Freddy menatap Otlan bingung kala pemuda itu hanya menghela nafas sambil menatap layar hpnya. Nasi goreng kesukaan pemuda itu bahkan tak disentuh sama sekali.
"Lo kenapa sih?" Tanya Freddy yang sudah gerah melihat Otlan yang terlihat gelisah selama beberapa hari belakangan.
Otlan menggeleng, ia malu untuk berterus terang.
"Ada masalah apa, Lan? Dari kemaren kamu gak semangat gitu," Tanya Oyie yang sudah tak bisa membendung rasa penasarannya.
Namun Otlan tak ingin menjawab pertanyaan itu, ia hanya diam sembari melihat roomchatnya dengan Cana yang masih tak ada balasan.
"Cana ya?" Tebak Deki setelah menelan Sandwichnya dan tepat sasaran.
Otlan hanya membrengutkan bibirnya.
Oyie dan Freddy menghela nafas lelah dan Deki yang kembali asik memakan makan siangnya. Membiarkan temannya untuk bergalau sendiri tanpa ingin ikut campur.
Kenzo yang baru datang ke meja tempat Otlan dan yang lainnya duduk di kantin tersenyum manis menatap Otlan. "Siang, Lan." Sapanya ceria.
Otlan meliriknya malas dan memilih untuk kembali mengetik kata demi kata di roomchatnya dengan Cana, dan ia berharap kali ini akan dijawab pemuda itu yang entah kemana.
"Makanannya kenapa belom di makan? Gak suka? Mau aku pesenin yang lain?" Tanyanya perhatian.
Namun Otlan masih membisu, ia asik dengan pikirannya sendiri tentang di mana Cana, kenapa pemuda itu tak ada kabar sama sekali 3 harian ini.
"Mau makan apa, Lan? Biar aku pesenin." Ujarnya dengan wajah yang masih cerah ceria, meski Otlan tak menanggapi keberadaanya. "Hotdog mau? Atau Burger gitu?"
Freddy yang merasa kasian pun berkata "Dia lagi galau, Zo. Biarin aja."
Kenzo mengerutkan keningnya. "Galau kenapa?" Tanyanya bingung.
"Gara-gara abang lo ngilang, dia jadi kesepian." Ledek Freddy yang di balas decakan sebal oleh Otlan.
Wajah Kenzo seketika berubah kesal. "Ngapain sih, Lan mikirin dia? Gak usah peduliin dia, paling dia lagi asik sama lontenya,"
Otlan mendongak terkejut, tak hanya Otla, Freddy, Deki dan Oyie pun menatap Kenzo terkejut, namun tak lama wajah Oyie berubah terlihat tak percaya.
"Gak usah ngaco deh," Ujar Otlan tak percaya. Meski dalam lubuk hatinya ia pun merasakan kebimbangan, namun ia masih tak ingin mempercayai itu.
"Serius, Lan. Dia beberapa hari ini gak pulang ke rumah, biasanya dia main sama lontenya kalo gak pulang." Ucapan Kenzo mampu membuat Otlan semakin bimbang. Benarkah?.
"Mending tanya ke temennya dulu, Lan, jangan langsung percaya gitu aja." Ujar Oyie yang masih tak mau mempercayai ucapan Kenzo mentah-mentah.
"Nanya ke temen itu percuma. Namanya temen pasti belain temennya, mana ada temen yang mau jelekin temennya." Sanggah Kenzo tak suka.
Deki dan Freddy saling pandang, namun keduanya tak tau harus mengatakan apa, yang mereka lakukan hanya diam menyimak.
"Tanya aja dulu, Lan." Ujar Oyie tak memperdulikan ucapan Kenzo sama sekali.
Kenzo mendengus kesal. "Aku bisa anterin kamu ke tempat dia nyewa lonte biasanya kalo kamu gak percaya, Lan." Ujar Kenzo tak ingin kalah.
Otlan yang mendengar ucapan mereka pun bingung harus melakukan apa. Satu sisi ia ingin mengiyakan ajakan Kenzo, tapi ia juga takut jika itu memang nyata.
Oyie tak bisa membantah lagi, jadi gadis itu pun memilih diam, menunggu jawaban temannya.
"Gimana, Lan? Mau kan ke sana?" Tanya Kenzo yang sangat yakin bahwa ucapannya adalah benar adanya.
Otlan menatap ketiga temannya yang juga sedang menunggunya untuk mengambil keputusan. Merasa tak bisa mengelak, pemuda itu pun terpaksa mengiyakan ajakan Kenzo. Ia hanya berharap bahwa dugaan Kenzo itu salah, ia hanya takut. Takut untuk patah hati.
Kenzo tersenyum melihat anggukan Otlan, ini saatnya untuk ia bongkar kebusukan Cana agar Otlan tak lagi melihat Cana sebagai orang yang baik.
-----------------------
![]() |
| Visualisasi gedung / rumah penyewaan |
Berjam-jam telah berlalu, matahari yang tadi bersinar terik kini telah sedikit meredupkan cahayanya, semilir angin sore itu terasa begitu menyejukkan namun tidak bagi Otlan, pemuda yang sedang berada di dalam mobil beserta ke empat orang lainnya merasa ketakutan yang luar biasa. Hatinya terus berdentum tak nyaman.
Gadis cantik yang duduk di sebelah Otlan menggenggam tangan Otlan lembut, melihat wajah Otlan yang gelisah membuatnya ikut merasakan hal yang sama. Namun tak ada kata penenang yang bisa ia utarakan, karena ia pun takut kata-katanya nanti akan jadi boomerang.
Otlan tersenyum tipis pada temannya itu, namun sayangnya rasa gelisah yang ia rasakan tak kunjung menghilang.
Disamping Oyie ada Kenzo yang terus menatap luar jendela, memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dari bangunan di depannya, bangunan yang seperti gedung biasa, tapi didalamnya penuh akan luar biasa.
Freddy dan Deki yang berada di depan pun melakukan hal yang sama seperti Kenzo, mereka pun penasaran apakah perkataan Kenzo benar atau hanya karangan agar bisa mendapatkan Otlan.
Mereka berlima berada di dalam mobil milik Freddy, saat supirnya telah sampai pemuda itu segera menyuruh sang supir untuk pulang dengan Taxi, agar ia dan teman-temannya bisa satu mobil. Sang supir pun tak membantah keinginan tuan mudanya, ia dengan patuh menerima perintah begitu saja.
Dan kini mereka sudah berada di depan gedung bersama keempat orang lainnya, menunggu seseorang yang tak tau apakah akan datang atau tidak.
Awalnya Kenzo tak setuju dengan ucapan Freddy, ia ingin naik mobilnya sendiri tentu dengan mengajak Otlan, namun Otlan yang tak ingin berduaan dengan Kenzo langsung saja masuk kedalam mobil Freddy dan diikuti oleh Oyie yang duduk di sampit Otlan. Melihat itu mau tak mau Kenzo pun ikut naik ke mobil Freddy, membuat Otlan berada di tengah, antara Oyie dan Kenzo, namun saat Kenzo sudah duduk nyaman di mobil Freddy, Otlan dengan segera tukeran duduk dengan Oyie, hingga membuat gadis cantik itu yang berada di tengah. Tentu saja hal itu membuat Kenzo tak terima, ia terus berusaha agar Otlan kembali ke tempat duduknya, namun perkataan Oyie yang pedas dan didukung oleh Deki membuatnya hanya diam kesal, apalagi setelah Freddy berkata lebih baik dia naik mobilnya sendiri dan tak usah ikut di mobilnya kalo masih ingin kekeuh Otlan berada di samping pemuda itu. Yasudahlah, yang penting dia masih bisa melihat Otlan.
Deki melihat jam di pergelangan tangannya, sudah 2 jam mereka mengintai rumah di depannya ini, namun selama itu pula Cana tak menampakkan batang hidungnya. "Ini sampe kapan nunggunya?" Tanyanya yang sudah lelah. Ia ingin pulang dan mengistirahatkan tubuhnya.
Otlan dan Oyie yang juga sedang menatap luar mobil ikut menatap Deki, berharap pengintaian gak jelas ini bisa segera selesai.
"Sampe dia dateng." Ujar Kenzo enteng.
Deki melirik pemuda itu dari kaca tengah di mobil malas. "Kapan datengnya?"
"Ya pas dia mau dateng!" Kenzo yang kesabarannya setipis tissue sedikit tak suka mendengar pertanyaan aneh Deki.
Freddy hanya mendengarkan saja tanpa ingin menyela, ia terus mengawasi orang yang berlalu-lalang, takut mangsa mereka terlewat.
Deki menghela nafas kesal. "Kalo dia gak dateng?" Tanyanya yang membuat Kenzo semakin sebal.
"Dia pasti dateng!" Ujarnya yakin.
"Kapan datengnya?!" Deki pun ikut kesal jadinya.
"Bawel banget sih, tinggal nunggu doang banyak tanya!"
Deki menghela nafas lelah. Kesabaran yang tipis selalu diuji kala berbicara dengan Kenzo. Pemuda itu selalu bisa membuatnya kesal. "Doang kata lo? Kita udah nunggu 2 jam disini, dan gak ada tuh kakak lo dateng! Ini pasti akal-akalan lo doang kan biar Otlan gak suka lagi sama Cana makanya lo ngarang kek gini!"
Kenzo tak terima di tuduh begitu saja. Meski memang tujuannya untuk membuat Otlan ilfeel pada Cana, tapi dia ta berbohong. "Gue bukan tukang bohong, Cana emang selalu kesini kok!"
"Terus mana buktinya? Mana Cananya mana? Udah 2 jam itu si Cana gak ada muncul!"
"Nanti juga muncul! Makanya sabar!"
Deki sudah siap menyemburkan makian namun perkataan Freddy membuatnya kembali diam.
"Udah deh gak usah berantem." Kepala pemuda itu pun menatap kearah sang pacar dan menatapnya sayang. "Kita tunggu sejam lagi, kalo si Cana gak ada dateng kita pulang," Sambungnya mengambil jalan tengah.
Deki mengangguk patuh. "Beneran ya sejam doang?" Ujarnya memastikan yang di balas senyuman manis sang pacar.
"Gak bisa gitu dong! Kita harus nunggu sampe Cana dateng, kalo pas kita pulang terus Cana baru dateng gimana?"
Deki berdecak malas. Oyie pun melirik pemuda disampingnya dengan penuh kesinisan, jangan tanyakan Otlan, pemuda itu sudah tak ada tenaga untuk ikut nimbrung, ia hanya terus berharap bahwa ucapan Kenzo itu salah.
"Karena lo doang yang kekeuh ingin nunggu sampe Cana datang, lo aja yang nunggu di sini. kalo dia udah dateng baru kasih info ke kita. Gampangkan?" Kata Freddy tak ingin terpancing.
"Ya gak bisa gitu dong!"
"Bisa! Lo gak usah egois! Gue gak mau nunggu gak jelas lebih lama di sini." Ujar Oyie dengan mata memicing tajam.
"Kalo lo gak mau nunggu Cana sampe dateng, ngapain nyuruh kita nunggu sampe dia dateng? Lo pikir kita babu lo yang bisa lo perintah?" Deki sudah teramat lelah dengan sifat Kenzo rupanya.
Freddy menghela nafas berat. Ia harus apa agar mereka tak lagi berantem hanya perkara menunggu seperti ini. Ia pun tak ingin jika harus menunggu sampe entah kapan yang bahkan Cana belum tentu datang kesana dan tau tempat ini saja belum tentu. Kecuali pemuda itu sudah sering kesini.
Tiba-tiba ia mendapatkan ide. "Lo semuanya disini jangan kemana-mana, gue mau nanya dulu ke orang Cana sering kesini apa gak," Ucap Freddy mengambil jalan tengah.
Kenzo tersenyum cerah, akhirnya ia bisa membuktikan bahwa Cana memang sebrengsek apa yang dia katakan.
Deki dan Oyie hanya mengangguk, membiarkan Freddy keluar dari mobil untuk mencari tau, berbeda dengan Otlan yang semakin cemas. Kalau yang Kenzo ucapkan itu benar apa yang harus ia lakukan kedepannya? Haruskah ia move on? Namun jika mengingat lagi, semua perbuatan Cana padanya waktu melakukan "itu" Memang terasa sangat ahli. Wajahnya pun berubah pias. Meski begitu, sudut hatinya masih tak terima dan denial.
Freddy melepas baju seragamnya dan hanya memakai kaos putih polos sebelum masuk kedalam bangunan yang cukup ramai, karena sejak 2 jam lalu banyak orang yang keluar masuk tanpa henti.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari petunjuk dimana ia harus bertanya, karena tak mungkin ia menanyai semua orang di ruangan itu yang kini menatapnya dengan dengan berbagai pandangan. Tentu saja tak jauh dari menggoda.
Dengan serampangan ia pun memberhentikan seseorang yang sedang melewatinya. Ia tersenyum manis kala orang itu menatapnya.
"Maaf saya hanya pegawai biasa, bukan--" Ucap wanita itu.
"Bukan kak." Potong Freddy yang membuat wanita itu menatapnya bingung. "Saya gak mau mesen, tapi mau nanya. Bisa kan?" Lanjutnya yang membuat wanita muda itu mengangguk dan mimik wajah yang berubah santai, tak setakut tadi. Pasalnya tak jarang pelanggan yang ngeyel ingin tidur dengannya meski sudah ia bilang berkali-kali bahwa ia hanya pegawai biasa.
"Jadi saya lagi nyari temen saya, kakak kenal sama yang namanya Cana? Katanya dia sering kesini."
Wanita muda itu mengerutkan keningnya sebelum menggeleng yakin. "Saya gak pernah denger nama itu, tapi coba kamu tanya sama pemilik bisnis ini saja, kebetulan saya juga ingin menemui beliau."
Freddy tanpa sungkan mengangguk setuju.
Kedua orang itu pun berjalan ke salah satu sofa yang sudah terisi, namun tak seperti sofa kebanyakan yang selalu dihuni banyak orang, disana hanya ada satu orang yang sedang duduk sembari menikmati cerutunya.
"Madam Ji, ibu berkas yang anda minta, dan ada yang ingin bertemu dengan anda." Ucap wanita tadi sopan setelah menaruh berkas entah apa itu di meja depan wanita yang sedang menikmati cerutunya.
Orang yang di panggil madam Ji pun menoleh.
Freddy segera membungkukkan badannya sopan. "Perkenalkan, nama saya Freddy, saya ingin bertanya tentang salah satu pelanggan anda madam."
Kening madam ji mengkerut, tangannya pun bergerak mengusir, "Semua hal tentang pelanggan saya itu rahasia."
"Saya hanya bertanya apa Cana berada disini madam, karena sudah 3 harian dia tidak pulang, orang tuanya khawatir." Ujarnya berbohong.
Madam Ji yang awalnya acuh tak acuh padanya kini kembali menatap Freddy, menatap pemuda itu dari atas hingga bawah. Menilai.
"Cana?" Tanyanya yang diangguki oleh Freddy.
"Disini tak ada pelanggan yang bernama Cana." Sambungnya yang seketika membuat Freddy kebingungan.
"Madam serius? Katanya dia sering kesini, madam."
Wanita berambut ikal itu mengangguk. "Saya tak akan pernah lupa nama pelanggan saya, apalagi jika dia sering kesini."
Kini giliran Freddy yang memasang wajah bingung. Jadi yant mereka lakukan sejak 2 jam tadi hanya sia-sia?.
Pemuda itu pun tersenyum tak enak hati. "Kalau begitu saya permisi madam, mungkin informasi dari kenalan saya salah." Ujarnya berlalu begitu saja.
Madam Ji menatap punggung Freddy yang menjauh dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kasih tau pelanggan yang bernama kuro bahwa ada yang mencarinya." Ujarnya pada sang asisten yang segera di lakukan.
Ia tak berbohong tentang tak ada pelanggan yang bernama Cana, karena semua pelanggannya selalu mempunyai nama samaran untuk memesan, yang tau nama asli dari sang pemesan hanya dirinya.
Freddy berjalan cepat kearah mobilnya dan duduk di depan kemudi. "Disana gak ada yang namanya Cana." Ujarnya saat baru duduk di kursinya.
Perkataannya memuat beragam reaksi dari orang di mobil itu. Tentu Otlan memancarkan reaksi lega yang luar biasa.
"Bohong! Gak mungkin gak ada Cana, udah jelas-jelas dia sering kesini." Ujar Kenzo tak terima.
Freddy menatap pemuda itu nyalang. "Kalo lo gak percaya tanya aja sama semua orang disana, mereka gak ada yang kenal Cana, anjing! Ngotot banget." Emosi yang sejak tadi ia tahan pun meledak juga.
"Oke! Bakal gue buktiin kalo emang Cana itu sering kesini!" Ujarnya pede dan turun dari mobil begitu saja.
Freddy menghela nafas kesal melihat tingkah semena-mena teman satu kelas mereka.
"Udahlah tinggalin aja dia, paling juga buat onar nanti di dalam, gue gak mau nanggung malu lagi kayak pas di bioskop kemaren." Ujar Deki yang sudah kesal bukan main.
"Iya ayo pergi, gue laper." Otlan yang sejak tadi hanya diam pun bersuara. "Toh lo udah mastiin emang Cana gak pernah kesana kan? Ngapain di sini lama-lama."
"Iya, ayo pergi dah, tinggalin aja dia. Kesel banget gue, dari tadi bikin emosi mulu, mana jelekin sodara kembarnya terus ke Otlan." Oyie pun memberikan komentar.
Tak ingin menimbang-nimbang, Freddy pun melajukan mobilnya kala Kenzo telah masuk ke dalam gedung. Ia juga lapar, karena sejak pulang sekolah mereka belum mengisi perut sama sekali.
"Mending lo tanyain ke kak Agra soal Cana, siapa tau dia tau Cana di mana, dan kenapa gak bales chat lo, Lan." Ujar Freddy sembari menyetir.
Oyie mengangguk setuju. "Iya, tanyain aja ke sahabatnya, dia pasti tau Cana dimana." Dukungnya dengan senyuman manis.
"Iya dah, Lan. Harusnya kita ngikutin omongan Oyie aja, daripada ngikutin omongan orang nyebelin itu." Deki pun ikut memberi dukungan.
Otlan hanya diam, haruskah ia mengechat teman crushnya itu? Namun ia sudah sangat khawatir karena sejak pemuda itu keluar daru rumah sakit, ia tak ada kabar sama sekali.
"Iya deh gue chat dulu." Putusnya yang mendapatkan senyuman dukungan dari teman-temannya.
Sedangkan disis Kenzo, pemuda itu sedang menanyai semua orang yang ada di sana dan bertanya soal Cana, namun orang di sana tak ada yang mengenal Cana hingga membuatnya kesal dan mengamuk karena berpikir mereka semua berbohong.
Sedangkan sang madam sejak tadi terus memperhatikan hanya diam di tempat, ia pikir awalnya Kenzo adalah pelanggan setianya, namun ternyata bukan. Ia pun menyuruh asistennya untuk memanggil satpam dan mengusir Kenzo dari sana, karena sudah membuat kekacauan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar