meja kecil di samping ranjang. Namun sayangnya sebelum ia berhasil mengangkat panggilan itu, panggilannya telah lebih dulu mati.

Keningnya mengkerut melihat banyaknya panggilan tak terjawab, tanpa berpikir panjang ia pun segera mendial nomor itu kembali dan segera diangkat oleh sang lawan setelah mengubahnya menjadi panggilan video call.

Cana tak ambil pusing, ia pun segera menyetujuinya dan melihatkan wajah Otlan yang nampak sedang kesal. "Ada masalah?" Tanyanya sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah.

"๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช?" Tanya Otlan yang mengacuhkan pertanyaanya.

"Iya," Jawab Cana singkat. "Ada apa?" Tanyanya lagi, memastikan tak ada masalah serius yang menimpa pemuda itu.

"๐˜Ž๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข," Ujar Otlan apa adanya.

Cana mengangguk singkat, pemuda itu pun meletakkan hpnya di nakas dan menyenderkannya di dinding agar tak jatoh, yang menampilkan ruangan kamar tempat ia tidur belakangan ini. Sedangkan ia berjalan kearah almari, melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Keduanya diam, Cana yang sibuk mencari baju untuk ia kenakan dan Otlan yang bingung harus berbicara apa.

"๐˜•๐˜ข," Panggil Otlan yang sudah bosan dengan keheningan.

"Hmm?" Sahutan tak jelas Cana berikan, pemuda itu masih asik memilih baju untuk ia bawa tidur malam ini.

"๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜–๐˜ต๐˜ฐ๐˜ข?"

Tangan Cana yang ingin mengambil kaos oblong untuk ia kenakan terdiam sejenak mendengar pertanyaan Otlan, namun tak lama ia melanjutkan kegiatannya. "Iya."

Otlan memberungutkan bibirnya mendengar jawaban Cana. "๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข."

"Iya," .

Otlan berdecak kesal. "๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฎ-๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข?"

Setelah memakai baju dan celananya, pemuda itu pun kembali berjalan kearah hpnya berada, duduk di tepi ranjang. "Cem-ceman apa?" Ia tak paham dengan bahasa yang Otlan layangkan.

"๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข!"

Cana mendengus. Darimana ia mendapatkan orang yang dia suka kalau kerjaanya setiap hari hanya menatap kertas dan memutar otak agar ia bisa membuktikan kepada sang papi bahwa ia berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna.

"Kamu gak belajar?" Tanya Cana mengalihkan topik.

Otlan menaikkan alisnya. "๐˜’๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ? ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข" Tanpa ingin menyembunyikan rasa ketidaksukaanya.

"Di sini terlalu sibuk, gimana bisa nemuin orang di suka?" Cana memilih menjawab, meski sebenarnya ia malas.

"๐˜‰๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ!" Masih tak percaya ternyata.

"Banyak yang harus dibenahi di sini, gak ada waktu buat nyari orang yang disuka," Ujarnya apa adanya. Bahkan hanya untuk bersenang-senang di club malam pun ia tak kepikiran.

Ah ngomong-ngomong sudah berapa lama ia tak melakukan hal kesukaanya itu? Sepertinya sudah terlalu lama, akhir-akhir ini ia hanya melakukannya dengan Otlan, dan tak ada kepikiran untuk melakukannya dengan orang lain.

"๐˜–๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฉ," Meski masih sedikit tak percaya.

"Kamu gak belajar?" Tanyanya lagi yang dijawab gelenga kepala oleh Otlan.

"๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ-๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ,"

"Kenapa gak bilang? Udah periksa?" Entah kenapa ia khawatir pada pemuda itu.

Lagi-lagi Otlan menggeleng kecil. "๐˜Š๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ."

"Mual gak?"

Kali ini pemuda itu mengangguk. "๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜’๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ,"

"Coba besok periksa,"

"๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฉ."

"Mau periksa sama Agra?"

"๐˜Ž๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ. ๐˜Š๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข."

Otlan adalah orang yang keras kepala. "Yaudah, tapi kalo masih gitu terus sampe aku pulang, kamu harus mau periksa."

"๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ? ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ,"

"Iya,"

"๐˜๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?"

"Iya sama aku periksanya."

Dan senyuman Otlan mengembang. "๐˜–๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข,"

Keduanya terdiam, Cana yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk dan Otlan yang menatap Cana dengan pandangan tergoda, entah kenapa ia tiba-tiba sangat ingin disentuh oleh pemuda yang lebih tua darinya itu. Ia gigit bibirnya sensual. Gerakan yang Cana lakukan pun tak aneh-aneh, gerakannya sama seperti orang kebanyakan saat mengeringkan rambut, namun entah kenapa ia begitu tergoda.

"๐˜•๐˜ข," Panggil Otlan pelan, nafasnya sudah memburu, bahkan tubuh bagian selatannya sudah berdiri dengan sendirinya.

"Hmm?" Hanya gumaman yang tak jelas Cana berikan untuk menjawah panggilannya.

"๐˜œ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ VCS ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ?"

Pertanyaan Otlan membuat tangan Cana berhenti bergerak, kepalanya menatap layar hp dan menatap Otlan dengan pandangan yang sulit diartikan.

Otlan disebrang sana menanti jawaban Cana dengan menahan malu. Bantal yang ia peluk menjadi sasaran giginya untuk ia gigit. Ia tak pernah menyangka dirinya akan seberani ini.

"Belum,"

"๐˜”๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ?" Sudsh terlanjur malu, ia lebih memilih untuk melangkah lebih jauh.

"Kamu lagi pengen?"

Otlan mengangguk malu-malu, tangannya pun mengarahkan kearah selangkannya yang sudah menegak dibalik boxer yang ia kenakan. "๐˜•๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข," Sepertinya urat malunya sudah terputus.

Cana menelan saliva susah payah. Baru saja tadi mikir sesuatu hal yang jorok, kini Otlan sudah datang menawarkan sesuatu yang sangat menggiurkan. Yah meski ia tau ia tak akan sepenuhnya puas.

"Lepas celanamu, aku pengen lihat udah segede apa."

Otlan menaruh hpnya di ranjang begitu saja dan dengan grusak-grusuk ia melepas celananya, setelahnya ia pun kembali mengambil hpnya dan memperlihatkan penisnya yang sudah mengacung sempurna.

Cana menjilat bibir bawahnya. Andai saja jarak mereka dekat, ia sudah pasti menghampiri pemuda itu dan melakukan hal-hal yang ia sukai di sana, membuat Otlan untuk terus mengerang kenikmatan dan menyebut namanya dengan penuh gairah. Ahh sial, bagaimana ia bisa begitu terangsang hanya dengan begini saja? Semua hal tentang Otlan memang selalu bisa membuatnya gila.

"๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข,  ๐˜•๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฉ๐˜ฉ๐˜ฉ." Ujar Otlan yang sudah menggerakkan tangannya di penisnya maju mundur. Sialan! Sisi binal Otlan sudah keluar sepenuhnya.

Rabu, 21 Mei 2025

Rencana

 

"Ini pak, data yang bapak minta kemaren." Ujar pengelola motel yang sedang ia tangani.

Cana pun mengambil beberapa dokumen yang terulur dan mulai membacanya, melihat angka pengunjung yang tiap tahun menurun. Tak ada yang salah dari data yang diberikan.

Cana pun menggerakkan tangannya mengusir, ia harus bisa menaikkan angka pengunjung ke motelnya karena itu adalah perintah dari sang papi.

Ia putar kursi kebelakang, menjadi menghadap ke kaca yang memperlihatkan keindahan alam disana. Matanya menerawang jauh memikirkan rencana untuk kedepannya.



Kotanya sangat indah, wisata alamnya pun masih sangat terjaga, dan view dari motelnya pun berada di tempat yang tepat. Tak ada yang salah dari motelnya, pelayanannya pun baik, makanan juga enak, harga pun masih standar (menurutnya) terus apa yang salah?.

Otaknya pun berusaha mencari solusi apalagi untung menangani permasalahan mereka, menyebarkan brosur sudah di lakukan, mengiklankan motelnya pun sudah ia lakukan, bahkan ia juga merenovasi beberapa bagian agar menarik pengunjung, namun tak ada perubahan sama sekali, padahal ia sudah di sana hampir satu bulan. Rencananya gagal total. Ia terlalu jumawa hingga berpikir bisa menyelesaikan dalam waktu singkat.

Dering handphone terdengar, membuyarkan lamunannya, ia pun memutar kursinya dan mengambil handphone yang masih berdering, nama Otlan cengeng terpampang di sana. Ia pun segera mengangkatnya dan seketika wajah Otlan terlihat di layarnya.

"Lagi di mana?" Tanyanya sedikit heran, tak biasanya Otlan berada di luar dan tak memberitahunya terlebih dahulu, biasanya pemuda itu selalu memberitahunya jika ingin keluar.

"๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ." Ujar Otlan dengan menyipitkan matanya karena terik matahari yang begitu menyengat. "๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข?"

Cana mengangguk singkat.

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang terulur kewajah Otlan dengan ๐˜ต๐˜ช๐˜ด๐˜ด๐˜ถ๐˜ฆ, mengelap keringat yang berada di wajah Otlan.

Otlan pun segera menyingkirkan tangan itu, terlihat risih. "๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ก๐˜ฐ, ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช."

Kening Cana mengkerut. '๐˜ก๐˜ฐ?' "Pergi bareng Kenzo?" Meski ada tanda tanya di nada suaranya, tapi ia tau pasti Zo siapa yang dimaksud Otlan.

Sebelum Otlan menjawab, suara lain dari sebrang terdengar.

"๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜“๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ." Suara Kenzo terdengar jelas. Seperti sengaja.

Otlan memincingkan matanya kesal. "๐˜ ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜Š๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ."

Cana semakin tak paham dengan apa yang terjadi. Biasanya Otlan paling gak mau jika pergi dan ada Kenzo di sana, namun kenapa sekarang pergi bersama. Apa pemuda itu sudah mulai membuka hati? Memikirkan hal itu ada sesuatu yang tak nyaman hadir di hatinya begitu saja.

"๐˜•๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช."

Otlan memasang wajah sinis mendengarnya. "๐˜Œ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ช๐˜ฏ ๐˜Š๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข." ๐˜œ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ. "๐˜•๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ? ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ก๐˜ฐ, ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ท๐˜ข๐˜ด๐˜ช." ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ. "๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ป๐˜ฐ! ๐˜“๐˜ฐ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข? ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ!!" ๐˜’๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜–๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด.

Cana yang melihat dan mendengar semuanya hanya diam, memperhatikan layar yang bergersk-gerak.

"๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ป๐˜ฐ! ๐˜ˆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต! ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช!"

Cana menaikkan alisnya. Jadi kali ini Otlan yang berinisiatif mengajak Kenzo? Benarkah pemuda itu sudah mulai membuka hati?.

Setelah cukup lama terdiam dan gambar layar di hpnya yang sudah tak bergerak lagi, Cana pun mulai berbicara.

"Tumben ngajak Kenzo pergi." Setelah mengatakan itu ia pun mengatup bibirnya rapat, tak seharusnya ia ikut campur masalah orang lain.

Otlan mengelap keringat di wajahnya dengan lengan, senyumnya pun merekah. "Terpaksa tau, kalo aku gak mau jodohin Kenzo sama Fion gak akan aku ajak dia."

"Jodohin?" Tanyanya heran.

Otlan mengangguk. "Fion tuh kayak suka gitu sama Kenzo, tiap nongkrong bareng pasti dia ngeliatin Kenzo atau berusaha ngajak Kenzo ngobrol, jadi aku berencana mau jodohin mereka aja. Kan kalo Kenzo udah sama Fion dia gak akan gangguin aku lagi." Ujarnya terus terang dengan mata menatap wajah di layar hpnya penuh puja.

Cana mengangguk paham.

"๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜•๐˜ข?" Tanya Otlan yang sudah rindu berat dengan orang pujaanya.

Cana menggeleng pelan. "Belom tau, kayaknya masih lama."

Otlan berdecak kesal. "๐˜’๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข!" 

Cana tak bisa berkata apapun karena memang semuanya meleset dari rencana, ia pun sedikit tertekan oleh jiwa ambisnya saat tak bisa mencapai ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต yang dia inginkan.

"Kamu nemenin Fion ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ apa?" Ujarnya berusaha mengalihkan ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ค, meski ia tau Otlan semakin kesal ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.

"๐˜Ž๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ," Jawabnya cuek. Ia pun menatap kearah lain, pertanda tak ingin berbicara dengan pemuda itu terlebih dahulu.

Cana menghela nafas. "Kerjaanku belom selesai, target yang diminta papi belom terpenuhi, kalo aku pulang sebelum mendapatkan target yang disuruh namanya gak bertanggung jawab sama kerjaan, Otlan." Ujarnya menerangkan. Iapun tak tau sejak kapan ia terbiasa menerangkan sesuatu yang tak penting begini, tapi jika tak dijelaskan Otlan akan semakin marah dan susah dibujuknya. Ia tak ingin merepotkan Agra terus.

"๐˜ ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช!" Ujarnya dengan mengerucutkan bibir, meski tak mau mengalihkan wajahnya kearah layar.

"Iya bisa, nanti pulang dua hari sebelum kamu ujian." Ujarnya mengalah.

Otlan melirik kearah layar sanksi. "๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ?" Tanyanya masih kesal.

"Bener." Ujar Cana dengan senyuman tipis. Sedikit gemas dengan tingkah Otlan akhir-akhir ini yang berbeda dari biasanya.

"๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ด ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข!"

"Jadi kamu nemenin Fion syuting apa?"

Otlan menggeleng. "Gak tauu, tapi katanya sih jadi ๐˜‰๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ ๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ณ gitu, terus sekarang lagi promosi sambil direkam."

Cana membulatkan matanya, ide datang tiba-tiba ke otaknya. kenapa ia tak kepikiran untuk menyewa ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ง๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ.

"Kamu tau ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ง๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ atau aktris yang sedang naik daun sekarang?" Tanyanya, karena ia tak mengikuti dunia perfilman atau dunia media sosial. Hidupnya hanya diisi dengan bengkel, rental, dan kuliah. Namun sekarang ia sudah lulus, dan berganti menjadi budak korporat perusahaan sang papi.

Otlan terdiam sejenak, berpikir siapa. "๐˜๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ?" Ujarnya ragu. "Kayaknya Fion ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, terus ๐˜ง๐˜ช๐˜ญ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด. Kemaren ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข menangin ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?"

Cana menganggukkan kepalanya paham. "Kamu ada nomor Fion kan? Aku minta, atau nomor managernya."

Otlan memincingkan matanya curiga. "๐˜•๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ?"

"Mau ngajakin kerja sama."

"๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?"

"๐˜ ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข sama."

Otlan menatap Cana penuh curiga, perkataan Kenzo beberapa waktu lalu terngiang di kepalanya. "๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ป๐˜ฐ?"

Cana menatap Otlan bingung. Tak paham alur pembicaraan mereka kali ini.

"๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ป๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? ๐˜•๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜•๐˜ข? ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ป๐˜ฐ?"

Cana menghela nafas berat mendengar tuduhan tak berdasar dari Otlan.

"Aku lagi nyari influencer buat promosiin motel papi."

"๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ? ๐˜’๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ!" Wajahnya nampak masih tak percaya.

"Kamu yang bilang kalau dia lagi naik daun."

Otlan terdiam. Benar! Tadi mereka baru saja berbicara soal influencer yang baru naik daun.

"๐˜ ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ! ๐˜’๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ!" Masih tak terima rupanya.

"Aku gak tau aktor, aktris atau influencer,"

Otlan terdiam, menggalu ingatan apakah pernah mereka membicarakan tentang gosip, dan memang pernah, namun Cana hanya menjadi pendengar, bahkan ia nampak tak tertarik, dan setiap diajak ghibah soal Artis yang sedang terkena skandal pun respon pemuda itu acuh tak acuh, hingga membuatnya kesal sendiri.

"Atau kamu mau nanyain Fion buat jadwal dia bulan ini?" Lama tak mendapatkan respon, Cana memilih jalur lain, agar Otlan tak semakin ngambek gak jelas (lagi).

"๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ!"

"Aku butuh seseorang yang lagi digandrungi sama masyarakat sekarang," Karena sebetulnya ia sudah ingin pulang, namun pekerjaannya sangat mengekangnta dengan posesif.

Otlan mengerucutkan bibirnya. "๐˜ ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ Fion."

"๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?" Tiba-tiba suara asing yang begitu lembut terdengar dari sebrang.

Otlan menoleh, nampak Fion dan Kenzo berada tak jauh darinya.

"๐˜œ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜๐˜ช?" Tanya Otlan yang di balas anggukan dan senyuman lembut gadis itu.

Kenzo segera mengambil posisi duduk di dekat Otlan, menatap layar Handphone sang pujaan yang menampilkan wajah saudara kembarnya. Wajahnya seketika berubah kesal. Bahkan saat mereka jauh pun Otlan selalu memilih pemuda itu daripada dirinya.

Fion mengangguk dan duduk di samping Otlan. "๐˜œ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?" Tanyanya ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข disebut-sebut.

"๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช ๐˜Š๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ada yang kosong ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ? ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข sama."

"๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข?" Tanyanya bingung.

"๐˜๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ง๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข,"

"๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ," Ujarnya tak enak hati.

"Lowongin 1 atau 2 hari bisa tidak? Saya kasih 2 kali lipat dari harga biasanya, ah tidak, 3 kali lipat." Sahut Cana tiba-tiba saat mendengar penolakan. Ia tak ingin lebih lama di sana, entah kenapa ia ingin sekali segera pergi dan mengajak Otlan untuk kulineran malam seperti sebelum-sebelumnya.

"๐˜ˆ๐˜ฉ๐˜ฉ," Fion nampak bimbang. Sebenarnya ia tergiur, namun jika ia mengambilnya, ia harus merelakan hari liburnya.

Kenzo tersenyum, sepertinya itu ide yang bagus. Ia tau Cana itu seperti apa, kembarannya suka sekali "๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ" dengan banyak orang, jika Fiona ke sana, Cana pasti tertarik dengan gadis ini, dan hal itu bisa membuat pemuda itu menjauh dari Otlannya.

"๐˜ˆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช Otoa, lumayan buat liburan, di sana pemandangannya bagus kok." Kenzo berusaha mengompori yang mendapatkan reaksi berbeda dari kedua orang yang mengenalnya. Tumben sekali dia mau membantu Cana, biasanya ia berusaha menggagalkan rencana Cana.

"๐˜–๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?" Ia pun semakin tertarik mendengar perkataan Kenzo.

Kenzo tersenyum cerah, rencananya menghasut telah berhasil.

"Hanya mempromosikan Motel," Ujar Cana.

"๐˜‰๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข?" Ia ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด bertanya rinci, karena ia tau akomodasi di sana sangat susah, dan itu menjadi alasan ia malas untuk ke Otoa padahal ia sangat ingin menikmati pemandangan alam di sana yang katanya tak ada duanya, belum lagi banyaknya preman yang suka memalak.

"Saya akan menyiapkan semuanya, jika anda ingin pergi-pergi juga saya akan menjamin keamanan anda." Ujar Cana mantap.

"๐˜‰๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ข๐˜ญ kerjaan nya." Kapan ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ia bisa liburan tapi dibayar 3kali lipat? Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.

Otlan membrengut. Meski ia tau mereka hanya membicarakan bisnis, namun tetap saja ia tak suka.

Kenzo yang melihat wajah cemberut Otlan pun mengelus pipi pemuda itu, gemas sekali dia. Yang segera di tampik dengan kasar oleh Otlan.

"๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ก๐˜ฐ, ๐˜ข๐˜ฉ!" Teriaknya kesal dan berusaha mendorong tubuh Kenzo menjauh, yang ditanggapi dengan tawa oleh Kenzo.

Fion dan Cana yang sedang membahas bisnis dari handphone Otlan sedikit terdistraksi dengan teriakan kesal Otlan tadi. Cana sebenarnya sangat penasaran apa yang terjadi di sana, namun ia tak bisa bertanya ke seseorang yang tak ia kenal. Akhirnya ia hanya diam berusaha menahan rasa ingin taunya.


Minggu, 04 Mei 2025

Member baru

 

                 Visualisasi : Fiona

"Halo semuanya," Sapa gadis cantik nan manis tiba-tiba, membuat Otlan yang ingin mengangkat panggilan dari Cana tanpa sengaja salah menekan dan malah merijectnya.

Semua orang menoleh keasal suara dan seketika tersenyum manis menyambut kedatangan member baru diantara mereka. (Kecuali Kenzo, karena ia tak mengenal gadis itu)

"Eh Fion udah sampe, sini sini duduk." Oyie pun dengan gembira menyuruh sepupunya untuk duduk disampingnya, menyuruh Otlan untuk bergeser ke kursi yang lain.

Otlan tanpa protes segera berpindah dan memberikan kursinya pada gadis cantik nan manis sepupu sang sahabat, meski ia agak kesal karena tangannya salah menekan tombol, dan saat di chat lagi Cana tak segera memberikan balasan.

"Halo Otlan," Sapa Fiona dengan senyuman manis."

"Halo Fion, lama gak ketemu," Sapa Otlan tak kalah ramahnya.

"Fion kenapa sekarang udah jarang main sama kita? Lagi sibuk banget apa sampe gak mau join." Sapa Freddy.

"Artis kita ini emang sibuk banget sampe lupa sama temennya." Goda Deki.

"Iya dong, kan artis papan nih gue sekarang." Ujar Fiona main-main yang disoraki malas oleh teman-temannya. Kepalanya menoleh kearah Orang yang duduk disamping Otlan dan ia pun memasang bingung. "Alah kalian sok-sokan kehilangan gue padahal udah nambah member."

"Kenzo mah bukan penambahan member, dia pengen deketin Otlan itu makanya ikut kumpul." Celetuk Freddy yang di balas decakan malas oleh Otlan.

Fiona menoleh keara Otlan dan memasang wajah menggoda. "Ciee Otlan sekarang udah berani pacaran ciee." Godanya menyikut pundak Otlan dengan pundaknya.

"Gak yaa! Gue gak suka sama dia, jangan mikir aneh-aneh." Ceplos Otlan tanpa perasaan.

Fiona seketika terdiam dan menatap Kenzo tak enak hati. Ia tak bermaksud membuat pemuda itu merasa buruk, ia hanya ingin menggoda Otlan saja awalnya.

"Iya Otlan emang gak suka Kenzo, tapi dia suka Cana, kakaknya Kenzo." Sahut Oyie yang membuat Fiona terdiam bingung, ia tak menyangka sang sepupu akan ceplas-ceplos di depan orangnya langsung, dan hal ini semakin membuat Fiona tak enak hati. Gadis cantik itupun mencubit paha sepupunya untuk menegur tanpa langsung, namun diabaikan oleh Oyie. Biasanya Oyie tak begini, namun kenapa hari ini berbeda.

Fiona menatap Kenzo tak enak hati namun pemuda itu seolah tak perduli, dan malah mengambilkan makanan untuk ia taruh di piring Otlan. Gadis itu sedikit bingung dengan kondisi yang terjadi.

"Gue gak suka Zo," Protes Otlan dan mengembalikan makanan yang baru diambilkan oleh Kenzo ke piring yang lain.

"Biasanya kamu suka pasta Lan," Ucap Kenzo sedikit sedih, karena Otlan selalu menolah pemberiannya, meski ini sudah sering terjadi.

Otlan hanya diam saja tak perduli dan malah asik dengan handphonenya.

Deki yang melihat Fiona hanya memperhatikan pun memilih untuk angkat bicara.

"Fion mau pesen apa? Ayo gue temenin pesen."

Fiona tersenyum manis, "Ayok," Ujarnya dan berdiri dari kursi, ia harus mencari tau apa yang terjadi, karena tingkah Otlan dan Oyie berbeda dari yang ia tau biasanya.

"Halo Na," Suara Otlan mengalihkan perhatian Fiona yang ingin menjauh dari Deki, dan ia melihat Otlan sedang asik bertelpon ria, dan Oyie yang menyindir temennya secara halus tanpa memperdulikan Kenzo yang sudah memasang wajah kesal.

"Ayok Fion," Ajak Deki menarik tangan Fiona untuk berjalan. Gadis itu pun segera mengikuti Deki. Banyak pertanyaan yang kini ada di otak cerdasnya.

Senin, 21 April 2025

Makin bahaya (nonohm)

 


Dengan pelan Cana membopong Otlan yang sedang tertidur pulas kearah ranjang, berusaha sebaik mungkin untuk tak membanggakan pemuda itu yang nampak sangat kelelahan.

Pelan-pelan di letakkannya Otlan keatas ranjang yang sudah rapi dan bersih.

Entah karena goncangan yang terlalu terasa atau memang Otlan gampang terbangun, matanya terbuka kala Cana telah berhasil menidurkannya keatas ranjang.

"Sorry, tidur lagi aja." Ujar Cana yang menyadari bahwa Otlan terbangun, ia pun menarik selimut sampai dada, dan ingin meninggalkannya agar kembali tidur. Namun tangannya yang di genggam Otlan menghentikan langkahnya.

"Kenapa? Ada yang sakit?" Tanyanya perhatian.

Otlan mengangguk. "Badan gue sakit semua." Ujarnya serak dengan bibir mengerucut lucu.

Cana pun duduk di tepi ranjang samping Otlan dan memijit kaki yang lebih muda meski tertutupi selimut.

"Tidur lagi, nanti pas jam 9 gue bangunin buat pulang." Ujarnya masih terus memijit.

Otlan pun mengangguk patuh, pemuda itu kembali memejamkan matanya dan tak lama tertidur pulas. Nampaknya ia sangat lelah karena aktivitas mereka tadi siang.

Cana sesekali melirik Otlan yang sudah tertidur dan tersenyum tipis, perkataannya tentang pujian yang baru saja ia twet tadi bukanlah omong kosong, kenyataannya Otlan memang masih sangat tampan meski ia sedang tertidur pulas, pantas saja sang adik begitu tergila-gila pada pemuda ini.

Meski Otlan telah tertidur pulas hal itu tak membuat Cana untuk segera menyudahi pijitannya, pemuda itu nampak menyukai memijit sambil menatap wajah tampan yang sekarang berada di atas ranjangnya. Namun siapa yang menyangka, wajah tampan yang innocent itu hanya sebuah tipuan muslihat. Ia masih ingat betul bagaimana binalnya Otlan tadi. Bahkan kata jorok keluar dengan leluasa membuatnya gemas hingga tak bisa menghentikan birahinya sendiri.

Kepalanya menggeleng berusaha mengenyahkan bayangan menyenangkan yang baru saja mereka akhiri, mengingat ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ Otlan yang lecet karena perbuatannya membuatnya segera menghentikan otak mesumnya.

Kana pun memilih keluar kamar untuk menyegarkan kembali pikirannya yang sudah tak terkontrol, pemuda itu semakin hari semakin berbahaya, ada saja kelakuan yang membuatnya kalang kabut. Namun ia pun menyukainya.

Sabtu, 12 April 2025

Makan sore - nonohm

 


Angin berhembus pelan di salah satu kota Alana, sinar mentari yang sangat terik pun perlahan menghilang tertutup oleh kabut hitam membuat suasana menjadi sangat sejuk.

Cana menoleh kearah jendela dan melihat dunia luar yang sedang mendung, daun pohon di halaman rumahnya pun bergoyang-goyang mengikuti arah angin, namun pemuda itu tak perduli dan kembali menatap dokument di pangkuannya.

Tak lama suara gemuruh dan petir pun terdengar kencang dengan tiba-tiba diiringi dengan turunnya air dari langit, mengagetkan seseorang yang sedang tertidur lelap di lantai atas.

Belum genap nyawanya terkumpul, suara gemuruh kembali terdengar, kali ini jauh lebih kencang dari sebelumnya diikuti kilatan petir yang menyeramkan, seakan siap untuk melukai apapun.

"AHHH!" Pekik Otlan terkejut dan takut secara bersamaan, pemuda itu pun sontak keluar kamar dengan berlari tanpa memakai alas kaki, menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

Cana menoleh kearah lantai diatasnya kala mendengar teriakan Otlan disusul suara berisik langkah kaki, ia tak langsung bangkit dari sofanya, ditaruhnya dokument ke meja dan menatap tangga yang kini terdengar riuh, langkah kaki Otlan yang sedang berlari.

Tak lama Otlan telah sampai di lantai 1, pemuda itu pun terus berlari hingga sampai di sofa tempat Cana duduk dan segera menghambur di pangkuan pemuda itu, memeluk lehernya erat.

Cana yang kebingungan hanya diam di sofa membiarkan Otlan duduk di pangkuannya sembari memeluknya erat.

Gemuruh guntur dan petir kembali terdengar, membuat Otlan semakin merapatkan tubuh mereka, badannya sedikit bergetar ketakutan.

Meski ia tak begitu memahami situasi yang terjadi, namun Cana berinisiatif untuk menepuk punggung yang lebih muda beberapa kali berupaya menenangkan. Hanya ini yang ia tau cara untuk menenangkan seseorang, karena sang paman yang dulu memeluknya dan menepuk punggungnya lembut kala ia sedang ketakutan. Tak ada kata penenang atau kata-kata manis lainnya, hanya pelukan dan elusan di punggung dikala guntur dan petir semakin aktif mengeluarkan suaranya.

Setiap guntur bergemuruh setiap itu pula Otlan terkejut dan memeluk Cana semakin erat, menyembunyikan wajahnya di pundak yang lebih tua dan menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara ketakutan, meski beberapa kali suara ketakutannya terlepas tanpa sengaja saat suara petir menyambar kencang.

Cana melirik kearah Otlan yang sedang ketakutan, ia kini tau bahwa pemuda itu sedang ketakutan. Dengan susah payah diambilnya remot gorden di meja samping berkas-berkas pekerjaannya dan membuat gordennya bergerak sendiri untuk menutupi semua kaca di rumah itu. Meski tak bisa menghilangkan suara petir dan gledek tapi setidaknya pemandangan mengerikan di luar tidak terlihat.

Entah sudah berapa lama mereka berdiam dengan posisi saling memeluk di ruang TV yang terang karena semua lampu telah menyala. Dan kini suara gledek serta petir sudah tidak lagi terdengar, hanya sesekali kilatnya masih menampakan keperkasaannya.

"Masih takut?" Tanya Cana pelan. Tak ingin membuat Otlan semakin tertekan.

Mendengar suara Cana mengalun lembut menyadarkannya akan satu hal, bahwa kini yang ia peluk bukanlah sang abang seperti hari biasanya, melainkan seseorang yang sangat ia sukai.

Dengan cepat Otlan melepaskan pelukannya dan berganti duduk di samping Cana, suasana canggung terasa, meski hanya Otlan yang merasakannya sedangkan Cana merasa biasa saja.

"Maaf kak tiba-tiba meluk gini," Ujarnya tak enak hati, ia pun takut Cana merasa risih dengan tingkah lakunya meski ia tak sengaja melakukan hal ini. Rasa takutnya tak bisa membuatnya berpikir jernih.

Cana tersenyum tipis, entah kenapa melihat sisi lain Otlan selalu bisa membuatnya senang, karena ia merasa pemuda itu membutuhkan perlindungannya. Dielusnya rambut Otlan yang terjuntai karena kepalanya menunduk dalam. "Mau makan?" Tanyanya mengalihkan topik obrolan. "Pasti laper kan habis tidur tadi." Sambungnya sembari menyisir rambut Otlan kebelakang.

Otlan menatapnya malu-malu, ia ingin melihat reaksi Cana dan wajah pemuda itu nampak biasa saja, sama seperti hari biasanya tanpa ada perubahan apapun, seolah tak perduli dengan tindakannya tadi.

"Mau makan?" Tanyanya lagi kala pandangan mereka bertemu.

"Makan apa?" Tanyanya berusaha bersikap biasa aja, mengimbangi tingkah Cana.

"Mau makan apa? Biar gue masakin."

"Lo bisa masak?" Tanyanya dengan mata penuh ingin tau.

Cana mengangguk. "Yang simple aja."

Otlan tersenyum manis, "Mau nasi goreng seafood dong. Bisa?" Dengan wajah penuh harap.

"Bisa," Ujar Cana dan berdiri dari sofa, berjalan kearah pantri yang rapi dengan perlengkapan yang lengkap.

Otlan mengikutinya berjalan di belakang, bahkan saat pemuda itu mondar-mandir mengambil bahan-bahan di kulkas pun ia ikuti dengan wajah penuh senyum.

Cana menatap Otlan yang juga menatapnya. "Lo duduk aja," Usirnya halus.

Otlan menggeleng. "Nanti kalo tiba-tiba ada guntur lagi gimana?"

Perkataan Otlan tak ia sanggah lagi, pemuda itu hanya diam dan melanjutkan memotong-motong bahannya dengan cekatan. Sedangkan Otlan terus menatap semua pergerakannya dengan mata berseri. Ia tak menyangka Cananya bisa sesempurna ini. Ia tatap wajah Cana yang sedang fokus memotong, senyumnya pun nampak sangat memuja pemuda itu. '๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ?' batinnya bangga.

Cana sama sekali tidak merasa terganggu dengan adanya Otlan di sampingnya, pemuda itu pun memasak dengan cekatan, hingga kini nasi goreng seafood pesanan Otlan telah siap dihidangkan.

Bau harum dari masakan Cana membuat cacing di perut Otlan berbunyi nyaring.

Cana menatapnya dengan wajah geli sedangkan Otlan tersenyum tanpa dosa. "Ayo makan." Ujarnya membawa 2 piring nasi goreng seafood ke meja.

Otlan dengan semangat mengikuti Cana di belakang dan duduk di samping pemuda itu, mulai melahapnya dengan excited, ingin tau rasa masakan yang dibuat oleh kesayangannya ini.


Renjana

[ ๐š๐šŽ๐š—๐š“๐šŠ๐š—๐šŠ / ๐š๐šŠ๐šœ๐šŠ ๐š‘๐šŠ๐š๐š’ ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š”๐šž๐šŠ๐š ]  ๐’๐ข๐ง๐จ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฌ :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...