Nanon dan Pawat pun kembali berjalan bersisian setelah Pawat merasa baikan, diikuti oleh Janeeyah serta Allira di belakang mereka.
Pawat menatap kearah bianglala dengan mata berbinar. "Ayo naik itu kak," ujarnya sembari menjuding bianglala, senyumnya pun merekah sempurna.
Nanon menaikkan alisnya, "Kincir angin?" Tanya Nanon memastikan.
Wajah pemuda itu nampak bingung. "Kincir angin itu yang mana kak?"
Nanon tersenyum gemas dan menjuding kearah bianglala. Kadang ia bingung kenapa Pawat bisa tidak tau nama wahana di sini.
Pawat mengangguk antusias. "Iya, ayo naik itu, aku udah lama gak naik," ujarnya dengan mata berbinar lucu, penuh harap.
Namun sayang Nanon tak menyukai ide Pawat, wajahnya terlihat tak suka dengan ide yang baru saja Pawat katakan. "Kamu tadi baru muntah-muntah loh Ohm, naik yang lain aja deh," ujar Nanon menolak tegas.
Pawat pun membrengutkan bibirnya kesal. Nanon hanya diam saja melihat Pawat yang sedang ngambek. Biarlah, toh ini demi kebaikan pemuda itu.
Janeeyah yang merasa mendapatkan peluang untuk caper pun berjalan ke samping Nanon dan menatap tersenyum manis.
Pawat meendengus melihat wajah Janeeyah, ia sudah menebak apa yang ingin dilakukan gadis itu.
"Gimana kalo kita naik Carousel kak?" Ujar Janeeyah dengan mata bulat yang lucu.
Kening Pawat mengkerut. "Carousel itu apa?" Tanyanya bingung, karena wajar saja ia tak pernahmendengar kata itu di dunianya.
Nanon mengangguk setuju. "Boleh." Ujarnya mengabaikan pertanyaan Pawat.
Pawat menatap Nanon kesal, "Carousel itu apa kak?!" Tanyanya sedikit menaikkan nada suaranya dan berbicara tepat di telinga pemuda itu.
Nanon pun kembali menatap Pawat tersenyum lembut, mengeelus rambut belakang Pawat tak kalah lembut. Bukannya kesal dengan tingkah laku Pawat, pemuda itu malah bersikap semakin lembut. "Itu Carousel," ujarnya dengan menjuding kearah yang dimaksud.
Janeeyah memutar matanya malas. 'Caper terus,' batinnya kesal.
Pawat pun menatap kearah yang di maksud Nanon dan mendengus tak suka. Carousel yang mereka maksud adalah komedi putar. "Gak mau ah, itu kan mainan anak-anak." Ujarnya menoleh mentah-mentah.
"Kamu kan masih anak-anak Ohm," Ujar Nanon menarik Pawat untuk kembali berjalan, namun Kali ini Nanon membawanya kearah antrian komedi putar.
Wajah Pawat seketika merona mendengar perkataan asal Nanon.
Janeeyah menendang tanah di bawahnya kesal. "Yang ngajak tadi kan aku!"
Allira mengelus lengan sahabatnya lembut. "Nanti pas udah di atas kita pisahin aja mereka, kamu sama kak Nanon, aku sama Pawat, biar mereka gak bisa duduk bareng."
Janeeyah pun menatap sahabatnya dengan mata berbinarsenang. "Bener juga, ayo kesana." Ujarnya bahagia dan mengapit lengan temannya untuk ikut mengantri di belakang Nanon serta Pawat.
Pawat masih mengerucutkan bibirnya, tak suka jika harus menaiki itu wahana, karena di tempat asalnya itu wahana hanya di naiki anak-anak, meski di sini banyak orang dewasa yang ikut naik, tapi tetap saja, tak ada ardenalinnya, Dan itu menurutnya tak seru.
Nanon yang tau Pawat masih ngambek pun mencubit pipi temannya gemas, yang berhasil mendapatkan side eye dari Pawat, namun Nanon malah tertawa karenanya.
"Nanti habis naik Carousel kita naik Kincir angin, gimana?" tanyanya mengalah. Ia tak mau seharian di ambekin oleh temannya yang menggemaskan ini.
Wajah Pawat seketika kembali cerita, bibirnya yang tadi maju pun berubah menjadi tersenyum manis. "Beneran?" Tanyanya memastikan.
Nanon mengangguk pelan. "Iya,"
Pawat pun sontak memeluk tubuh Nanon erat dan meloncat-loncat kecil di tempat karena keinginannya di kabulkan. "Sayang banget deh sama kak Nanon." Ujarnya bahagia dan refleks mencium pipi Nanon.
Nanon yang terkekeh dan tubuh Pawat agar tak jatuh menjadi mematung ketika pipinya di cium begitu saja. Telinganya pun memerah pertanda malu, namun ia tak mengatakan apapun. Nanon tak terbiasa dengan seseorang yang menciumnya, karena selama 17 tahun ia hidup, ini baru pertama Kali ada seseorang yang mncium pipinya, dan efeknya sungguh luar biasa, hanya ciuman pipi tapi mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Janeeyah membulatkan matanya tak terima melihat pipi Nanon di cium oleh orang lain, ia pun sudah bergerak maju tapi di hentikan Oleh sang sahabat, Allira menggeleng pelan, mencegahnya untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan dan berakibat mempermalukan dirinya sendiri di tempat umum.
Wajahnya merengut tak terima, tatapan matanya begitu terluka, ia ingin menangis rasanya, tak terima melihat orang yang ia sukai selama lebih dari 4 tahun dicium sama orang lain begitu saja.
Setelah sadar apa yang dilakukannya, Pawat pun melepaskan pelukannya di tubuh Nanon dan menunduk malu, ia merututuki tubuhnya sendiri yang bergerak tanpa ia minta.
Nanon pun sama malunya, tangannya yang tadi bertengger di pundak Pawat terlepas dan memasukkannya kedalam saku celana kain yang ia pakai.
Janeeyah Masih bersungut-sungut di belakang sana, Masih tak terima dengan apa yang ia liat, rasa kesalnya terhadap Pawat semakin meninggi.
Orang yang mengantri di kincir angin tak sebanyak antrian di wahana lainya, hingga kini mereka berempat telah berada di atas, sedang mencari ingin duduk dimana.
"Mau duduk dimana Ohm?" Tanya Nanon menatap Pawat yang masih sibuk memilih tempat duduk dengan berbagai macam bentuk.
Tatapan mata Pawat pun jatuh ke satu tempat, kuda putih. "Aku mau duduk di sana." Ujar Pawat excited dan berjalan mendahului Nanon untuk menaiki kuda putih incarannya
Allira memberikan kode kearah Janeeyah untuk menarik Nanon menjauh yang segera di lakukan oleh gadis itu.
Saat Nanon ingin berjalan mendekati kearah Pawat, Janeeyah pun mengapit lengan Nanon dan membawanya duduk di tempat yang mirip selayaknya kereta kuda pada film barbie, duduk berdampingan.
Sedangkan Allira segera duduk dikursi kuda sebelah Pawat, menghindari Nanon untuk menolak keinginan temannya.
Nanon yang tak perduli akan ingin duduk dimana memilih diam saja, toh di samping Pawat sudah ada Allira yang menemani.
"Berasa anggota kerajaan gak sih kak, duduk di sini," Ujar Janeeyah, wajahnya nampak berseri-seri karena Nanon tidak menolak ia ajak duduk berduaan di tempat yang biasanya di gunakan untuk berpacaran.
Nanon mengerutkan keningnya, bingung harus menjawab apa, karena ia tak merasakan seperti apa yang dikatakan Janeeyah. "Hehehe iya," ia pun memilih untuk berbohong.
Wajah gadis itu semakin bahagia mendengarnya, sekarang ia seakan merasakan menjadi putri suatu kerajaan yang menikah dengan Nanon, pipinya pun bersemu merah karena khayalannya sendiri.
"Kak liat deh, itu kayaknya enak," Ujar Pawat menjuding kearah stand makanan tanpa menatap Nanon. Kepalanya pun menoleh karena Nanon tak menanggapi ucapannya, dan ia terkejut mengetahui orang yang duduk di kursi kuda sampingnya bukanlah Nanon.
Allira tersenyum miring dan melambaikan tangan seolah mengejek.
Pawat tak perduli dengan tingkah laku gadis itu, kepalanya pun menoleh kebelakang mencari sosok yang seharusnya duduk di sampingnya dan membrenggut sebal melihat Nanon yang duduk berduaan dengan gadis itu, apalagi Nanon yang terus menanggapi ocehan Janeeyah membuat rasa kesalnya menjadi berkali-kali lipat.
Pemuda itupun segera turun dari tempat duduknya, berjalan mendekati Nanon dengan langkah lebar.
Allira yang ingin mencegah pun kalah cepat dengan langkah Pawat yang berahir ia kembali duduk, karena tak ingin menjadi pusat perhatian di tempat ramai seperti ini.
Tanpa malu Pawat langsung duduk di pangkuan Nanon, membuat semua orang yang melihat tingkah lakunya menatapnya heran, begitupula Nanon yang terkejut saat Pawat tiba-tiba duduk di pangkuannya tanpa berkata apapun.
Janeeyah berdecak melihat tingkah caper pemuda itu. "Kamu ngapain sih? Gak malu apa di liatin orang-orang?" Ujarnya kesal.
Pawat tak menanggapi ucapan Janeeyah, hanya lirikan kesal yang ia layangkan untuk gadis itu.
"Kak Nanon tadi janji mau nemenenin kamu terus? Kok sekarang malah akunya di tinggal?" Protesnya sembari memiringkan kepala, ingin melihat wajah Nanon.
Nanon tersenyum lembut dan memeluk pinggang Pawat, Janeeyah yang melihat itu semakin menampilkan wajah tak suka ya.
"Tadi kan kamu udah duduk sama Allira." Ujarnya kesal, kembali menatap kedepan Dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Pawat meliriknya kesal. "Yang janji mau nemenin aku seharian kan kak Nanon, bukan Allira."
Nanon tersenyum gemas dan mengeelus kepala Pawat tak kalah gemesnya. "Sekarang aku temenin ini,"
Pawat mendecih mendengar jawaban Nanon. Apa-apaan jawaban dia itu? Namun ia tak memilih melanjutkan debatannya saat ia melirik kearah Janeeyah danmendapati gadis itu menatapnya dengan pandangan menusuk. Bukannya merasa takut Pawat malah dengan sengaja menyenderkan punggungnya ke dada Nanon dan memainkan jari jemari Nanon menautkan dengan jarinya sendiri. Memperlihakan ke Janeeyah bahwa gadis itu telah kalah dengan ya.
Nanon hanya diam saja melihat tingkah laku Pawat, tangan kirinya yang tak di mainkan oleh Pawat ia buat untuk memeluk perut pemuda itu dan dagu pipi yang menempel di kepala Pawat, mencium bau harum pemuda itu yang entah kenapa sangat membuatnya nyaman.
Kelakuan Pawat yang aneh pun menjadi sorotan bagi semua orang yang berada di sekitar mereka, bisikan yang di sertai gosipan dari asumsi pribadi meluncur dengan indahnya.
Ingin rasanya ia jambak rambut Pawat dan melemparnya keluar dari arena, namun ia tak mau image lemah lembut yang sudah susah payah ia bangun ruska begitu saja.
"Kak Nanon lihat deh disana ada yang jualan CD klasik, nanti maumampir gak?" Ujar Janeeyah berusaha caper namun telinga Nanon seolah tuli, ia malah asik berbicara dengan Pawat yang Masih ngambek padanya.
Rasa emosinya semakin memuncak. Kenapa sekarang menyingkirkan Pawat sangat susah, apa yang harus ia lakukan agar Pawat menjauh dari calon pacarnya.
Kakkk aku suka banget sama ceritanyaaa, bikin ngakak terus si pawat sama janee nyaa
BalasHapusKak ini gemashh banget, lucu banget cara pawat buat nyingkirin janee wkwkwk
BalasHapus