Setelah mengantarkan Otlan kerumahnya Cana pun segera kembali ke rumah orang tuanya, ia lupa memberitahukan mereka bahwa besok adalah hari wisudanya.
Ia tak berharap banyak jika kedua orang tuanya bisa datang, setidaknya berharap ada salah satu diantara mereka yang akan datang di hari pentingnya.
Cana pun memasukan mobilnya ke garasi, ia Pandangi garasi sebelum masuk kedalam rumah. Ia datang disaat yang tepat, orang tuanya sedang berada di rumah sekarang.
Di langkahkan kakinya masuk kedalam rumah dengan pelan, tujuan utamanya adalah tempat kerja sang ayah. Namun suara tawa dari ruang keluarga membuatnya berubah pikiran. Ia pun segera melangkahkan kakinya keasal suara, dan di sana ada kedua orang tuanya serta Kenzo sedang menonton TV.
Tanpa berkata apapun Cana segera duduk di single sofa, membuat orang yang berada di sana menoleh kearahnya sebentar sebelum kembali menonton TV.
"Tumben udah pulang kak." Sapa sang papi menyapa dengan senyuman teduh.
Kenzo mendengus kesal, moodnya berubah jelek seketika karena kedatangan sang saudara kembar yang selalu merebut apa yang dia inginkan. Termasuk kebebasan.
Jika orang bilang dia tukang iri, memang benar ia selalu iri sama Cana. Hidupnya terlalu bebas sedangkan dia bagaikan burung dalam sangkar. Ia pun ingin merasakan nakal, dan jarang pulang seperti kana, tapi ia tau maminya tak akan mengizinkan, bahkan bisa menjadi sangat rewel jika keinginannya tak dia turuti.
Sedangkan Cana? Bahkan ia tak pulang seminggu pun maminya tak akan marah.
"Besok aku wisuda, papi sama mami bisa dateng?" Ucapnya datar.
Rasa kesal dalam diri Kenzo semakin membesar, ia berpikir Cana sengaja berbicara di depannya tentang ini karena ingin memberitahunya bahwa dia jauh lebih baik dari Kenzo.
Kecerdasan dan kesehatan yang ia idamkan kenapa ada di diri Cana? Sedangkan ia? Hanya sisa buangan hingga Membuatnya masih berada di sekolah senior diusianya yang seharusnya sudah kejenjang kuliah.
Kedua orang tuanya nampak sangat terkejut.
"Kenapa baru bilang sekarang? Mami besok ada meeting sama client!" Seru sang mami kesal.
"Iya kak kenapa baru sekarang? Papi besok harus ke NY untuk meeting."
"Lupa," Ujarnya cuek. Sangat berbeda dengan kedua orang tuanya. "Kalo gak bisa dateng yaudah," Sambungnya tak mempermasalahkan, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Kedua orang tuanya sibuk hingga selalu menomor sekian kan dirinya, tapi berbeda dengan Kenzo, jika untuk sang adik kembar, mau sesibuk apapun mereka, mereka tak akan membiarkan Kenzo sendirian.
Kenzo tersenyum samar mendengar jawaban kedua orang tuanya. Katakanlah ia jahat karena bahagia diatas penderitaan orang lain, tapi ia tak perduli, selama Cana tak bisa mendapatkan apa yang dia mau seperti dirinya itu terasa impaskan?.
"Gak bisa di undur jadi lusa kak?" Nego sang papi.
Cana yang sudah berdiri ingin berjalan menjauh pun mengurungkan niatnya. "Kampusnya bukan punya aku." Singkat padat dan menyebalkan. Cana pun berlalu begitu saja dari sana.
"Kamu gak bisa batalin meeting kamu? Anak kamu wisuda besok." Ujar sang kepala keluarga pada sang istri.
"Kamu aja yang batalin ke NY, bisa gak? Jangan nyuruh aku kalo kamu sendiri gak bisa."
Keduanya terdiam beberapa saat, hingga sang kepala keluarga menatap anak sulungnya yang sedang memakan cemilannya dengan santai sembari menonton TV.
"Adek bisa gak datang ke wisuda kakak besok?" Ia sepertinya masih ingin mencari solusi dari permasalahan yang ada.
Kenzo menggeleng keras. "Gak bisa, mending aku ke sekolah bisa liat Otlan daripada dateng ke acara Cana." Tolaknya mentah-mentah.
"Sebentar aja dek, habis itu kamu bisa dateng ke sekolah kok."
Sang istri menatap suaminya tak percaya. "Kamu gila ya? Kenzo itu lemah malah kamu suruh bolak-balik gitu, kalo penyakitnya kumat gimana? Gak kasian kamu sama Ken?"
Sang kepala keluarga hanya terdiam mendengar perkataan sang istri, karena yang dikatakan wanita cantik itu ada benarnya.
Kenzo yang dibela pun segera memeluk sayang sang mami. Memang hanya maminya yang akan selalu mengerti dirinya.
"Lagian Cana udah bilang gak papa yaudah, cuman wisuda ini gak usah dibikin ribet lah kak." Sambungnya masih sedikit kesal.
Suasana disana pun kembali tenang, namun yang tak mereka sadari sikap mereka seperti inilah yang membuat anak sulung mereka semakin menjauh dari uluran tangan mereka, bahkan bisa dikatakan pemuda itu sudah tak perduli lagi dengan keluarga kandungnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar