Otlan yang menunggu kedatangan Cana di depan pager rumahnya pun tersenyum cerah kala ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya dengan jendela yang turun menampik sosok yang ia tunggu sejak tadi. Ia pun segera masuk kedalam mobil dan duduk di samping kemudi, tak lupa memakai seatbelt.
"Kenapa nunggu diluar?" Tanya Cana sedikit heran. Tak biasanya pemuda itu menunggu di depan pager.
"Gak papa lagi pengen aja." Jawabnya sekenanya. Sebenernya ia tak ingin sang abang marah kayak waktu itu jika melihat ia pergi dengan Cana bukan menemaninya nge gym.
Cana yang memang tak begitu hobi bicara hanya diam mendengar jawaban Otlan.
"Udah makan Na?" Tanyanya perhatian, sejak meraka semakin dekat ia jadi tau jika Cana gampang lupa untuk makan jika tidak ada yang mengingatkan.
"Belum," Jawabnya dengan fokus melihat jalanan yang sedikit ramai.
"Kebiasaan." Ujar Otlan malas. Sebal ia dengan pola makan pemuda itu. "Mau makan dulu gak?"
"Nani aja sekalian sama yang lain."
"Gak laper?" Tanyanya yang di jawab gelengan pelan. "Yaudah." Ia pun pasrah dengan keputusan pemuda itu.
"Mereka datang ke sini ada acara apa?" Tanyanya yang tak ingin kediaman melanda mereka.
"Dateng ke wisuda gue besok senin."
Otlan menganggukkan kepalanya mengerti. "Nanti gue dateng ke sana ya, mulai jam berapa?"
Cana melirik Otlan heran. "Lo gak sekolah?" Tanyanya yang dijawab gelengan dengan cengiran khas pemuda itu.
"Bolos sesekali gak papa kali Na, gak ada ulangan ini."
"Gue jemput kalo gitu,"
Otlan menatapnya dengan pandangan terkejut. "Serius?" Ia tak yakin dengan ucapan Cana.
"Daripada lo ke sasar, mending bareng gue." Ujarnya tanpa beban. "Tapi nanti lo ikut masuk ke hall kalo bareng gue."
"Loh terus ortu lo gimana? Gabung sama mereka?"
"Belom tentu mereka bisa dateng. Tapi kalo lo gak mau nanti nunggu diluar aja."
"Mau! Mau banget nemenin," Ujarnya buru-buru, takut Cana berubah pikiran yang bisa membuatnya menyesal tanpa ujung.
"Oke,"
Dan percakapan pun terus berlanjut dengan berbagai topik (tentu Otlan yang membawanya) hingga kini mereka telah sampai bandara, menunggu keluarga Cana yang katanya lagi mengantri untuk mengambil koper.
Otlan yang berdiri di samping Cana sedikit gelisah, nanti ia harus menyapa bagaimana untuk menyambut keluarga Cana, dan ia harus memperkenalkan diri seperti apa?. Sedang asyik dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari keluarga Cana yang sudah datang mendekati mereka.
"Kak Canaaaa!" Teriakan cempreng penuh kebahagiaan terdengar membuyarkan lamunan Otlan. Pemuda itu pun menatap keasal suara dan berganti melihat Cana yang sedang melambaikan tangan. Binar kebahagiaan nampak di mata yang biasanya kosong.
Cana menyambut kedua orang tua di depannya dengan pelukan hangat serta anak kecil di samping sang bunda yang sudah merentangkan tangan minta di peluk. "Kamu apa kabar Zel?" Tanya Cana mengelus wajah Keponakannya sayang.
Otlan tersenyum tipis dan menyalimi kedua orang tua itu, ia masih bingung harus bereaksi seperti apa. Matanya pun sesekali melihat interaksi Cana dengan gadis kecil itu yang nampak berbeda dari Cana biasanya.
"Pacarnya kak Cana ya?" Sapa satu-satunya wanita diantara mereka.
Otlan yang mendengarnya hanya menggeleng malu-malu, kedua tangannya saling meremat. jujur ia bahagia mendengar perkataan itu.
"Temen bun." Jawab Cana setelah melepaskan gadis kecil itu dari pelukannya.
Tentu jawaban Cana membuat Otlan sebal, namun memang kenyataannya seperti itu. Tapi pertanyaannya, temen mana yang intens mengewe?.
"Iya temen." Ujar Otlan dengan hati yang retak.
Kedua orang dewasa di sana saling pandang. Mereka seolah mengetahui sesuatu.
Cana tanpa berkata apapun mengambil koper milik sang keponakan, membawakannya, berjalan keluar dari bandara sembari menggandeng gadis kecil kesayangannya meninggalkan Otlan di belakang bersama kedua orang tua gadis itu.
"Tumben banget ya kakak mau ajak temennya ketemu kita." Ujar sang lelaki matang disamping wanita cantik yang di panggil bun.
Cana menoleh kebelakang dengan terus berjalan. "Biasanya juga aku ajak Agra."
"Beda kak, kalo Agra memang teman kamu dari kecil, selain dia kan gak ada lagi yang kamu ajak Ketemu kita." Bantah sang wanita itu memaparkan rasa penasarannya.
Cana tak menjawab perkataan itu, ia pun tak tau kenapa mengajak Otlan tadi, mungkin karena mereka terbiasa kemana-mana berdua belakangan ini membuatnya berinisiatif untuk mengajaknya.
Gadis kecil di samping Cana beberapa kali melirik Otlan dengan pandangan tak suka, ia seolah bisa merasakan adanya saingan dalam merebut perhatian sang sepupu.
Sedangkan Otlan sibuk sendiri mendengar perkataan dua orang itu. Apa itu artinya dia special?. Dan Senyumnya pun merekah sempurna.
Kedua orang dewasa disana saling pandang, dan secara bersamaan tersenyum kala Cana tak bisa membantah ucapannya.
"Nama kamu siapa tadi nak?" Tanya sang wanita disamping Otlan lembut.
"Otlan tante." Ujarnya dengan senyum kecil. Ia masih malu.
"Jangan panggil tante, panggil bunda aja kayak Cana." Ujarnya yang seketika membuat Otlan tersenyum kian lebar dan mengangguk malu-malu.
"Udah berapa lama deket sama Cana?" Tanya mulai mencari informasi.
"Udah lama tan, eh bun udah setengah tahun lebih."
Lagi-lagi kedua orang itu saling pandang dengan senyuman misterius.
"Otlan," Panggil wanita itu dengan nada yang sangat lembut.Otlan menoleh, menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Bunda titip jagain Cana ya, dia anaknya susah diatur soalnya." Ujarnya dengan senyuman tulus. "Kalo ada yang jagain dia disini bunda jadi tenang,"
Meski bingung namun Otlan tetap mengangguk. "Iya bun, pasti Otlan jagain Cana," Ujarnya dangan cengiran yang khas. Bahkan tanpa diminta pun pemuda itu dengan senang hati akan menjaga Cana, karena ia menyukainya dengan sangat dalam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar