Selasa, 03 September 2024

Enigma Part 1 - Masuk dalam dunia Novel

Ohm belari ke pingir lapangan dengan terus menendang bola, matanya melirik kearah teman satu timnya yang berada tak jauh dari gawang, tanpa berpikir panjang Ohm pun menendang bola kearah sang teman tanpa tau ada tim lawan yang ingin mengambil alih bola dari tendangannya, alhasil setelah bola berhasil ia oper ke timnya kakinya pun tanpa sengaja ke tendang oleh tim lawan dengan keras, membuatnya jetuh ke tanah dengan begitu saja.


Rasa nyeri di kakinya sangat menyakitkan, ia sudah tak perduli lagi apakah bolanya berhasil ke oper dengan sempurna atau diambil oleh tim lain. Bahkan saat sorakan dari trimbun penonton yang menggema begitu kencang dengan yel-yel andalan kampus mereka karena berhasil mencetak gol tak membuatnya bahagia, ia ingin menangis rasanya menahan rasa sakit yang terelakkan di engkle kakinya.


Tiba-tiba banyak anak yang mengerebuninya bertanya apakah dia baik-baik saja yang tak ia jawab sama sekali, ingin memaki namun rasa nyeri di kakinya sangat menyakitkan membuatnya hanya terus mendesis menahan sakit hingga beberapa orang petugas kesehatan mendatanginya dengan membawa tandu, menyemprotkan pereda nyeri ke Kaki Ohm yang terluka untuk pertolongan awal, namun melihat Ohm yang tak ada reaksi membaik pun dengan segera dan hati-hati meletakkan Ohm ke tandu, membawanya ke  pinggir lapangan untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.


============ NonOhm ============


Kini Ohm telah berada di salah satu ruangan rumah sakit dengan kaki yang ter gips, tangannya sibuk menyecroll layar hp, berseluncur di youtube, menonton video-video yang menarik minatnya.


Pintu rumah sakit terbuka, masuklah seseorang yang mengenakan kaos oblong dengan celana kain selutut, melewati brankar-brankar pasien yang satu ruangan dengan Ohm, langkah kakinya pun berhenti di depan brankar Ohm yang sedang duduk menyender di headboard ranjang rumah sakit.


"Yo brodi, gimana kaki lo? Udah sembuh?" Sapa dan tanya pemuda itu meletakkan barang bawaanya ke meja di samping brankar Ohm yang kosong.


Ohm pun mendongakkan kepalanya menatap sang penyapa. "Bawa apa lo?" Tanyanya merasa tertarik dengan barang bawaan sang sahabat. 


"Bawa buah sama novel buat nemenin lo di sini." Ujar Tommy kut duduk di kuris ydi samping ranjang Ohm.


Ohm pun mengambil novel yang di maksud, membolak-balikan buku itu. "Bagus gak?" Tanya Ohm sedikit ragu.


"Kata kakak gue sih bagus, lagi booming itu novel, mana ada salah satu characternya mirip sama nama lo."


"Oh ya?" Mendengar penuturan dari sang teman tetap tak membuat Ohm begitu saja, wajah tak percaya masih berengger indah di sana. "Jadi pemain utama gue?"


Tommy menggeleng kecil."jadi character sampingan," Ujarnya mengambil buah Apel yang tadi ia bawa. 


"Oohh," sahutnya mulai membuka buku novel itu.


"Yaudah gue ke kampus dulu," Pamit Tommy yang mendapat anggukan dari Ohm.


Pemuda itu sedang asyik membaca novel, mengabaikan orang sekitar yang lalu-lalang.


Jika kalian tanya di mana keluarga Ohm, tidak ada, Ohm tidak punya keluarga, dia hidup di panti asuhan, dan setelah lulus SMA ia memilih untuk meningalkan panti asuhan karena ia keterima kuliah di luar kota dengan jalur beasiswa.


Menit demi meit berlalu berganti jam, sudah berjam-jam Ohm membaca Novel itu dengan tenang, bahkan ia tak tau jika di luar rumah sakit sedang hujan deras di sertai kilatan petir yang menakutkan.


Novel yang ia baca bercerita tentang perjuangan seorang gadis yang ingin  mendapatkan cinta dari sang pujaan hati (Nanon) meski dengan cara licik. Dalam proses mendapatkan hati sang pujaan hati, Jane (Nama dalam novel) pun memanfaatkan Pawat (Nama character lain dalam Novel) agar mendapat simpati dai Nanon, dan setelah Nanon pergi Jane akan semena-mena membully Pawat dengan sadis.


Di dalam Novel, jane menjadi sosok yang sadis di depan Pawat dan sosok yang lemah lembut serta penyabar bak dewi di depan semua orang, hingga pada akhirnya Nanon suka dengan Jane dan mereka pun berpacaran. 


Tapi nasib ngenes menimpa Pawat, pemuda itu mati mengenaskan karena di dorong ke danau oleh Jane, Pawat yang tak bisa berenang meninggal karena tenggelam.


"Anjing cerita apa ini," Protesnya tak terima. "Yang buat tolol." Makinya kembali."kalo gue yang baut certa bakal lebih bagus anjing, akan gue buat si Jane itu menderita dan gue yag bakal jadian sama Nanon. Pawat juga tolol banget, jadi laki kok lembek, mau aja di bully sama cewek bjir." makinya tak habis-habis, mengabaikan tatapan aneh dari orang yang sekamar dengannya.


"baca ini Novel bikin sebel aja,pengen rasanya masuk dalam novel dan gue kacauin rencana lo Jane!!"


Geledek menyambar dengan kencang setelah ucapan berakhir, membuat semua orang di dalam yang berada dalam ruangan terkejut bukan main, termasuk Ohm.


"Akan gue protes ini buku di sosmed si pembuat. Enak aja jadiin gue versi novel se ngenes itu." Ternyata kesalnya tak berkesudahan.


Ohm pun mengambil hp yang ia charge, dan mulai berseluncur di dunia maya, mencari pemilik akun si penulis.


Geledek kembali terdengar di sertai petir yang menyambar tak tentu arah.


Pemuda itu mulai mengetik kata-kata protes di kolom ig si penulis, sebelum Ohm selesai mengetik tiba-tiba ia tersengat listrik, dan hal itu membuat semua orang di bangsal berteriak memanggil suster dan dokter dengan panik.


Rumah sakit pun sontak heboh karena Ohm tersengat listrik.


============ NonOhm ============


Ohm mengerang pelan merasakan kepalanya berdenyut menyakitkan, perlahan ia buka matanya. "Gue pikir gue bakal mati," Ucapnya asal.


Keningnya berkerut melihat sekiar. "Loh gue di mana ini?" Tanyanya dalam hati.


Ia ingin berdiri namun tubuhnya tak bisa di gerakkan, matanya pun menatap bawah dan ternyata ia terikat di atas kursi. Ia pun semakin bingung.


Kepalanya kembali berdenyut tak menyenangkan, kilasan memori entah milik siapa silih berganti masuk kedalam otaknya. "Awhsss," desisnya saat memori memori itu tak kunjung berhenti menampkan diri hingga Ohm pun kembali pinsan dengan kondisi masih terikat di atas kursi.


Nanon sedang berjalan santai di belakang sekolah, ingin istirahat sejenak dari bisingnya orang-orang di sekolahan.


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada orang lain di sana kecuali dirinya, dengan pelan Nanon masuk kedalam gedung terbengkalai dan mengambil 1 bungkus nikotin serta korek yang ia bawa dari rumah dan mulai menghidupkannya. 


Dengan pelan ia keluarkan asap nikotin dari mulutnya, matanya pun menatap sekitar dan ia terkejut ada orang yang berada satu ruangan dengannya dan lebih emngejutkannya dia terikat.


Dengan cepat Nanon pun membuang rokoknya ke tanah dan ia injak dengan sepatu.


Berjalan cepat kearah Ohm dan menepuk-nepuk pipi Ohm lembut, dapat ia lihat beberapa lebam iru yang bersarang di wajah Ohm.


"Hey bangun, kamu denger aku gak?" Seru Nanon mencoba membangunkan, namun tak ada reaksi apapun dari Ohm, pemudaitu masih pinsan. Matanya menatap name tag si pemuda dan keningnye mengkerut. 'Ohm Pawat?' batinnya bertanya, ia tau siapa orang yang sedang terluka ini, dia adalah pemuda yang di kabarkan obses ke salah satu murid di sekolahnya hingga.


Nanon ingin mengabaikan pemuda itu di dalam gudang namun melihat Pawat yang di kondisi tak sadarkan diri membuatnya tanpa banyak berpikir langsung membebaskan Pawat dari lilitan tali dan menggendongnya ala bridal style, membawanya keluar dari gudang terbengkalai.



Semua pasang mata yang berada di luar kelas menatap Nanon penasaran, bahkan yang berada di kelas pun rela keluar kelas untuk melihat apa yang terjadi.


Jane yang berada yang melihat Nanon membopong Pawat mengepalkan tangannya kesal. Dalam hati akan membalas perbuatan Pawat nanti.


Pawat perlahan membuka matanya ketika merasakan guncangan, yang pertama hadir di penghilatannya adalah sosok tampan dan rupawan bak malaikat, sinar mentari yang menyinari nanon membuatnya berkilauan, di tambah wajahnya yang tampan nan lembut, persis malaikat dalam versi khayalannya ketika masih kecil.


"Gue kali ini meninggal beneran?" Igaunya lirih.


Nanon yang mendengar perkataan lemah Ohm pun menatap ke bawah dan melihat Ohm yang masih di keadaan antara sadar dan tidak.


"Sebentar lagi sampe UKS, tahan bentar." Ujarnya memberi tau.

 

"UKS?" Beonya tak paham. "Di akherat juga ada UKS?"


Celetukan Ohm membuat Nanon terkekeh, kepalanya menggeleng tak habis spikir.


Denga pelan Nanon menyeret pintu UKS  kesamping tanpa hambatan meski ada Ohm dalam gendongannya, dan masuk ke dalam matanya mencari sosok dokter yang seharusnya berjaga, namun ruangan itu kosong, Mungkin sang dokter jaga masih istirahat di kantin.


Nanon pun segera membawa Ohm yang kembali memejamkan matanya ke ranjang UKS dan meletakkannya hati-hati, dengan cekatan mengambil barang dan obat yang dia butuhkan, seolah sudah terbiasa dan tau di mana letak barang yang ia perlukan.


Setelah mendapatkan semua barang yang dia butuhkan, Nnao pun kembali berjalan kearah Ohm dan mulai mengompres wajah Ohm yang bengkak.


"Awwshhh." Desis Pawat merasakan nyeri di wajahnya. Dengan pelahan Pawat mulai membuka matanya kembali dan kembali melihat wajah Nanon yang di sinari cahaya matahari hingga membuatnya nmasih berkilau. "Di akherat masih bisa ngerasain sakit ternyata." Ujarnya.


Nanon terkekeh, merasa lucu dengan tingkah anak yang menurutnya aneh. "kamu belom meninggal Ohm," Ujar Nanon memberitahu.


Pawat mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kalo gue gak di akherat terus di mana? Kok malaikat di sini?"


Nanon mengerutkan keningnya bingung, tangannya yang sedangmengobati luka lebam di wajah Pawat berhenti sejenak, kepalanya menoleh sekitar mencari di mana malaikat yang di maksud.


"Malaikat? Dimana?" Tanyanya bingung saat tak menemkan apapun di ruangan itu.


Dengan polos Ohm menjuding Nanon.


Nanon mengkerutkan keningnya semakin tak habis pikir. Tak ingin berdebat lebih jauh Nanon pun kembali mengobati luka Ohmhati-hati. Dan Pawat yang meringis menahan sakit.


Matanya menatap sekitar, ruangan serba putih dan bau obat khas UKS membuatnya bingung, tapi hal yang paling masuk akal baginya adalah ia sudah meninggalkarena tersengat listrik, namun ia tak paham kenapa di akherat tak seperti bayanganya dan juga ada UKS di akherat.


Pawat tiba-tiba teringat kakinya yang sakit karena yang baru digips setelah petandingan kemaren, pemuda itu pun sontak bangkit berdiri mengabaikan tangan Nanon yang ingin memakaikan plaster di wajahnya yang terluka. Dengan penasaran Pawat meloncat-loncat dan menggoyangkan kakinya memastikan apakah benar sudah sembuh.


Nanon menatap Pawat aneh, 'Ini anak gila ya?' Batinya bertanya-tanya.


"Kaki gue sembuh!!" Pekiknya kegirangan. "Lihat-lihat kaki gue sembuh," Adunya menggoyangkan kakinya kearah Nanon.


Melihat Pawat yang begitu bahagia membuat Nanon tersenyum tipis, merasa lucu meski aneh.


"Emang kaki kamu kenapa?" Tanya Nanon penasaran.


"Kemaren pas lomba sepak bola antar kampus kaki gue di tendang anjir, sampe gue harus badrest di rumah sakit." Katanya masih memainan kakinya. 


Nanon menatap Pawat aneh, sejak kapan Pawat ikut lomba antar sekolah,dan apa dia bilang. Kampus? Mereka kan masih sekolah, apa maksudnya lomba antar kampus?.


Saat Nanon ingin kembali mengorek informasi, ada suara yang mengintrupsinya. "Loh Nanon, ada perlu apa?" Tanya sang dokter penjaga UKS ketika baru masuk runagan dan melihat Nanon yang duduk di pinggir ranjang.


Pawat menoleh, 'Nanon?' Batinnya bertanya. Matanya kembali menatap Nanon dan menatap name tag yang di seragam pemuda itu, di sana tertulis Nanon Korapat. seketika matanya membulat sempurna. 


"NANON KORAPAT?" Pekik Pawat mendahului Nanon yang ingin membalas sapaan sang dokter jaga.


Nanon pun kembali menatap Pawat. "Iya, aku Nanon korapat, kenapa?" tanyanya heran.


Sang dokter jaga menatap Ohm penasaran. "Dia kenapa Non?" 


Nanon menggeleng kecil. "Gak tau buk, aku liat di pinsan gudang tadi, makanya aku bawa ke UKS." Terang Nanon.


"Gudang?" Beo Pawat tak paham, seketika memori ia di tarik paksa ke gudang oleh beberapa orang pemuda dan di gebukin rame-rame masuk ke otaknya,memorinya sangat jelas hingga membuat kepalanya berdentum menyakitkan.


"Ohm kamu gak papa?" tanya Nanon perhatian, pemuda itu pun sontak mendekati Pawat dan menyuruhnya untuk duduk saat melihat wajah kesakitan di sana.


Ingatan menyakitkan terus berputar di sana, tak hanya pemuda rupanya yang disana, ada satu gadis yang tertawa melihatnya babak belur. 'Jane?' batinnya sata melihat name tag si gadis. 


Matanya kembali membola sempurna. Matanya menatap Nanon horor, yang di tatap menatapnya khawatir. 


"Apa kita bawa aja dia ke rumah sakit Non? Takutnya dia gagar otak ringan," Kata sang guru yang kut khawatirmenatap Pawat.


"Gimana ya bu? Aku ada ujian di kelas nanti, gak bisa kalo harus bawa dia ke rumah sakit," Ucap Nanon bingung.


"Nanon Korapat?" Tanya Ohm Pawat meminta kepastian.


Nanon mengangguk mengiyakan.meski bingung "Iya aku Nanon korapat."


"Kalo lo Nanon korapat, gue siapa?" Tanyanya.


Nanon melirik gurunya yang juga ikut meliriknya seolah berkata, 'beneran gagar otak'


"Ohm... Pawat?" Kata Nanon ragu-ragu.


"Gue Ohm Pawat?" Nanon mengangguk mengiyakan. "Udah kuliah?"


Nanon menggeleng, "Kita masih SMA, kamu kelas 2 aku kelas 3 di SMA Cahaya Bhakti."


Mata Pawat kembali membola. "SMA Bhakti," lirihnya, ia pun dengan lemas tiduran di bangsal. "Gue masuk kedalam novel?" sambungnya masih tak percaya.


Nanon dan sang guru jaga saling lirik, mereka khawatir apa Pawat amenesia?.


Masih menolak percaya Pawat kembali duduk dan menamparpipinya degan keras, membuat Nanon serta guru jaga terkejut bukan main.


"Sakiiitttt," Rengeknya dengan wajah menahan tangis. Bukan sakitnya yang membuat Pawat ingin menangis, namun fakta bahwa ia masuk kedalam dunia novel lah ang membuatnya ingin menangis kencang di tambah lagi ia mendapatkan peran yang sangat menyebalkan.

 

"Non sakiitttt," Adunya dengan berkavca-kaca.


Nanon pun melirik sang guru yang seolah memberi kode untuk mendekati Pawat yang ingin menangis, ragu-ragu Nanon mendekati Pawat dan memeluknya lembut tanpa berkata apapun.


Siang itu dalam ruangan UKS Pawat menangis jengkel. Nanon dan sang guru jaga yang melihatnya menangis hanya bisa bersimpati dan berusaha menenangkan meski mereka tak tau apa yang membuat Pawat menangis hingga sesenggukan. Namun ang pasti pandangan Nanon terhadap Ohm Pawat mulai berubah, Ohm Pawattak seperti berita rumor yang beredar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...