Selasa, 17 September 2024

Enigma part 3 - Terkuak


Setelah kejadian tadi pagi yang menggemparkan Dan banyak orang yang Masih tak percaya, Pawat dengan santai berjalan di lorong sekolahan tanpa perduli bisik-bisik orang-orang di sekitarnya, sekarang tujuannya hanya satu, yaitu kantin. Perutnya sudah sangat lapar.


Setelah sampai di kantin ia pun memilih berjalan kearah stand makanan yang tak banyak orang mengantri, kepalanya menoleh kearah penjuru kantin yang luas, ia ingin mencari tempat duduk untuk ia makan, tanpa sengaja matanya menatap Nanon tengah duduk di pojok ruangan dengan beberapa temannya lain, ia pun tersenyum melihat ada space kosong di setelah Nanon.


Setelah beberapa orang yang mengantri di depannya selesai dengan pesanannya, Pawat pun dengan cepat memesan apa saja yang ada depannya tanpa memilih dulu apa yang ingin dia makan, yang terpenting bisa cepat selesai.


Senyumnya pun merekah setelah pesanannya jadi, dengan segera ia bawa langkah kakinya untuk mendekat kearah Nanon.


Sebelum duduk ia perhatikan sekitar seksama untuk mencari tau apa semua tempat sudah terisi hanya demi memperhalus rencananya, dan setelah memastikan semuanya aman, ia pun segera mendekati meja sang kakak kelasnya.


"Boleh join gak kak? Semua meja sudah penuh," Ucap Pawat mdengan wajah penuh harap.


Semua orang yang ada di sana saling berpandangan, bertanya lewat tatapan matanya.


"Duduk aja," Ujar Nanon yang sukses membuat semua orang termasuk teman-temannya menatapnya heran. Sejak kapan Nanon mengijinkan orang lain untuk duduk satu meja dengan mereka terlebih itu tepat di sampingnya.


Pawat tersenyum cerah. "Makasih banyak kak," Ucapnya riang dan menaruh iringnya di meja sebelum ikut duduk di samping Nanon.


Merasa di perhatikan Pawat pun kembali bersuara. "Ohiya Salam kenal ya kakak semuanya aku Ohm Pawat." Ujarnya riang yang di balas senyuman tipis oleh mereka Namun tak bisa membuang rasa penasaran yang begitu tinggi.


"Sejak kapan kalian deket?" Tanya Chimon memincing curiga.


Ohm tak berani menjawab, ia hanya melirik Nanon menunggu pemuda itu untuk menjawab, karena ia pun ingin Tau apa komentar Nanon terhadap dirinya, agar ia bisa melangkah lebih jauh kedepanya.


"Baru kemaren," Jawab Nanon acuh-tak acuh, pemuda itu sedang membaca bukunya karena ia telah menyelasaikan makan siangnya sejak tadi, sebelum Ohm datang ke mejanya.


Keempat temannya Masih memandangnya penasaran. "Kok bisa?" Tanya Toptap heran.


"Bisa aja," Jawaban Nanon sama sekali tak membuat mereka puas, alhasil ke empat pemuda itu menatap Ohm penasaran. 


Pawat yang di tatap mau tak mau membuka suaranya untuk menjelaskan. "Jadi kemaren aku habis di bully sama anak-anak, terus kak Nanon yang nolongin aku dan bawa ke UKS." Ujar Pawat lirih, nampaknya ia sedang membangun karaketer yang lemah dan tak berdaya.


Kini Chimon, Toptap, Perth dan Neo berganti menatap Ohm penasaran, Nanon pun diam-diam mendengarkan, ingin tau lebih jauh.


"Kamu di bully siapa?" Tanya Perth penasaran.


Pawat menatap mereka takut-takut, makanannya pun ia abaikan begitu saja, kedua tangannya saling meremat di bawah meja.


"Kalo gak mau cerita gak papa," Ucap Toptap perhatian.


Ketiga teman Nanon yang lain pun mengangguk membenarkan. "Iya bener, tapi kalo mau cerita, cerita aja, siapa tau kita bisa bantu." Ujar Neo dengan senyuman, Masih ingin Tau ternyata.


Pawat tak langsung menjawab, terlihat ragu haruskah ia bicara, Nanon hanya memperhatikan kelakuan Pawat Dari sudut matanya, tanpa ingin membuka suara.


"Sebenernya aku mau aja ngasih tau, tapi percuma, kalian gak akan percaya," Ujar Pawat yang membuat orang di meja itu heran.


"Loh kenapa kamu bisa mikir gitu?" Tanya Chimon semakin penasaran.


Pawat memanyunkan bibirnya kedepan, terlihat sangat menggemaskan. "Ya soalnya dia terkenalnya baik banget, jadi kalian gak akan percaya kalo tau,"


Perth menatap teman-temannya penasaran, bertanya lewat tatapan mata.


"Janeeyah ya?" Bisik Toptap lirih sembari memajukan badannya yang membuat mata Pawat membola terkejut, sedangkan teman-temanya menatapnya tak percaya, hampir saja ingin di bantah oleh Neo Namun Pawat segera bersuara.


Pawat ikut memajukan badannya. "Kakak tau darimana?" Tanyanya heran sekaligus excited.


Nanon menatap mereka berdua penuh, ia terlihat tertarik.


"Hei gak mungkin," Ujar Chimon yang mendapat cibiran oleh Pawat.


"Kan apa aku bilang, gak akan percaya"


Chimon seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Masak sih dek? Buktinya apa?" Tanya Perth yang membuat Pawat kembali memanyunkan bibirnya.


"Gimana mau ada bukti, orang mereka mainnya keroyokan," gumam lirih Pawat Masih terdengar oleh mereka semua.


Mereka pun terdiam, asih kurang terlalu percaya dengan apa yang mereka dengan, berbeda dengan Toptap yang mempercayai ucapan Pawat, karena ia pernah melihat Janeeyah memaki seorang pemulung dengan kasar, sedangkan Nanon ia tak ambil pusing dan tak ingin terlalu memikirkan apa yang dia dengar.


"Kak Nanon juga gak percaya ya sama aku?" Tanya Pawat dengan mata memelas seperti anjing yang akan di buang.


Nanon yang mendengar pertanyaan Pawat pun tersenyum manis dan mengelus kepala Pawat. "50-50."


Pawat memanyunkan bibirnya kesal, meski ia sudah menebak Namun tetap saja kesal.,padahal tak seharusnya ia kesal, Namun ia tetap menyendokkan makanan ke dalammulutnya meski sedikit menyamping tak ingin melihat Nanon.


Teman-temannya yang melihat kelakuan aneh Pawat saling pandang Dan berganti menatap Nanon yang hanya diam dan kembali membaca buku, seolah tak perduli Pawat ngambek.


"Menurut lo pada itu anak suka Nanon gak?" Tanya lirih Toptap melihat kelakuan Pawat yang ajaib.


"Masih nanya lo? Dia begitu tingkahnya masak kagak." Jawab Chimon tak kalah lirih yang di anguki oleh Perth.


Janeeyah yang melihat Pawat duduk satu meja yang sama dengan Nanon terlebih duduk tepat di samping pemuda itu membuanya mengepalkan tangan kuat-kuat, menahan emosi yang bergejolak. Gadis itu pun mengambil HP-nya dan mengechat anak buahnya untuk melakukan apa yang dia suruh.


========== Enigma ==========


Pawat sekuat tenaga mencoba memberontak dari apitan kedua orang anak buah Janeeyah yang tentu saja semuanya sia-sia, tenaga kedua orang itu lebih besar darinya, hingga kini mereka telah sampai di depan Janeeyah yang duduk di kursi dengan 4 orang pemuda di belakang gadis itu.


Dengan kasar di dorongnya Pawat ke tanah hingga terjerembab di depan Jane yang membuat semua orang di sana tertawa mencemooh.


Tanpa merasa bersalah Janeeyah menaruh kakinya di kepala Pawat, menginjaknya dengan keras. 


Pawat terdiam dengan tangan mengepal, ia dendam kesal sekali, Namun ia tak bisa memberontak karena tubuhnya lemah, tadi sebelum di bawa ke sini ia di hajar habis-habisan oleh dua orang yang mengapitnya.


"Aku liat-liat kamu makin gak tau diri ya, Wat." Ujar Jane kesal. "Berani banget kamu deketin kak Nanon," sambungnya semakin menekan kakinya ke kepala Pawat.


Pawat tak ingin menjawab, meski ingin sekali memaki, Namun ia tak bisa melakukannya karena bawahan gadis itu yang banyak Dan bertubuh kekar, sekali Ucap habis sudah riwayatnya.


"Sekali lagi aku liat kamu deketin kak Nanon bakal habisin detik itu juga." Ancamnya menginjak kepala Pawat dengan kekuatan penuh sebelum menjauh kan kakinya dari kepala Pawat Dan memberi kode anak buahnya untuk memukuli Pawat. "Karena kamu sudah jadi anak nakal, makan kamu harus nerima akibatnya." Sambungnya sebelum pergi berlalu dari sana untuk kembali ke kelasnya. .


Entah berapa lama Pawat di pukul habis-habisan kini ia tergeletak tak berdaya di taman sekolah yang sepi, matanya perlalahan memburam, staminya sudah hilang tak kuat lagi untuk terjaga.


Chimon yang sedang mencari bukunya di taman karena terjatuh dari lantai tiga menghentikan langkah kakinya saat ia melihat seseorang yang tertidur menyamping di tanah.


Dengan penasaran pemuda itu pun berjalan pelan mendekati orang itu, kepalanya melengok mencari tau siapa orang yang aneh tiduran di tanah, "Ohm Pawat." Pekiknya terkejut.


Kepalanya pun sontak menoleh keberbagai arah untuk mencari apakah ada orang lain sebelum membuat Pawat terlentang untuk ia bangunkan, namun melihat wajah Pawat yang babak belur semakin membuatnya terkejut bukam main.


Dengan segeraia telpon Nanon yang langsung di angkat oleh pemuda di sebrang.


"Kenapa?" Tanyanya Dari sebrang.


"Non lo mending ke taman sekarang, Ohm Pawat pinsan." Ujar Chimon panik, jika ia kuat membopong tubuh Pawat, sudah pasti akan ia lakukan sejak tadi, Namun ia sadar diri stamina ya tak sebanyak itu.


Nanon dengan cepat menutup telpon mereka Dan berlari keluar kelas membuat orang-orang yang berada di kelas menatapnya heran. 


Dengan sekuat tenaga ia berlari cepat agar lekas sampai di tempat tujuan. Bayangan wajah babak belur Pawat saat pertama kali ia melihatnya terbayang sempurna.


Dengan nafas terengah-rengah ia sampai di tempat Chimon berada, Dan tanpa babibu Nanon pun membopong Pawat ala bridal yang di ikuti Chimon dari belakang, membawanya ke UKS.


Janeeyah yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum senang, emosinya telah tersampaikan, gadis cantik itu pun berjalan anggun di lorong yang sepi karena sudah jam Masuk pelajaran hingga ia melihat Nanon yang berjalan cepat sembari membopong Pawat ala bridal. 


"Kak Nanon." Sapa gadis mendekati Nanon yang membuat langkah Nanon terhenti. "Ini Pawatnya kenapa?" Tanyanya sok perhatian.


"Gak Tau," ujarnya dan melenggang pergi melewatinya begitu saja.


Janeeyah yang Masih ingin berbasa-basi tercengang tak percaya, tangannya mengepal emosi hingga buku kukunya memutih, bahkan setelah pinsan begitu masih saja caper ke calon pacarnya, dan Nanon juga kenapa lebih memilih melewatinya begitu saja.


Gadis itu pun mencak-mencak di tempatnya dengan kesal. "Pawat sialan! Masih aja godain kak Nanon, awas aja nanti bakal aku bikin makin babak belur!" ujarnya kesal tanpa tau bahwa di belakang ada Chimon yang mendengar semua makiannya.


Chimon memang sengaja berjalan lambat, dia hanya malas untuk kembali ke kelas yang sedang kosong karena gurunya ada perlu, sedangkan Nanon berjalan cepat dengan langkah lebar membuatnya semakin tertinggal di belakang. Namun setelah mendengar makian Janeeyah keinginannya untuk kembali ke kelas pun ia urungkan.


Janeeyah yang sedang memutar tubuhnya untuk berbalik arah terkejut melihat Chimon yang berada di belakangnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Hehehe kak Chimon, kak Chimon apa kabar?" Sapanya sok lembut.


Chimon tak menjawab perkataanya hanya lirikan sinis yang di lakukan pemuda itu sebelum pergi melewatinya.


Janeeyah membrengutkan bibirnya kesal namun tak ingin mengambil pusing akan sikap Chimon, gadis itu pun menyibakan rambut panjangnya kebelakang sebelum berjalan menjauh.


========== Enigma ==========


Dengan telaten Nanon mengobati luka di wajah Pawat hati-hati, sedangkan Chimon hanya mengawasi gerak-gerik sahabatnya dari ranjang sebelah yang kosong, banyak hal yang kini berada di benaknya tenang sahabatnya sejak kecil ini.


Nanon yang terus di perhatikan oleh Chimon pun angkat suara. "Kenapa?" Tanya Nanon tanpa menatap Chimon.


"Kamu sama Janeeyah sudah sedeket apa?" Tanyanya penasaran.


Nanon mengerutkan keningnya dan menatap sahabatnya bingung. "Bisa aja," 


"Kamu gak ada perasaan kan ke cewek itu?" Tanyanya memastikan.


Nanon Kian menatap Chimon heran. "Ya enggak, kita aja jarang ngobrol." Ujarnya, ia kini  focus mengobati luka-luka di tubuh Pawat, baju yang di kenakan pemuda itu pun telah terbuka Dan pelakunya sudah pasti Nanon yang ingin tau dimana saja letak lebam di tubuh Pawat.


Chimon sedikit bernafas lega. "Jangan deket-deket deh sama itu cewek," ujarnya yang membuat Nanon mengerutkan keningnya.


Kepala Nanon pun menoleh kearah Chimon, "Kenapa tiba-tiba??" Tanyanya heran.


Chimon menghela nafas kasar. "Kayaknya yang di omongin Pawat tuh bener,"


Kening Nanon Kian mengkerut dalam. "Soal?" Tanyanya bingung.


"Tentang orang yang bully dia."


Kini Nanon telah sepenuhnya focus kearah sorang terpecayanya, menatapnya lamat-lamat ingin mendengarkan lebih rinci.


"Tadi kamu papasan kan sama itu cewek?" Tanya Chimon yang di Jawab anggukan. "Nah pas kamu sudah jalan aku denger dia maki-maki Pawat terus bilang bakal bikin Pawat makin babak belur gitu lah." ujarnya menatap Nanon dengan raut serious, membuktikan ia tak sedang bercanda.


Nanon terdiam beberapa saat berpikir tentang apa yang Chimon katakan. "Oke," ujarnya begitu saja dan kembali mengobati luka di badan Pawat.


Chimon tak terkejut dengan jawaban Nanon, karena memang kelakuan Nanon seperti ini, menuruti apa yang di katakan orang terdekatnya, meski kadang ia emosi dengan sikap temannya ini, namun ia justru bersyukur sifat Nanon yang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...