Kamis, 19 September 2024

Enigma part 4 - Tertarik

                                

Bel sekolah telah berbunyi nyaring membuat mahasiswa dan mahasiswi berhaburan keluar kelas, ingin merasa kan Hidup bebas setelah berjam-jam di kekang oleh berbaigai mata pelajaran.


Kebetulan hari ini pulang cepat karena mendadak ada inspeksi dari pusat membuat guru-guru sangat sibuk.


Pawat mengeluarkan HP-nya ingin menelpon sang supir untuk segera menjemputnya namun matanya tanpa sengaja tertuju pada tanggal yang tertera di layar HP-nya, keningnya mengkerut merasa telah melupakan sesuatu hingga tiba-tiba memori tentang lembaran novel yang membuatnya masuk kedalam novel hinggap di otaknya.


"Ahh!" Pekiknya setelah teringat sesuatu yang penting.


Pemuda itu pun segera berlari keluar sekolah, setelah sampai di depan gerbang ia pun bingung harus berbelok ke kanan atau kiri, mengandalkan daya ingatnya tentang lokasi yang di tulis si penulih Pawat pun membelokkan kakinya ke kiri, berlari cepat dengan mata menatap kanan serta kirinya, memastikan apakah ia telah mengambil jalur yang benar.


Langkah kakinya berhenti melihat Janeeyah yang berada di depan caffe dengan beberapa preman di dekat gadis itu, terlihat sedang merencakan sesuatu, Pawat pun tersenyum sinis karena tebakannya benar, pemuda itu pun segera berlari berbalik arah kembali ke sekolah, jika Janeeyah Masih disana artinya mereka belum ketemu Nanon jadi ia bisa menggalkan rencana gadis itu.


Dengan sekuat tenaga Pawat berlari, jalanan yang menanjak membuatnya semakin ekstra mengeluarkan tenaga, matanya pun berbinar melihat Nanon yang sedang berjalan santai dengan headphone di telinganya, langkah kakinya pun semakin ia percepat agar lekas saapi didepan pemuda itu.


Setelah sampai di depan Nanon, ia pun menghentikan langkah kaki pemuda itu dengan meme gang kedua pundak Nanon, nafas Pawat memburu tak beraturan.


Nanon yang melihat Pawat ngos-ngosan menatapnya heran, pemuda itu pun menurunkan headset dari telinganya Dan membuatnya menggantung indah di leher pemuda itu.


"Kamu kenapa?" Tanya Nanon penasaran, kepalanya menoleh kebelakang Pawat untuk mencari tau apakah Pawat di kejar seseorang namun jalanan begitu sepi (karena rata-rata anak yang sekolah di sana di antara jemput Oleh supir) tidak ada tanda-tanda pemuda itu sedang di kejar oleh manusia lain.


Melihat Pawat yang terengah-engah membuat Nanon mengambil botol minuman di ranselnya dan menyerahkannya ke Pawat yang langsung di terima dengan senang hati, meminumnya hingga habis.


Di serahkannya kembali botol minuman ke Nanon dengan senyuman lebar yang diterima oleh Nanon dan memasukkannya kedalam tas.


"Ada apa Ohm?" Tanya Nanon mengulang pertanyaanya yang belum di Jawab.

 

Pawat menggeleng kecil. "Gak papa kak," ujarnya dengan senyuman dan menganggam tangan Nanon dan menariknya untuk ikut berlari.


Nanon terkejut saat tiba-tiba Pawat menariknya untuk berlari Namun tak mengatakan apapun.


Kepala Pawat sesekali menoleh kebelakang masih dengan terus berlari, senyuman lebar di bibirnya terlihat begitu indah.


Mata Nanon terpaku melihat Pawat yang tersenyum indah, sinar mentari sore yang menyinari tubuh Pawat membuat pemuda itu begitu menawan hingga Nanon tak sanggup mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Saat mereka hampir sampai di depan toko di mana Janeeyah sedang bersiap diri, pemuda itu pun menoleh kesamping kirinya dan memeletkan lidahnya, mengejek Janeeyah yang membulatkan matanya menatapnya terkejut, tangannya pun menjuding kearah Pawat tak percaya.


Nanon yang melihat Pawat bertingkah begitu, ia pun jadi ikut menoleh ke belakang (Karena mereka telah melewati Janeeyah beserta beberapa preman berwajah sangar) Dan ia pun tersenyum kecil, paham apa yang sedang terjadi.


Sedangkan Janeeyah mencak-mencak di tempatnya sembari mengupat kasar, tak percaya pemuda lemah yang dari dulu selalu ia bully sekarang selalu membuatnya marah. Tak bisa di biarkan begitu saja, ia harus bisa menyingkirkan pemuda itu secepatnya.


Pawat dan Nanon yang telah berada di pemberhentian bus pun berdiam diri dengan ngos-ngosan, Namun kekehan kecil keluar dari bibir yang lebih muda, seolah ia sedang sangat bahagia, dan Nanon hanya terus memperhatikannya terpana.


Pawat yang di perhatikan sebegitunya menjadi Salah tingkah sendiri, jantungnya berdegub keras, ia pun mengalihkan wajahnya kearah lain dengan senyum malu-malu.


Nanon pun ikut menoleh kearah lain, ia jadi Salah tingkah sendiri karena perbuatanya.


"Kamu hari ini ada less Ohm?" Tanya Nanon mencoba menghilangkan vibes awkward di antara mereka.


Pawat mengangguk pelan, masih tak berani menatap wajah Nanon. "Kakak ada less?" Tanyanya balik dengan lirikan kecil.


Nanon yang melihat menjadi sangat gemas dengan tingkah adik kelasnya. "Enggak," ujarnya yang di Jawab anggukan oleh Pawat.


Keduanya pun terdiam, bingung harus berkata apa, Nanon yang memang dasarnya suka kesunyian tak ada niatan untuk memecahkan keheningan di antara mereka, berbeda dengan Pawat yang merasa gelisah, ia tak bisa harus diam-diaman seperti ini, bibirnya ingin berkata namun ia pun tak tau harus berkata apa, hingga bus yang akan membawa Nanon pulang datang.


"Bisnya sudah dateng, duluan ya Ohm," ucapnya mengacak rambut Ohm lembut sebelum berjalan kearah pintu bis yang terbuka.


Pawat yang baru pertama Kali di perlakukan seperti itu mematung, jantungnya berdetak tak karuan, kepalanya mendongak untuk melihat dimana Nanon duduk, Dan entah sengaja atau tidak pemuda itu duduk di sebbelah jendela dengan lokasi tepat di depan Pawat berdiri.


Nanon tersenyum kecil melihat Pawat yang menatapnya dengan senyuman malu-malu, tangannya refleks melambai kala bis akan melaju yang di balas lambaian serupa oleh Pawat hingga keduanya sadar apa yang baru saja mereka lakukan, dan wajah mereka pun memerah malu.


========= Enigma ==========


Matahari telah berotasi menggantikan sang rembulan malam untuk menyinari belahan bumi lain memberitahu sang penghuni bumi untuk segera bangun dari kasurnya, dan mulai melakukan aktifitas mereka masing-masing.


Pelajaran sekolah yang sepi berubah menjadi ramai akan anak-anak yang berangkat sekolah, senyuman manis patri di bibir mereka kala bertemu dengan temannya dan mengobrol sembari berjalan untuk masuk kedalam kelas masing-masing.


Begitupula Pawat, pemuda itu yang telah berangkat pun berjalan melewati demi lorong dengan wajah bahagia, langkah kakinya terhenti kala ia melewati ruang perpustakaan, ia pun melangkah masuk kedalam yang masih sangat sepi, kakinya terus berjalan masuk kedalam hingga ia telah berada di pojok ruangan, kepalanya menoleh kekanan dan kiri mencari sosok Nanon yang seharusnya sudah berada disana, dan senyumnya pun mengembang begitu melihat Nanon yang  berada di pojok ruangan dan sibuk membaca buku dengan menyender ke dinding. 


"Kak Nanon pagi-pagi kok udah di sini?" Sapa Pawat berjalan mendekati.


Nanon pun menoleh kesal suara dan tersenyum kecil. "Iya, kamu juga ngapain pagi-pagi udah kesini?" Tanya balik Nanon tak kalah heran. Pasalnya ini baru pertama Kali ia melihat seseorang yang berada di perpus saat pagi hari selain dirinya.


Pawat tersenyum Salah tingkah. "Belom ngerjain PR kak, aku lupa," ujarnya dengan senyuman polos, padahal memang ia sengaja tak mengerjakan PR agar bisa ada alasan untuk dekat dengan Nanon di perpustakaan.


Nanon tersenyum lembut dan berdiri dari duduknya, "Ayo aku temani ngerjain PR," tawarnya tanpa di minta.


Pawat pun tersenyum lebar dan mengangguk antusias, ternyata benar novel yang ia baca, Nanon memang sebaik itu, padahal ia belum meminta tolong tapi Nanon sudah menawarinya tanpa banyak bicara.


Keduanya pun berjalan kearah meja dan duduk bersisian, dengan segera Pawat mengambil buku PR Dan buku pelajarannya, menaruhnya di meja dan membukanya.


Kening Nanon berkerut. "Buku yang aku pinjemin mana?" Tanyanya heran.


"Di minta sama Janeeyah kak kemaren, aku gak berani minta balik soalnya temen dia banyak Dan pasti bakal belain dia." Ujarnya dengan wajah memelas. "Maaf ya kak, aku gak bisa jagain bukunya."


Nanon tersenyum lembut dan mengelus kepala Pawat tak kalah lembut. "Mana PR-nya?" Dan Pawat pun segera menyodorkan bukunya yang segera di baca oleh Nanon, pemuda itupun menjelaskan cara mengerjakan tugas PR matematika dengan cara yang mudah untukdi pahami.


Pawat tersenyum senang kala PR-nya telah selesai dengan cepat, matanya berbinar bahagia. "Makasih banyak kak Nanon." Ujarnya sembari mencium buku PR-nya sebelum memasukkan kedalam tas, melampiaskan rasa bahagianya.


Nanon tersenyum gemas melihat tingkah Pawat yang entah kenapa selalu bisa menarik perhatiannya.


"Ohiya," ujarnya seakan teringat sesuatu, Nanon yang sejak tadi Masih menatap Pawat mengangkat alisnya, menunggu Pawat untuk kembali berbicara. "Kakak bisa renang kan?" Sambungnya bertanya yang di Jawab anggukan. "Kakak mau gak ajarin aku renang? Aku gak bisa renang soalnya." Mohonnya dengan wajah memelas back anak anjing.


Dan lagi-lagi Nanon pun mengelus rambut Pawat sebelum mengangguk setuju. "Boleh,"


"Yes!" Ujarnya Kian bahagia. "Kalo gitu aku duluan ya kak, bye kakak." Pamitnya ingin segera pergi.


"Ohm," panggil Nanon yang membuat Pawat berhenti melangkah. 


Pawat pun menoleh. "Kenapa kak?" Tanyanya Masih dengan wajah berserk bahagia.


"Siniin HP-nya," pin Tanya sembari berdiri Dan menodongkan tangan.


Meski bingung Namun Pawat tetap melakukan apa yang di mau Nanon, mengeluarkan HP-nya dari saku celana yang segera di terima oleh Nanon.


Pemuda itu pun mengetikkan sesuatu di HP Pawat sebelum mengembalikannya."Itu nomorku, kalo kamu ada apa-apa langsung chat aja." 


Pawat pun menerima HP-nya kembali dengan senyuman kian lebar. "Makasih kak." Ujarnya malu-malu dan segera berlalu dari sana. Siapa sangka ia akan mendapatkan nomor Nanon dengan mudah seperti ini. Akan ia pamerkan pada Janeeyah nanti, karena gadis itu pasti belum berhasil mendapatkan nomor Nanon. 


========== Enigma ==========


Bunyi bell istirahat telah berbunyi nyaring membuat semua siswa dan siswi berbondong-bondong untuk keluar dari kelas, tak seperti kebanyakan murid, Nanon menunggu di kelas dengan teman-temannya hingga sepi, malas rasanya ikut berdesakan.


"Yuklah cabut," Ujar Perth mengawali berdiri, berjalan keluar yang di ikuti teman-temannya yang lain.


"Nanti olganya renang kan?" Tanya Chimon ke teman-temannya yang di angguki.


"Katanya barengan sama anak kelas 2." Ucap Neo membuat Nanon refleks menatapnya Dan Chimon sadar akan hal itu.


"Ohiya? Anak kelas 2 berapa?" Tanya Chimon memincing, ingin melihat reaksi Nanon lebih jauh.


"Kurang tau aku, aku cuman denger Dari anak-anak tadi pagi kalo bakal barengan sama anak kelas 2,." Ucap Neo apa ada ya.


"Hoo gitu," Ujar Chimon mengangguk-angguk, "Menurut kamu kelas 2 berapa Non?" Sambungnya dengan tatapan mata jail.


Nanon menghendikkan buahnya seolah tak perduli, Namun diam-diam ia pun ingin Tau kelas Dan berapa dan berharap itu kelas 2 III dimana Pawat berada.


"Mungkin kelas 2 III" Ujar Perth Dari depan.


"Serius?" Wajah Chimon kembali menatap Nanon jail Namun tak di perdulikan. 


"Aku sempet denger sih kelas 2 III soalnya kemaren mereka gak jadi ambil nilai kan, pak Basuki kemaren kemana gitu pas jadwal Olga mereka, makannya di barengan sama kita." 


Informasi dari Perth diam-diam membuat Nanon menarik sudut bibirnya, namun tak lama bibirnya kembali datar saat melihat wajah Chimon yang semakin menatapnya jail, mengejek tanpa bicara.


Obrolan mereka pun terus berlanjut hingga mereka sampai di tikungan untuk ke kantin, langkah Nanon berhenti kala melihat Janeeyah sedang berjalan dengan teman-temannya ingin masuk kedalam kantin, pemuda itu pun membelokkan langkah kakinya untuk mendekati Janeeyah.


"Mau kemana Non?" Tanya Neo yang menyadari temannya menjauh, Chimon dan Perth pun ikut berhenti karena ya, mereka ingin tau Nanon mau kemana, hingga pemuda itu berhenti didepan Janeeyah beserta teman-temannya, Dan Chimon berdecak tak suka.


"Kenapa kak?" Tanya Jane dengan wajah berseri, tak pernah di sangka bahwa Nanon akan menghampirinya, senyuman manis pun melengkung sempurna.


"Balikin buku aku ke Ohm," singkat, padat dan mencengangkan.


Janeeyah refleks menggenggam tangan Nanon, membuat pemuda itu berhenti berjalan dan menatap gadis itu dingin, tak seperti biasanya.


"Maksudnya gimana kak?" Tanyanya berharap ia Salah mendengar.


Nanon menatap tangannya yang di genggam Jane segera di tepis, "Buku yang aku kasih ke Ohm balikin ke dia," Ulangnya menatap Jane tajam.


Janeeyah yang Masih tak percaya kembali bertanya. "Kenapa?" Kilatan matanya nampak terluka.


"Butuh alasan buat balikin sesuatu yang bukan hak kamu?" Tanyanya langsung menusuk ulu hati.


Oran-orang di sekitar menatap mereka dengan pandangan berbeda, Dan mereka sudah pasti akan menceritakan Hal menarik ini ke teman-temannya yang lain.


Pawat heran melihat orang-orang yang berhenti di tengah jalan, pemuda itu mencoba melewati mereka dengan susah payah, perutnyha sudah keroncongan meminta di isi oleh makanan, langkahnya pun terhenti melihat Nanon yang berbicara dengan Janeeyah, bibirnya refleks mengrecut maju tak suka.


"Kakak gak Tau kalo Pawat itu aneh? Dia selalu ngikutin aku kemanapun kak," Ucap Janeeyah mencoba menghasut.


Nanon menghela nafas, "Bukannya kamu yang selalu gangguin dia selama ini?" Tanya balik Nanon terlihat tak terpengaruh.


Janeeyah menggeleng keras. "Enggak kak! Kakak itu udah di tipu sama dia, dia yang gangguin aku, aku mana tega gangguin orang lain sih kak." Ujarnya dengan wajah sedih.


Chimon yang melihat itu mendecih dan segera membalas ucapan Janeeyah dengan sengak, menghentikan Pawat yang ingin membola diri.


"Gak usah banyak alasan deh Jane, aku udah denger sendiri Dari mulut kamu kalo kamu bakal gangguin Pawat lagi." 


Ucapan Chimon sontak membuat semua orang menatap mereka terkejut, tak percaya.


Nanon yang ingin menoleh kearah Chimon tanpa sengaja matanya melihat Pawat yang berdiri di antara krumuna manusia, mata mereka pun saling tatap dengan pandangan yang sulit di artikan


"Kak Chimon jangan fitnah aku gin, kalo aku ada Salah sama kak Chimon aku minta maaf, tapi aku gak pernah gangguin Pawat." Kata gadis itu mencoba membola diri.


Tanpa memperdulikan apapun Nanon segera berjalan mendekati Pawat Dan menariknya keluar dari kerumunan, mengabaikan wajah shock Pawat serta tatapan berbeda dari banyak orang.


"Heh?" Chimon membeo tak terima di angap fitnah. "Maksud kamu kuping aku budek gitu sampa Salah denger sama omongan kamu?"


"Gak gitu kak, maksud aku--"


"Aku gak mau denger apapun Jane!" Potong Nanon begitu saja, membuat Jane menoleh kearahnya dan wajahnya mengeras melihat Pawat yang berada di dekat pemudanya terlebih tangan pawat yang di gandeng oleh Nanon. "Jangan lupa balikin buku aku ke Ohm," sambungnya dan berlalu Masih terus menggandeng tangan pawat untuk masuk ke dalam kantin yang di ikuti oleh teman-temannya yang lain beserta tatapan penuh tanya dari semua orang, spekulasi liar pun keluar dari bibir orang-orang mengenai kejadian barusan.


Janeeyah menatap punggung Pawat yang Kian menjauh dengan penuh benci dan berlalu dari kantin, mengabaikan panggilan tman-temannya. Ada Hal yang harus ia lakukan sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...