Suara notifikasi HP berdenting terdengar di ruang makan, semua orang yang berada di ruang makan menoleh kearah Nanon, merasa sedikit heran karena tak bisanya Nanon terus bermainan HP seperti ini, dan yang lebih aneh Nanon sibuk membalas chat entah siapa.
"Chattan sama siapa Non?" Tanya sang papa yang sudah sangat penasaran, anak tengahnya yang selalu membawa buku saat makan kini beralih membawa HP dan sibuk dengan benda pipih itu.
Nanon menghentikan jempolnya yang sedang menari di atas benda pipih itu dan menoleh kearah sang papa, dan ia baru sadar bahwa semua keuarganya ikut menatapnya penasaran.
"Cuman chattan sama temen." Ujarnya cuek dan meletakkan HP-nya di meja, ia pun beralih focus ke makanan, ingin menghabiskannya secepat mungkin, ia tak terbiasa mendapat atensi dari keluarganya.
Sang papa menatap istrinya yang juga menatap suaminya, tatapan mereka penuh tanya.
Kakak dan adiknya pun menatap Nanon dengan mata memincing, entah kenapa dua saudara ini selalu menjadikannya target dalam hal apapun, padahal Nanon tak pernah perduli sama mereka sejak kecil, ia hanya focus pada dirinya sendiri, namun kedua saudaranya terlihat tak suka.
Dengan susah payah Nanon menghabiskan makanannya dan segera bangkit berdiri setelah habis. "Aku udah selesai pa, ma, pergi dulu, mau main sama temen." Ujarnya melenggang pergi begitu saja yang menendang tatapan penuh tanya dari semua orang.
Denting HP kembali terdengar
Ohm Pawat
Kakak udah jalan?
NNNN
Udah, lagi jalan ke pemberhentian bus.
Ohm Pawat
Aku jemput aja kak
NNN
Gak usah, beda arah.
Pawat memanyunkan bibirnya mendapat balasan penolakan dari Nanon.
Ohm Pawat
Tetep aku jemput, gak mau tau
ketiknya final dan segera menyuruh sang supir untuk segera melakukan mobilnya lebih cepat, takut Nanon berangkat dengan bus.
Nanon tersenyum melihat balasan keras kepala oleh Pawat, namun pemuda itu tak kembali membalas, ia kini mempercepat langkahnya agar lekas sampai di halte dan duduk di sana dengan nyaman, mengabaikan bus yang sedang berhenti menunggu para penumpang yang masih berdesakan untuk masuk semua. Bahkan hingga bus telah melaju ia tetap duduk dengan nyaman di sana.
Kepalanya pun menoleh kearah jalanan, melihat mobil dan transportasi umum yang lewat, di sana jarang ada motor, karena pemakaian motor yang di batesi jumlahnya, terlebih pajak yang di keluarkan pun cukup besar hingga membuat orang-orang memilih untuk transportasi umum.
Pawat tersenyum cerah ketika melihat Nanon masih duduk nyaman di bangku penunggu bus.
"Berhenti di depan orang pake baju putih itu pak, yang lagi duduk di halte." Pawat berujar excited.
Sang supir pun mengangguk dan menghentikan mobilnya di pemberhentian bus. Pawat dengan cepat membuka kursi penumpang dan turun dari sana, senyum cerahnya masih tersunging indah.
"Kak Nanon, pagi." Sapa Pawat begitu turun dari mobil.
Nanon tersenyum tipis Dan berdiri dari duduknya berjalan mendekati Pawat yang Masih berdiri di samping mobilnya.
"Pagi Ohm," sapanya balik.
"Ayok masuk kak, keburu makin rame tempatnya." Ujar Pawat yang di angguki oleh Nanon.
Pemuda itu pun lantas kembali masuk kedalam mobil di ikuti Nanon, tak lama sang supir pun segera menjalankan mobilnya untuk menjauh dan berputar arah, karena tempat yang mereka ingin menghabiskan waktu berada di jalur yang berbeda.
Tak lama mobil pun sampai di tempat tujuan, tulisan Dreamland di atas pintu masuk yang sangat besar terlihat begitu indah.
Pawat dan Nanon keluar bebarengan. Dengan takjub Pawat melihat Dreamland di depannya, tempat bermain di dunia ini lebih indah dan besar dari asal dunianya.
"Aku mesen ticket dulu, kamu tunggu di kursi sana aja," Ucap Nanon berjalan menjauh setelah menunjuk kursi di bawah pohon yang sepi.
Pawat yang ingin menjawab perkataan Nanon pun terhenti, karena pemuda itu melewatinya begitu saja. Bibirnya maju beberapa Senti namun ia tak ingin mengambil pusing memilih segera berjalan kearah tempat duduk yang di tunjuk Nanon, menunggu dengan bermain HP.
Nanon sesekali menoleh kearah Pawat, bibirnya tersenyum melihat Pawat yang sedang asik memotret Dan tak lupa memotret dirinya sendiri. Semua tingkah yang di lakukan Pawat terlihat menggemaskan di matanya.
Perlalahan satu persatu orang yang mengantri di depannya pun pergi, kini giliran Nanon yang memesan 2 ticket untuk masuk yang segera di berikan oleh sang kasir.
Kini 2 ticket berada di tangannya, saat kakinya ingin melangkah menjauh tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
Kepala Nanon menoleh dan terlihatlah Janeeyah yang sedang mengantri dengan temannya. Gadis itu nampak jauh lebih cantik dengan riasan tipis dan pakaiannya yang casual.
"Kak Nanon kesini sama siapa?" Tanyanya basa-basi disertai senyuman manis.
"Sama Ohm, duluan ya," ujarnya dan melenggang pergi, seolah tak ingin berbicara lebih jauh.
Janeeyah yang masih ingin mengobrol memanyunkan bibirnya, matanya terus mengawasi punggung Nanon hingga berhenti di depan Pawat yang tengah memotret kucing yang sedang tiduran. Kakinya pun menghentak sebal, kedua tangannya saling meremat melampiaskan rasa kesalnya. 'Pawat lagi, Pawat terus, Pawat mulu, memang itu anak harus segera di singkirin.
Gadis di samping Janeeyah mengelus lengan temannya prihatin, gadis ini masih saja etia mengejar Nanon yang acuh tak acuh padanya dari dulu, padahal yang mengantri ingin menjadi kekasih gadis itu sangatlah banyak. Namun ia tak bisa berkata apapun, namanya juga cinta. Daripada membuat Janeeyah kesal padanya lebih baik ia diam.
Pawat mendongak kala seseorang berdiri di sampingnya, senyumnya pun merekah melihat Nanon yang tersenyum lembut menatapnya, tangannya pun terulur ingin membantu Pawat untuk berdiri yang segera di terima dengan senang hati.
Dengan lembut di tepuknya celana kain Pawat yang sedikit Kotor dan menggenggam tangannya untuk masuk kedalam.
Pawat tersenyum tersenyum malu-malu , ia tak pernah mendapatkan perlakuan yang semanis ini, bahkan semua mantan pacarnya dulu tak pernah selembut dan seperhatian ini, jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, namun ia sangat menyukai tiap detakannya, terasa begitu nyaman dan membahagiakan.
"Kamu udah makan?" Tanya Nanon menoleh kearah Pawat.
Pawat mengangguk pelan, senyum malu-malunya pun Masih tersungging indah.
Dengan gemas di cubitnya pipih Pawat yang tembem. Sudahkah ia bilang bahwa Pawat sangatlah menggemaskan?.
"Kak Nanon sakit," rengek Pawat mencoba melepaskan tangan Nanon dari pipinya.
Nanon tersenyum tanpa dosa setelah melepaskan pipi tembem itu, yang kini menjadi pipi favoritenya. Kembali di genggamnya dengan Pawat untuk terus melangkah.
Suasana taman bermain yang ramai tak membuat mereka malu untuk saling bergandengan tangan.
Janeeyah mendecih melihat kedua pemuda di depannya, apapun yang terjadi hari ini ia harus bisa membuat Pawat celaka.
Sedangkan Pawat dan Nanon yang berada di depannya asik mengobrol ringan tanpa Tau ada tatapan dari seseorang yang begitu penuh akan tekat dendam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar