Sabtu, 21 September 2024

Enigma part 5 - Semakin dekat


Suasana kelas yang awalnya damai berubah riuh penuh pekikan-pekikan bahagia kala guru olahraga mereka mengatakan kalau mereka akan gabung dengan kelas 3 I, kelas unggulan tempat berkumpulnya orang pintar serta wajah yang goodlooking.


Sang guru menggeleng melihat anak didiknya yang begitu bergembira. "Kalian ganti baju dulu, setelah ganti baju langsung ke kolam renang," ujarnya sebelum meninggalkan kelas.


Para siswa pun segera keluar untuk mengganti baju di WC sedangkan para siswi segera mengusir siswa yang masih malas untuk pergi dari kelas.


Pawat pun segera keluar dari kelas, ingin sesegera mungkin berganti baju, entah kenapa ia begitu excited kali ini. bibirnya terus tersenyum bahagia.


Janeeyah menatap anak buahnya memberi kode untuk segera mengikuti Pawat yang di laksanakan dengan segera Oleh mereka, senyumnya merekah sinis. 'Ini balasan karena kamu udah mencuri perhatian kak Nanon.' batinnya penuh dendam. Ia pun segera mengganti baju seperti  teman-temannya yang lain. Akan ia gunakan kesempatan ini untuk membuat Nanon tertarik padanya.


Sesampainya di toilet Pawat pun mencari bilik yang kosong dan masuk kedalam tanpa memperhatikan sekitar, menaruh HP-nya di atas toilet Dan mulai melucuti baju seragamnya untuk ia ganti dengan baju renang, Namun saat tangannya ingin mengambil baju yang ia sampirkan di pintu, bajunya sudah hilang.


"Ada orang di luar gak?" teriaknya ingin meminta pertolongan, Namun semua orang diam, karena mereka tak berani jika harus melawan sekumpulan manusia bandel di sekolahnya yang sedang mengawasi mereka.


Pawat pun menggedor-nggedor pintu dengan kencang. "Ada orang gak, heii!!" Teriaknya lagi Namun tetap tak ada jawaban.


Kepalanya menoleh kearah toilet, dengan cekatan ia pun mengambil HP-nya dan mendial nomor Nanon, nerharap sang kakak kelas bisa membantunya.


Nanon yang sedang menonton teman-temannya mengambil nilai olahraga renang pun menoleh kala getaran HP-nya terdengar, matanya memincing melihat nama Ohm disana. 


"Aku keluar bentar," Ucapnya pada Perth yang di balas anggukan sembari berlalu.


Sesampainya di luar ia pun mengangkat panggilan Pawat . "Kenap-" belum sempat Nanon bertanya sudah terdengar suara Pawat yang yang terdrngar memelas dan panik.


"Kak Nanon tolong, aku kejebak di toilet, pintunya gak bisa di buka, terus baju aku juga ilang,"


"Kamu di toilet mana?" Tanya Nanon sembari berjalan menjauh dari ruangan swimming pool.


"Kak Nanon," sapa gadis-gadis kelas 2 III ketika Nanon melewati mereka dengan senyuman centil, Namun semuanya di abaikan oleh pemuda itu, ia sedang panik akan keadaan Pawat sekarang.


Mereka yang di abaikan bukannya sedih justru tersenyum sumringah melihat sifat cuek Nanon sembari terus menatap punggung Nanon yang menjauh.


"Aku di toilet lantai 2 kak, please tolongin aku, aku gak punya baju buat di pake," Ucapnya dengan bibir mengrecut, entah kenapa dia selalu refleks memanyunkan bibirnya ketika sedang gelisah, mungkin karena yang punya tubuh selalu begitu dulu jadi tubuhnya sudah terbiasa akan hal itu. 


"Iya ini aku lagi jalan ke sana," Ucap Nanon semakin mempercepat jalannya.


Tanpa sengaja Janeeyah dan Nanon berpapasan di tangga, gadis itu pun sontak tersenyum manis. "Kak Nanon mau kemana?" Tanyanya lemah lembut, namun Nanon mengabaikan gadis itu dan terus berjalan menuruni tangga dengan cepat. Wajahnya seketika membrenggut tak suka, karena lagi-lagi ia di abaikan.


Sang pelaku pembullyan yang mendengar Ohm telponan pun segera mengambil ember yang berada di toilet, mengisinya dengan air lalu membuangnya di bilik WC yang Pawat huni, mereka pun tertawa mendengar teriakan Pawat yang terkejut tiba-tiba di siram air, sang komandan kembali menyuruh anak buahnya untuk mengisi ember dengan air dan kembali membuangnya ke tempat Pawat.


Nanon yang mendengar teriakan Pawat pun semakin panik, takut adik kelasnya kenapa-kenapa. Ia yang awalnya berjalan cepat kini berubah menjadi lari, ia sekarang sudah tak perduli apapun, hingga kini ia telah sampai di WC yang di maksud Pawat dan mendorongnya agar bisa masuk, namun pintunya terkunci dari dalam, suara tawa dari dalam terdengar membahana.


Kepalanya menoleh ke sembarang arah mencari seseorang atau sesuatu yang bisa mendobrak pintu itu, namun kebetulan lorong di sana sepi.


Tak ada pilihan lain, pemuda itu pun mundur beberapa langkah dan menendang pintu di depannya berkali-kali dengan penuh tenaga.


Orang yang berada di dalam menatap pintu dengan heran, sang boss menyuruh anak buahnya untuk mencari tau ada apa, namun pintu tiba-tiba terbuka lebar membuat semua anak di dalam sana terkejut, dan yang lebih mengejutkan ada Nanon di tengah pintu yang terbuka lebar.


Nanon masuk kedalam dengan mata menatap tajam, semua anak hanya diam dan buru-buru keluar dari WC sebelum di babat habis oleh pemuda yang jago taekwondo itu.


Dengan panik Nanon pun segera berjalan kearah bilik yang Pawat tempati dan membuang pel kayu yang menyumbat pintu itu untuk terbuka, di sana ia bisa liat Pawat yang hanya mengenakan kaos dalaman putih serta boxer dan sudah basah kuyub.


Segera ditariknya Pawat keluar dari sana dan melepaskan baju olahraganya sendiri untuk di ganti dengan kaos dalaman pemuda itu yang basah menyisakan kaos dalamnya saja.


"Kakak gimana nanti?" Tanya Pawat menatap Nanon bak anak anjing yang hilang.


Nanon tersenyum manis hingga dimplenya semakin terlihat dan Pawat menjadi terpesona, sejak ia pindah dimensi, ia tak pernah melihat Nanon yang tersenyum begitu manis dan lembut.


"Aku bisa pake seragam yang lain." Ujarnya Masih menyodorkan bajunya.


Pawat pun mau tak mau melepaskan kaos dalamnya dan menggantinya dengan seragam Nanon, harum tubuh Nanon langsung masuk kedalam hidungnya, bau harumnya begitu lembut membuatnya ingin kembali menciumnya, namun ia tak berani melakukan itu karena takut Nanon akan ilfeel padanya.


Dengan lembut digenggamnya tangan Pawat untuk berjalan keluar dari wc. Keduanya pun keluar dari wc dengan bergandengan tangan.


"Kira-kira baju aku di mana ya kak?" Tanya Pawat menatap Nanon dari belakang.


Nanon menoleh kebelakang dan tersenyum tipis. "Biasanya mereka buang baju kamu kemana?" Tanya balik Nanon yang mendapat jawaban gelengan."Beli baru aja, nanti aku temenin ke tokonya." Tawar Nanon yang mendapat anggukan antusias oleh Pawat.


"Makasih," ujarnya lirih, suaranya terdengar melembut, dan Nanon hanya tersenyum mendengar peerkataanya.


Siswa dan siswi yang kebetulan lagi keluar kelas menatap keduanya heran, ada beberapa orang yang diam-diam memfoto mereka berdua untuk dibagikan ke dalam grupnya, namun Pawat serta Nanon tak perduli, mereka asik mengobrol ringa, tidak lebih tempatnya Pawat yang berceleteh sedangkan Nanon hanya menjawab sesekali jika di rasa perlu, keduanya pun terus berjalan hingga naik ke tangga yang akan membawa mereka naik ke lantai 3.


"Mampir ke kelasku dulu ya," anak Nanon yang di Jawab anggukan oleh Pawat. 


Langkah mereka pun berbelok kearah lorong kiri dimana kelas Nanon berada, pemuda itu pun mendorong masuk pintu kelasnya yang tertutup rapat.


Mahasiswa yang berada di dalam menoleh saat pintu seketika terbuka. "Nyari apa Non?" Tanyanya heran melihat Nanon yang kembali ke kelas dengan hanya memaki kaos dalaman.


"Ngambil seragam." Jawabnya cuek, pemuda itu pun terus melangkah kearah mejanya dengan tangan yang Masih beegndengan.


"Pake seragam Olga aku aja," tawar pemuda yang duduk satu bangku dengan ya.


"Boleh deh," Ujar Nanon mengiyakan.


Pemuda itu pun mengambil baju olganya dari loker dan memberikannya ke Nanon. "Memang baju Olga lo kemana?" Tanyanya sedikit heran.


Melihat Nanon yang memberikan celana olganya untuk Pawat seketika membuatnya terdiam paham.


"Thanks ya San," Ucapnya sembari memakai baju.


Pawat hanya diam, namun sejak tadi tia erus memperhatikan kedua orang itu seksama. Namun ia tetap memakai celana yang di berikan Nanon.


"Kamu kalo gak enak badan ke UKS aja, san." Kata Nanon setelah berganti pakaian.


Sandi tersenyum kecil kala melihat Pawat yang memanyunkan bibirnya mendengar Nanon yang perhatian padanya. "Aku males ke UKS-nya, jauh banget di lantai 1, mending tiduran di kelas." Ucap Sandi kembali tiduran ke tempatnya yang sudah ia sulap menjadi tempat tidur. Beberapa kursi ia buat berbaris panjang.


"Yaudah kalo gitu, kita duluan ya San," Ujar Nanon berpamitan Dan kembali menggandeng tangan Pawat untuk keluar kelas, yang di jawab lambaian tangan oleh Sandi, pemuda itu kembali memejamkan matanya.


"Itu siapa kak?" Tanya Pawat takut-takut.


"Temen sebangku." Ujar Nanon cuek. 


Bibir Pawat refleks manyun ke depan, seolah tak suka. "Oh," ujarnya singkat.


Nanon yang memang pada dasarnya tak peka terus berjalan hingga mereka telah sampai di ruangan kolam renang. Saat mereka telah sampai di sana semua temannya telah selesai mengambil nilai, kini giliran anak kelas 2.


Semua orang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda, termasuk Janeeyah, gadis itu mengepalkan tangannya semakin benci pada teman sekelasnya itu karena selalu berhasil menarik perhatian Nanon.


Sang guru menoleh. "Habis darimana kamu Non?" Tanyanya menyelidik.


"Bantuin Ohm pak," ujarnya tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut.


Pawat pun kembali meneruskan ucapan Nanon, "Tadi kak Nanon bantuin aku yang ke kunci di WC pak." Ujarnya sopan.


Sang guru mengangguk mengerti. "Kamu sana Non ambil nilai, habis kamu giliran kamu ya Wat." 


"Ohm gak bisa renang pak." Ujar Nanon membola sebelum Pawat menjelaskan kondisinya.


Sang guru menatap Nanon menyelidik, namun ia tak ingin mengambil pusing. "Kalo gitu nilai kamu E," Ujar gurunya pada Pawat.


Nanon menatap Pawat ingin tau reaksi pemuda itu, namun Pawat hanya tersenyum dan mengangguk setuju. Mau bagaimana lagi, kan ia memang tak bisa berenang.


"Kamu ngapain Masih disini? Sana loncat." Usir gurunya pada Nanon.


Nanon memberi kode ke Chimon untuk membawa Pawat ke tempat pemuda itu duduk sebelum berjalan menjauh, yang segera di lakukan oleh Chimon. 


Pemuda itu mendekati Pawat sebelum menjauh Dan mengajaknya untuk duduk dengan teman-temannya yang lain.


Tentu hal ini semakin membuat semua orang bertanya-tanya, sedeket apa Nanon dan Pawat sampai membuat Pawat bisa di terima dengan mudah oleh teman-tema pemuda itu. 


Nanon pun berjalan kearah tangga hingga berada di pundak, terus berjalan maju hingga berada di ujung dan tanpa ragu ia pun menceburkan diri kekolam di bawahnya membuat riak kecil disekitarnya.


Sang guru menatap Nanon dalam diam, memperhatikan gerakan muridnya sebelum terjun bebas dan segera memberikannya nilai.


 Setelah selesai pemuda itu pun keluar dari kolam renang Dan berjalan mendekati tempat teman-temannya berada.


Pengambilan nilai pun terus berlanjut, sang guru kembali memanggil muridnya untuk melanjutkan


Pawat tersenyum manis melihat Nanon mendekatinya, ia pun segera menggeser tubuhnya agar Nanon duduk tepat di sampingnya, untungnya pemuda itu tau maksud Dari tindakan Pawat, ia pun segera duduk di dekat pemuda.


"Yaelah," gumam Chimon mengejek temannya yang di abaikan.


"Yang udah punya cem-ceman mah beda,"  Perth pun ikut berkomentar, namun lagi-lagi anon mengabaikannya, berbeda dengan Pawat yang tersenyum malu-malu, sontak hal itu semakin membuat teman-teman satu kelas ikut menggoda mereka.


Tatapan mata Janeeyah tak pernah beralih, gadis itu menatap Pawat dengan kesal, mengawasi gerak-gerik pemuda itu dan mencibirnya dalam hati. 'Sok imut banget sialan!' selalu itu yang ia katakan.


========= Enigma ==========


Pengambilan nilai telah selesai, sang guru pun membebaskan mereka untuk bermain di kolam renang atau hanya mengobrol dengan teman-temannya, karena ia masih harus ke rumah sakit untuk merawat istrinya.


Nanon dengan telaten mengajari Pawat untuk berenang, kedua tangan Nanon pun berada di dada Pawat untuk menyangga agar tidak tenggelam. "Kakinya di lurusin Ohm, tangannya juga lurus, jangan takut kamu gak akan jatoh, gerakan tangan sama kaki pelan-pelan, iya kayak gitu, terus gerak gitu, nah pinter," Ucapnya memuji ketika Pawat melakukan hal yang benar. 


Pawat terdiam, ia bahagia,tak pernah ada yang memujinya ketika ia berhasil atau benar melakukan sesuatu. Sebutlah ia melankolis, tapi ia benar-benar terharu mendapat pujian itu.


Dengan semangat Pawat terus melakukan semua instruks Nanon dengan serius, hanya agar ia kembali mendapatkan pujian.


"Kayaknya mereka pacaran deh," Ucap gadis berkuncir ponitail di depan Janeeyah menatap Nanon yang sedang mengajari Pawat ke temannya.


"Aku juga mikir gitu, mereka sweet banget," Ucap temannya dengan wajah tersenyum bahagia. "Aku bakal layarin kapal mereka, hehehe." Sambungnya dengan terus menatap Nanon dan Pawat yang sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing.


Janeeyah mendecih kesal. "Kak Nanon itu cowok, Pawat juga cowok, jangan aneh-aneh deh!" Geramnya.


Semua orang yang berada di dekat mereka menatap Janeeyah aneh. 


Kedua gadis yang sedang bergosip tadi menatap Janeeyah sinis. "Kamu hidup di jaman apa sih kok Masih mikir gitu, Dari dulu cowok sama cowok juga udah banyak di sini." Ujar gadis yang pertama Kali bergosip.


Janeeyah mendecih dan berjalan menjauh, tak mau semakin merusak reputasinya yang sudah jelek oleh Pawat waktu itu.


"Aneh banget, kenapa sih dia sekarang jadi gitu?" Tanya gadis pertama yang bergosip denganheran, wajah kesal nampak terlihat.


Sang teman mengelus lengannya, menenangkan. "Dia kan suka kak Nanon dari lama, pasti gak terima lah kalo kak Nanon sama orang lain."


"Tapi dia bukan pacar kak Nanon, harusnya sadar diri." 


"Udah-udah, itu liat aja kak Nanon sama Pawat, sekarang mSalah lagi mainan air." 


Rasa kesal yang tadi di rasakan gadis berkuncir pun seketika menghilang, dan mereka kembali asik bergosip tentang dua orang pemuda di depan mereka yang sedang asik sendiri bermainan air sambil bercanda guru tanpa perduli akan sekitar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...