"Kak udah pernah naik kora-kora belom?" Tanya Pawat sembari menatap kora-kora penuh minat.
"Kora-kora?" Tanyanya bingung, ia pun menatap sekitar permainan, mencari permainan yang di maksud sang teman.
Pawat megangguk dan menoleh kearah Nanon. 'Disini namanya beda apa ya?' batinnya bertanya saat melihat wajah bingung Nanon. Tangannya pun menjuding kearah permainan yang ia maksud. "Itu kak kora-kora."
Nanon pun menoleh dan tersenyum tipis. "Oh perahu terbang,"
'Oh disini namanya perahu terbang ya? Jelek banget,' batinnya mengejek.
"Kamu yakin mau naik itu?" Tanya Nanon yang di jawab anggukan mantab Oleh Pawat.
"Kenapa? Kakak takut ketinggian?" Tanyanya yang mendapat gelengan dari Nanon.
"Enggak kok, ayok naik," ujarnya merangkul pundak Pawat dan mengajaknya untuk ikut mengantri. Tanpa tau bahwa Pawat terkejut saat tiba-tiba di rangkul, hatinya pun berdentum tak beraturan penuh rasa bahagia, dan ia tau pasti perasaan apa ini.
Janeeyah yang melihat Nanon mengantri di wahana perahu terbang pun segera menarik tangan sahabatnya untuk ikut mengantri.
"Jan kamu kan takut ketinggian," kata sang teman yang bernama Allira khawatir.
"Kamu tenang aja, ada kak Nanon di depan, nanti aku bakal duduk sama dia, dan dia pasti bakal ngelindungin aku," ujarnya percaya diri.
Allira menatap Janeeyah heran. "Tapi di depan kita ada orang lain, kalo mereka yang duduk di samping kak Nanon gimana?"
Janeeyah terdiam sesaat, membenarkan ucapan sang sahabat. Gadis itu pun sontak menepuk pundak kedua orang di depannya yang membuat mereka menoleh, menatapnya penuh tanya.
"Kak, nanti kakak bisa jangan duduk sama orang di depan kakak gak? Aku mau duduk sama dia," ujarnya dengan wajah memelas.
Wajahnya yang cantik seakan menyihir orang di ajak bicara hingga membuat mereka terpana.
Janeeyah menatap orang di depannya Masih dengan senyuman, tangannya pun melambai ketika melihat kedua pemuda di depannya terlihat tak focus.
"Kak? Boleh gak?"
Kedua pemuda itu pun seketika kembali sadar setelah terpana beberapa saat dan mengangguk antusias. "Boleh, boleh," Ujar keduanya antusias.
Janeeyah pun kembali menatap sang teman dan tersenyum manis, sedangkan Allira menggeleng kecil, sudah terbiasa dengan peristiwa baru ia liat tadi.
"Aku deg-degan kak," Ujar Pawat menatap permainan di depannya yang Masih bergerak kekiri dan kekanan excited.
Nanon refleks mengelus rambut Pawat yang lembut dan mengacaknya gemas.
"Takut?" Tanyanya lembut.
Pawat terdiam kaku, jantungnya semakin berdetak tak karuan, kepalanya menggeleng pelan. "Dikit, hehehe," ujarnya dengan senyuman malu-malu.
Nanon tak mengatakan apapun, hanya tangannya yang terus mengelus rambut belakang Pawat, berusaha menenangkan.
Kini giliran mereka untuk naik kewahana, Nanon pun menyuruh Pawat untuk naik duluan dan baru di ikuti dia dari belakang.
Pawat pun duduk di baris ke tiga yang belum terisi sama orang lain, duduk dipojokan yang di ikuti oleh Nanon, tak lama Janeeyah pun ikut duduk di sebelah Nanon beserta Allira.
Pawat yang sedang asik mengobrol dengan Nanon tentang apapun yang dia liat seketika terhenti ketika ia melihat Janeeyah di samping Nanon, duduk berdempetan dengan pemuda itu, wajahnya sontak membrenggut tak suka.
Nanon menoleh kala Pawat terhenti bicara, "Kenapa?" Tanyanya tanpa tau apa penyebab Pawat memasang wajah menggemaskan itu.
Janeeyah pun memasang wajah sinis dan mulai merangkul lengan Nanon yang membuat pemuda itu menoleh kearahnya terkejut. "Jane, ngapain?" Tanyanya heran, berusaha menari tangannya yang di apit.
Janeeyah memasang wajah memelas, matanya yang indah pun menatapnya dengan pandangan memohon. "Aku takut kak,"
Pawat pun menghembuskan nafas kesal dan ikut merangkul lengan Nanon erat, menarik tubuh Nanon agar semakin mendekat padanya.
Nanon yang ingin menjawab perkataan Janeeyah terhenti dan menoleh kearah Pawat, melihat temannya yang semakin memancarkan aura permusuhan.
Nanon terdiam karena jarak ia dan Pawat yang semakin dekat membuatnya menjadi salah tingkah, apalagi harum tubuh Pawat yang menyapa indra penciumannya, mengabaikan kedua orang di sampingnya yang sedang saling pandang dengan tatapan membunuh.
Kapal pun mulai bergerak ke depan dan ke belakang dengan pelan, Janeeyah pun semakin mendekatkan tubuhnya pada Nanon, pipinya ia tempelkan pada lengan pemuda di sampingnya, Dan berteriak lirih. Ketakutannya bukanlah kebohongan, kalau tidak karena Nanon ia tak akan sudi menaiki wahana menakutkan seperti ini.
Melihat Janeeyah yang sudah mulai mengambil kesempatan, Pawat pun ikut melakukan apa yang di lakukan Janeeyah.
Nanon yang berada di tengah mereka semakin bingung, ia harus melakukan apa untuk menenangkan kedua orang di sampingnya ini. Akhirnya ia pun hanya diam pasrah, membiarkan kedua lengannya di apit kanan dan kiri.
Kapal semakin melaju dengan kencang, teriakan Janeeyah dan Pawat pun menggema, Nanon yang berada di samping mereka hanya diam, berusaha mengabaikan teriakan kedua orang di sampingnya yang begitu kencang, seolah saling berlomba untuk menghancurkan gendang telinganya.
Kapal semakin melaju dengan kencang, kapal terasa ingin terbalik mengayun saat berada di pucuk, teriakan Pawat serta Janeeyah pun semakin kencang hingga membuat Nanon semakin tak tahan dengan apa yang terjadi.
Orang yang berada di bawah tertawa melihat Nanon menjadi bahkan rebatan untuk di peluk, ada yang tertawa karena lucu ada pula yang iri, berandai-andai berada di posisi Nanon saat ini.
Entah sudah berapa kapal itu melaju dengan kencang, hingga perlahan kapal pun memelan Dan berhenti total.
Orang-orang segera turun dari kapal, maun Nanon tetap berada di sana karena kedua orang di sampingnya Masih mengapitnya sangat erat.
Saat penumpang sudah turun Allira pun segera mengapit Janeeyah membantunya untuk berjalan turun dengan elan.
Nanon pun melakukan hal yang serupa, pemuda itu pun membantu Pawat untuk turun, menaruh tangan kanan Pawat di pundaknya dan memeluk ping gang Pawat posesif namun lembut.
"Kepala gue pusing banget Ra, pengen duduk," Ucap Janeeyah lemas.
Allira pun segera berjalan ke kursi yang teredia dan mendudukan Janeeyah disana dengan hati-hati.
Setelah terduduk Janeeyah sontak mengeluarkan semua yang ada di perutnya, Allira yang melihat itu Hany diam karena jijik.
Merasa kasian dengan Janeeyah, Nanon pun segera membawa Pawat ke kursi yang sama dengan Janeeyah dan mengelus punggung Janeeyah lembut.
Pawat yang melihat sikap baik Nanon meendengus kesal, dan ia pun segera berpura-pura mual awalnya tak ada muntahan yang keluar, namun lamalama isi yang ada di perutnya ikut keluar meski dengan susah payah.
Nanon yang melihat itu pun berganti mengurut punggung Pawat lembut, menatapnya dengan kasian. "Mau minum air anget gak biar enakan?" Tanyanya lembut.
Janeeyah yang merasa di abaikan sontak kembali mengeluarkan suara muntahan membuat Nanon kembali mengurut bahu gadis itu, namun perhatiannya Masih tertuju kearah Pawat.
Allira yang melihat kedua orang itu sedang beradu muntahan menaikkan sudut bibirnya, tak habis pikir dengan kecaperan mereka berdua, dan ia memilih untuk mengamati saja tanpa ingin terlibat kecaperan di depan sana.
Pawat mengangguk pelan, "Boleh," ujarnya lemas.
Nanon sontak menjauh dari sana, berjalan cepat kearah tokoyang tak jauh Dari tempat mereka.
Saat Nanon sudah menjauh dari mereka, Janeeyah pun mendorong tubuh Pawat kesal, wajahnya nampak kesal. "Kamu gak usah caper ke kak Nanon, kak Nanon itu milik aku!!"
Pawat menatapnya remeh. "Milk kamu?" Tanyanya penuh dengan celana."Kak Nanon yang ngajak aku ke sini, dia bilang mau ngedate sama aku, artinya kak Nanon gak suka kamu, sadar idir." Sambungnya tak kalah kesal. Meski ucapannya tak sepenuhnya benar, karena faktanya ia yang merengek ingin di temanin Nanon untuk kesini tadi malam. Tapi biarlah, toh Janeeyah tak tau ini.
Dengan geram di jambaknya rambut Pawat kasar kearahnya, "Mentang-mentang sekarang udah deket sama kak Nanon, kamu jadi lupa diri ya," ujarnya kesal.
Pawat meringis merasa kan kepalanya yang berdenyut karena jambakan Janeeyah yang tak main-main.
Refleks Pawat pun ikut menjambak rambut Janeeyah dengan kencang, melampiaskan rasa sakitnya membuat Janeeyah berteriak kesakitan.
Allira yang sejak tadi mengamati Nanon saat pergi (agar sang sahabat tak ketahuan sedang membully Pawat) sontak memisahkan keduanya. "Kak Nanon dateng," beritahunya yang membuat kedua remaja itu melepaskan jambakan tangannya di rambut masing-masing dan kembali bersikap lemas.
Orang-orang yang dis sebelah mereka menggeleng tak habis pikir. Dasar remaja. Begitu pikir mereka.
Pawat yang melihat rambut rontok Janeeyah di tangannya segera membersihkannya dan tersenyum puas. Pantas saja gadis itu berteriak kesakitan tadi.
Nanon telah sampai dengan membawa dua botol berisi minuman air anget dan memberikannya kearah Janeeyah serta Pawat yang di terima dengan lemas. Tidak! Lebih tepatnya pura-pura lemas.
Setelah kedua minuman di ambil, Nanon pun berjongkok di depan Pawat dan menaruh kedua kaki Pawat di kakinya, di lepasnya sneakers yang Pawat kenakan dan memijitnya lembut. "Sakit gak?" Tanya Nanon lembut.
Pawat menggeleng pelan, bibirnya mengulum senyum. Nanon ini tipe manusia sedikit bicara namun banyak tindakan. Dan semua tindakannya selalu di luar nalar, meski telihart sepele namun tak semua orang bisa.
Kepalanya menoleh kesamping, tanpa sengaja ia melihat Janeeyah yang menatapnya dengan aura membunuh, namun Pawat sama sekali tak takut, pemuda itu memasang wajah mengeje secara diam-diam.
Allira hanya mendesah pasrah. Pasti habis ini Janeeyah bakal memarahinyakarena kesal.
Nanon mendongak melihat Pawat yang sontak kembali memasang wajah lemas. "Mau pulang aja?" Tawarnya lembut.
Pawat mengerutkan bibirnya. "Masak baru masuk udah keluar, belom naik yang lain, nyobain makanannya juga belom."
"Kalo gitu nunggu kamu enakan aja baru lanjut, oke?" awarnya yang mendapat senyuman cerah dan anggukan kepala pusing, namun tak lama ie mengelus pusing (pura-pura) gar Nanon semakinperhatian padanya dan Janeeyah yang semakin kesal tanpa bisa berbuat apa-apa.
Benar saja, Nanon pun sontak berdiri setelah meletakkan kaki Pawat di lantai Dan berdiri di belakang Pawat, mengurut kepala Dan leher pemuda itu dari belakang. Kini ia menang talak, melihat wajah masam Janeeyah semakin membuatnya bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar