Jumat, 14 Februari 2025

Kacau (Orphic)

 


"Makan dulu, Lan, hapenya nanti lagi." Tegur Cana melihat Otlan yang hanya memainkan hp-nya tanpa menyentuh makanan yang telah ia tata di depan pemuda itu.

Otlan hanya tersenyum dan menaruh hpnya di meja, tangannya pun mulai mengambil makanan di depannya secara acak.

"Lo dicariin sama anak buah lo, Na." Ujar Otlan memberitahu.

Cana mengangguk. "Nanti gue ke mereka." Ujarnya mulai ikut menyantap makanan di depan meraka.

Otlan terdiam sejenak, menimbang haruskah ia bertanya kemana saja pemuda ini belakangan? Setelah bergelut lumayan lama dengan pikirannya sendiri, Otlan pun memilih untuk bertanya.

"Lo kemana aja kemaren? Kenapa gak ada kabar sama sekali?" Tanyanya ragu-ragu. "Lo gak kenapa-kenapa kan?"

Cana mendongak menatap Otlan yang menatapnya dengan mata bulat menggemaskan milik pemuda itu. "Lagi pengen sendiri." Ujarnya singkat tanpa ingin memberitahu.

Otlan memberengutkan bibirnya, tak puas dengan jawaban Cana, ia pun mengacak-ngacak makanan di depannya, hasratnya untuk makan Seketika menguap. Kesal ia.

Cana melihat tingkah laku Otlan yang sangat mirip dengan keponakannya ketika merajuk pun membuatnya tersenyum tipis. "Maaf udah bikin lo kawatir, Otlan,"

Otlan nampak tak perduli dengan permintaan maaf Cana yang sudah berkali-kali ia dengar hari ini. "Seenggaknya kasih kabar," Gerutunya lirih namun masih di dengar dengan jelas oleh Cana.

Cana pun meletakkan sumpitnya di piring di depannya. "Gue gak terbiasa ngasih kabar ke siapapun Otlan,"

Otlan mendongak. "Emang bokap nyokap lo gak nyariin kalo lo ngilang?" Suaranya terdengar sekali jika ia kesal.

Cana menggeleng. "Gue terbiasa hidup sendiri, dan mereka juga gak tertarik sama kehidupan pribadi gue."

Otlan seketika terdiam, ia sedikit merasa bersalah karena ucapanya barusan, namun ia terlalu gengsi untuk meminta maaf.

"Temen-temen lo gimana? Mereka gak mungkin gak nyariin lo kan."

"Mereka chat gue kalau butuh sesuatu, mungkin ada masalah di bengkel atau di mana, kita punya kehidupan sendiri yang harus kita atur,"

Otlan merasa bingung, "Kak Agra? Gak mungkin kak Agra gak nyariin lo,"

"Dia udah terbiasa sama gue yang gak ada kabar."

Otlan speechless, ia bingung harus berkata apa lagi. "Tapi guenya butuh kabar dari lo, Na." Ujarnya lirih.

Diusaknya rambut Otlan lembut. "Lo akan terbiasa nantinya,"

"Gak mau!" Tolaknya mentah-mentah. "Gue gak mau terbiasa tanpa kabar dari lo."

Cana menaikkan alisnya bingung.

"Kalo lo kenapa-kenapa pas gak ngasih kabar ke gue gimana? Siapa yang bakal tau? Gue gak mau."

Cana pun terdiam, ia tak tau lagi harus berkata apa, yang ia lakukan selanjutnya hanya memberikan makanan ke piring Otlan dan tersenyum manis kala pemuda itu menatapnya. Ia tak akan bisa menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa ia lakukan.

Keduanya pun terdiam kembali, tak ada yang ingin memecahkan keheningan diantara mereka, sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Lo takut ya sama orang gila?" Tanya Otlan tiba-tiba yang membuat Cana menatapnya heran.

"Enggak."

"Terus kenapa lo kemaren tiba-tiba pinsan gitu?"

Cana terdiam, ia tau pasti Otlan akan bertanya tentang hal ini.

"Bukan gilanya yang bikin gue pinsan, tapi orangnya."

"Hah?" Siapa yang tak bingung jika mendapatkan jawaban yang seperti itu.

Cana menghela nafas berat, ia berusaha mengenyahkan bayangan menyeramkan yang tiba-tiba hadir di otaknya begitu saja.

"Dia mantan nani gue." Ujarnya berusaha setenang mungkin, berbeda dengan isi di dalam kepalanya yang riuh.

"Yang manggil nana nana itu?" Tanya Otla memastikan.

Cana mengangguk. "Lo tau kan, gak semua nanni itu baik, dan dia salah satunya yang gak baik itu."

Meski bingung namun Otlan memilih untuk tak bertanya lebih detail, ia tak ingin membuat seseorang yang ia suka merasa risih dengan ke-kepoannya.

"Jadi lo pinsan karena terkejut liat dia?"

Cana hanya tersenyum tipis menjawabnya, mereka pun lanjut mengobrol tentang hal lain. 


--------------------------------

Fernan mengerutkan keningnya melihat mobil asing yang terparkir di halaman rumahnya, namun ia tak ingin menebak siapa orang itu, karena kemungkinan besar dia adalah teman sang adik. Mungkin salah satu diantara mereka ada yang sudah berganti mobil.

Ia pun melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan siulan tipis, ia sedang bahagia karena semalam dia telah memenangkan pertandingan.

Langkahnya pun terhenti, keningnya berkerut dalam, ia mundurkan langkah kakinya untuk melihat lebih pasti siapa yang sedang makan dengan adiknya di meja makan, dan matanya pun membelalak terkejut melihat orang yang sangat ia kenal.

"LO NGAPAIN KESINI?" Tanyanya emos sembari melangkah mendekat.

Otlan dan Cana seketika menoleh keasal suara, dan Cana menghela nafas berat melihat musuhnya yang sudah menancapkan tarinya.

"PERGI LO DARI SINI! LO GAK DITERIMA DI RUMAH GUE!" Sambungnya menatap Cana dengan nyalang.

"Abang apaan sih? Dia kan tamu aku!" Otlan pun membela dengan tak kalah lantangnya.

"Tamu! Tamu! Udah gue bilang dia itu brengsek, kenapa sih lo bebel banget jadi bocah?!"

Tak ingin membuat suasana semakin keruh Cana pun memilih untuk mengalah. "Gue pulang," Pamitnya mengambik jaket yang ia sampirkan di kursi sebelahnya.

"Gue ikut!" Teriak Otlan mendekat kearah Cana.

Cana dan Fernan menatap Otlan dengan pandangan berbeda.

"Gak ada ya Otlan! Lo tetep di rumah! Gak usah lo pergi-pergi sama dia!" Fernan nampak sangar emosi.

"Lo di rumah aja." Ujar Cana yang tak ingin semakin terjadi kekacauan.

"Gak mau!" Namun Otlan yang keras kepala tak bisa diatur begitu saja.

"Lo mau ngapain ikut dia? Dia itu gak baik! Sini gak lo!" Fernan mencoba meraih lengan adiknya namun Otlan segera berkelit hingga menjauh dari jangkauan Fernan. "Otlan! Jangan aneh-aneh, lo tuh omega, kalo lo hamil gimana anjing?!"

"Hamil tinggal hamil. Gitu aja repot. Wle."

"Anjing lo jadi anak! Sini gak!" Fernan pun mulai ingin mengejar sang adik, namun Otlan dengan cepat menarik tangan Cana untuk menjauh dari sana sambil berlari, mengabaikan teriakan membahana dari Fernan untuk menyuruhnya berhenti.

Jangan tanya Cana, pemuda itu sudah speechless sejak Fernan berkata hamil, memang apa yang akan dia lakukan? Bahkan ia sudah lama tak menyentuh Otlan karena ia tak ingin merusak pemuda itu lebih jauh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...