Jumat, 06 September 2024

Enigma Part 2 - Hidup baru


Dengan sisa-sisa kenangan yang di miliki si pemilik tubuh, Pawat berjalan melewati rumah demi rumah dan menaiki tangga satu persatu yang menjulang tinggi dengan Nanon di sampingnya, jangan tanya Pawat kenapa Nanon ingin menemaninya pulang, karena pemuda itu di tanya pun tak memberikan jawaban yang puas, hingga kini ia telah tiba di rumah mewah milik keluarga si pemilik tubuh.


Ia pun menatap kagum rumah di depannya, kepalanya menoleh ke samping melihat Nanon yang terus memperhatikannya, ragu-ragu ia memencet bel.


"Lo gak mau balik Non?" Tanya Pawat sedikit mengusir.


Nanonmenatapnya bingung, 'Apa itu lo?' Namun ia tak mengatakan apapun Dan memilih untuk menjawab. "Nanti kalo kamu udah masuk." Ujarnya menunggu dengan tenang di sebelah Pawat.


Pawat memberenggutkan bibirnya gemas, dan semua itu tak luput dari pandangan Nanon.


Pintu gerbang mewah nan tertutup pun perlalahan terbuka dan menampilkan sang maid yang membuka pagar dengan sopan.


"Sore tuan muda," Sapa sang maid sembari menunduk hormat.


Pawat tergugu di tempatnya, ia sangat malu mendapatkan respon yang sangat di luar dugaan."Sore," Jawabnya kikuk. 


Pawat kembali menoleh kearah Nanon, menatap pemuda itu yang juga sedang menatapnya, seolah menunggunya untuk masuk. 


Dengan ragu Pawat pun masuk ke dalam dan sang maid segera menutup pintu garasi itu sebelum berjalan di belakang Pawat dengan sopan, kepalanya sesekali menoleh kearah Nanon, memastikan pemuda itu apa sudah pergi.


Melihat Pawat telah masuk kedalam rumah dengan aman, Nanon pun memilih untuk putar balik, meski ia harus berjalan jauh karena perumahan Pawat dan rumahnya berbeda tapi ia tetep menemaninya karena takut terjadi apa-apa di jalan, di matanya Pawat adalah sosok yang rapuh.


Mengeluarkan Headset dari tas dan mulai mendengarkan lagu kesukaanya untuk menemaninya bejalan di jalan yang sepi.


========== Enigma==========


Pawat berjalan dengan pelan, matanya menatap sekitar dengan pandangan kagum, bibirnya tersenyum lebar, terlihat ia sangat bahagia.


"Siapapun lo yang udah buat gue masuk ke dalam novel ini makasih banget, gue jadi bisa ngerasain jadi orang kaya," Batinya bahagia. 


"Tuan muda sudah makan malam?" Tanya seseorang yang terlihat seperti kepala pelayan bertanya dari arah samping kananya, raut wajahnya terlihat khawatir begitu melihat memar di wajah Ohm, namun ia tak berani mengatakan apapun, takut membuat sang tuan muda marah seperti kemaren, karena menurutnya terlalu ikut campur. 


Pawat menoleh dan menggeleng. "Belom. Ada makanan apa ya, bi?" Tanyanya mendekati sang kepala pelayan. Di dalam novel sang pemilik tubuhnya lumayan dekat dengan wanita paruh baya itu.


"Bibi masak makanan kesukaan aden," Ujarnya dengan tersenyum lembut.


Pawat pun berjalan kearah meja Mayanikuti kedua pelayan tadi dan melihat banyaknya menu yang di hidangkan. Dengan susah payah Pawat menahan air liurnya yang ingin menetes.


Tanpa babibu Pawat pun berjalan kearah kursi dan duduk dengan nyaman.


Maid yang sejak tadi mengikutinya pun mulai mengambilkannya makanan. Nampak jelas terlihat Pawat sangat menyukai kehidupannya sekarang.


"Papi sama Mami kemana?" Tanyanya menatap sang kepala asisten yang berdiri di samping kirinya.


"Tuan dan nyonya ada keperluan di luar kota den, Minggu depan baru pulang." 


"Syukurlah, jadi gak harus bingung harus gimana kalo ketemu mereka nanti," Batinya semakin bahagia.


Pawat pun segera melahap makanannya dengan bahagia. Dia tidak menyangka bahwa hidup si pemilik tubuh yang asli begitu enak, dan ia tak mau mati konyol di tangan Janeeyah, ia ingin hidup bahagia dengan menikmati semua kekayaan ini. Dan ia sudah tau harus bagaimana untuk mempertahankan kehidupannya. Tekatnya sudah sangat bulat, beberapa rencana licik pun sudah ia susun dengan rapi di otaknya.


========== Enigma ==========

Nanon berjalan masuk kedalam rumah yang megah namun sepi itu, kedua telinganya masih tersumbat headset.


Keningnya mengkerut melihat seseorang berdiri di depan kamarnya, di tangan pemuda itu terdapat HP dengan apel tergigit keluaran terbaru, dan Nanon sudah tau apa maksud sodaranya berdiri di sana.


Nanon pun kembali berjalan dengan memainkan hp-nya, tak ingin menggubris kelakuan adik kandungnya yang beda 2 tahun darinya.


"Enak banget ya jadi anak yang di anggep sama ortu, apapun yang di ingini pasti di kabulin," Celetuk Karva saat Nanon melewatinya dan berusaha membuka kunci kamarnya. Namun Nanon seolah menganggapnya tak ada. Tak ingin menyerah Karva kembali melanjutkan. "Gak kayak seseorang yang baju sama tas aja gantinya setahun sekali." Oloknya dengan tawa mencemohoh.


Tapi Nanon sama sekali tak menganggapnya, pemuda itu langsung masuk kedalam begitu ia berhasil membuka kunci pintu kamarnya.


"Pantes aja lo gak di anggep sama ortu, dasar freak!" Makinya saat Nanon menutup pintu kamarnya. Kesal sekali ia, namun tak lama senyum sinisnya pun terbit dan ia pergi begitu saja dari sana.


Nanon menghela nafas berat. Ia sudah terbiasa dengan hidupnya yang seperti ini, menjadi bahan ejekan untuk kakak maupun adiknya karena ia yang tak begitu di perhatikan oleh orang tuanya, ia sudah kebal dengan semuanya, yang ia mau hanya agar ia  lulus cepat dan kuliah di kota yang jauh, hidup damai dengan duninya sendiri tanpa bayang keluarganya. Jika akselerasi masih ada sudah di pastikan ia sudah lulus dari tahun kemaren.


Di letakkannya tas ke atas meja belajar yang penuh dengan buku dan duduk di mejanya, di bukanya laptop dan menghidupkannya, ia ingin mengerjakan tugas yang baru tadi pagi di berikan.


Ting 


Suara notifikasi di hp membuatnya menoleh kearah layar HP-nya yang menyala, keningnya mengkerut melihat seseorang yang mengirim inbox ke akun facebooknya.


Ohm Pawat 

Hai kak nanon, ini aku tadi yang kakak tolongin hehehe

Maaf tiba-tiba inbox dan ngikutin kakak, aku cuman mau bilang makasih 


Di ambilnya Hp itu dan mulai mengetik balasan untuk seseorang di sebrang sana yang sedang tiduran di ranjang king sizenya sambil memakan buah.


NNN 

Iya


Dan kembali meletakan HP-nya di sebelah laptop, pemuda itu pun mengambil buku dalam tas dan membukanya, mencari lembaran PR yang harus ia kerjakan.


Sedangkan Pawat yang mendapat balasan super singkat itu memberenggut kesal. ia pun berganti tidurannya menjadi duduk menyender di headbord. Menggerutu sendiri karena sikap dingin Nanon.


"Duh gue harus bales apa ya biar dia mau ngelirik ke gue? Hidup mati gue ada di tangan dia nih," Katanya sedikit lebay,


Matanya pun menatap kamarnya yang luas, mencari inspirasi harus bagaimana lagi, hingga matanya menatap sudut ruangan yang berisi meja belajarnya dan ia tersenyum puas karena sudah mendapatkan ide.


"Mari caper dan bikin cewek jahat itu darah tinggi hahaha," Ujarnya mulai mengetik.


Ohm Pawat

Kak, kakak masih punya buku kelas 2 gak? Aku mau minjem

Aku pengen bagusin nilai, kan bentar lagi naik ke kelas 3

Boleh gak kak?


Dentingan notifikasi yang berurutan dari facebook pun kembali terdengar, Nanon yang sedang fokus mengerjakan tugasnya sedikit terganggu dan kembali mengambil hpnya.


NNN

Boleh, buku apa?


Pawat pun tersenyum bahagia, meski jawabannya masih singkat, yang terpenting capernya di tanggapi. "Dasar kutu buku," Makinya masih tersenyum cerah.


Ohm Pawat

Semua kak

Kalo boleh sekalian catatannya ya hehehehe 


NNN

Iya,besok aku anterin ke kelas kamu.


Ohm Pawat

Makasih banyakk kak nanonnn

lope lope lope


Kening Nanon mengkerut dalam."Lope lope?" tanyanya bingung sendiri, ia baru mendengar kata aneh yang entah apa itu.


Kepalanya pun menggeleng pelan dan tak ingin memikirkan kelakuan Pawat kian jauh, pemuda itu pun kembali mengetikan kata demi kata di laptopnya, kembali menggarap tugas.


========== Enigma ========== 


Terik mentari bersinar terang, seterang senyuman Pawat yang kian menikmati hidupnya sebagai anak tunggal orang kaya. Jika kemaren ia menangis histeris tak terima menjadi orang yang 'bodoh' kini ia justru menikmatinya dengan penuh suka cita.


Mobil berhenti tak jauh dari pemberhentian buss, kening Pawat mengkerut heran."Kenapa berhenti di sini kak?" Tanyanya penasaran.


sang supir menoleh ke belakang. "Kan dari dulu aden yang minta buat berhenti di sini." 


Pawat merutuki kebodohannya sendiri yang melupakan hal ini. Pemuda itu pun tersenyum garing. "Jalan lagi aja pak, berhenti di gerbang, aku gak mau lagi jalan kaki jauh," 


Sang supir pun segera menjalankan kembali mobilnya tanpa berpikir yang aneh-aneh, dan menghentikannya di depan gerbang sekolah yang megah.


"Makasihh," Ucapnya ceria sebelum turun dari mobil, pemuda itu pun berjalan dengan santai masuk kedalam sekolah, mengabaikan tatapan semua murid yang kini berbisik sembari menatapnya. Ia kesal, tapi harus ia tahan.


Dengan mengandalkan memori dari si pemilik tubuh Dan bantuan novel yang sudah habis ia baca, Pawat kini telah sampai di kelasnya, begitu ia menggeser pintu kelas semua orang di kelas menatapnya dan tak lama semuanya berbisik menggunjing.


Pawat membrenggut sebal, pantes saja sang pemilik tubuh yang asli malas bersekolah, siapa yang betah kalau hidupnya seperti ini, tapi tenang saja, ia sudah menyiapkanbanyak rencana untuk memulihkan nama si pemilik tubuh agar hidupnya tak semengenaskan sekarang.


Di hembuskannya nafas kasar dan segera duduk di kursinya yang sialnya berada di tengah, di sebelahnya sudah di isi oleh gadis cantik yang sepertinya sudah ilfeel padanya, padahal mereka belum pernah berbibacara. Semua ini karena si pemeran utama dalam novel yang menyebalkan itu.


Di keluarkannya hp dan mulai berselancar di dunia maya, mengabaikan sepenuhnya orang di sekelilingnya yang terang-terangan menyindirnya.


Nanon turun dari bus dan berjalan santai dengan headpone yang berada di kedua telinganya, setiap ia berjalan selalu ada orang yang berbisik sembari menatapnya kagum. Sangat bertolak belakang dengan yang Pawat alami.


Langkah kakinya pun dengan mantap berjalan melewati tiap lorong kelas, hingga di tikungan Jalan yang seharusnya Nanon berbelok namun pemuda itu tetap berjalan luruh kearah tangga, menaikinya satu persatu dengan tenang. Semua orang menatapnya bingung, mau kemana sang idola sekolah ini? Hingga banyak mahasiswi yang mengikutinya dari belakang saking keponya mereka.


"Eh kak Nanon? Tumben ke sini, nyari siapa?" Sapa Jane dengan tersenyum manis, berusaha menggaet hati sang pujaan hati, matanya pun berbinar bahagia, nampak sangat tergila-gila dengan Nanon.


Nanon pun melepaskan headphone dari telinganya dan menaruhnya di leher, "Nyari Ohm," Jawab Nanon cuek dengan kepala menoleh ke dalam kelas mencari sosok yang ia temui kemaren.


Ohm yang merasa terganggu dengan teriakan-teriakan kecil dari semua siswi di kelasnya pun memilih mencari tau penyebabnya. Dan wajahnya tersenyum cerah melihat Nanon yang sedang berdiri di depan kelasnya dengan gadis cantik sangat cantik di depan pemuda itu.


Janeeyah memberenggut kesal namun segera ia rubah mimik wajahnya menjadi ramah kembali. "Ohm siapa kak?" 


Sebelum Nanon menjawab, orang yang di maksud sudah lebih dulu menyapa dengan cerah ceria. 


"Kak Nanon nyariin aku ya?" Sapanya kepedean.


Semua orang di sana menatap mereka penasaran. 


Nanon mengangguk dan megambil beberapa buku untuk ia serahkan ke Ohm. "Ini titipan kamu." 


Pawat tersenyum cerah dan mengambilnya dengan suka cita, berbeda dengan gadis di depan Nanon yang menatapnya dengan aura membunuh, Pawat hanya meliriknya dan melirik name tag di dada gadis itu untuk memastikan sebelum tersenyum tipis.


"Makasih banyak ya kak, mau aja aku repotin," Ujarnya dan dengan nekat memeluk tubuh Nanon membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, begitu juga dengan Nanon, ia pun sama terkejutnya.


Dengan pelan tanpa ingin menyakiti Pawat, Nanon melepaskan pelukan mereka dengan mendorong pelan pinggang Pawat, memberi kode yang di turuti dengan senang hati. Senyum Pawat masih bertengger indah di sana.


"Kalo ada yang gak kamu ngerti bisa chat aku." Ujar Nanon sebelum berlalu pergi.


Pawat dengan sengaja melambaikan tangan mengantar kepergian Nanon, melewati lautan manusia yang mengerebungi mereka tadi.


Jane yang sudah tak bisa menahan rasa kesalnya dengan kasar menarik semua buku dari tangan Pawat.


Pawat yang belum siap dengan serangan mendadak pun terkejut bukan main hingga tubuhnya terdorong ke samping.


Semua orang yang melihat itu cukup terkejut, tidak percaya dewi baik hati Dan lemah lembut yang mereka kenal bisa se kasar itu.


Jane merutuki kebodohannya setelah tersadar kini banyak orang memperhatikan mereka. "Maaf ya Paw, aku gak maksud kasar sama kamu, aku cuman gak suka kamu jadiin kak Nanon target kamu, hanya karena aku suka sama kak Nanon," Ujarnya dengan mimik wajah menyesal.


Semua orang kini kembali saling berbisik.


Pawat menghela nafas kesal, namun setelahnya ia diam-diam tersenyum tipis. "Mau bermain akting menjadi sosok yang tak berdaya? Ayo aja!" 


"Jane kamu ngomong apa sih? Aku cuman minjem buku sama kak Nanon, aku cuman mau fokus ke pelajaran aku biar nilai aku naik, kamu kok tega mikir gitu sama aku?" Tanyanya dengan wajah yang terlihat sangat sedih. "Kamu salah paham Jane, aku gak pernah suka sama kamu, aku hanya mau temenan tapi kamu selalu salah paham, sekarang aku cuman mau fokus sama study aku, gak mau lagi ingin temenan sama kamu setelah kamu salah paham terus sama aku, dan akhirnya aku di bully sama orang-orang," Sambungnya dengan wajah memelas.


Janeeyah tergugu, ia tak menyangka Pawat akan berani membalas ucapannya, ini pertama kalinya Pawat berani membantah ucapannya setelah 5 tahun ia bully diam-diam. 


Melihat Jane yang terkejut Pawat pun berusaha mengambil kembali buku Nanon dari tangan gadis itu, namun Jane segera sadar dan menahannya dengan sekuat tenaga.


Pawat dengan sengaja mencondongkan tubuhnya kearah Jane dan saat tangan Janeeyah menyentuh lengannya dengan sengaja Pawat mendorong tubuhnya sendiri kebelakang hingga terjungkal. 


"Aww sakit Jane," pekik Pawat sok tersakiti.


Semua orang yang ada disana terkejut luar biasa, mereka menatap Pawat dan Jane bergantian.


Jane pun ikut terkejut saat Pawat jatuh dengan keras di lantai kelas.


Kepalanya menoleh ke semua orang yang menatapnya tak percaya. "Enggak, aku gak dorong dia, dia jatuh sendiri." Ucapnya berusaha membela diri, namun sepertinya tak ada yang percaya.


"Kamu pengen banget buku kak Nanon ya? Gak papa kalo kamu mau ambil, aku belajar sendiri aja gak papa," Katanya sok baik, dengan sengaja ia tepuk pundak Jane lembut. "Semangat ngejar kak Nanonnya ya," Sambungnya dan berjalan menjauh, berjalan ke tempat duduknya.


Ia sangat puas bisa mempermalukan gadis itu seperti apa yang gadis itu lakukan ke padanya setiap hari, dulu.


Sedangkan di depan kelas Jane berusaha menyakinkan semua orang yang menatapnya aneh, ia menggeleng keras, "Kalian salah paham, gak gitu maksud aku," namun semuanya percuma, orang lebih pecaya apa yang mereka liat daripada sangkalan gadis itu, hingga ia tak tau lagi harus berbicara apa dan ia memilih untuk kabur dari sana, padahal bel sebentar lagi berdenting.


To be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...