Kamis, 03 Oktober 2024

NonOhm - Orpic

 Cana telah selesai dengan pekerjaanya mengambil kembali mobil yang di sewa Dan tak lupa meminta uang tambahan karena mereka telah melebihi kontrak meminjam.


Setelah melihat mobilnya di bawa oleh anak buahnya, Cana pun berjalan kearah motornya, memakai sarung tangan serta helm sebelum menaikininya dan melajukannya ke jalan raya yang macet.


Namun Cana adalah seseorang yang sering terjebak kemacetan dan mengikuti balapan liar, hingga ia dengan mudah bisa terus melajukan motornya di gempuran klakson yang saling bersaut-sautan.


Tanpa sengaja ia melirik spion motornya dan melihat beberapa motor tak jauh darinya, ia ingat betul motor-motor itu sudah mengikutinya sejak ingin mengambil mobilnya yang di sewa, ingin memastikan apakah firasatnya benar, dengan sengaja ia pun mempercepat laju motornya, melewati mobil dan motor yang berhenti, mengambil celah dari truck dan mobil yang sedang berhenti hingga ia bisa terus melajukan motornya.


Dan benar saja saat ia menatap spion otor-motor itu terus mengikuti ya, seolah tak ingin kehilangan. Ia pun tersenyum sinis, dengan sengaja ia pun membelok-membelokan motornya di antara para pengemudi motor dan mobil yang terhenti, namun sepertinya yang mengikutinya bukanlah orang sembarangan, terbukti mereka Masih bisa terus mengejarnya.


Di belokkannya tang motor kearah jalanan perkampungan yang kecil, yang hanya bisa di lalui satu motor, para motor yang mengikutinya masih setia di belakang sana. Tempat sampah serta kayu yang berada di pinggir jalan dengan sengaja di tendang oleh Cana agar menghalangi jalan orang di belakangnya.


Para pemotor yang mengikutinya pun berhenti karena jalanan yang terdapat kayu Dan smapah berserakan, dengan cepat ia pun menelpon rekannya lain Dan memberitahu apa yang terjadi serta dijalan mana Cana akan berahir. Setelahnya mereka pun berputar arah untukbisa ikut mengepung meski nanti akan sedikit terlambat dariteman-temannya yang lain.


Beberapa meter di depan sana ada jalanan terdapat jalanan lebih besar, sebelum motornya berhasil keluar dari gang kecil pemuda itu pun menarik rem motornya kuat hingga membuat ban belakang motornya berdecit nyaring dan berasap lebar, motornya pun sedikit oleng karena rem yang mendadak, namun Cana dengan cepat bisa mengatasinya hingga kini ia berdiri dengan menopang motornya yang miring tepat dipinggir jalan lebar itu. 


Di depan para preman yang menghadang jalannya terdapat seseorang yang ia kanali. Drain, ketua geng Fire yang memang mempunyai dendam pribadi padanya karena kalah taruhan waktu hingga mobilnya beralih ketangannya.


Matanya menatap para sekumpulan orang yang sudah siap dengan kayu serta pisau di tangan masing-masing, dengan serampangan ia pun meletakkan motornya begitu saja dan mendekati mereka, membuang helm kearah para preman di depannya, memulai menendang serta menangkis keroyokan para preman itu.


Perkelahian pun tak bisa di hindari, entah ada berapa orang yang kini mengerebunginya, membuatnya berada di tengah, namun Cana bukanlah seseorang yang mudah takut, dengan gesit ia pun menghindari beberapa kayu serta pisau yang siapa menghujam tubuhnya.


Ditariknya kayu dari seorang preman entah siapa dengan kuat hingga terlepas dari tangan sang pemilik dan segera mengayunkannya ke sembarang arah hingga membuat para preman itu mundur selangkah.


Bibirnya tersenyum miring, ia sudah lama tak merasakan dikeroyok seperti ini, moment yang langka yang harus bisa ia atasi kalau tidak ingin nyawanya mela yang begitu saja.


Kini giliran Cana yang bergerak lincah menyerang para preman itu, menendang dan memukul dengan satu gerakan, kaki dan tangannya tak bisa diam, mereka bekerja sama untuk melumpuhkan musuh, satu gerakan menumbangkan dua orang.


Cana dengan gesit menunduk kala kayu hampir menggetok kepalanya dengan keras, seseorang yang membawa pisau siap menusuknya pun dengan ia tendang kuat hingga terplanting kebelakang. 


Sebanyak orang yang ia kalahkan, sebanyak itu pula para orang-orang itu bertambah, seakan tak ada habisnya.


Otlan berdecak kesal melihat kemacetan yang terjadi, ia pun kembali menatap jam tangannya yang terus bergulir ke samping.


"Gimana ini Di, acaranya udah mau mulai." Ujar Otlan kesal. 


Hari ini mereka berencana menonton konser dari band favorite mereka yang sedang singgah di negaranya, mereka berdua pun sudah siap dengan setelah baju rapi, tak lupa semprotan perfume kesayangan pun tercium pekat, namun macet di jalan hari ini membuat hati yang awalnya bahagia menjadi bamood tak karuan.


Freddy pun ikut kesal karenanya, kepalanya menoleh ke samping dan melihat seseorang yang keluar masuk di gang tak jauh dari tempat mobilnya berhenti, dan ia pun teringat jalan cepat kearah venue dengan melewati pemukiman kumuh di gang itu.


"Lan, lewat jalan itu mau? Tapi biasanya ada pencuri disana, asal dompet lo taroh di tempat aman jangan taroh di saku belakang pasti aman." Ajak Freddy menjuding kearah gang kecil yang tadi di masuki oleh beberapa motor.


"Ayo dah, gue gak mau ketinggalan acara." Ujarnya setuju begitu saja.


Mereka berdua pun lantas turun dari mobil dan berjalan kearah gang itu dengan cepat, Karena waktu mereka semakin terkikis.


Bau tak sedap sangat menyengat indra penciuman mereka, sampah serta kayu berserakan di jalanan, Freddy dan Otlan pun berjalan dengan hati-hati agar tak terkena cipratan lumpur atau menyenggol sampah yang berbau busuk.


Pertarungan antara Cana dan geng fire Masih terus berlanjut, kini nafas pemuda itu sudah sedikit memberat, tenaga pun sudah terkuras setengahnya, saat ia sedang menendang serta memukul preman di depannya, tiba-tiba ada orang yang mengarahkan  pisau kearahnya tanpa ia sadar, hingga Cana dengan refleks menahan pisau itu menggunakan tangan, menggenggamnya erat, membuat darah menetes dari genggamannya. Dengan serampangan ia pun menarik pisau itu dan membuangnya melambung tinggi entah nanti jatuh kemana. 


Tak perduli tangannya yang terluka, pemuda itu Masih erus bergerak luwes menghajar para preman itu.


Otlan dan Freddy yang melihat cahaya dari ujung lorong pun segera mempercepat langah kakinya, namun keduanya sontak berhenti kala melihat pertarungan yang tak jauh Dari mereka menghalangi jalan untuk keluar. 1 lawan entah berapa, namun nampaknya lebih dari 10. 


"Di ini gimana keluarnya," Tanya Otlan semakin kesal. Ada saja sesuatu untuk menghalangi mereka datang ke venue acara.


"Telfon polisi aja Lan, biar di bubarin," Ujar Freddi sembari memincingkan matanya, ia ingin melihat siapa orang di tengah-tengah yang sedang melawan pengeroyokan. Matanya pun membulat kala melihat seseorang itu. 


Dan Otlan pun segera mengikuti saran sang teman.


"Lan itu Cana bukan?" Tanyanya ingin memastikan, ia sedikit ragu dengan penlihatannya sendiri.


Otlan yang mendengar perkataan temannya seketika menolehkan kepalanya dan ikut melihat siapa orang yang di tengah. "Iya Di itu Cana," ujarnya sangat yakin.


Suara dari sebrang telfon terdengar saat panggilannya terangkat, namun mata Otlan yang masih memperhatikan sekitar Cana seketika berteriak panik kala ada orang yang ingin menusuk Cana Dari belakang. "CANA AWAS BELAKANG LO!!" Teriaknya membahana memberitahu.


Freddy yang tidak menduga sahabatnya akan berteriak pun seketika menarik Otlan untuk bersembunyi di belakang tong sampah dekat mereka, kala seseorang yang sedang memantau perkelahian dengan merokok menoleh kearah mereka. Ia tak ingin mati konyol di tempat seperti ini.


Cana yang mendengar seruan dari Otlan seketika menggerakan kaki kaki kananya untuk menendang orang di belakangnya hingga orang tersungkur ke tanah dengan keras. Cana menoleh kesal suara, karena ia tak melihat siapapun pemuda itu pun segera menendang siapapun untuk keluar dari kungkungan orang tak ada habisnya ini, sembari berjalan mundur ia masih terus menendang dan memukul siapapun hingga kini ia berada di tak jauh dari tempat persembuan Otlan serta Freddy yang sedang ketakutan.


Memang sengaja ia membawa para preman itu untuk mengerubungi kearah persmbunyian Otlan, agar boss mereka alias Dian tak menyakiti kedua kenalannya ini, dengan segera ia pun membuang HP-nya ke bawah kaki Otlan serta Freddy, membuat kedua pemua itu align bertatapan bingung.


"Telfon siapapun yang da di kontrak gue, suruh ke gang Mawar." Ucapnya dengan nafas yang Kian putus-pitus. Berkelahi dengan banyak orang dan lebih Dari 20 menit membuat stamina Cana semakin terkikis.


Otlan pun segera mengambil HP Cana dan mulai membuka HP itu yang tak terkenci, menekan aplikasi kontak dan mencari siapa yang akan mereka hubungi. 


Tangan Otlan berhenti sejenak di nama Chan Agraha. Freddy menatap ahabatnya dengan bingung kala Otlan tak kunjung mengeklik panggilan di nama itu dan malah kembali bergulir kearah nama orang lain yang tak ia mereka kenal dan mengeklik panggilan.


Monday nama yang tertera di sana. 


Tak lama panggilan itu pun terangkat. "Kenapa boss?" Tanya suara dari sebrang.


"Bisa ke gang Mawar gak? Si Cana lagi di keroyok banyak orang," ujar Otlan.


Panggilan pun terputus begitu saja. Otlan dan Freddy kembali saling bertatapan. Apa mereka salah menelfon orang?.


"Telfon yang lain Lan." Ujar Freddy yang segera di iyakan tanpa kata, namun siapapun yang ia panggil tak ada yang mengangkat, membuat mereka berdua semakin cemas.


"Telfon polisi, telfon polisi." Ujar Freddy, dan Otlan lagi-lagi melakukan apa yang Freddy katakan.


Namun lagi-lagi saat panggilan terangkat oleh pihak kepolisian Otlan tak kunjung berbicara malah mematikannya begitu saja karena tiba-tiba banyak orang yang datang memukuli para preman, membantu Cana. Freddy an Otlan kembali saling bertatapan,kini wajah mereka nampak lega. Untungnya bantuin segera datang.


Cana pun Masih ikut bertarung meski teenaganya sudah terkuras habis.


Drain segera menjalankan motornya untuk menjauh tanpa memperdulikan teman-temannya yang kini di keroyok oleh geng Cana, tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk membabat habis semua preman itu hingga babak belur, dan menalinya menjadi satu, mencegah mereka untuk kabur.


Cana menoleh kearah Freddy dan Otlan yang sudah keluar dari tempat persmbunyian mereka, pemuda itu pun segera mendekati kedua kenalannya sembari membuntal tangannya yang terluka dengan sapu tangan.


"Kalian ngapain lewat sini?" Tanyanya sedikit heran."Btw thanks buat yang tadi." Sambungnya dengan senyuman tipis.


Freddy menyenggol Otlan dengan wajah menggoda yang membuat Otlan mencubit pinggangnya kesal.


Cana menaikkan alisnya kala kedua remaja itu malah asik sendiri tanpa mau menjawab peerkataanya.


Freddy yang melihat wajah Cana Masih menunggu jawaban pun segera membalas Dan menahan tangan Otlan yang Masih ingin menyakiti pinggangnya. 


"Kita mau ke venue Mars yang di ujung jalan sana,"


Cana mengangguk paham. "Yaudah ayo gue anterin, kalo kalian jalan bakal telat sama acaranya." Ujarnya berlalu begitu saja.


Para bawahannya yang melihat interaksi sang boss dengan orang tak mereka kenal pun saling sikut dan bertanya siapa mereka, hingga Salah satu di antara mereka mengingat wajah Otlan dari twitter.


"Boss mau nge date bareng pacar ya?" Ujar Putra jail saat Cana sedang mendirikan motornya yang terjatuh di lantai.


"Pacar mata lo." Ujar Cana sadis, tapi Hal itu justru membuat mereka tertawa semakin menggoda.


"Pacar tuh Lan," Ujar Freddy ikut menggoda temannya.


"Lo Kali yang pacar, kan lo yang balas omongan Cana tadi," Sahut Otlan tak terima di katain pacar.


Sebelum Freddy sempat membalas ucapan Otlan, Cana sudah berada di depan mereka dengan naik motor kesayanganya, serta helm full face yang ia pakai.


"Ayo naik." Ujar Cana.


Freddy dan Otlan saling pandang. "Gak usah deh kita jalan aja, lagian motorlo joknya tinggi Gini, mana bisa boncengan berdua." Ujar Otlan sembari menarik tangan Freddy untuk jalan.


Cana menghentikan langkah Otlan dengan menggenggam tangan pemuda itu yang mengenggam tangan Freddy.


"Lo naik di jok belakang di, lo naik di depan." Ujar Cana.


Freddy dan Otlan saling tatap dengan pandangan yang berbeda.


"Gak mau ah. Udah ayo Di, jalan." Otlan kembali ingin menarik tangan Freddy, namun lagi-lagi dihentikan Oleh Cana.


Ditariknya tangan Otlan hingga mendekatkearahnya. "Udah ayo naik," Ujar Cana tak ingin di bantah.


"Gak--Canaaaa," bantah an Otlan berubah menjadi teriakan kala Cana dengan mudah menarik tubuhnya untuk duduk di depannya. Tentu saja Hal ini membuat para bawahan Cana menggoda ya, Dan Freddy yang sudah memasang wajah jail nggoda.


"Ayo Di naik, mau gue tarik juga biar bisa naik?" Tanyanya ang segera membuat Freddy naik ke jok belakang motornya.


"Pegangan pundak gue Di, Kali takut jatuh," Ucap Cana sebelum menjalan motornya kearah yang di tuju.


Otlan hanya diam saja dengan wajah menunduk, ia malu setengah mati. Apalagi setelah mereka sampai di venue dan membuat orang yang Masih berada di luar arena menatap mereka penasaran.


"Thanks ya," Ujar Freddi setelah turun, begitupula dengan Otlan.amun pemuda itu tak mengatakan apapun, jantungnya Masih berpacu dengan sangat cepat. Freddy hanya mengulum senyum melihat telinga temannya yang memerah sempurna.


"Nanti baliknya gue jemput." Ujarnya dan melenggang pergi tanpa ingin mendengar perkataan Dari kedua orang itu.


Setelah Cana menjauh Freddy pun menyikut lengan Otlan ingin menjaili sang teman, namun Otlan segera menjauh darinya, tak ingin mendengar perkataan apapun Dari sang teman.


Freddy tertawa di belakangnya, "Yaelah Lan, gitu aja mukanya udah merah banget, suka ya di peluk sama Cana?" 


Otlan tak memperdulikan perkataan temannya, pemuda itu semakin mempercepat kearahorang yang sedan mengantri untuk masuk kedalam venue setelah mengambil ticket dari dompetnya.

1 komentar:

Renjana

[ 𝚁𝚎𝚗𝚓𝚊𝚗𝚊 / 𝚁𝚊𝚜𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚊𝚝 ]  𝐒𝐢𝐧𝐨𝐩𝐬𝐢𝐬 :  Bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam pada kakak sahabatmu? ...