Jumat, 14 Februari 2025

Date (?) (Orphic)

 

Giardini

"Anak gantengnya mami mau kemana? Pagi-pagi udah rapi dan wangi aja." Sapa nyonya gunadhya melihat anaknya yang terlihat berbeda dari biasanya.

Kenzo tersenyum malu-malu. "Mau jalan sama Otlan." Ujarnya sebelum duduk di meja makan yang telah penuh berbagai macam hidangan.

Maid yang bertugas mengambilkan makanan pun mulai melakukan tugasnya dengan hati-hati.

Nyonya Gunadhya tersenyum tipis mendengarnya, sebenarnya ia tak terlalu suka anaknya mengajar seseorang yang tak menyukainya, apalagi setelah yang terjadi kemaren. Namun melarang anaknya juga ta bisa, Kenzo sangat keras kepala melebihi semua orang di rumahnya.

"Mau jalan kemana?" Tanya sang papi dengan mata yang terus menatap koran, membaca berita yang sedang terjadi belakangan ini.

"Ke Giardini." Ujarnya mulai memakan-makanan yang sudah tersedia di piringnya.

"Jangan capek-capek," Nasehat sang papi yang hanya di balas gumaman. Pria itu pun melipat korannya dan mulai ikut memakan makanannya seperti keluarganya yang lain.

"Jangan kelamaan ya sayang mainnya, inget kata dokter apa? Gak boleh terlalu bersemangat dan jangan sampe kecapean."

Kenzo mendengus. Ia kesal. Selalu seperti ini, dia belum jalan sudah ada larangan. "Ia mami, ia papi."

Suasana pagi di rumah megah itu terasa damai, tak ada percakapan yang berlanjut, hanya suara dentingan sendok dan garpu. Bahkan tak ada pencarian sang anak sulung yang tak ikut makan, seolah tak perduli.

-----

Otlan melirik arlojinya malas, jika bukan karena ingin melerai kedua temannya yang akhir-akhir selalu berdebat ia pasti masih berada di rumah, memeluk guling dan selimut sembari menunggu kabar dari seseorang yang entah sekarang berada dimana.

Sebuah mobil asing masuk kedalam pekarangan rumahnya, ia sedikit berharap bahwa itu Cana (karena Cana sering membawa mobil yang berbeda) namun harapan hanya tinggal harapan. Bukan sosok Cana yang muncul dari kursi belakang, melainkan sang kembaran, alias Kenzo. Rasa bahagia yang sesaat ia rasakan tadi menguap begitu saja.

"Ngapain lo ke sini?" Tanya Otlan tak suka ketika Kenzo telah berada di dekatnya.

"Mau jemput kamu, Fredi udah jalan duluan." Ujarnya dengan senyuman manis. Ia bahagia bisa melihat pujaan hatinya setiap hari seperti ini.

Otlan berdecak. Temannya itu benar-benar berniat menjodohkannya dengan Kenzo. Sialan!.

"Ayo, Lan masuk mobil, disini panas nanti kamu makin kepanasan." Ujarnya sangat perhatian, ia pun menaruh tangannya diatas kepala Otlan hanya agar melindungi Otlan dari paparan sinar matahari.

Tak ingin berdebat, Otlan pun masuk kedalam mobil, namun bukan duduk di kursi belakang, pemuda itu memilih duduk disamping supir, membuat Kenzo dan sang supir terkejut.

"Lan kok duduk di depan? Ayo kebelakang aja sama aku." Ujar Kenzo berusaha membuka pintu yang sudah tertutup.

Otlan pun kembali menutup pintunya dan menguncinya agar Kenzo tak bisa membukanya lagi. "Lo cepetan naik deh, Zo. Udah panas ini," Ia sama sekali tak mengindahkan keinginan Kenzo.

Kenzo memberengutkan bibirnya kesal, ia. Pun berjalan kearah belakang dan duduk dengan nyaman. Masih tak terima Otlan memilih duduk disamping supir daripada dirinya.

Sang supir tanpa banyak bicara segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Otlan. Ia sedikit takut akan kemarahan sang tuan muda meski ia tak melakukan kesalahan apapun.

Kenzo dan Otlan saling diam. Jika Kenzo diam karena kesal terhadap Otlan, berbeda dengan Otlan, pemuda itu diam karena ragu haruskah ia bertanya pada supir Kenzo tentang Cana? Lama pemuda itu berpikir hingga akhirnya ia pun membulatkan tekatnya.

Bapak ada liat Cana belakangan ini?" Tanyanya memecah keheningan disana.

Sang supir yang tiba-tiba di tanya pun sedikit tersentak. "Gak liat den, kayaknya den Cana gak pulang belakangan ini."

Kenzo berdecak kesal. Cana lagi, cana lagi, Cana lagi dan cana lagi. Kenapa sih yang Otlan bahas selalu saja Cana? Apa hebatnya orang itu daripada dirinya.

"Mati si Cana!." Celetuk Kenzo yang sudah teramat kesal.

Otlan hanya diam mendengar celetukan sinis itu. Ia sedang malas untuk berdebat.

Sang supir yang mendengarnya hanya diam saja tanpa berani membantah, karena ia sudah tau pasti kedua saudara kembar ini tak pernah akur.

"Cana mulu yang lo cari. Hebatnya dia apa sih Lan? Gue sama Cana juga bagusan gue kemana-mana." Sambungnya menyombongkan diri.

Otlan menghela nafas berat. Ia hanya diam saja dan tak ingin menyahut perkataan sinis Kenzo. Entah karena terlalu kawatir sama Cana atau bagaimana tenaganya menjadi hilang begitu dan membuatnya gampang malas.

Seolah rasa kesalnya hilang begitu saja, Kenzo pun mendekatkan dirinya ke kursi Otlan. "Nanti mau naik apa aja Lan?" Tanyanya excited.

Otlan meliriknya bingung. Bukannya tadi pemuda itu kesal padanya?. "Males naik-naik." Sahutnya acuh tak acuh.

"Pernah naik bianglala gak, Lan? Katanya bagus banget pemandangan binglala dari sana." Kenzo sepertinya sangat excited dengan rencana mereka hari ini.

"Males. Panas." Namun Otlan tetaplah Otlan, pemuda itu sama sekali tak peduli dengan lawan bicaranya.

"Yahh, padahal katanya bagus, sayang gak sih Lan kalo gak naik?" Bibirnya pun maju beberapa centi, terlihat menggerakkan namun tidak bagi Otlan, pemuda itu malah menatapnya geli.

"Kalo mau naik aja, gak ada yang larang lo buat naik." Ujarnya sembari memainkan hpnya.

"Maunya naik sama kamu Otlan, pasti makin bagus, soalnya kamu ganteng banget hari ini." Pujinya tulus.

Perjalanan mereka pun diwarnai dengan celotehan Kenzo tentang apa saja yang harus mereka naiki hari ini tentu dengan Otlan yang menjawab malas-malasan menolak semua tawaran Kenzo hingga mereka telah tiba di tempat tujuan.

Keduanya pun turun dari mobil, Otlan pun segera menelpon Freddy, bertanya mereka ada dimana, yang dijawab bahwa mereka bertiga telah masuk sejak tadi, dan menunggu kedatangannya di tempat wahana roller coster.

"Freddy sama yang lain udah masuk ya?" Tanyanya yang di deheman malas oleh Otlan. "Ayok masuk, Lan kalo gitu." Sambungnya dan menggandeng lengan Otlan yang segera ditampik kasar oleh sang empu tangan.

"Gak usah pegang-pegang, gue gak suka." Ujarnya dan melenggang pergi begitu saja, mengabaikan wajah sedih Kenzo.

Namun kesedihan pemuda itu tak berlangsung lama, ia pun segera menghampiri Otlan dan berjalan bersisihan dengan pujaanya. Tak apa tak bergandengan tangan, asal masih terus bersama Otlan ia akan selalu bahagia.

"Nanti mau naik wahana roller coaster gak?" Tanya Kenzo setelah mereka masuk kedalam wahana. Ia telah membeli tiket sebelumnya, jadi mereka bisa langsung masuk tanpa harus mengantri untuk membeli tiket.

"Malas." Sahut Otlan sama seperti jawabannya di mobil sejak tadi.

Kenzo membrengutkan bibirnya. "Kenapa? Kamu takut ketinggian ya?" Pertanyaan yang tak dijawab oleh Otlan.

"Otlan mau minum gak? Ini panas banget, kalo mau aku beliin," Ujarnya perhatian.

"Enggak." Tolaknya mentah-mentah.

"Gak haus emang?" Lagi-lagi pertanyaannya tak dijawab oleh Otlan.

Perjalanan mereka pun diiringi dengan pertanyaannya-pertanyaan perhatian dari Kenzo namun selalu dijawab malas oleh Otlan, bahkan pemuda itu tak jarang mengabaikan pertanyaan Kenzo, namun entah kenapa Kenzo selalu saja ada pertanyaan atau bahkan ucapan yang dia keluarkan.

"Berisik banget," Keluh Otlan dalam hati yang tak sampai hati ia sampaikan.

Kini meraka telah sampai di tempat rollercoaster, Freddy pun segera mengajak Otlan dan Kenzo untuk ikut naik dengan mereka, dengan akal bulus Freddy, Otlan yang awalnya ingin duduk bersama Oyie pun ia gagalkan dan membuat pemuda itu duduk bersama Kenzo, sedangkan Oyie ia tahan di belakang.

Saat Otlan tersadar bahwa bukan Oyie yang duduk di sampingnya, rollercoaster pun sudah berjalan pelan, kepalanya menoleh kebelakang mencari tahu dimana temannya, dan ia melihat Oyie berada dalam sekapan Freddy yang mencoba memberontak yang tak ikut naik.

"Sialan Freddy sialan." Batinnya kesal bukan main. Ia telah dibohongi oleh temannya sendiri.

Sedangkan Kenzo kegirangan bukan main, ia tak pernah naik wahana seperti ini karena dilarang orang tuanya, takut jika penyakitnya kambuh, dan sekarang ia bisa naik terlebih ia duduk disebelah seseorang yang sangat ia sukai.

Dua pemuda dengan perasaan yang berbeda sedang naik wahana rollercoaster.

Tingkah jail Freddy tak hanya sampai disana, pemuda itu terus saja bisa menjebak Otlan dan Kenzo untuk satu kursi, otak cerdiknya selalu bisa menipu sang teman. Dari mulai biang lala yang seharusnya Oyie ikut menjadi berdua saja, masuk rumah hantu dan meninggalkan Otlan serta Kenzo membuat hanya mereka yang masuk, sedangkan ia dan Deki serta Oyie tak jadi ikut main (tentu lagi-lagi ia yang menarik paksa Oyie) hingga membuat Otlan marah dan memilih untuk pulang, tak peduli dengan perkataan Freddy yang terus meminta maaf, pemuda itu bahkan memesan Taxi yang selalu ia hindari (karena waktu kecil sang abang selalu menakutinya bahwa taxi bisa membawa orang pergi dan tak akan di kembalikan) bahkan pemuda itu pun memblock nomor Freddy saking kesalnya ia.

Namun bagi Kenzo, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan untuknya, dan akan selalu ia kenang, sampai kapanpun itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...